Air itu kamu | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Air itu kamu
Sep 4, 2012

Air itu kamu



Satu pertanyaan dalam hidupku yang sampai sekarang belum pernah aku temukan jawabannya. Tidak juga pada rumput yang bergoyang ataupun dari doa-doa malamku.
“Kenapa AKU?”
Pertanyaan singkat sekaligus bodoh. Ya, aku memang bodoh karena aku tidak tau jawabannya. Semuanya terjadi begitu saja. Seperti hujan yang turun diteriknya siang, seperti angin yang berhembus dikesunyian malam. Semua terjadi. Begitu saja.
            Siapa yang tidak ingin dicintai? Tidak ada. Semua orang butuh cinta yang mengakar kuat dihatinya. Yang mengalir deras dalam denyut nadinya. Aku juga membutuhkan cinta seperti aku butuh untuk bernafas. Aku hidup untuk cinta dan karena cinta aku hidup.
Aku menyukai temanku. Cara dia bertutur kata, cara dia memandang, cara dia tertawa dan hembusan nafasnya. Salah satu hal terindah yang pernah aku alami adalah bersama dia. Menikmati indahnya taman bermain. Diam dalam kebisuan, sampai tertawa tanpa arti.
Tapi semua yang kualami itu hanyalah dalam ruang lingkup teman. Tidak lebih.
            Hari itu aku mengajaknya ketaman dikota ini. Entalah, darimana keberanian itu muncul. Yang kutau aku hanya ingin mengobrol dengan dia, aku merasa nyaman. Tidak lebih. Aku merasakan kekaguman padanya, pada teman SMA-ku ini. Dia adalah hal yang kuingin miliki akan tetapi aku juga merasa tak pantas untuk dimiliki olehnya. Aku hanya wanita yang tidak mempunyai suatu hal yang membuat dia melihatku.
            Aku bersiap untuk pergi dengannya. Tidak ada rasa deg-degan dalam hatiku seperti saat pergi dengan laki-laki lain. Yang ada hanya rasa nyaman. Aku berada tepat dibelakangnya, melihat tengkuk lehernya, berusaha tidak memegangnya saat laju motor yang kami tumpangi meliuk-liuk dijalan raya.
            Sampai ditaman, kami hanya duduk, berjalan mengitari danau, dan berbicara. Meskipun kebanyakan dia yang berbicara dan aku memilih untuk diam dan mendengarkannya.
            “Aku ingin lihat kamu berhijab.”
            Sebuah kalimat yang ia lontarkan itu, membuatku teringat kembali dua tahun lalu. Kalimat yang sama. Kalimat yang membuat aku “GALAU”. Kalimat yang sederhana tapi sangat mendalam artinya. Suatu hal yang ingin kulakukan tapi aku ragu akannya. Sebuah kalimat yang setara dengan menyuruhku untuk menikah saat aku masih ingin menikmati kebebasan dalam hidupku.
            “Aku akan mengenakannya saat sudah menikah,”itu jawabanku.
            “Telat.”
            Aku tidak tau apa arti dari jawabannya. Entalah.
***
            Sudah hampir subuh. Dan aku masih terjaga. Masih memikirkan ucapan temanku kemarin siang. Aku hanya menangis saat mengingatnya. Apa yang aku cari didunia ini? Aku hanya ingin damai, tidak ada keresahan dalam hidupku. Aku menangis. Tapi aku tidak tau apa yang kutangisi. Aku terisak diam saat teman-temanku yang lain tidur dalam mimpi indahnya. Air mataku mengalir membasahi pipiku. Aku diam dalam tangisku. Aku memutar semua otakku. Hal-hal yang aku lakukan demi mendapatkan laki-laki yang aku cintai. Aku lakukan segala cara, sampai tidak peduli dengan kesehatanku. Semua hal yang aku lakukan demi orang lain yang sia-sia. Dan apa yang pernah aku lakukan untuk Allah? Tidak ada. Tangiskupun semakin mendalam.
            Sebuah keinginan yang sudah kurencanakan akan kulakukan saat sudah menikah nanti, tiba-tiba muncul. Aku ingin berhijab. Tapi apa ini niatku dari dalam hati, atau hanya karena temanku itu? Teman yang diam-diam kukagumi sejak SMA. Teman yang diam-diam ingin kumiliki.
            Teman yang mencintai sahabatku sendiri. Ya, dia mencintai sahabatku, Anti. Aku benar-benar merasa kehilangan saat itu. Dan kini rupanya perasaan itu muncul kembali kepermukaan tanpa ada yang bisa mencegahnya.
            Aku ingat saat kami ditaman, dia memanggilku.
            “Ni…”panggilnya. Dan dia diam.
            Aku menatap matanya untuk sekian detik dan memalingkan muka. Dan disaat itulah aku perasaan aneh yang bergejolak dihatiku.
            Dan dia hanya tertawa melihat reaksiku. Dan saat itulah aku menyadari dia memiliki bulu mata yang panjang sehingga aku hampir tidak melihat kedua bola matanya.

            Mulai hari itu aku mengenakan jilbab. Aku tidak peduli lagi untuk siapa aku mengenakannya. Mungkin jika iya, awalnya aku karena dia, aku anggap itu sebagai penyemangatku. Dan memang saat aku mulai ragu aku mengingat dia. Saat aku mulai malas untuk salat aku mengingat dia. Dia penyemangatku yang hilang dulu.
            Aku selalu cerita dengan dia saat ada hal-hal penting yang terjadi dalam hidupku. Aku ingin berbagi dengan dia, sekaligus ingin dekat dengannya. Karena hanya padanya aku berani mengungkapkan keinginanku. Karena hanya dia yang peduli akan diriku. Saat dia bilang aku cocok memakai jilbab, aku semakin semangat untuk terus mengenakannya. Untuk terus memperbaiki diri. Aku merasa sudah menemukan penyemangatku.
            Dan hatiku mulai ragu saat mengetahui dia mempunyai kekasih. Aku merasa kehilangan dia untuk kedua kalinya. Aku takut semua akan berubah. Kebaikan yang baru kumulai. Tunas yang baru tumbuh seakan terinjak-injak. Seakan aku tidak bisa tumbuh, karena aku membutuhkan air. Seperti yang kamu bilang sifat air itu menyegarkan. Dan aku melihatnya pada dirimu.
            Kini, aku tau siapa saja wanita yang pernah hadir dalam hidupmu. Dan diantaranya tidak ada aku.



Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^