Ini Caraku Mencintai | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Ini Caraku Mencintai
Dec 10, 2011

Ini Caraku Mencintai


Jujur aku tidak ingin semua ini terjadi, dia pun begitu. Rasa yang dulu pernah ada kini bersemi kembali seiring kesendirianku. Mungkin factor inilah yang menyebabkan ini terjadi.
            Sebelum janur kuning melengkung, memang sah-sah saja, tapi penghianatan tetaplah penghianatan, apapun alasannya.
            “Kita berteman. Ok?” ungkapku, setelah sekian lama kami beragumen tentang pentingnya kesetiaan. Kumenunggu balasan darinya. Tak lama disudut kanan bawah layar laptopku, muncul warna biru dan angka satu.
            “Oh, teman? Teman yang setiap kali bertemu saling pandang dengan penuh arti?”
            “Teman yang ingin saling memiliki?”
            Aku menghela nafas panjang. Berfikir sejenak. Ada rasa bahagia dihatiku, tapi tetaplah pada kenyataan. Dia milik orang lain.
            Kilas balik satu tahun yang lalu, berputar seperti sebuah film yang diputar balik.
            “Apa maumu?”hanya itu yang bisa aku tulis. Aku menyerah.
            “Bersenang-senanglah denganku.”
            “Maksudmu?? Hubungan tanpa status?”
            “Atau Teman tapi mesra?”
            “Oke. Itu merugikanku.”


Aku tau yang kulakukan ini salah. Pasti aka nada yang tersakiti diantara kami bertiga. Dan aku yakin orang itu adalah aku. Apapun yang terjadi nantinya aku harus bisa menerimanya. Karena memang aku yang salah.
            “Naik!”suruhnya. aku melangkahkan kakiku dan naik motornya.
            Aku hanya diam, saat motornya mulai melaju meninggalkan kos-ku. Aku pun tak menanyakan kemana dia akan membawaku pergi, yang kutau sekarang dia mencoba untuk meraih tanganku. Aku mencoba untuk melepasnya tapi ia memegang tanganku dengan erat, atau karena aku mengingkannya. Aku pun mulai bersandar dipundaknya.
            “Re, udah sampe..”aku terbangun. Karena terlalu menikmati perjalan, aku sampai tertidur dipundaknya. Sungguh memalukan aku ini. Rasta menoleh kebelakang, sambil tersenyum,”Keenakan ya?” candanya.
            Aku memukul pelan pipinya. Dia malah tertawa menerima perlakuanku seperti itu. Dasar!
            Aku turun dari motornya. Berjalan menuju hamparan pasir putih didepanku, meninggalkan Rasta memakir motornya. Keadaan pantai saat ini tidak begitu ramai, hanya berisi muda mudi seperti kami. Bedanya mereka berpacaran atau keadaannya sama sepertiku? Tanpa status.
            Kurasakan pergelangan tanganku ada yang menarik. Rasta membimbingku kebibir pantai. Dan duduk diatas pasir.
            Duduk berdua seperti ini, belum pernah aku merasakannya. Perasaan ini sungguh bahagia. Sesuatu yang aku impi-impikan selama ini. Aku benar-benar lupa pada kenyataan yang ada.
            “Bagaimana kuliahmu?”Tanyanya sambil memandangku. Aku tersipu dan pandanganku lurus kedepan.
            “Yaa.. gitu-gitu aja!”jawabku tanpa berpaling dari ombak pantai, yang sesekali airnya mengenai kaki kami.
            Rasta tertawa. Aku menoleh kearahnya, aku bingung apa yang dia tertawakan. Apa jawabanku salah? Tapi aku yakin itu bukanlah pertanyaan yang membutuhkan sebuah kebenaran.
            “Kenapa?”
            “Kamu masih saja seperti dulu. Selalu memalingkan muka saat bicara denganku. Hmmm… atau dengan cowok lain juga??”
            “Nggak juga.”
            “Radira… Radira… .”
            “Rasta..Rasta…”balasku. aku sangat bahagia melihat senyum diwajah Rasta. Akumelihat kebahagiaan juga di raut wajahnya, aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku benar-benar lupa dengan kenyataan. Kulihat Rasta pun tak ingin membahasnya.
            Rasta menggenggam tanganku. Kami terdiam menatap hamparan ombak dihadapan kami. Sungguh indah.           
            “Ra, hujan.”
            Rasta menarikku menuju bebatuan untuk berteduh.
            “Ah, deres banget…” keluhku.
            “Nggak apa-apa semakin deras semakin bagus..”candanya.
            “Memangnya kamu mau tidur disini?”
            “Tak masalah asalkan sama kamu..”
            Aku tertawa. Tertawa bahagia. “Gombal!”
            “Kamu dingin nggak?”tanyanya. Dia menatapku tajam. Kali ini aku tak berpaling. Aku balik menatapnya. Lama kami terdiam.
            Aku merasakan sesuatu yang hangat dibibirku. Lembut. Seakan aku melayang tinggi, menari-nari diatas awan merasakan sejuknya angin di khayangan.  Kebahagiaan menyelimuti hati dan jiwaku. Kumenatap awan-awan putih dihadapanku, sedikit demi sedikit kumelihat sosok perempuan, semakin lama semakin jelas, itu Rinda, kekasih Rasta.
            Aku mendorong kuat bahu Rasta. Aku tak berani menatap wajah Rasta. Aku malu, sangat malu. Wanita macam apa aku ini? Aku hanya menunduk, tak tau harus berbuat apa. Aku berdiri dan meninggalkan Rasta, menerobos derasnya hujan saat itu. Aku bingung. Ini ciuman pertamaku.
            “Radira…”
            “Kenapa?”tanyanya saat kami berada didepan kos-ku.
            “Nggak seharusnya ini terjadi..”ucapku lirih.
            “Apa ini salah?”
            “Tentu saja salah,” aku menunduk.
            “Nggak ada yang salah ,Ra. Cuma waktunya saja yang tak tepat.”
            Aku menggeleng. Waktu yang tak tepat? Apa itu masalahnya? Bukan. Bukan itu. Masalahnya adalah kamu mempunyai kekasih dan kamu tidak bisa meninggalkannya. Bodohnya aku!!!
            Rasta mengulurkan tangannya.
            “Pegang tangganku.”
            Dengan ragu aku menyerahkan tanganku kegenggamannya. Dia tidak menjelaskan apa artinya itu. Tapi aku mengetahuinya. Dulu, aku menolaknya dan kini aku menerimanya, entah sebagai apa.

