Sep 30, 2012

Dea




“Menikahlah denganku,
            Kalimat itu muncul dari bibir tipisnya, seharusnya setiap wanita yang mendengarkan kalimat itu akan berbunga-bunga, tanda dia bahagia. Mungkin jika kalimat itu terucap darinya tujuh bulan lalu, aku akan bahagia, seperti wanita kebanyakan. Akan tetapi, itu adalah kalimat yang terlambat untuk diucapkan atau lebih tepatnya kalimat yang tak pantas diucapkan oleh seorang pria yang sudah beristri.

Sep 18, 2012

Ayunan Ingin Kembali Berderit

Terdengar suara deritan memiluhkan ditaman itu.
Orang-orang awam mendengarnya sebagai deritan biasa,
mereka tidak memahami deritan itu seperti jeritan kesedihan.
Dia sendirian diantara ribuan daun yang gugur mengotori tanah ditaman itu. Kenapa dia harus sendirian
sedangkan yang lain bernyanyi beriringan.
Tak jauh dari posisinya, terdengar deritan yang sama,
akan tetapi deritan itu terdengar seperti tawa yang bersautan.
Tertawa dengan segala kebahagiaan.
Dulu dia juga berderit bersama, menceritakan kisah yang ada,
membuka rahasia jiwa yang menangis.
Kini dia sendiri, berderit seorang diri.
Ayunan itu bergerak perlahan, menghibur dirinya yang sendiri
Sep 17, 2012

Ucapku Dusta

Aku bilang aku tidak menangis
Tapi aku cemburu
Tiap gerak bola mataku mengarah padamu
Tiap aku berusaha tuk relakanmu
Rasa cemburu itu menyayat impianku
Kita sama, justru karena itulah kita tak bersatu
Seperti dua kutub magnet yang saling menolak
Seperti tembok cina tepat diantara kita
Inginku memanjatnya tuk meraihmu, tapi kutak sanggup
Inginku memutarinya tuk menemuinya, tapi kusudah capek
Maafkan aku yang mencintaimu
Maafkan aku yang mengagumimu
Karena kebaikanmu cinta ini ada
Karena kamu yang selalu bisa membuatku selalu ada
Kenyamanan yang kurasakan
Rasa yang selalu ingin dekat
Hasrat untuk bersama yang selalu meronta-ronta
Kaki yang selalu ingin berjalan kearahmu
Mata yang selalu ingin melihat wajahmu
Telinga yang selalu ingin mendengar suaramu
Memaksaku untuk terus mengingatmu
Tiap detik tiap waktu..
Inginku kembali menikmati ayunan bersamamu..
Mengitari danau berdua, bersama..


Sep 14, 2012

Cowok ganteng menurut pandanganku

Iseng-iseng mau posting pendapatku soal mandang cowok. Just for fun aja guys! Ini masih ada beberapa, nanti kalo ada lagi aku tambahin. kalo temen-temen mau nambahin silakan, nanti aku posting juga, :D

1.    1.    Cowok ganteng bener-bener ganteng
Cowok tipe ini memang secara fisik benar-benar ganteng. Kita bisa buktikan cowok benar-benar ganteng apa tidak, dari awal pertama kita bertemu. Jika awal bertemu saja kita sudah merasa, “Wow, ganteng!” Sudah dipastikan dia memang benar-benar ganteng.
2.     2. Cowok ganteng Background
Jika kalian tipe cewek yang memandang cowok dari “apa yang dia punya” kalian termasuk, tipe cewek yang memandang cowok dari ‘background’ (bahasa kasar: Matre). Jadi disini, kalian melihat ganteng tidaknya cowok dari background mereka. Misalnya, Cowok A jika jalan kaki akan terlihat biasa-biasa aja, akan tetapi jika dia sudah naik Honda Jazz, atau ternyata dia pengusaha, dia akan terlihat ganteng.
3.       3. Cowok yang kegantengannya turun 100%
Untuk yang satu ini cukup simple, karena kita melihat cowok “Wow, ganteng!” akan tetapi setelah mengetahui dia udah punya cewek (apalagi ceweknya temen sendiri) kegantengannya akan turun 100%!!!! :D
4.      4.  Cowok ganteng ga keliatan ganteng
Yang satu ini, awalnya dia keliatan ga begitu menarik, akan tetapi lama kelamaan karena sering ketemu, kenal, diperhatiin baik-baik ternyata ganteng. Jadi kesimpulannya dia ganteng Cuma kita baru nyadar aja :p
5.       5. Cowok ganteng diganteng-gantengin
Aslinya kurang ganteng, Cuma karena penampilannya diganteng-gantengin, jadinya keliatan ganteng . Jadi aslinya biasa aja, Cuma gayanya aja yang oke.

