Dea | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Dea
Sep 30, 2012

Dea




“Menikahlah denganku,
            Kalimat itu muncul dari bibir tipisnya, seharusnya setiap wanita yang mendengarkan kalimat itu akan berbunga-bunga, tanda dia bahagia. Mungkin jika kalimat itu terucap darinya tujuh bulan lalu, aku akan bahagia, seperti wanita kebanyakan. Akan tetapi, itu adalah kalimat yang terlambat untuk diucapkan atau lebih tepatnya kalimat yang tak pantas diucapkan oleh seorang pria yang sudah beristri.


                 Dia masih menatapku penuh permohonan, memegang erat kedua tanganku. Aku menarik kedua tanganku. Dan meminum habis jus jambu yang tinggal separuh di hadapanku.

                   “Kamu gila,” ucapku lirih.

                    “Please, De. Aku mencintaimu.”

                 “Hentikan omong kosong ini. Lebih baik sekarang kita fokus dengan pekerjaan kita,” aku mulai muak dengan ucapan pria di depanku. Aku memfokuskan diriku pada layar notebook-ku, mencoba mengalihkan pembicaraan. Tak selang beberapa detik, dia menarik notebook-ku, dan menaruh di depannya.

                  “Apa-apaan kamu ini?” tanyaku marah.

              “Aku masih jadi atasanmu, jadi aku yang menentukan kapan waktunya kerja dan kapan waktu pribadi!!”ucapnya gusar.

                  Aku cukup kesal. Mingguku yang damai harus diganggu oleh pria ini. Dia menelponku pagi-pagi, dan menyuruhku datang ke kafe saat itu juga, dengan alasan ada pekerjaan yang harus dibicarakan. Nyatanya? Hanya omong kosong yang ada disini.

                   “Kamu tahu, De, wanita yang aku cintai itu kamu. Bukan Rara,”ucapnya dengan nada frustasi.

                “Lalu kenapa kamu menikahinya? Bukan aku?” emosiku terpancing. Aku berusaha menahan air mata, yang aku yakin tak lama lagi akan menetes.

                  “Kamu tahu sendiri alasannya, De.”

               Pria dihadapanku ini adalah Kia, mantan kekasihku. Ehm, lebih tepatnya mantan calon suamiku. Kami sudah bertunangan, sampai wanita bernama Rara itu datang dan mengaku mengandung anak Kia, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain merelakan Kia menikahi mantan kekasihnya itu.

               “Apapun alasannya, kamu sudah menikah. Dan sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah,” air mataku mengalir melewati pipiku. Kia mencoba menghapusnya, tapi dengan cepat aku menepis tangannya.

               “Sudahlah, lupakan aku.”

             Kia tersenyum sinis.”Kamu menyuruhku melupakan kamu. Lalu, bagaimana dengan kamu sendiri? Kamu sudah melupakan kenangan kita?”

Aku terpojok. Bagaimana mungkin aku melupakan Kia, dia seperti matahari yang selalu kurindu di setiap pagi. Dia bagaikan candu dalam darahku. Sejak putusnya tunangan kami, aku menghindarinya. Aku pergi keluar Jawa , agar aku tidak pernah mendengar berita bahagianya. Dan, kini, setelah semua membaik aku harus bertemu di sini, sebagai atasanku.

“De, aku yakin anak yang dikandung Rara bukan darah dagingku. Setelah anak itu lahir aku akan melakukan tes DNA. Dan jika terbukti salah, aku akan menikahimu,” ucapnya penuh keyakinan.

“Dan jika benar?”tanyaku sinis.

“Aku yakin dia bukan darah dagingku,” dia masih bersikeras dengan ucapannya. Aku sudah muak dengan ini semua, aku berdiri dan mengemasi barangku.

“Sudahlah, Ki. Kita mungkin tidak berjodoh menjadi suami istri, tapi kita pasti jadi rekan kerja yang selaras.” Kataku sambil meninggalkannya sendiri.

***

                Sudah sebulan ini Kia, tidak menggangguku dengan ucapannya yang konyol itu. Entalah, ada rasa menyesak dalam dadaku. Akal sehatku menginginkan aku menjauhinya, tapi hatiku berkata lain. Diam-diam aku berharap keajaiban terjadi, anak yang dikandung Rara itu bukan anaknya, dan Kia akan menikahiku.

                Tapi kenyataan berkata lain. Aku mendengar bahwa anak yang dikandung Rara sudah lahir, dan demi sebuah nama sopan santun aku dan rekan kerja lainnya  datang menengok. Sesampainya di sana,  istrinya melihatku dengan tatapan tidak suka. Wajar saja dia bersikap seperti itu dan aku menyesal telah datang. Aku sempat berniat untuk diam-diam pergi dari kamar itu, tapi kuurungkan niatku saat melihat bayi mungil yang digendong Kia.

                Seorang bayi perempuan  dengan wajah yang sangat lugu. Meskipun dia masih bayi, tapi sudah memancarkan kecantikannya. Mata yang dia warisi dari Kia dan bibir diwarisinya dari Rara, tentunya, bukan aku. Aku melihat kebahagiaan terpancarkan dari wajah Kia. Dengan dengan piyama yang masih dia kenakan sambil menggendong bayi itu. Aku yakin Kia, tidak tidur demi menemani istrinya melahirkan. Ada kekecewaan dalam hatiku, terngiang kalimat Kia  yang mengatakan dia masih mencintaiku, akan tetapi kini terlihat benar kebahagiaan itu diraut wajahnya.

                Aku cepat-cepat menepiskan perasaan itu. Salah seorang rekan kerjaku bertanya pada Kia. Siapa nama bayi mungil itu.

                  “Andea Wijaya Putri. Panggilannya, Dea,” jawab Kia, sambil menatapku.

           Aku keluar dari kamar itu dan duduk di depan kamar rawat inap itu. Tak kusangka Kia mengikutiku dan duduk di sebelahku.
                Kami diam beberapa saat sampai aku membuka suara.

             “Putrimu cantik,” ucapku basa-basi tapi tidak berbohong.

             “Terima Kasih,” ucapnya. Kami terdiam lagi.”Aku memohon pada Rara, untuk memberi nama anak kami, Dea. Rara sempat tidak setuju, tapi aku memohon padanya. Aku sudah tidak bisa memilikimu, jadi aku ingin memiliki namamu pada putriku.”

              Ada kekecewaan dalam hatiku saat Kia menyebut putrinya ‘anak kami’, itu artinya dia tidak ada niatan untuk menceraikan istrinya dan dia bisa menerima anak itu. Dan tes DNA yang dia janjikan. Oh, bodoh sekali aku mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Kia waktu itu hanya asal bicara, karena dia belum melihat bayi mungil yang cantik itu. Dan kini? Semuanya berbeda.

           “Iya,” kataku sambil beranjak dari kursi yang kududuki.”Saya harus pergi Pak Kia. Saya titip salam untuk Bu Rara dan putri bapak,"kataku formal.

            “De, maafkan aku.”

Aku mengangguk dan cepat-cepat pergi meninggalkannya, sebelum dia mengetahui air mataku.

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^