Sandiwara dalam Perantauan | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Sandiwara dalam Perantauan
Feb 14, 2012

Sandiwara dalam Perantauan

Aku suka disini. Sendiri. Menepi. Berada dipesisir keramaian.Tak ada yang kucari. Aku hanya ingin disini. Sendiri. Masih bercinta dengan notebook-ku yang baru kudapatkan dari lomba tempo hari. Jariku semakin lincah menyentuh tuts-tuts keyboarku, selincah otakku untuk menalar cerita yang kutumpahkan dalam barisan kalimat. Kuramu indah. Ahh, paling tidak aku berusah untuk mengindahkannya.
Sebenarnya aku menyukai tempat yang sunyi, tidak akan ada orang yang akan memperhatikanku, tidak akan ada orang yang akan menggunjingku. Akan tetapi aku belum menemukan tempat seperti yang aku inginkan dikota ini. Kota terbesar kedua dari Jakarta ini, tidak jauh beda dari kota terbesar itu. Sama-sama memiliki rahasia, yang sebenarnya semua orang tau. Kota-kota besar seperti ini, sangat memperngarui warga kotanya, kebudayaan barat yang selalu menjadi titik kiblat dari kata “gaul”, kebudayaan memamerkan lekuk tubuh yang indah, berpesta bahagia, padahal dibaliknya ada kesedihan yang mendalam. Dan ironisnya aku menyukainya.
Semua kebiasaan muda mudi di kota ini, membuatku terpukau. Aku yang gadis desa, yang merantau ke Ibukota Jawa Timur, demi menuntut ilmu, demi mendapatkan kehidupan yang layak. Dan aku sangat beruntung dapat mencicipi kehidupan kota yang begitu memukau ini.
Awal menginjakkan kaki dikota ini, aku merasakan AKU sebagai tokoh utama dalam cerita kehidupanku, kesana kemari seorang diri. Aku ingin menjelajahi seluruh sudut buruk kota ini, aku gadis yang ingin tau kehidupan gelap kota ini. Mendatangi “ikon” dari kota ini. Entah kenapa aku merasa kota ini memiliki cirri khas yang tidak dimiliki kota besar lainnya. Bukan karena kota ini kota Pahlawan, bukan juga karena semanggi yang nikmat apalagi karena rawon setan-nya.
Akan tetapi karena setan-setan dikota ini, disatukan dalam satu gang. Gang yang saat aku memasukinya, merasakan suasana yang berbeda, suasana yang sangat berbeda dengan desaku, sangat jauh berbeda dalam kehidupanku. Jauh dari wangi rerumputan, jauh dari angin sejuk yang mendamaikan hati. Melainkan bau wewangian yang menggoda, hentakan music yang setiap orang yang mendengarnya akan ingin bergabung untuk meninggalkan air mata dunianya.
Aku tersenyum. Pandanganku kualihkan pada bocah-bocah yang berlarian riang ditaman ini, generasi muda yang masih merasakan indahnya dunia , kebahagiaan yang sebenarnya, kebebasan yang tak terbatas dalam dunianya. Tawa itu tidak ada kesedihan dibaliknya, tak ada sandiwara yang tersimpan dimatanya. Yang mereka lihat hanya kupu-kupu yang menghampiri bunga-bunga, terbang kesana kemari, berkejar-kejaran. Teriakkan yang meramaikan dunia, meramaikan dunia fanah ini.
Aku kembali melayangkan ingatanku pada tempat yang aku lewati, tempat yang gelap, yang orang akan enggan untuk melewatinya. Akan tetapi rasa penasaran yang ada dalam hatiku, menuntunku pada tempat itu. Tempat berkumpulnya orang mati, kuburan. Kuburan cina, kami menyebutnya. Salah jika kita menyebutnya itu tempat berkumpulnya orang mati, ternyata ditempat itu ada orang yang masih waras. Waras jasmani dan rohani, tapi tidak akalnya. 
Rambut panjang, memakai high heels, dress ketat selutut, dengan dada separuh terbuka, berdiri diantara nisan-nisan orang mati, dan aku melihat motor yang terparkir diantara semak-semak yang aku tidak tau kemana empunya berada.
Dan yang membuat aku lebih terpukau lagi, aku melihat cahaya ditengah kuburan itu, lampu yang dinaungi terpal, ada transaksi didalamnya.
Aku mengemasi barang-barangku, memasukkan notebook-ku, dan mulai beranjak pergi meninggalkan taman itu. Aku rasa aku tidak cocok menjalani kehidupan dikota ini, aku rasa hanya didesaku yang ada kehidupanku yang sebenarnya. 
Kota penuh sandiwara ini, menjadikan orang sepertiku ingin sedikit mencicipinya, sedikit menikmati hidup yang belum pernah aku rasakan. Ingin menikmati sedikit dosa dalam hidupku.
dan aku benar-benar ingin menjadi bagian dari kota ini.

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^