Oke, cukup sekian. Kalo kalian mandang cowok ganteng kayak gimana? :)


Sep 10, 2012

Hilangnya surgaku


Aku menatap kaca dihadapanku. Memandang setiap detail bayangan yang ada didalamnya. Mata belok, hidung mancung, bibir tipis, pipi tirus. Tidak ada yang salah akan wajahku, akan penampilan fisikku. Tubuhku juga tinggi semampai. Semua terlihat hampir sempurna.
            Tidak ada yang salah denganku,batinku.
            Aku terduduk diranjangku. Kasur yang empuk dengan hiasan bunga anggrek, bantal dan gulingku bermotif senada. Aku melihat sekeliling kamarku. Ipad berwarna putih terletak diatas meja belajarku, beserta laptop dengan warna serupa disebelahnya. Semua kebutuhan finansialku terpenuhi. Setiap ada gadget keluaran terbaru, aku pasti bisa mendapatkannya tanpa susah payah. Hampir semua yang aku inginkan terpenuhi.
            Aku cukup popular disekolah. Aku memiliki banyak teman, mulai dari teman seangkatan sampai kakak kelas. Aku cukup pintar untuk bergaul. Nilai-nilai raporku pun tidak pernah dibawah delapan. Setiap kali aku melangkahkan kaki dikoridor sekolah, hamper semuanya tersenyum padaku. Dan cukup banyak yang mengutarakan perasaannya kepadaku, akan tetapi tidak ada salah satu dari mereka yang menarik perharianku. Pria-pria yang silih berganti mendekatiku semua sama saja, cowok mata keranjang tingkat tinggi!! Kecuali Fadil.
            Aku mengingatnya dengan jelas bagaimana aku bertemu pertama kali dengan dia, setahun yang lalu, momen itu tidak akan pernah luntur dari cengkraman ingatanku. Momen yang sulit kulupakan. Hari itu, hari pertama kali aku menginjakkan kakiku disekolah ini, dan payahnya aku dating terlambat. Aku berlari kecil untuk mengejar waktu, dan sialnya aku belum tau dimana kelas-ku. Aku cukup kebingungan saat itu. Didepannku banyak sekali deretan kelas-kelas. Dan saat itu kulihat seseorang sedang berbaring dibangku panjang, dengan lengan tangan kirinya menutupi mata dan tangan lainnya memegangi mp4. Sepasang headphone putih terpasang pada kedua telinganya. Pergelangan sepasang sepatu kets-nya bergoyang kekanan dan kekiri, terlihat sangat jelas dia menikmati music yang terputar di mp4-nya.
            Aku mendekatinya, sedikit membukuk.
            “Maaf. Kelas sebelas ipa satu dimana ya?”
            Tidak ada reaksi darinya. Setelah beberapa detik tangan kirinya bergerak dan menunjuk kearah sebuah pintu dibelakangku. Astaga, kelas yang aku cari tepat dibelakangku.
            “Mmm, terima kasih,” ucapku. Dia hanya mengepal jarinya dan mengangat ibu jarinya, dan kembali menikmati lagunya.
            Aku memasukki kelas itu , aku cukup beruntung karena hari jam itu guru yang mengajar sedang berhalangan hadir sehingga, aku bisa  membaur dengan teman-teman baruku. Tidak sulit buatku untuk cepat akrab dengan mereka. Aku dikelilingi oleh teman-teman baruku, mulai dari cewek sampai cewek. Mereka menanyakan darimana asalku, kenapa aku pindah kemari. Saat itu aku melihat seseorang yang kulihat diluar kelas tadi, celana abu-abu dan baju putih yang kebesaran, memasukki kelas dan duduk dipojok. Ternyata dia sekelas denganku. Aku memperhatikannya diam-diam. Dia masih menikmati music-nya, sambil bibirnya bergerak tanpa suara. Dia sama sekali tidak melihatku, sementara teman-temannya yang lain sedang menyaiku dengan pertanyaan bertubi-tubi.
