Dec 6, 2012

Selangkah lebih maju. Ayeee!!!

Yeaahhhhh Cerpenku dimuat disalah satu website!!!

Memang sih, itu website baru akan tetapi untuk bisa dimuat di website itu, harus menjalani seleksi dulu.
Itu tandanya cerpenku layak kan? hihi

Entah mengapa, saat aku mendapatkan informasi bahwa cerpenku dimuat, ataupun saat aku diterima menjadi salah satu peserta menulis. Aku merasa pintu aku untuk menjadi novelis terbuka lebaaarrrrrrrrrrr.......

hihi

INI MIMPIKU DARI SMP!!!

Awalnya, dulu waktu buat cerpen. kosa kataku ancur!! Cara penulisanku bobrok!!
Sangat sering aku mengirim cerpen ke majalah lokal, tapi tidak pernah dimuat!!
Sampai akhirnya waktu SMA cerpenku dimuat

Seneng ga ketulungan!!!

Sedikit demi sedikit cara penulisanku semakin membaik. seiringnya aku mengasah kemampuanku. 

Oke silakan baca cerpenku di 

Nov 5, 2012

Masa Lalu Itu, menyeretku dalam lembah kegalauan

Aku sudah berhasil melupakannya...
Dua tahun yang lalu, aku berhasil melepaskan jeratan cintanya..
Aku berhasil melawan rasa cintaku dan meninggalkannya...
Akan tetapi, beberapa minggu yang lalu, saat dia kembali kedesa ini..
Aku menatap matanya...
Aku melihat masa lalu disorotan matanya, dan akupun seperti terseret kedalamnya...
Kenangan-kenangan akan tentang dirinya begitu terlihat jelas.
Semua kenangan itu terekam dengan rapi, dan berputar kembali dalam otak dan hatiku
Ada sedikit penyesalan dalam hatiku, "Kenapa dulu aku meninggalkannya?"
Ahh, tidak! itu adalah keputusan terbaik! Kami memang seharusnya tidak bersama..

Aku seperti kembali kedalam masa-masa SMA-ku saat aku yang diam-diam curi-curi perhatian
Saat aku masih menjadi pemuja rahasianya...
Aku sering berharap dia akan mengikutiku dan bertanya "Kenapa kamu ninggalin aku?" pada kenyataannya itu tidak pernah terjadi.

Dan semua kenangan itu, mencabik keteguhan hatiku. Tidak! Aku tidak boleh seperti ini.
Air mataku pun tidak bisa ditahan lagi. aku menangis sejadi-jadinya..
Apa yang aku tangisi? Bukankah aku yang meninggalkannya?
Aku masih belum bisa melepaskannya dengan wanita lain, dia sudah beristri dan menjadi seorang ayah.
Hal, yang paling aku inginkan adalah nama anaknya ada namaku, agar aku tersenyum puas, bahwa dia masih mengingatku. Tapi itu tidak mungkin.

Masa lalu itu, memelukku erat, aku mencoba kembali melepaskannya perlahan... Sangat pelan...

*Untuk MasQ, berbahagialah engkau dengan keluarga barumu, aku meninggalkanmu bukan karena lelaki lain, tapi memang karena kita harus berpisah. Kini tersenyumlah, karena pada kenyataannya aku masih belum bisa melupakan kenangan kita. Aku ingin kita masih saling menyayangi dengan keiklasan hati berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing. 
Sep 30, 2012

Dea




“Menikahlah denganku,
            Kalimat itu muncul dari bibir tipisnya, seharusnya setiap wanita yang mendengarkan kalimat itu akan berbunga-bunga, tanda dia bahagia. Mungkin jika kalimat itu terucap darinya tujuh bulan lalu, aku akan bahagia, seperti wanita kebanyakan. Akan tetapi, itu adalah kalimat yang terlambat untuk diucapkan atau lebih tepatnya kalimat yang tak pantas diucapkan oleh seorang pria yang sudah beristri.

Sep 18, 2012

Ayunan Ingin Kembali Berderit

Terdengar suara deritan memiluhkan ditaman itu.
Orang-orang awam mendengarnya sebagai deritan biasa,
mereka tidak memahami deritan itu seperti jeritan kesedihan.
Dia sendirian diantara ribuan daun yang gugur mengotori tanah ditaman itu. Kenapa dia harus sendirian
sedangkan yang lain bernyanyi beriringan.
Tak jauh dari posisinya, terdengar deritan yang sama,
akan tetapi deritan itu terdengar seperti tawa yang bersautan.
Tertawa dengan segala kebahagiaan.
Dulu dia juga berderit bersama, menceritakan kisah yang ada,
membuka rahasia jiwa yang menangis.
Kini dia sendiri, berderit seorang diri.
Ayunan itu bergerak perlahan, menghibur dirinya yang sendiri
Sep 17, 2012

Ucapku Dusta

Aku bilang aku tidak menangis
Tapi aku cemburu
Tiap gerak bola mataku mengarah padamu
Tiap aku berusaha tuk relakanmu
Rasa cemburu itu menyayat impianku
Kita sama, justru karena itulah kita tak bersatu
Seperti dua kutub magnet yang saling menolak
Seperti tembok cina tepat diantara kita
Inginku memanjatnya tuk meraihmu, tapi kutak sanggup
Inginku memutarinya tuk menemuinya, tapi kusudah capek
Maafkan aku yang mencintaimu
Maafkan aku yang mengagumimu
Karena kebaikanmu cinta ini ada
Karena kamu yang selalu bisa membuatku selalu ada
Kenyamanan yang kurasakan
Rasa yang selalu ingin dekat
Hasrat untuk bersama yang selalu meronta-ronta
Kaki yang selalu ingin berjalan kearahmu
Mata yang selalu ingin melihat wajahmu
Telinga yang selalu ingin mendengar suaramu
Memaksaku untuk terus mengingatmu
Tiap detik tiap waktu..
Inginku kembali menikmati ayunan bersamamu..
Mengitari danau berdua, bersama..


