Dec 26, 2011

Kerumitan Cinta


Diary Radira
            Wanita mana yang ingin diduakan, dan menjadi yang kedua. Tidak ada. Akan tetapi, bagaimana penjelasan dari alasan cinta? Cintaku buta. Bukan hanya buta, bahkan tuli!! Pura-pura tidak melihat seorang wanita disampingnya, pura-pura tidak mendengar sebutan nama indah kekasihnya.
            Mungkin semua mata memandangku hina, tapi apakah mereka tau, aku tak sehina mereka kira. Ini cinta!! Cinta itu indah. Cinta itu anugerah!! Sampai-sampai cinta membuatku menjalani ini semua dengan ikhlas.
            Detik pertama aku bilang cinta, saat itulah aku menerima semua resiko jadi yang kedua. Ada yang bilang “lebih baik jadi yang kedua dinomor satukan, daripada jadi yang pertama tapi dinomor duakan”, tapi tidak bagiku. Nomor dua tetaplah nomor dua.
            Aku memandang diriku dicermin, menata rambut hitam sebahuku. Mengoles lipstik merah dibibirku. Aku tidak bisa menahan laju jantungku, untuk menciptakan kebahagiaan. Aku akan nonton bersama Rasta, untuk pertama kalinya. Setengah jam sebelum perjanjian aku sudah siap. Aku segera menuju teras depan kos-ku, duduk dan menunggu pangeranku datang. J
            15 menit lagi Rasta akan datang...
            Aku pandangi terus pintu gerbang kos-ku, aku membayangkan wajah tampan Rasta, aku akan tersenyum saat dia didepan gerbang kos-ku.
            30 menit berlalu....
            Rasta terlambat. Huft... wajar laki-laki sering molor. Aku beranjak dari dudukku dan membuka pintu gerbang. Dan berdiri disana menunggu Rasta.
            30 menit berlalu (lagi)...
            Tidak biasanya Rasta seperti ini. Ini terlalu lama untuk kata terlambat. Aku mulai gelisah. Kurpandangi jalan, sesekali kupandangi tiket ditanganku. Sekarang pasti filmnya sudah dimulai, batinku.
            Aku tidak bisa sms Rasta, kami berkomunikasi hanya lewat facebook. Pasti semua mengira aku bodoh, mau dibohongi Rasta, tapi itu permintaanku. Karena aku ingin terus bersama Rasta.
            Aku berjalan memasuki kos dengan langkah lunglai, aku tidak bisa menyembunyikan raut sedih diwajahku. Sakit. Aku harus bisa menerima ini. Ini resiko yang aku ambil.
            Aku merebahkan tubuhku dikasur, tanpa mengganti baju. Perlahan tapi pasti air mataku mulai membasahi pipiku, bedak yang kupakai mulai luntur. Tidak ada yang tau akan kesedihanku, mereka hanya menganggapku sebagai perebut pacar orang, hanya itu yang mereka tau.
            “Ting...Toong....”
            “Diraaa.... ada tamuu....”, teriak Mila teman kos-ku.
            Aku segera bangkit dan mengganti bajuku dengan baju santai, dan mencuci mukaku. Aku berlari kecil menuju pintu gerbang. Aku tau siapa yang datang, tamu yang sama, seperti biasanya.
            Aku melihat Rasta bersama motornya dibalik pintu gerbang. Aku mendekatinya...
            “Ra, maaf. Aku bikin acara kita batal...”ucapnya begitu aku didekatnya.
            Aku mencoba menahan amarahku. Aku tidak mau Rasta tau aku sedih, aku takut jika dia tau, dia tidak tega untuk melanjutkan hubungan ini.
            “Kenapa?”
            “Rinda tiba-tiba sakit, dan aku diminta untuk mengantarnya kedokter.. Maaf, lain kali pasti tidak seperti ini..”
            Hatiku sakit. Perih. Segitu cintanya kah dia sama Rinda? Sampai dia membatalkan janjinya padaku. Oh ya, aku lupa. Aku nomor dua.
            “Iya, tidak apa-apa kok!” jawabku mencoba ceria. Tapi mungkin aku gagal.
            Rasta mencium keningku. Dan semua kesedihan sirna.
J JJ

