Dec 30, 2013

The one that got away


Kali pertama kita bertemu saat musim penghujan di bulan Desember. Saat itu kau sedang berdiri di halte bus, tepat di sebelahku. Kita saling berebut masuk kedalam bus bersama dengan penumpang yang lainnya. Siku kita saling bertaut dan membuatku terjatuh sebelum sempat memasuki bus. Kau yang sudah berada di atas bus menoleh kearahku, dan turun membantuku berdiri dan memunguti buku-buku milikku yang berserakan.

Believe It : Welan

Kereta yang membawaku pergi dari Surabaya perlahan berhenti di stasiun Yogyakarta. Aku bersiap mengambil tas ransel dan sebuah koper kecil di dek atas. Kakiku melangkah keluar kereta berdesakan dengan penumpang lainnya.
     Aku tidak pernah berpikir akan kembali ke kota ini. Sama sekali.
Dec 26, 2013

Cinta Penuh Luka

Kau menyebutnya cinta
Tapi, kau singgahkan di lorong-lorong luka

Kau menyebutnya kasih
Tapi, kau tanamkan di pintu-pintu sengsara

Lalu, cinta seperti apa yang kau maksud?

Cinta dengan ribuan duri air mata?
Ataukah,
Cinta dengan goresan luka?

Kasih, cinta itu sudah mengulitimu
Membiusmu dengan jalan kematian

Sayang, cinta itu sudah membekukan otakmu
Memaksamu untuk menjadi tidak waras

Benci, katakan pada cinta
Ia sudah mati dan tergantikan olehmu


-Wulan Sari-
26 Desember 2013

Menghidu Haru

Aku pernah menghidu cinta dari wangimu
Mencium rasa dari sentuhmu

Perlahan rasa itu semakin pekat dan lekat
Tak tergantikan oleh jemu maupun sendu

Namun,cinta itu datang terlambat bersama pipi semu
Menghilang bagai bulan dengan datangnya silaumu
Menjelma menjadi benci-benci yang tak kunjung pilu
Mekmasakan diri untuk menjadi haru

Masihkah rasa itu tertanam dalam kalbu
Meskipun engkau pergi bersama yang baru
Yang pasti aku mengingatmu dalam rindu


-Wulan Sari-
26 Desember 2013
Nov 26, 2013

Mawar merah

Sumber foto: koleksi Zayd ustman
Dia menuliskan namanya di dada sebelah kiri. Menggunakan spidol merah dan ada gambar hati di sana. Dia tersenyum . Matanya berbinar sembari menyodorkan spidol merahnya kearahku.  Aku menerimanya, dan mencoret baju putih miliknya yang masih bersih, berbeda dengan bajuku yang sudah penuh dengan coretan.
Nov 9, 2013

Si Penggila Malam

Akulah si penggila malam
Menghabiskan seluruh waktunya di malam hari
Bercumbu dengan dunia malam dan bersembunyi dari dunia terang

Akulah si pecumbu malam
Bercinta dengan kunang-kunang dan kelelawar
Mengabadikan pagi dalam tangkupan mata

Akulah si pecinta gelap
Bercengkraman dengan angin malam
Bulan dan bintang saling bersahut

Jangan hiraukan suaraku yang lirih
berusaha untuk tak terdengar manusia yang terlelap

Biarkanlah aku begini,
karnaku sedang bersembunyi dari wajah-wajah lelah orang berdasi dan berhak tinggi
Aku tak ingin seperti mereka
Yang membenci rutinitas terang dan mengatakan mencintai malam lantas matanya tertutup

Akan kulakukan apapun agar kutetap terjaga
karna akulah si penggila malam


Wulan sari,
Surabaya 09 November 2013
18:57

Nov 8, 2013

#30HariNgeblog: Keinginginan Sebelum Meninggal

Oke tema #30haringeblog hari ini adalah: Sebutkan segala keinginanmu sebelum meninggal!

Tema yang sedikit "horor

Jadi, sekarang anggap saja saya mengidap penyakit yang "mengharuskan" saya meninggal dalam waktu dekat. (mari membayangkan) Oh, tidak! Saya pasti sedih. Nggak punya semangat hidup lagi (padahal emang mau meninggal, hihi), setiap hari pastinya saya menangis dan mengatakan Tuhan tidak adil.

Oke. Anggap saja saya sudah melewati masa-masa terpuruk saya yang tidak menerima kenyataan. Anggap saja sekarang saya sudah menerima itu semua dan memiliki semangat untuk "melanjutkan hidup" yang sebentar ini.
Dan saya akan memiliki beberapa keinginan sebelum saya bertemu bidadari surga (semua orang pasti ingin masuk surga :D ):

1. Yang jelas saya ingin hidup. Tentu saja setiap orang yang mengetahui umurnya tidak lama lagi, akan ingin hidup lebih lama lagi. Semisalnya dia sakit, dia pastinya ingin sembuh. Meskipun itu hal yang mustahil. Tetapi, sebuah keinginan se-mustahil apapun itu, sah-sah saja, kan?