Sep 14, 2012

Cowok ganteng menurut pandanganku

Iseng-iseng mau posting pendapatku soal mandang cowok. Just for fun aja guys! Ini masih ada beberapa, nanti kalo ada lagi aku tambahin. kalo temen-temen mau nambahin silakan, nanti aku posting juga, :D

1.    1.    Cowok ganteng bener-bener ganteng
Cowok tipe ini memang secara fisik benar-benar ganteng. Kita bisa buktikan cowok benar-benar ganteng apa tidak, dari awal pertama kita bertemu. Jika awal bertemu saja kita sudah merasa, “Wow, ganteng!” Sudah dipastikan dia memang benar-benar ganteng.
2.     2. Cowok ganteng Background
Jika kalian tipe cewek yang memandang cowok dari “apa yang dia punya” kalian termasuk, tipe cewek yang memandang cowok dari ‘background’ (bahasa kasar: Matre). Jadi disini, kalian melihat ganteng tidaknya cowok dari background mereka. Misalnya, Cowok A jika jalan kaki akan terlihat biasa-biasa aja, akan tetapi jika dia sudah naik Honda Jazz, atau ternyata dia pengusaha, dia akan terlihat ganteng.
3.       3. Cowok yang kegantengannya turun 100%
Untuk yang satu ini cukup simple, karena kita melihat cowok “Wow, ganteng!” akan tetapi setelah mengetahui dia udah punya cewek (apalagi ceweknya temen sendiri) kegantengannya akan turun 100%!!!! :D
4.      4.  Cowok ganteng ga keliatan ganteng
Yang satu ini, awalnya dia keliatan ga begitu menarik, akan tetapi lama kelamaan karena sering ketemu, kenal, diperhatiin baik-baik ternyata ganteng. Jadi kesimpulannya dia ganteng Cuma kita baru nyadar aja :p
5.       5. Cowok ganteng diganteng-gantengin
Aslinya kurang ganteng, Cuma karena penampilannya diganteng-gantengin, jadinya keliatan ganteng . Jadi aslinya biasa aja, Cuma gayanya aja yang oke.

Oke, cukup sekian. Kalo kalian mandang cowok ganteng kayak gimana? :)


Sep 10, 2012

Hilangnya surgaku


Aku menatap kaca dihadapanku. Memandang setiap detail bayangan yang ada didalamnya. Mata belok, hidung mancung, bibir tipis, pipi tirus. Tidak ada yang salah akan wajahku, akan penampilan fisikku. Tubuhku juga tinggi semampai. Semua terlihat hampir sempurna.
            Tidak ada yang salah denganku,batinku.
            Aku terduduk diranjangku. Kasur yang empuk dengan hiasan bunga anggrek, bantal dan gulingku bermotif senada. Aku melihat sekeliling kamarku. Ipad berwarna putih terletak diatas meja belajarku, beserta laptop dengan warna serupa disebelahnya. Semua kebutuhan finansialku terpenuhi. Setiap ada gadget keluaran terbaru, aku pasti bisa mendapatkannya tanpa susah payah. Hampir semua yang aku inginkan terpenuhi.
            Aku cukup popular disekolah. Aku memiliki banyak teman, mulai dari teman seangkatan sampai kakak kelas. Aku cukup pintar untuk bergaul. Nilai-nilai raporku pun tidak pernah dibawah delapan. Setiap kali aku melangkahkan kaki dikoridor sekolah, hamper semuanya tersenyum padaku. Dan cukup banyak yang mengutarakan perasaannya kepadaku, akan tetapi tidak ada salah satu dari mereka yang menarik perharianku. Pria-pria yang silih berganti mendekatiku semua sama saja, cowok mata keranjang tingkat tinggi!! Kecuali Fadil.
            Aku mengingatnya dengan jelas bagaimana aku bertemu pertama kali dengan dia, setahun yang lalu, momen itu tidak akan pernah luntur dari cengkraman ingatanku. Momen yang sulit kulupakan. Hari itu, hari pertama kali aku menginjakkan kakiku disekolah ini, dan payahnya aku dating terlambat. Aku berlari kecil untuk mengejar waktu, dan sialnya aku belum tau dimana kelas-ku. Aku cukup kebingungan saat itu. Didepannku banyak sekali deretan kelas-kelas. Dan saat itu kulihat seseorang sedang berbaring dibangku panjang, dengan lengan tangan kirinya menutupi mata dan tangan lainnya memegangi mp4. Sepasang headphone putih terpasang pada kedua telinganya. Pergelangan sepasang sepatu kets-nya bergoyang kekanan dan kekiri, terlihat sangat jelas dia menikmati music yang terputar di mp4-nya.
            Aku mendekatinya, sedikit membukuk.
            “Maaf. Kelas sebelas ipa satu dimana ya?”
            Tidak ada reaksi darinya. Setelah beberapa detik tangan kirinya bergerak dan menunjuk kearah sebuah pintu dibelakangku. Astaga, kelas yang aku cari tepat dibelakangku.
            “Mmm, terima kasih,” ucapku. Dia hanya mengepal jarinya dan mengangat ibu jarinya, dan kembali menikmati lagunya.
            Aku memasukki kelas itu , aku cukup beruntung karena hari jam itu guru yang mengajar sedang berhalangan hadir sehingga, aku bisa  membaur dengan teman-teman baruku. Tidak sulit buatku untuk cepat akrab dengan mereka. Aku dikelilingi oleh teman-teman baruku, mulai dari cewek sampai cewek. Mereka menanyakan darimana asalku, kenapa aku pindah kemari. Saat itu aku melihat seseorang yang kulihat diluar kelas tadi, celana abu-abu dan baju putih yang kebesaran, memasukki kelas dan duduk dipojok. Ternyata dia sekelas denganku. Aku memperhatikannya diam-diam. Dia masih menikmati music-nya, sambil bibirnya bergerak tanpa suara. Dia sama sekali tidak melihatku, sementara teman-temannya yang lain sedang menyaiku dengan pertanyaan bertubi-tubi.
            “Eh, Rin, lagi merhatiin siapa sih?” senggol Yesi, teman sebangku-ku, saat dia melihatku terdiam melihat kearah cowok tadi. Yesi mengikuti sorotan mataku.”Oh, liatin si Fadil toh.”
            Dan cowok itu bernama Fadil.
            Aku menarik semua memori setahun yang lalu, dan tetap duduk termenung diatas ranjangku. Dalam satu tahun ini aku memerhatikan Fadil dalam diamku. Aku sering mengikutinya  saat dia keluar kelas ditengah jam pelajaran berlangsung. Mengikutinya secara sembunyi-sembunyi, dan aku melihatnya duduk ditaman sambil membaca sebuah buku. Aku tidak tau buku apa itu. Aku sudah sering mengikutinya , entah dia pergi kekantin, ataupun perpus.
            Sampai suatu saat aku mengikutinya lagi, sampai ditikungan aku kehilangan dia.
            “Kamu ngikutin aku?” aku mendengar suara dibelakangku. Entah darimana dia datangnya, Fadil sudah berada didepannku saat ini. Aku merasakan sedikit panas diwajahku. Aku yakin saat ini wajahku memerah.
            “Ah, tidak. Aku mau ketoilet.” Sangkalku.
            “Toilet? Kamu salah arah. Ini jalan menuju surga. Arah ketoilet kesana,”ucapnya sambil mengarahkan ibu jarinya kearah belakangnya.
            “Oh, iya.” Aku gugup. Aku bahkan tidak berani menatap wajah cowok didepanku ini. Matanya yang sayu, rahangnya yang keras. Aku tidak pernah merasakan ini. Pada cowok manapun. Aku segera berjalan meninggalkannya, tapi kuurungkan niatku.
            “Fadil,” panggilku. Dia menoleh,” Boleh aku ikut?”
            Dia menggerakkan dagunya, mengisyaratkan aku untuk mengikutinya. Dia berjalan kearah taman, dan duduk ditempat yang sama seperti yang kulihat sebelumnya. Aku duduk disebelahnya.
            “Ini surgamu?” tanyaku.
            “Kemanapun kamu pergi, bawalah kesukaanmu, maka itulah surgamu…” jawabnya sambil menunjukkan mp4 ditangannya.
            Aku tersenyum. “Kenapa kamu sering keluar kelas saat jam berlangsung?”
            “Karena aku tidak bisa menikmati surgaku disana..” jawabnya tanpa melihatku.
            “Boleh aku mendengar surgamu?”
            Dia melepas salah satu earphone-nya dan diberikannya padaku. Aku menerimanya dan memasangnya ditelingaku. Aku sayup-sayup mendengar sebuah lagu, entah lagu siapa, yang pasti aku mendengarkan lagu yang sama seperti yang Fadil dengarkan, ditempat yang sama, dari mp4 yang sama. Aku melihat Fadil menutup matanya , menikmati musiknya. Aku merasakan surge duniaku.