            “Eh, Rin, lagi merhatiin siapa sih?” senggol Yesi, teman sebangku-ku, saat dia melihatku terdiam melihat kearah cowok tadi. Yesi mengikuti sorotan mataku.”Oh, liatin si Fadil toh.”
            Dan cowok itu bernama Fadil.
            Aku menarik semua memori setahun yang lalu, dan tetap duduk termenung diatas ranjangku. Dalam satu tahun ini aku memerhatikan Fadil dalam diamku. Aku sering mengikutinya  saat dia keluar kelas ditengah jam pelajaran berlangsung. Mengikutinya secara sembunyi-sembunyi, dan aku melihatnya duduk ditaman sambil membaca sebuah buku. Aku tidak tau buku apa itu. Aku sudah sering mengikutinya , entah dia pergi kekantin, ataupun perpus.
            Sampai suatu saat aku mengikutinya lagi, sampai ditikungan aku kehilangan dia.
            “Kamu ngikutin aku?” aku mendengar suara dibelakangku. Entah darimana dia datangnya, Fadil sudah berada didepannku saat ini. Aku merasakan sedikit panas diwajahku. Aku yakin saat ini wajahku memerah.
            “Ah, tidak. Aku mau ketoilet.” Sangkalku.
            “Toilet? Kamu salah arah. Ini jalan menuju surga. Arah ketoilet kesana,”ucapnya sambil mengarahkan ibu jarinya kearah belakangnya.
            “Oh, iya.” Aku gugup. Aku bahkan tidak berani menatap wajah cowok didepanku ini. Matanya yang sayu, rahangnya yang keras. Aku tidak pernah merasakan ini. Pada cowok manapun. Aku segera berjalan meninggalkannya, tapi kuurungkan niatku.
            “Fadil,” panggilku. Dia menoleh,” Boleh aku ikut?”
            Dia menggerakkan dagunya, mengisyaratkan aku untuk mengikutinya. Dia berjalan kearah taman, dan duduk ditempat yang sama seperti yang kulihat sebelumnya. Aku duduk disebelahnya.
            “Ini surgamu?” tanyaku.
            “Kemanapun kamu pergi, bawalah kesukaanmu, maka itulah surgamu…” jawabnya sambil menunjukkan mp4 ditangannya.
            Aku tersenyum. “Kenapa kamu sering keluar kelas saat jam berlangsung?”
            “Karena aku tidak bisa menikmati surgaku disana..” jawabnya tanpa melihatku.
            “Boleh aku mendengar surgamu?”
            Dia melepas salah satu earphone-nya dan diberikannya padaku. Aku menerimanya dan memasangnya ditelingaku. Aku sayup-sayup mendengar sebuah lagu, entah lagu siapa, yang pasti aku mendengarkan lagu yang sama seperti yang Fadil dengarkan, ditempat yang sama, dari mp4 yang sama. Aku melihat Fadil menutup matanya , menikmati musiknya. Aku merasakan surge duniaku.

Yesterday, all my troubles seemed so far away.
Now it looks as though they’re here to stay.
Oh, I believe in yesterday.Suddenly, I’m not half the man i used to be,
There’s a shadow hanging over me,
Oh, yesterday came suddenly.