            Kumelihat anak-anak kecil berlarian, bercengkraman dengan ibunya.
            “Mereka lucu ya?”kataku tanpa berpaling dari mereka.
            “Jadi pengen punya satu. Bikin yuk?”canda Rasta kepadaku.
            Aku tertawa.”Enak saja!!” sudah tiga bulan lebih aku merasakan kebahagiaan ini, hubungan kami masih sama, tanpa status. Tapi tak jarang kami bertengkar karena masalah sepele, ataupun karena waktu Rasta tak sepenuhnya penuh untukku. Meskipun waktu Rasta paling banyak bersamaku, karena kekasihnya beda kampus dengan kami.
            “Dasar pesek!”ejeknya kepadaku. Aku sudah sering mendengar kalimat itu.
            “Biarin!! Toh, kamu juga suka!”balasku.
            “Ih, pede-nya!”
            “Daripada minder hayooo?”
            Aku melihat Rasta merogoh sakunya. Ponselnya bordering.
            “Iya, halo eib?”ternyata Rinda. Aku hanya diam dan melihat. Rasta melihatku dan meraih tanganku. Digenggam tanganku dengan erat. Rasa kekhawatiranku pun sirna. Seakan Rasta bilang “Kamu tidak usah khawatir”. Inilah resiko yang aku ambil. Mau bagaimana lagi.
            “Iya, ini lagi ada acara dikampus. Nanti aja ya eib kita lanjutin. Iya, love you too..”
            Sakit rasanya hatiku mendengar kalimat yang terakhir. Tapi aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Seperti aku terbiasa meminum air jeruk. Aku tau rasa air jeruk itu asam, tapi aku masih meminumnya.