Yesterday, all my troubles seemed so far away.
Now it looks as though they’re here to stay.
Oh, I believe in yesterday.Suddenly, I’m not half the man i used to be,
There’s a shadow hanging over me,
Oh, yesterday came suddenly.

             
            Sejak saat itu, kami jadi sering bertemu dan menikmati music bersama. Aku masih sering mengikutinya. Aku merasakan perasaan yang berbeda terhadapnya. Kebiasaan uniknya, sifat cueknya. Itu semua membuatku memperhatikannya lebih. Hingga, siang tadi, sepulang sekolah, aku memutuskan untuk mengutarakan perasaanku kepadanya. Aku merasa yakin dia memiliki perasaan yang sama setelah kedekatan kita selama ini.
            “Aku sayang kamu..” kataku tanpa basa basi. Fadil masih duduk diam dan masih mendengarkan mp4-nya. Seakan dia tidak mendengar ucapanku.
            “Fadil, aku serius,” ucapku lagi. Dia masih diam saja. Aku sudah tidak tahan dengan ke-cuek-annya, aku mengambil mp4 ditangannya.
            Dia terlihat kaget. Dia menatapku. Aku melihat tatapan yang berbeda disana. Tidak seperti biasanya. Baru kali ini dia benar-benar melihatku.
            “Aku sayang kamu,” ucapku sekali lagi.
            “Kamu tau? Kamu sudah merusak surgaku..” katanya sambil mengambil mp4 ditanganku dan pergi tanpa memperdulikan aku. Semua pernyataan cintaku tidak diperdulikannya. Apa artinya aku ditolak? Lalu apa lagi.
            Kurasakan aliran darahku mengalir tidak seperti semestinya. Aku baru merasakan hal ini. Untuk pertama kalinya aku menyatakan cinta dan pertama kalinya cintaku ditolak.
            Aku tidur diranjangku, masih mengenakan seragam putih abu-abuku, sejak sepulang sekolah tadi aku belum keluar kamar. Aku mengunci diriku hanya untuk menikmati air mataku yang mengalir melewati pipiku. Setiap kali aku mengingat kejadian tadi siang, terasa sakit disetiap hembusan nafasku, sesak. Seperti ada sesuatu yang terbelenggu didalamnya.
            Seakan surgaku pergi dari hidupku.



            
Sep 7, 2012

Ada yang Hilang


Ketika kamu sudah tak lagi sendiri
Ada yang salah padaku, ada yang pergi
Tawamu sudah ada yang memiliki, senyummu sudah menjadi milik orang lain
Aku tidak merasa sebebas dulu, menyatakan apa yang ada, apa yang nyata
Kau bahkan belum mengetahui aku, dan hidupku
Aku baru mengawalinya
Aku baru mau memperbaikinya
Air itu sudah tidak senikmat dulu, senikmat kita bercerita diayunan
Kau tidak menyadari, kau sosok sempurna itu
Sosok yang sungkan tuk kumiliki, sosok yang enggan kutinggalkan
Kau bahkan tidak pernah bisa membaca penantianku
Aku bukanlah sosok cantikmu
Aku bukanlah sosok ceriamu
Tapi akulah  pemujamu..
Aku menangis dalam diamku, tersenyum seakan bahagia
Aku kehilanganmu, untuk sekian kalinya..