Diary Rinda
            Kebahagiaan ini hanya kebohongan belaka. Aku bahagia memiliki Rasta, penuh. Tapi aku tidak bisa menyentuh bagian sisi gelap hatinya, sisi gelap yang dimiliki wanita lain. Aku ingin mencapai sisi gelapnya, tapi sisi itu sudah diisi orang lain.
            Aku tidak tau harus menyimpan kenyataan ini sampai kapan. Sampai kapan aku bisa menjalani ini? Sudah hampir 4 tahun kami bersama, hampir tidak ada rahasia diantara kami. Tapi kini rahasia itu muncul dengan sendirinya kepermukaan. Saat aku meminjam notebook miliknya, aku membuka browser, dan langsung terbuka akun facebook miliknya.
            6 pemberitahuan, 2 permintaan teman, 1 pesan.
            Tidak ada yang menarik, tapi entah mengapa satu pesan itu membuatku penasaran. Aku membukanya. Dan seketika itulah rahasia itu kuketahui. Disana tertulis nama Radira khaylila. Banyak kata cinta dan sayang dipesan itu, bukan Cuma dari wanita itu, tapi juga dari Rasta. Emosiku memuncak, ingin rasanya aku memaki wanita itu dan memarahi Rasta. Tapi kuurungkan niatku setelah membaca salah satu pesan dari wanita itu.
            “Aku tidak ingin menyakiti Rinda, dia wanita, sama sepertiku, aku tidak ingin kalian putus karena aku, tolong jaga hubungan kalian seperti kita menjaga hubungan kita, tetaplah jadikan Rinda nomor satu, dan aku nomor dua. Isilah  sela-sela waktumu denganku saat Rinda tidak bisa mengisinya”
            Begitu cintanya kah Radira pada Rasta?
            “Aku mencintaimu, Radira. Semua kebaikanmu terhadap Rinda, adalah alasan aku mencintaimu. Aku akan menjaga hubungan ini. Seperti permintaanmu”

            Kekasihku yang sangat kucintai mencintai wanita lain. Siapa yang tidak sakit mengetahui semua ini, tapi apa yang harus kulakukan saat mereka berdua saling berjanji menjaga hubungan seperti ini.
            Aku juga akan menjaga hubungan ini, demi Rasta.
JJJ
            Diary Rasta
            Aku bahagia. Hidupku sempurna. Mencintai dan dicintai wanita cantik seperti Rinda. Senyumnya yang selalu kurindu. Sentuhan lembutnya yang selalu ingin kurasakan setiap detik, seperti candu dalam hidupku.
            Memiliki Rinda adalah hal terindah dalam hidupku, adalah mawar penghias taman hidupku. Tapi dari semua kesempurnaan yang dimiliki Rinda, ada sesuatu yang kosong dalam hatiku. Ruang gelap yang belum bisa diisi oleh Rinda.
            Sisi gelap yang mampu diisi oleh Radira. Wanita yang kutemui satu tahun yang lalu. Dia bukan wanita yang cantik dan sesempurna Rinda. Dia bukan mawar, tapi dia bunga ditepi jalan, dan aku memungutnya untuk menghiasi taman hidupku. Hanya dia yang mampu mengisi sisi gelapku. Sorotan mata sayunya, saat kami bertatapan dikampus, membuatku selalu ingin memilikinnya. Membuatku selalu ingin menjamahnya. Dia yang hanya selalu tersenyum saat berbicara denganku membuatku ingin berada disisinya.
            Sebagai laki-laki bukannya aku tidak tegas. Tapi aku tidak bisa memilih salah satu dari mereka, karena mereka sama-sama aku cintai, sama-sama yang melengkapi hidupku.
            Hari ini aku janji dengan Radira untuk nonton, aku sudah siap-siap untuk pergi, sampai ada sms masuk dari Rinda.
            “Ay, aku sakit. Bisa antar aku ke Dokter?”
            Aku bingung. Aku tidak sempat berfikir bagaimana cara aku memberitahu Radira, aku segera menuju kos Rinda.
            Aku melihat Rinda didepan teras kos-nya.
            “Kamu tidak apa-apa , Ay?”
            Dia menggeleng. Aku memegang keningnya.
            “Bukan disitu, Ay, yang sakit. Tapi disini...” ucapnya sembari memegang dadanya.
            Aku segera memeluknya. Apa dia sudah tau hubunganku dengan Radira? Apa aku menyakitinya? Aku benar-benar lelaki bodoh! Aku tidak bisa menjaga kedua wanitaku.
            Radira maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga hati Rinda.
            Jam sudah menunjukan pukul 11 malam, aku tidak yakin Radira masih terjaga. Tapi aku harus menemuinya.
            Aku menunggu didepan gerbang kosnya, tak lama kemudia Radira keluar. Dia memandangku. Aku melihat jauh didalam matanya, ada kemurungan disana. Saat aku minta maaf dan mengutarakan alasanku, dia bilang tidak apa-apa dan hanya tersenyum.
            Dia mencoba menutupi kesedihannya, tapi aku tau bagaimana Radira. Wanita pemalu yang bisa mengisi sisi gelapku. Tidak ada maksud dariku untuk mempermainkan cinta Radira, karena aku juga sangat mencintainya.
            Sentuhan yang berbeda yang Radira berikan untukku. Sentuhan yang bertolak belakang dengan Rinda. Radira sulit kutebak. Penuh dengan tanda tanya matanya, disetiap jengkal tingkahnya. Membuatku cinta.
            Aku mencium keningnya. Aku hanya ingin meyakinkannya, bahwa aku mencintainya, meskipun dia nomor dua.