Tiada hari tanpa ciuman. Itulah yang terjadi padaku sekarang ini. Entah ini karena aku mulai sangat mencintainya atau karena nafsu. Rasanya aliran darahku akan berhenti kalau sedetik saja kami tidak bertemu, interval pertemuan kami sangat dekat, bagaikan nada-nada yang saling membutuhkan untuk menciptakan sebuah melodi yang anggun.
            Separah itukah cintaku?
            Aku sudah tidak peduli siapa yang akan tersaikiti nanti, yang kutau saat ibi adalah kisah ini harus berlanjut. Harus sampai membuat bumi ini berhenti berputar. Harus sampai membuat facebookers berhenti meng-update status!!
            Terkadang aku merasa tidak enak hati, saat melihat status Rinda di Facebook.
            “Dia mulai berubah”
            “Aku hanya ingin bersamamu”
            Karena aku kah ini? Jahat sekali aku. Padahal Rinda sungguh baik padaku. Tapi mungkin saja, dia baik karena pertemuan kami hanya lewat Facebook. Rasta pernah menawariku untukberkenalan dengan Rinda secara langsung, aku menolaknya. Aku tidak mau perasaan bersalahku ini semakin bertambah jika mengenal Rinda lebih lanjut, dan mengetahui Rinda benar-benar baik, pasti akan membuat hatiku semakin kalut.
            “Aku didepan kosmu”
            Aku tidak bisa menahan urat-urat halus disekitar mulutku untuk tidak melebar dan menciptakan senyum dibibirku. Aku segera mengambil tas diatas meja dan segera turun untuk menemui Rasta. Aku tidak peduli dengan tatapan teman-teman kosku yang mengartikan “Wanita tak tau malu”, mereka sering memperingatkanku.
            “Nanti kamu sendiri yang bakalan loro ati, Ra…”
            Dan aku hanya menjawab,”Aku tau.”
            Aku dan Rasta duduk disalah satu meja  foodcourt , kami duduk berdua dan bercanda tanpa memperdulikan puluhan orang disitu. Orang-orang bilang,” dunia bagai milik berdua, yang lain ngontrak,” mungkin itu yang saat ini kami alami.
            “Ra, kamu manis sekali….”rayuan Rasta terlontar dari bibirnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
            “Radiraaa… selalu hanya tersenyum….”ucapnya. dan itu membuatku tersanjung.
            “Memangnya tidak boleh?”
            Rasta tersenyum dan meraih tanganku. Kami saling pandang tanpa bicara, sepertinya dia tau apa isi hatiku. Aku sangat bahagia.
            “Eib…”
            Aku mendengar seorang wanita berbicara kearah kami. Dan aku sudah melihat seorang wanita berperawakan tinggi dengan rambut menjuntai kebawah sampai bahu.
            “Rinda…”wajah Rasta berubah pucat. Begitupun aku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya diam dan melihat Rinda pergi meninggalkan kami.
            Aku melihat wajah Rasta penuh dengan penyesalan. Aku tidak pernah melihat wajah Rasta seperti ini, sungguh menyiksaku. Wajah sedih itu.
            “Ra, aku…”
            “Pergilah…”aku memotong kalimat Rasta.”Kejar dia,”entah apa yang kukatakan, semua kaliamat itu muncul begitu saja.
            “Tapi…”
            “Kita hanya bersenang-senang. Pergilah…”
            “Maaf…”ucapnya sambil mencium keningku dan aku melihatnya pergi. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin menjauh dari hadapanku. Dia sama sekali tidak menoleh kearahku.
            Kini aku tau siapa yang tersakiti diantara kami.

           

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

2 comments:

  1. Aku ngerasa, ada yang pakai nama aku. #Ehehe Pede
    Buat sendiri tah? Kok mirip ya ceritanya sama kehidupanku? Hmmm..

    Eh, Wulan.
    Ikutan game yuk.
    Kamu salah satu dari 11 orang yang aku tag lho ^^.
    Buka aja http://radirablog.blogspot.com/2011/12/kangen-game-tag-tag-d.html

    ReplyDelete
  2. Haahaha... soorryyy pake namamu ya, hehehe...
    Iya nih karanganku sendiri.. bagus tidak??? Inspirasi pengalaman pribadiii.... :)

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^