Kini,
Ada yang lain dalam tatap matamu,
Keindahan itu, bukan untukku..
Bukan untuk jawaban kegundahanku..
Ada yang hilang..
Mungkin kau mendapatkan separuh jiwamu kembali…
Tapi tidak denganku
Ada yang pergi bersama kebahagianmu..



Sep 6, 2012

Terima Kasih Teman (katanya)



Yang mereka tau aku hanya merengek, tidak berani menghadapi kenyataan. Yang mereka tau aku hanya seorang wanita "Alay" yang memperbesar masalah. Dan jika memang anggapan mereka itu benar, lalu apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa memang benar seperti yang mereka katakan?

Aku lucu?

Aku hanya seorang wanita yang ingin dicintai. sama seperti kalian. Kamu dan mereka. Aku memang mudah jatuh cinta, semudah aku membalikkan tangan, semudah aku meneguk air minumku. Tapi aku selalu mencoba untuk mencintai satu orang dan berfokus untuk mendapatkannya. Dan aku selalu merasa telat akan hal itu. Orang yang aku cintai selalu mencintai temanku.

Teman?

Mereka menyebut diri mereka teman, akan tetapi saat menghadapi cinta entah kata teman itu menguap begitu saja. Mungkin jika aku ada diposisi mereka, aku akan melakukan hal yang sama.

Seperti si A, dia selalu aku ceritakan tentang kisah orang yang aku cintai, si K tapi pada akhirnya dia juga mencintai orang tersebut, dan kata teman itu memudar.

Si B, dia dekat dengan orang yang aku cintai, si H dan aku tidak ingin terulang kembali hal yang aku alami maka aku bilang terus terang padanya jangan dekat dengan si H, dan dia bilang mereka hanya teman. Dan pada kenyataannya, mereka tetap dekat.

Si C, saat aku mulai melepaskan si H, dan mulai "menggantung" harapku pada si K, si C pacaran dengan si K.


Dan mereka semua temanku, teman disekelilingku. teman seperjuanganku.

Sekarang aku benar-benar merasa seperti angin lalu. Aku tidak berharga. Tidak ada yang menghargaiku...

Apa aku memang pantas mendapatkan itu semua?


Terima Kasih,
Sep 5, 2012

Dalam diamku



Biarkan aku mencintaimu dalam diamku
Ijinkan aku memandang kedua bola matamu
Biarkan aku menikmati kedamaian saat bersamamu
Kamu bagai air dalam keringnya telaga hatiku

Aku sudah capek memutari bumi..
Ijinkan aku untuk pulang..
Rumahku adalah kamu..



Sep 4, 2012

Air itu kamu



Satu pertanyaan dalam hidupku yang sampai sekarang belum pernah aku temukan jawabannya. Tidak juga pada rumput yang bergoyang ataupun dari doa-doa malamku.
“Kenapa AKU?”
Pertanyaan singkat sekaligus bodoh. Ya, aku memang bodoh karena aku tidak tau jawabannya. Semuanya terjadi begitu saja. Seperti hujan yang turun diteriknya siang, seperti angin yang berhembus dikesunyian malam. Semua terjadi. Begitu saja.
            Siapa yang tidak ingin dicintai? Tidak ada. Semua orang butuh cinta yang mengakar kuat dihatinya. Yang mengalir deras dalam denyut nadinya. Aku juga membutuhkan cinta seperti aku butuh untuk bernafas. Aku hidup untuk cinta dan karena cinta aku hidup.
Aku menyukai temanku. Cara dia bertutur kata, cara dia memandang, cara dia tertawa dan hembusan nafasnya. Salah satu hal terindah yang pernah aku alami adalah bersama dia. Menikmati indahnya taman bermain. Diam dalam kebisuan, sampai tertawa tanpa arti.
Tapi semua yang kualami itu hanyalah dalam ruang lingkup teman. Tidak lebih.
            Hari itu aku mengajaknya ketaman dikota ini. Entalah, darimana keberanian itu muncul. Yang kutau aku hanya ingin mengobrol dengan dia, aku merasa nyaman. Tidak lebih. Aku merasakan kekaguman padanya, pada teman SMA-ku ini. Dia adalah hal yang kuingin miliki akan tetapi aku juga merasa tak pantas untuk dimiliki olehnya. Aku hanya wanita yang tidak mempunyai suatu hal yang membuat dia melihatku.
            Aku bersiap untuk pergi dengannya. Tidak ada rasa deg-degan dalam hatiku seperti saat pergi dengan laki-laki lain. Yang ada hanya rasa nyaman. Aku berada tepat dibelakangnya, melihat tengkuk lehernya, berusaha tidak memegangnya saat laju motor yang kami tumpangi meliuk-liuk dijalan raya.
            Sampai ditaman, kami hanya duduk, berjalan mengitari danau, dan berbicara. Meskipun kebanyakan dia yang berbicara dan aku memilih untuk diam dan mendengarkannya.
            “Aku ingin lihat kamu berhijab.”
            Sebuah kalimat yang ia lontarkan itu, membuatku teringat kembali dua tahun lalu. Kalimat yang sama. Kalimat yang membuat aku “GALAU”. Kalimat yang sederhana tapi sangat mendalam artinya. Suatu hal yang ingin kulakukan tapi aku ragu akannya. Sebuah kalimat yang setara dengan menyuruhku untuk menikah saat aku masih ingin menikmati kebebasan dalam hidupku.
            “Aku akan mengenakannya saat sudah menikah,”itu jawabanku.
            “Telat.”
            Aku tidak tau apa arti dari jawabannya. Entalah.
***
            Sudah hampir subuh. Dan aku masih terjaga. Masih memikirkan ucapan temanku kemarin siang. Aku hanya menangis saat mengingatnya. Apa yang aku cari didunia ini? Aku hanya ingin damai, tidak ada keresahan dalam hidupku. Aku menangis. Tapi aku tidak tau apa yang kutangisi. Aku terisak diam saat teman-temanku yang lain tidur dalam mimpi indahnya. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku diam dalam tangisku. Aku memutar semua otakku. Hal-hal yang aku lakukan demi mendapatkan laki-laki yang aku cintai. Aku lakukan segala cara, sampai tidak peduli dengan kesehatanku. Semua hal yang aku lakukan demi orang lain yang sia-sia. Dan apa yang pernah aku lakukan untuk Allah? Tidak ada. Tangiskupun semakin mendalam.
            Sebuah keinginan yang sudah kurencanakan akan kulakukan saat sudah menikah nanti, tiba-tiba muncul. Aku ingin berhijab. Tapi apa ini niatku dari dalam hati, atau hanya karena temanku itu? Teman yang diam-diam kukagumi sejak SMA. Teman yang diam-diam ingin kumiliki.
            Teman yang mencintai sahabatku sendiri. Ya, dia mencintai sahabatku, Anti. Aku benar-benar merasa kehilangan saat itu. Dan kini rupanya perasaan itu muncul kembali kepermukaan tanpa ada yang bisa mencegahnya.
            Aku ingat saat kami ditaman, dia memanggilku.
            “Ni…”panggilnya. Dan dia diam.
            Aku menatap matanya untuk sekian detik dan memalingkan muka. Dan disaat itulah aku perasaan aneh yang bergejolak dihatiku.
            Dan dia hanya tertawa melihat reaksiku. Dan saat itulah aku menyadari dia memiliki bulu mata yang panjang sehingga aku hampir tidak melihat kedua bola matanya.