Wulan sari, 26-12-11


Dec 10, 2011

Ini Caraku Mencintai


Jujur aku tidak ingin semua ini terjadi, dia pun begitu. Rasa yang dulu pernah ada kini bersemi kembali seiring kesendirianku. Mungkin factor inilah yang menyebabkan ini terjadi.
            Sebelum janur kuning melengkung, memang sah-sah saja, tapi penghianatan tetaplah penghianatan, apapun alasannya.
            “Kita berteman. Ok?” ungkapku, setelah sekian lama kami beragumen tentang pentingnya kesetiaan. Kumenunggu balasan darinya. Tak lama disudut kanan bawah layar laptopku, muncul warna biru dan angka satu.
            “Oh, teman? Teman yang setiap kali bertemu saling pandang dengan penuh arti?”
            “Teman yang ingin saling memiliki?”
            Aku menghela nafas panjang. Berfikir sejenak. Ada rasa bahagia dihatiku, tapi tetaplah pada kenyataan. Dia milik orang lain.
            Kilas balik satu tahun yang lalu, berputar seperti sebuah film yang diputar balik.
            “Apa maumu?”hanya itu yang bisa aku tulis. Aku menyerah.
            “Bersenang-senanglah denganku.”
            “Maksudmu?? Hubungan tanpa status?”
            “Atau Teman tapi mesra?”
            “Oke. Itu merugikanku.”