             
            Sejak saat itu, kami jadi sering bertemu dan menikmati music bersama. Aku masih sering mengikutinya. Aku merasakan perasaan yang berbeda terhadapnya. Kebiasaan uniknya, sifat cueknya. Itu semua membuatku memperhatikannya lebih. Hingga, siang tadi, sepulang sekolah, aku memutuskan untuk mengutarakan perasaanku kepadanya. Aku merasa yakin dia memiliki perasaan yang sama setelah kedekatan kita selama ini.
            “Aku sayang kamu..” kataku tanpa basa basi. Fadil masih duduk diam dan masih mendengarkan mp4-nya. Seakan dia tidak mendengar ucapanku.
            “Fadil, aku serius,” ucapku lagi. Dia masih diam saja. Aku sudah tidak tahan dengan ke-cuek-annya, aku mengambil mp4 ditangannya.
            Dia terlihat kaget. Dia menatapku. Aku melihat tatapan yang berbeda disana. Tidak seperti biasanya. Baru kali ini dia benar-benar melihatku.
            “Aku sayang kamu,” ucapku sekali lagi.
            “Kamu tau? Kamu sudah merusak surgaku..” katanya sambil mengambil mp4 ditanganku dan pergi tanpa memperdulikan aku. Semua pernyataan cintaku tidak diperdulikannya. Apa artinya aku ditolak? Lalu apa lagi.
            Kurasakan aliran darahku mengalir tidak seperti semestinya. Aku baru merasakan hal ini. Untuk pertama kalinya aku menyatakan cinta dan pertama kalinya cintaku ditolak.
            Aku tidur diranjangku, masih mengenakan seragam putih abu-abuku, sejak sepulang sekolah tadi aku belum keluar kamar. Aku mengunci diriku hanya untuk menikmati air mataku yang mengalir melewati pipiku. Setiap kali aku mengingat kejadian tadi siang, terasa sakit disetiap hembusan nafasku, sesak. Seperti ada sesuatu yang terbelenggu didalamnya.
            Seakan surgaku pergi dari hidupku.



            
Sep 7, 2012

Ada yang Hilang


Ketika kamu sudah tak lagi sendiri
Ada yang salah padaku, ada yang pergi
Tawamu sudah ada yang memiliki, senyummu sudah menjadi milik orang lain
Aku tidak merasa sebebas dulu, menyatakan apa yang ada, apa yang nyata
Kau bahkan belum mengetahui aku, dan hidupku
Aku baru mengawalinya
Aku baru mau memperbaikinya
Air itu sudah tidak senikmat dulu, senikmat kita bercerita diayunan
Kau tidak menyadari, kau sosok sempurna itu
Sosok yang sungkan tuk kumiliki, sosok yang enggan kutinggalkan
Kau bahkan tidak pernah bisa membaca penantianku
Aku bukanlah sosok cantikmu
Aku bukanlah sosok ceriamu
Tapi akulah  pemujamu..
Aku menangis dalam diamku, tersenyum seakan bahagia
Aku kehilanganmu, untuk sekian kalinya..

Kini,
Ada yang lain dalam tatap matamu,
Keindahan itu, bukan untukku..
Bukan untuk jawaban kegundahanku..
Ada yang hilang..
Mungkin kau mendapatkan separuh jiwamu kembali…
Tapi tidak denganku
Ada yang pergi bersama kebahagianmu..



Sep 6, 2012

Terima Kasih Teman (katanya)



Yang mereka tau aku hanya merengek, tidak berani menghadapi kenyataan. Yang mereka tau aku hanya seorang wanita "Alay" yang memperbesar masalah. Dan jika memang anggapan mereka itu benar, lalu apa yang sebenarnya terjadi padaku? Apa memang benar seperti yang mereka katakan?

Aku lucu?

Aku hanya seorang wanita yang ingin dicintai. sama seperti kalian. Kamu dan mereka. Aku memang mudah jatuh cinta, semudah aku membalikkan tangan, semudah aku meneguk air minumku. Tapi aku selalu mencoba untuk mencintai satu orang dan berfokus untuk mendapatkannya. Dan aku selalu merasa telat akan hal itu. Orang yang aku cintai selalu mencintai temanku.