            Mulai hari itu aku mengenakan jilbab. Aku tidak peduli lagi untuk siapa aku mengenakannya. Mungkin jika iya, awalnya aku karena dia, aku anggap itu sebagai penyemangatku. Dan memang saat aku mulai ragu aku mengingat dia. Saat aku mulai malas untuk salat aku mengingat dia. Dia penyemangatku yang hilang dulu.
            Aku selalu cerita dengan dia saat ada hal-hal penting yang terjadi dalam hidupku. Aku ingin berbagi dengan dia, sekaligus ingin dekat dengannya. Karena hanya padanya aku berani mengungkapkan keinginanku. Karena hanya dia yang peduli akan diriku. Saat dia bilang aku cocok memakai jilbab, aku semakin semangat untuk terus mengenakannya. Untuk terus memperbaiki diri. Aku merasa sudah menemukan penyemangatku.
            Dan hatiku mulai ragu saat mengetahui dia mempunyai kekasih. Aku merasa kehilangan dia untuk kedua kalinya. Aku takut semua akan berubah. Kebaikan yang baru kumulai. Tunas yang baru tumbuh seakan terinjak-injak. Seakan aku tidak bisa tumbuh, karena aku membutuhkan air. Seperti yang kamu bilang sifat air itu menyegarkan. Dan aku melihatnya pada dirimu.
            Kini, aku tau siapa saja wanita yang pernah hadir dalam hidupmu. Dan diantaranya tidak ada aku.



Aug 14, 2012

Sinopsis: Kerumitan Cinta


Sebuah pertemuan yang tak terduga. Pertemuan yang istimewa, dan berlanjut pada perjalan cinta yang romantis dan berakhir bahagia. Itulah yang diharapkan Radira terjadi dalam kehidupannya. Tapi itu hanyalah harapan kosong. Nyatanya, hidup Radira datar. Sedatar hidungnya!
Begitupun dengan pertemuannya dengan Rasta. Cowok yang akhir-akhir ini dekat dengan dia. Pertemuannya dengan Rasta, tidak seromantis yang Radira harapkan. Radira kenal Rasta melalui teman SMA-nya, Jojo. Radira meminta Jojo untuk membantunya mengerjakan tugas kuliahnya, dan Jojo datang kekos Radira bersama Rasta dan Samuel. Disanalah awalnya mereka kenal.
Rasta tipe cowok yang sedikit berantakan, karena memang dia anak Teknik Mesin sedangkan Radira cewek Teknik Informatika yang sedikit pemalu. Tiada hari tanpa smsan, hangout, ngobrol, meskipun kebanyakan Rasta yang bicara dan Radira “hanya” tersenyum. Dan inilah yang membuat Rasta tertarik dengan Radira. Sederhana dan pemalu.
Baru sebulan mereka saling kenal, Rasta menyatakan cintanya pada Radira. Hal ini membuat Radira ragu. Semudah itukah Rasta mencintainya? Mereka baru mengenal satu sama lain. Dan tidak mungkin Rasta belum mempunyai kekasih. Dia ganteng, tinggi, supel. Hal yang tidak mungkin bila dia masih sendiri.
Dan setelah Radira memantapkan hatinya untuk menerima Rasta, hal yang dikhwatirkan Radira terjadi. Rasta mengakui bahwa dia masih mempunyai kekasih. Adik kelas di SMK-nya dulu. Itu membuat Radira kecewa dan memutuskan untuk tidak menerima Rasta. Akan tetapi Rasta masih berusaha untuk tetap bersama Radira. Dan akhirnya radira menyuruh Rasta untuk putus dengan kekasihnya, akan tetapi Rasta menolak dengan alasan dia masih saying dengan kekasihnya. Radira kecewa untuk kedua kalinya. Radira tidak mengerti apa yang diinginkan Rasta.
Satu tahun berlalu, Radira sudah lama tidak pernah bertemu Rasta dikampus lagi. Hanya lewat facebook Radira bisa melihat Rasta, dan mengetahui siapa kekasihnya.
Setiap kali bertemu dikampus, Radira dan Rasta tidak pernah menyapa. Tapi hanya saling berpandangan dengan penuh arti. Masih ada cinta diantara mereka. Seringkali Rasta chat di facebook dengan Radira. Cowok itu masih berharap Radira bisa menjadi kekasihnya. Dan tidak ada yang bias dilakukan oleh Radira selain berkata iya. Pendiriannya tidak sekokoh satu tahun lalu. Cinta yang dipendamnya selama satu tahun terkuak.
Kini, Radira tidak peduli dengan kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa kekasih Rasta sekarang berada satu kota dengan mereka, dia sudah memasukki bangku kuliah Cuma beda kampus.
Radira tau siapa yang akan tersakiti nanti, Radira tau betul akan hal itu. Tapi, cinta. Cinta yang membuatnya bertahan menjalani dan menjadi cinta kedua dihati Rasta. Radira harus mengalah saat Rasta harus bersama kekasihnya. Harus selalu tersenyum saat Rasta harus mengutamakan kekasihnya.
Bukannya Rasta serakah ingin memiliki kedua gadis dalam hidupnya. Dia pria normal yang mencintai dua gadis dalam hatinya. Bukannya Rinda, kekasihnya tidak sempurna. Bahkan Rinda sangat sempurna, secara fisik jauh melebihi Radira. Sifat Rinda juga sangat baik kepada Rasta, cinta Rinda juga begitu besar pada pria itu. Akan tetapi, ada sisi gelap dihati Rasta yang tidak bias dijangkau oleh Rinda. Hanya Radira yang sanggup mengisi sisi gelap itu. Hanya Radira yang sanggup membuatnya menari-nari dalam kegelapan itu.
Kecurigaan Rinda selama ini terbukti. Sudah lama dia merasa kekasihnya yang amat dia cintai itu memiliki cinta yang lain. Dan akhirnya, dia mengetahuinya dari pesan facebook Rasta yang secara tak sengaja dia ketahui. Dia memutuskan untuk diam, karena dia tau betapa Rasta mencintai gadis itu dan mencintai dirinya. Dia pasrah. Dan semua ini demi Rasta. Pria yang dicintainya. Dan puncak dari kesabarannya runtuh, saat dia memergoki Rasta dan Radira berduaan.
Hubungan cinta Radira dan Rasta pun berakhir,Rasta lebih memilih bersama Rinda, kekasihnya. Tidak ada kata putus diantara mereka, seperti saat mereka bersama tidak ada kata pacaran. Yang ada diantara mereka hanya cinta yang saling ingin bersama.
Setelah menempuh kuliah selama lima tahun lebih, karena dia harus menempuh dua tahun lagi untuk mendapatkan gelar S1 akhirnya Radira lulus , dan dia ditugaskan untuk mengajar disebuah sekolah kejuruan di Tulungagung. Disanalah dia bertemu dengan Rasta, yang lebih dulu mengajar disitu. Cinta telah mempertemukan mereka kembali. Radira yang masih belum bisa menggantikan cinta Rasta dihatinya, dan Rasta yang kini telah sendiri karena Rinda mendapatkan beasiswa di Jepang dan menetap disana. Dan sisi gelap Rasta masih menanti kehadiran Radira.
Sekarang apa cinta mereka masih serumit dulu?