Aku tau yang kulakukan ini salah. Pasti aka nada yang tersakiti diantara kami bertiga. Dan aku yakin orang itu adalah aku. Apapun yang terjadi nantinya aku harus bisa menerimanya. Karena memang aku yang salah.
            “Naik!”suruhnya. aku melangkahkan kakiku dan naik motornya.
            Aku hanya diam, saat motornya mulai melaju meninggalkan kos-ku. Aku pun tak menanyakan kemana dia akan membawaku pergi, yang kutau sekarang dia mencoba untuk meraih tanganku. Aku mencoba untuk melepasnya tapi ia memegang tanganku dengan erat, atau karena aku mengingkannya. Aku pun mulai bersandar dipundaknya.
            “Re, udah sampe..”aku terbangun. Karena terlalu menikmati perjalan, aku sampai tertidur dipundaknya. Sungguh memalukan aku ini. Rasta menoleh kebelakang, sambil tersenyum,”Keenakan ya?” candanya.
            Aku memukul pelan pipinya. Dia malah tertawa menerima perlakuanku seperti itu. Dasar!
            Aku turun dari motornya. Berjalan menuju hamparan pasir putih didepanku, meninggalkan Rasta memakir motornya. Keadaan pantai saat ini tidak begitu ramai, hanya berisi muda mudi seperti kami. Bedanya mereka berpacaran atau keadaannya sama sepertiku? Tanpa status.
            Kurasakan pergelangan tanganku ada yang menarik. Rasta membimbingku kebibir pantai. Dan duduk diatas pasir.
            Duduk berdua seperti ini, belum pernah aku merasakannya. Perasaan ini sungguh bahagia. Sesuatu yang aku impi-impikan selama ini. Aku benar-benar lupa pada kenyataan yang ada.
            “Bagaimana kuliahmu?”Tanyanya sambil memandangku. Aku tersipu dan pandanganku lurus kedepan.
            “Yaa.. gitu-gitu aja!”jawabku tanpa berpaling dari ombak pantai, yang sesekali airnya mengenai kaki kami.
            Rasta tertawa. Aku menoleh kearahnya, aku bingung apa yang dia tertawakan. Apa jawabanku salah? Tapi aku yakin itu bukanlah pertanyaan yang membutuhkan sebuah kebenaran.
            “Kenapa?”
            “Kamu masih saja seperti dulu. Selalu memalingkan muka saat bicara denganku. Hmmm… atau dengan cowok lain juga??”
            “Nggak juga.”
            “Radira… Radira… .”
            “Rasta..Rasta…”balasku. aku sangat bahagia melihat senyum diwajah Rasta. Akumelihat kebahagiaan juga di raut wajahnya, aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku benar-benar lupa dengan kenyataan. Kulihat Rasta pun tak ingin membahasnya.
            Rasta menggenggam tanganku. Kami terdiam menatap hamparan ombak dihadapan kami. Sungguh indah.           
            “Ra, hujan.”
            Rasta menarikku menuju bebatuan untuk berteduh.
            “Ah, deres banget…” keluhku.
            “Nggak apa-apa semakin deras semakin bagus..”candanya.
            “Memangnya kamu mau tidur disini?”
            “Tak masalah asalkan sama kamu..”
            Aku tertawa. Tertawa bahagia. “Gombal!”
            “Kamu dingin nggak?”tanyanya. Dia menatapku tajam. Kali ini aku tak berpaling. Aku balik menatapnya. Lama kami terdiam.
            Aku merasakan sesuatu yang hangat dibibirku. Lembut. Seakan aku melayang tinggi, menari-nari diatas awan merasakan sejuknya angin di khayangan.  Kebahagiaan menyelimuti hati dan jiwaku. Kumenatap awan-awan putih dihadapanku, sedikit demi sedikit kumelihat sosok perempuan, semakin lama semakin jelas, itu Rinda, kekasih Rasta.
            Aku mendorong kuat bahu Rasta. Aku tak berani menatap wajah Rasta. Aku malu, sangat malu. Wanita macam apa aku ini? Aku hanya menunduk, tak tau harus berbuat apa. Aku berdiri dan meninggalkan Rasta, menerobos derasnya hujan saat itu. Aku bingung. Ini ciuman pertamaku.
            “Radira…”
            “Kenapa?”tanyanya saat kami berada didepan kos-ku.
            “Nggak seharusnya ini terjadi..”ucapku lirih.
            “Apa ini salah?”
            “Tentu saja salah,” aku menunduk.
            “Nggak ada yang salah ,Ra. Cuma waktunya saja yang tak tepat.”
            Aku menggeleng. Waktu yang tak tepat? Apa itu masalahnya? Bukan. Bukan itu. Masalahnya adalah kamu mempunyai kekasih dan kamu tidak bisa meninggalkannya. Bodohnya aku!!!
            Rasta mengulurkan tangannya.
            “Pegang tangganku.”
            Dengan ragu aku menyerahkan tanganku kegenggamannya. Dia tidak menjelaskan apa artinya itu. Tapi aku mengetahuinya. Dulu, aku menolaknya dan kini aku menerimanya, entah sebagai apa.

            Kumelihat anak-anak kecil berlarian, bercengkraman dengan ibunya.
            “Mereka lucu ya?”kataku tanpa berpaling dari mereka.
            “Jadi pengen punya satu. Bikin yuk?”canda Rasta kepadaku.
            Aku tertawa.”Enak saja!!” sudah tiga bulan lebih aku merasakan kebahagiaan ini, hubungan kami masih sama, tanpa status. Tapi tak jarang kami bertengkar karena masalah sepele, ataupun karena waktu Rasta tak sepenuhnya penuh untukku. Meskipun waktu Rasta paling banyak bersamaku, karena kekasihnya beda kampus dengan kami.
            “Dasar pesek!”ejeknya kepadaku. Aku sudah sering mendengar kalimat itu.
            “Biarin!! Toh, kamu juga suka!”balasku.
            “Ih, pede-nya!”
            “Daripada minder hayooo?”
            Aku melihat Rasta merogoh sakunya. Ponselnya bordering.
            “Iya, halo eib?”ternyata Rinda. Aku hanya diam dan melihat. Rasta melihatku dan meraih tanganku. Digenggam tanganku dengan erat. Rasa kekhawatiranku pun sirna. Seakan Rasta bilang “Kamu tidak usah khawatir”. Inilah resiko yang aku ambil. Mau bagaimana lagi.
            “Iya, ini lagi ada acara dikampus. Nanti aja ya eib kita lanjutin. Iya, love you too..”
            Sakit rasanya hatiku mendengar kalimat yang terakhir. Tapi aku sudah terbiasa dengan keadaan ini. Seperti aku terbiasa meminum air jeruk. Aku tau rasa air jeruk itu asam, tapi aku masih meminumnya.