Teman?

Mereka menyebut diri mereka teman, akan tetapi saat menghadapi cinta entah kata teman itu menguap begitu saja. Mungkin jika aku ada diposisi mereka, aku akan melakukan hal yang sama.

Seperti si A, dia selalu aku ceritakan tentang kisah orang yang aku cintai, si K tapi pada akhirnya dia juga mencintai orang tersebut, dan kata teman itu memudar.

Si B, dia dekat dengan orang yang aku cintai, si H dan aku tidak ingin terulang kembali hal yang aku alami maka aku bilang terus terang padanya jangan dekat dengan si H, dan dia bilang mereka hanya teman. Dan pada kenyataannya, mereka tetap dekat.

Si C, saat aku mulai melepaskan si H, dan mulai "menggantung" harapku pada si K, si C pacaran dengan si K.


Dan mereka semua temanku, teman disekelilingku. teman seperjuanganku.

Sekarang aku benar-benar merasa seperti angin lalu. Aku tidak berharga. Tidak ada yang menghargaiku...

Apa aku memang pantas mendapatkan itu semua?


Terima Kasih,
Sep 5, 2012

Dalam diamku



Biarkan aku mencintaimu dalam diamku
Ijinkan aku memandang kedua bola matamu
Biarkan aku menikmati kedamaian saat bersamamu
Kamu bagai air dalam keringnya telaga hatiku

Aku sudah capek memutari bumi..
Ijinkan aku untuk pulang..
Rumahku adalah kamu..