Aug 12, 2012

Ternyata Jodohku Dekat Denganku...

Vemale.com - Banyak orang galau memikirkan jodoh. Dalam kegalauan tersebut, tak sedikit di antara mereka berupaya untuk memantaskan diri agar menjadi pribadi yang berkualitas. Tetapi justru menunjukkan kegalauan dengan kegiatan-kegiatan yang kurang penting, hingga lupa dengan meningkatkan kualitas diri.
---
" Allah... rencanamu selalu indah. Kami bertemu pada masa yang tepat, ketika masing-masing dalam upaya memantaskan diri."
Aku seorang wanita berumur 26 tahun. Selama 26 tahun, aku hidup bersama orang tua dan dua adikku. Kami hidup sederhana bahkan kadang di bawah batas kemiskinan. Ya, itu sempat terjadi saat aku kecil dulu. Kini, setelah aku bekerja, keadaan keluargaku sedikit demi sedikit mulai membaik.
Di usia ke-26 ini, seperti halnya dengan perempuan seusiaku, aku galau memikirkan jodoh. Wajar, bukan, jika aku memikirkan pendamping hidupku di usia yang relatif matang untuk wanita? Banyak cara kutempuh agar aku bisa segera mendapatkan jodoh. Hingga satu waktu aku bertemu dengan seorang ustadz yang menyuruhku untuk memperbanyak sedekah, sholawat, dan membaca al-quran. Dan, aku menurutinya. Aku melakukannya rutin setiap hari. Bersedekah semampuku pada mereka yang membutuhkan.
Sampai pada satu masa, aku bertemu dengan teman SMA-ku. Seorang lelaki yang dulunya adalah Ketua Umum OSIS. Kau tahu apa yang membuatku terkejut ketika berjumpa dengannya? Ia memberiku pertanyaan yang benar-benar membuat duniaku berputar, jungkir balik. Seperti ini pertanyaannya kira-kira,
"Aku bermimpi menikah denganmu. Dan, banyak usaha yang kulakukan agar bisa bertemu kembali denganmu. Kini, setelah kita bertemu, maukah kau menikah denganku?"
Subhanallah, bayangkan saja, melalui mimpi ia bertemu denganku. Kutanya mengapa bisa memimpikanku, ternyata ia rutin sholat istikhoroh, meminta petunjuk agar dipertemukan dengan jodohnya. Dan, dalam mimpi meminta jodoh tersebut, aku ada di dalamnya. Masyallah, begitu jalan cerita yang dibuat oleh-Nya.
Dengan upaya, kami bertemu pada satu sosial media, lalu bercengkrama dan kini bertemu di sebuah cafe. Membicarakan rencana pernikahan kami yang tinggal dua bulan lagi. Allah... rencanamu selalu indah. Kami bertemu pada masa yang tepat, ketika masing-masing dalam upaya memantaskan diri.
(vem/tik)

Jul 25, 2012

Kumpulan Puisi Soe Hok Gie

MANDALAWANGI – PANGRANGO
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
====================================================
“Disana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…” – Soe Hok Gie
SEBUAH TANYA
“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”
(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)
“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
Selasa, 1 April 1969
====================================================
PESAN
Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?
Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973
====================================================
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

Soe Hok Gie


Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina.
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).
Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.
Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Catatan Seorang Demonstran
Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).
Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama. 
Apr 27, 2012