Tiada hari tanpa ciuman. Itulah yang terjadi padaku sekarang ini. Entah ini karena aku mulai sangat mencintainya atau karena nafsu. Rasanya aliran darahku akan berhenti kalau sedetik saja kami tidak bertemu, interval pertemuan kami sangat dekat, bagaikan nada-nada yang saling membutuhkan untuk menciptakan sebuah melodi yang anggun.
            Separah itukah cintaku?
            Aku sudah tidak peduli siapa yang akan tersaikiti nanti, yang kutau saat ibi adalah kisah ini harus berlanjut. Harus sampai membuat bumi ini berhenti berputar. Harus sampai membuat facebookers berhenti meng-update status!!
            Terkadang aku merasa tidak enak hati, saat melihat status Rinda di Facebook.
            “Dia mulai berubah”
            “Aku hanya ingin bersamamu”
            Karena aku kah ini? Jahat sekali aku. Padahal Rinda sungguh baik padaku. Tapi mungkin saja, dia baik karena pertemuan kami hanya lewat Facebook. Rasta pernah menawariku untukberkenalan dengan Rinda secara langsung, aku menolaknya. Aku tidak mau perasaan bersalahku ini semakin bertambah jika mengenal Rinda lebih lanjut, dan mengetahui Rinda benar-benar baik, pasti akan membuat hatiku semakin kalut.
            “Aku didepan kosmu”
            Aku tidak bisa menahan urat-urat halus disekitar mulutku untuk tidak melebar dan menciptakan senyum dibibirku. Aku segera mengambil tas diatas meja dan segera turun untuk menemui Rasta. Aku tidak peduli dengan tatapan teman-teman kosku yang mengartikan “Wanita tak tau malu”, mereka sering memperingatkanku.
            “Nanti kamu sendiri yang bakalan loro ati, Ra…”
            Dan aku hanya menjawab,”Aku tau.”
            Aku dan Rasta duduk disalah satu meja  foodcourt , kami duduk berdua dan bercanda tanpa memperdulikan puluhan orang disitu. Orang-orang bilang,” dunia bagai milik berdua, yang lain ngontrak,” mungkin itu yang saat ini kami alami.
            “Ra, kamu manis sekali….”rayuan Rasta terlontar dari bibirnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
            “Radiraaa… selalu hanya tersenyum….”ucapnya. dan itu membuatku tersanjung.
            “Memangnya tidak boleh?”
            Rasta tersenyum dan meraih tanganku. Kami saling pandang tanpa bicara, sepertinya dia tau apa isi hatiku. Aku sangat bahagia.
            “Eib…”
            Aku mendengar seorang wanita berbicara kearah kami. Dan aku sudah melihat seorang wanita berperawakan tinggi dengan rambut menjuntai kebawah sampai bahu.
            “Rinda…”wajah Rasta berubah pucat. Begitupun aku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya diam dan melihat Rinda pergi meninggalkan kami.
            Aku melihat wajah Rasta penuh dengan penyesalan. Aku tidak pernah melihat wajah Rasta seperti ini, sungguh menyiksaku. Wajah sedih itu.
            “Ra, aku…”
            “Pergilah…”aku memotong kalimat Rasta.”Kejar dia,”entah apa yang kukatakan, semua kaliamat itu muncul begitu saja.
            “Tapi…”
            “Kita hanya bersenang-senang. Pergilah…”
            “Maaf…”ucapnya sambil mencium keningku dan aku melihatnya pergi. Aku hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin menjauh dari hadapanku. Dia sama sekali tidak menoleh kearahku.
            Kini aku tau siapa yang tersakiti diantara kami.