Sep 4, 2012

Air itu kamu



Satu pertanyaan dalam hidupku yang sampai sekarang belum pernah aku temukan jawabannya. Tidak juga pada rumput yang bergoyang ataupun dari doa-doa malamku.
“Kenapa AKU?”
Pertanyaan singkat sekaligus bodoh. Ya, aku memang bodoh karena aku tidak tau jawabannya. Semuanya terjadi begitu saja. Seperti hujan yang turun diteriknya siang, seperti angin yang berhembus dikesunyian malam. Semua terjadi. Begitu saja.
            Siapa yang tidak ingin dicintai? Tidak ada. Semua orang butuh cinta yang mengakar kuat dihatinya. Yang mengalir deras dalam denyut nadinya. Aku juga membutuhkan cinta seperti aku butuh untuk bernafas. Aku hidup untuk cinta dan karena cinta aku hidup.
Aku menyukai temanku. Cara dia bertutur kata, cara dia memandang, cara dia tertawa dan hembusan nafasnya. Salah satu hal terindah yang pernah aku alami adalah bersama dia. Menikmati indahnya taman bermain. Diam dalam kebisuan, sampai tertawa tanpa arti.
Tapi semua yang kualami itu hanyalah dalam ruang lingkup teman. Tidak lebih.
            Hari itu aku mengajaknya ketaman dikota ini. Entalah, darimana keberanian itu muncul. Yang kutau aku hanya ingin mengobrol dengan dia, aku merasa nyaman. Tidak lebih. Aku merasakan kekaguman padanya, pada teman SMA-ku ini. Dia adalah hal yang kuingin miliki akan tetapi aku juga merasa tak pantas untuk dimiliki olehnya. Aku hanya wanita yang tidak mempunyai suatu hal yang membuat dia melihatku.
            Aku bersiap untuk pergi dengannya. Tidak ada rasa deg-degan dalam hatiku seperti saat pergi dengan laki-laki lain. Yang ada hanya rasa nyaman. Aku berada tepat dibelakangnya, melihat tengkuk lehernya, berusaha tidak memegangnya saat laju motor yang kami tumpangi meliuk-liuk dijalan raya.
            Sampai ditaman, kami hanya duduk, berjalan mengitari danau, dan berbicara. Meskipun kebanyakan dia yang berbicara dan aku memilih untuk diam dan mendengarkannya.
            “Aku ingin lihat kamu berhijab.”
            Sebuah kalimat yang ia lontarkan itu, membuatku teringat kembali dua tahun lalu. Kalimat yang sama. Kalimat yang membuat aku “GALAU”. Kalimat yang sederhana tapi sangat mendalam artinya. Suatu hal yang ingin kulakukan tapi aku ragu akannya. Sebuah kalimat yang setara dengan menyuruhku untuk menikah saat aku masih ingin menikmati kebebasan dalam hidupku.
            “Aku akan mengenakannya saat sudah menikah,”itu jawabanku.
            “Telat.”
            Aku tidak tau apa arti dari jawabannya. Entalah.
***
            Sudah hampir subuh. Dan aku masih terjaga. Masih memikirkan ucapan temanku kemarin siang. Aku hanya menangis saat mengingatnya. Apa yang aku cari didunia ini? Aku hanya ingin damai, tidak ada keresahan dalam hidupku. Aku menangis. Tapi aku tidak tau apa yang kutangisi. Aku terisak diam saat teman-temanku yang lain tidur dalam mimpi indahnya. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku diam dalam tangisku. Aku memutar semua otakku. Hal-hal yang aku lakukan demi mendapatkan laki-laki yang aku cintai. Aku lakukan segala cara, sampai tidak peduli dengan kesehatanku. Semua hal yang aku lakukan demi orang lain yang sia-sia. Dan apa yang pernah aku lakukan untuk Allah? Tidak ada. Tangiskupun semakin mendalam.
            Sebuah keinginan yang sudah kurencanakan akan kulakukan saat sudah menikah nanti, tiba-tiba muncul. Aku ingin berhijab. Tapi apa ini niatku dari dalam hati, atau hanya karena temanku itu? Teman yang diam-diam kukagumi sejak SMA. Teman yang diam-diam ingin kumiliki.
            Teman yang mencintai sahabatku sendiri. Ya, dia mencintai sahabatku, Anti. Aku benar-benar merasa kehilangan saat itu. Dan kini rupanya perasaan itu muncul kembali kepermukaan tanpa ada yang bisa mencegahnya.
            Aku ingat saat kami ditaman, dia memanggilku.
            “Ni…”panggilnya. Dan dia diam.
            Aku menatap matanya untuk sekian detik dan memalingkan muka. Dan disaat itulah aku perasaan aneh yang bergejolak dihatiku.
            Dan dia hanya tertawa melihat reaksiku. Dan saat itulah aku menyadari dia memiliki bulu mata yang panjang sehingga aku hampir tidak melihat kedua bola matanya.

            Mulai hari itu aku mengenakan jilbab. Aku tidak peduli lagi untuk siapa aku mengenakannya. Mungkin jika iya, awalnya aku karena dia, aku anggap itu sebagai penyemangatku. Dan memang saat aku mulai ragu aku mengingat dia. Saat aku mulai malas untuk salat aku mengingat dia. Dia penyemangatku yang hilang dulu.
            Aku selalu cerita dengan dia saat ada hal-hal penting yang terjadi dalam hidupku. Aku ingin berbagi dengan dia, sekaligus ingin dekat dengannya. Karena hanya padanya aku berani mengungkapkan keinginanku. Karena hanya dia yang peduli akan diriku. Saat dia bilang aku cocok memakai jilbab, aku semakin semangat untuk terus mengenakannya. Untuk terus memperbaiki diri. Aku merasa sudah menemukan penyemangatku.
            Dan hatiku mulai ragu saat mengetahui dia mempunyai kekasih. Aku merasa kehilangan dia untuk kedua kalinya. Aku takut semua akan berubah. Kebaikan yang baru kumulai. Tunas yang baru tumbuh seakan terinjak-injak. Seakan aku tidak bisa tumbuh, karena aku membutuhkan air. Seperti yang kamu bilang sifat air itu menyegarkan. Dan aku melihatnya pada dirimu.
            Kini, aku tau siapa saja wanita yang pernah hadir dalam hidupmu. Dan diantaranya tidak ada aku.