Cara Tes Produk Bisa Memutihkan Apa Tidak

    Hai temen-temen bloggerku yang cantik n ganteng, aku iseng-iseng searching kemarin terus nemuin, cara tes krim bisa memutihkan kulit apa nggak. caranya gini:
"Ambil sedikit krim trus taroh wadah n campurin sama setetes betadine, tunggu sebentar.. kalo warna campuran tadi kembali ke warna asal krim berarti krim-nya bisa memutihkan"

Aku udah coba krim 1. Ol*y 2. P*nds 3. Rexona dan ini hasilnya:
Kiri : rexona,Ol*y,P*nds

Krim 1 n 2 secara perlahan kembali ke warna semula, tapi krim satu lebih cepet daripada krim 2. sedangkan krim 3 ga ada perubahan sama sekali, secara gitu ya, itu rexona buat diketi bukan buat mutihin wajah... hehe
So, selamat mencoba :)

Feb 18, 2012

Ijinkan Aku Bercinta Denganmu Lagi

            Aku menatapmu. Ada kecemburuan kulihat dari mimik layarmu. Maaf untuk kali ini ku harus tinggalkanmu. Tapi tenang, tak akan lama. Hanya untuk beberapa jam saja.
            Apa? Kamu akan ngambek? Plis, aku sudah temanimu selama dua setengah tahun terakhir, selalu menyentuhmu, memanjakanmu dan merawatmu. Apa itu tidak cukup? Ijinkan aku untuk meninggalkanmu malam ini saja! Aku juga ingin membagi kebahagiaanku dengannya, bukan hanya denganmu sayang.
            Ayolah.. ikutlah berbahagia dengan kebahagiaanku kali ini. Kamu tau kan? Aku sering curhat padamu, tentang betapa inginnya aku mengalami hal seperti malam ini!! Kamu juga tau, aku sudah lama ingin bahagia dengan pangeran di dunia nyataku, bukan hanya pangeran di dunia maya. Pangeran yang akan menjemputku dimalam minggu, bukan hanya temaniku dengan kebisuan dihatiku. Aku tau, kamu yang selalu temaniku saat aku kesepian dan aku selalu menemukan kebahagian dari dirimu, tapi kebahagiaan itu kosong!!
            Janganlah kamu melarangku untuk pergi malam ini, kamu tau bahagianya aku saat dia mengajakku untuk keluar malam ini? Sungguh luar biasa bahagia!!! Kamu tidak pernah melihat aku sebahagia ini kan? Iya kan? KAN??
            Dia lelaki yang kuingin selama dua tahun terakhir!! Dan sekarang dia ngajak aku keluar dimalam minggu!!! Kamu tau artinya itu?? Cintaku akan segera terbalas!! Aku akan segera punya pacar! Wow! Dia akan jadi pacarku!!
            Aku sudah membeli gaun untuk mala mini. Ya, memang uang bulananku habis gara-gara beli gaun seharga dua ratus ribu itu, tapi tidak apa-apa, ini hari istimewa buatku!! Aku harus tampak cantik dimatanya, aku harus istimewa dihadapannya. Aku harus bisa mengalihkan dunianya dengan kecantikanku. Kamu harus mendukungku. Bagaimana dandananku saat ini? Cantik bukan?
            “Uniiii…. Dah yang nyariin tuh…”
            Cihuiiii… Dia datang!! Dia sudah datang.
            Aku pergi dulu ya. Aku menutup notebook putih kesayanganku dan menepuknya beberapa kali. Tunggu aku pulang ya.
            Aku melenggang riang menemui pangeranku, hum, calon pangeranku!!
            Aku baru menyadari langit mala mini begitu indah. Begitu istimewa. Padahal aku tidak melihat bulan dan bintang menghiasinya. Apa langit mala mini terlihat indah karena disebelahku sekarang ada dia? Pasti karena itu.
            Untuk pertama kalinya aku akan menghabiskan malam mingguku dengan lelaki yang aku suka. Lelaki yang aku inginkan. Ya, meskipun sekarang kami ada ditaman kota dan bukan direstoran mahal dengan candle light dinner ,tapi dengan adanya dia disini sudah cukup membuatku “istimewa”
            Disini ramai sekali, banyak muda mudi maupun yang sudah berkeluarga menghabiskan waktu malam minggunya disini, menyenangkan sekali melihat pemandangan ini. Dan yang paling buatku bahagia, aku termasuk didalamnya. Akulah muda mudi itu, berbahagia sama seperti mereka.
            Dia datang membawa dua soft drink dan memberikan salah satunya untukku. Aku menerimanya dengan senyumku yang paling indah.
            “Kamu cantik malam ini…”
            Aku hanya tersenyum, tapi dalam hati ini teriak kegirangan, meloncat-loncat tak karuan. Pengorbananku dengan akan hanya makan mie untuk dua minggu kedepan tidak sia-sia.
            Dia menatapku. Indah. Aku melihat cinta didalam matanya. Sejuk dan menyejukkan.
            Jantungku berdegub dengan kencangnnya. Aku hanya diam merasakan aliran darahku yang mengalir lebih lebih cepat daripada biasanya. Semua sensasi ini, sungguh membuatku gila! Tuhan sungguh indah engkau menciptakan rasa ini.
            “Uni, aku ingin bicara sama kamu..”
            Inilah saatnya. Astaga!! Aku tidak tau harus bereaksi apa. Sumpah! Aku hanya diam. Inilah buruknya aku, saat aku salting aku akan hanya diam!! Dia masih lekat menatapku. Mata sipitnya, bibir merahnya, mengalihkan duniaku.
            “Aku…”
            Kamu cinta sama aku kan? Ayo. Ngomong aja!! Tidak usah malu-malu seperti itu. Astaga! Kamu benar-benar pintar mempermainkan persaanku.
            “Uni, aku cinta sama Risa..”
            Risa???? RISAA??? Risa teman kosku??? Dia cinta sama Risa?? Dia masih mengoceh, kalau dia ingin aku menjadi makcomblang-nya dan entah apa lagi yang dia katakan. Aku terlalu sibuk untuk mendengarkan jeritan hatiku! Aku terlalu sibuk untuk merasakan aliran darahku berhenti disatu tempat. KOSONG. BUNTU!!!
            Aku tidak tau harus berbuat apa. Rasanya begitu aneh!! Begitu asing!! Perasaan takut. Takut aku tidak bisa bersandiwara untuk berpura-pura bahagia. Mataku terasa kabur, ada sesuatu yang memandangi pengelihatanku. Oh tidak! Aku tidak boleh menangis! Tidak! Dia tidak boleh tau aku menangis!! Kurasakan ada air menetes dipergelangan tanganku, apa air mataku sudah turun? Dia tau aku menangis. Air itu semakin banyak terjatuh! Oh baguslah! Hujan menyelamatkanku dari situasi ini. Aku buru-buru minta diantar pulang dengan alas an hujan, dia mengajakku untuk berteduh dulu, aku menolaknya. Yang kutau aku hanya ingin pergi dari pandangannya.
            Aku membuka benda persegi empat berwarna putih, menekan tombol power dan beberapa saat kemudian wajah yang selalu kukenal, yang selalu temani aku, yang tidak pernah membuatku menangis. Aku mengusap lembut layarnya yang sedikit berdebu.
            Sayang ijinkan aku bercinta denganmu lagi, malam ini.

Wulan Sari, 18 Februari 2012
Feb 14, 2012

Sandiwara dalam Perantauan

Aku suka disini. Sendiri. Menepi. Berada dipesisir keramaian.Tak ada yang kucari. Aku hanya ingin disini. Sendiri. Masih bercinta dengan notebook-ku yang baru kudapatkan dari lomba tempo hari. Jariku semakin lincah menyentuh tuts-tuts keyboarku, selincah otakku untuk menalar cerita yang kutumpahkan dalam barisan kalimat. Kuramu indah. Ahh, paling tidak aku berusah untuk mengindahkannya.
Sebenarnya aku menyukai tempat yang sunyi, tidak akan ada orang yang akan memperhatikanku, tidak akan ada orang yang akan menggunjingku. Akan tetapi aku belum menemukan tempat seperti yang aku inginkan dikota ini. Kota terbesar kedua dari Jakarta ini, tidak jauh beda dari kota terbesar itu. Sama-sama memiliki rahasia, yang sebenarnya semua orang tau. Kota-kota besar seperti ini, sangat memperngarui warga kotanya, kebudayaan barat yang selalu menjadi titik kiblat dari kata “gaul”, kebudayaan memamerkan lekuk tubuh yang indah, berpesta bahagia, padahal dibaliknya ada kesedihan yang mendalam. Dan ironisnya aku menyukainya.
Semua kebiasaan muda mudi di kota ini, membuatku terpukau. Aku yang gadis desa, yang merantau ke Ibukota Jawa Timur, demi menuntut ilmu, demi mendapatkan kehidupan yang layak. Dan aku sangat beruntung dapat mencicipi kehidupan kota yang begitu memukau ini.
Awal menginjakkan kaki dikota ini, aku merasakan AKU sebagai tokoh utama dalam cerita kehidupanku, kesana kemari seorang diri. Aku ingin menjelajahi seluruh sudut buruk kota ini, aku gadis yang ingin tau kehidupan gelap kota ini. Mendatangi “ikon” dari kota ini. Entah kenapa aku merasa kota ini memiliki cirri khas yang tidak dimiliki kota besar lainnya. Bukan karena kota ini kota Pahlawan, bukan juga karena semanggi yang nikmat apalagi karena rawon setan-nya.
Akan tetapi karena setan-setan dikota ini, disatukan dalam satu gang. Gang yang saat aku memasukinya, merasakan suasana yang berbeda, suasana yang sangat berbeda dengan desaku, sangat jauh berbeda dalam kehidupanku. Jauh dari wangi rerumputan, jauh dari angin sejuk yang mendamaikan hati. Melainkan bau wewangian yang menggoda, hentakan music yang setiap orang yang mendengarnya akan ingin bergabung untuk meninggalkan air mata dunianya.
Aku tersenyum. Pandanganku kualihkan pada bocah-bocah yang berlarian riang ditaman ini, generasi muda yang masih merasakan indahnya dunia , kebahagiaan yang sebenarnya, kebebasan yang tak terbatas dalam dunianya. Tawa itu tidak ada kesedihan dibaliknya, tak ada sandiwara yang tersimpan dimatanya. Yang mereka lihat hanya kupu-kupu yang menghampiri bunga-bunga, terbang kesana kemari, berkejar-kejaran. Teriakkan yang meramaikan dunia, meramaikan dunia fanah ini.
Aku kembali melayangkan ingatanku pada tempat yang aku lewati, tempat yang gelap, yang orang akan enggan untuk melewatinya. Akan tetapi rasa penasaran yang ada dalam hatiku, menuntunku pada tempat itu. Tempat berkumpulnya orang mati, kuburan. Kuburan cina, kami menyebutnya. Salah jika kita menyebutnya itu tempat berkumpulnya orang mati, ternyata ditempat itu ada orang yang masih waras. Waras jasmani dan rohani, tapi tidak akalnya. 
Rambut panjang, memakai high heels, dress ketat selutut, dengan dada separuh terbuka, berdiri diantara nisan-nisan orang mati, dan aku melihat motor yang terparkir diantara semak-semak yang aku tidak tau kemana empunya berada.
Dan yang membuat aku lebih terpukau lagi, aku melihat cahaya ditengah kuburan itu, lampu yang dinaungi terpal, ada transaksi didalamnya.
Aku mengemasi barang-barangku, memasukkan notebook-ku, dan mulai beranjak pergi meninggalkan taman itu. Aku rasa aku tidak cocok menjalani kehidupan dikota ini, aku rasa hanya didesaku yang ada kehidupanku yang sebenarnya. 
Kota penuh sandiwara ini, menjadikan orang sepertiku ingin sedikit mencicipinya, sedikit menikmati hidup yang belum pernah aku rasakan. Ingin menikmati sedikit dosa dalam hidupku.
dan aku benar-benar ingin menjadi bagian dari kota ini.