2. Ingin di cintai.
    Seringkali, saya menonton sebuah film tentang seseorang yang memiliki penyakit dan akan segera meninggal selalu saja ada seseorang yang mencintai dia apapun keadaannya. Entah dari keluarga, kekasih, teman. Tentu saja keinginan ini juga dimiliki oleh manusia pada umumnya.

3. Saya ingin memiliki "Novel" dengan nama "Wulan Sari" di sampulnya.
    Yeahh, ini adalah keinginan saya. Entah umur saya panjang atau pendek ini akan tetap menjadi keinginan saya.


Saya tidak bisa menyebutkan satu-persatu, karena saya memiliki banya keinginan. Saya sebenarnya tidak peduli umur saya panjang atau pendek karena itu tidak akan mempengaruhi keinginan dan impian-impian saya. Semua keinginan dan impian saya akan tetap sama meskipun besok saya akan meninggal.

Karena saya akan tetap menjadi saya. Meskipun Tuhan akan memanggil saya esok hari ataupun berpuluh-puluh tahun kemudian.

Sekian,
Salam sayang dan cintah!

Wulan sari :D
Nov 7, 2013

#30haringeblog : Takut dibenci

Oke. Tema hari ini: Apa ketakutan terbesarmu?

Ada beberapa hal yang saya takuti.
Dan ketakutan terbesarku adalah:
Saya takut dibenci dan salah. Mungkin kita sebagai manusia memiliki perasaan tersebut wajar, tetapi dua hal ini sangat mempengaruhi hidup saya.
Saya melakukan sesuatu pasti dengan berpikir matang-matang dan lama. Itu saya lakukan agar nantinya saya tidak salah dan pada akhirnya dibenci. Cara saya bicara, bertingkah laku.
Terkadang saya sudah takut duluan sebelum "berperang" sehingga membuat saya kurang "berkembang".

Saya selalu berpikir bagaimana cara terlihat sempurna tanpa cela. Meskipun, saya sadar tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tetapi, hal tersebut selalu saya lakukan. Saya selalu berpikir "bagaimana kalau..."
Ya, pikiran-pikiran negatif selalu memenuhi otak saya.

*kenapa jadi curhat ya? xoxo

Oke. Sampai di sini saja ya :D hihi
Nov 6, 2013

Surat balasan band favorit

Kapan terakhir kali mengirim surat? Hmmm, kapan , ya?

Kalau surat yang di maksud di sini adalah surat untuk sebuah majalah tentu terakhir kali saya mengirim saat SMA kelas 3. Saya sudah sering mengirim karya-karya saya di majalah lokal, meskipun tidak semua karya saya di muat :))

Dan jika, surat yang dimaksud di sini adalah surat yang mendapat balasan, tentu saja saya akan menyebutkan sebuah surat yang saya tujukan untuk band kesukaan saya, yaitu Sheilaon7. Saat itu saya masih SMP. Saya sangat senang sekali saat itu, tentu saja selain saya mendapatkan balasan dari manajemen band favorit, tetapi juga karena itu pertama kalinya saya menerima surat balasan. Padahal pada awalnya Bapak mengejek saya, karena tidak mungkin surat itu akan terbalas.

Saya juga pernah mengirim sebuah surat untuk teman pena saya, tetapi justru surat itu kembali lagi kepada saya lantaran alamat yang saya tulis kurang lengkap.

Saya merindukan menulis surat dan menempelkan perangko di sudut amplop cokelat yang sering saya lakukan di masa SMA.

Saya benar-benar merindukan saat-saat itu :')


Sebotol Chivas


Kubiarkan langit mengabu di ufuk barat. Disertai guratan merah jingga dengan bulatan keemasan. Kicauan burung kian menjauh dari telinga menyisakan suara jangkrik saling bersautan.


     Senja masih sama. Aku dan kamu pun masih sama. Duduk berdua dalam satu ruangan dengan bau alkohol dan nikotin memenuhi rongga hidung. Hal yang selalu kita lakukan dikala senja menyapa yang tak pernah terlewatkan seharipun.
     Kamu tertidur dengan posisi tengkurap. Begitu polos tanpa beban. Seakan duniamu baik-baik saja meskipun pada kenyataannya kamu sedang menelan pil kehidupan secara bulat-bulat. Aku tahu itu, meskipun kamu tidak pernah menceritakannya.
     Karena aku juga melakukan hal yang sama.
     Sejak aku melihatmu di kafe sore itu, dengan wajah kuyuh dan sebotol chivas tergeletak di meja. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Meskipun pada akhirnya kamu berdalih bahwa minuman itu hanya sebagai perayaan temanmu yang naik pangkat. Aku tahu kamu berbohong. Karena mata itu sama persis seperti mata yang kulihat di cermin rumahku setiap hari.

Cinta Monyet, Tao Ming Tse

Cinta monyet.

Bukan cinta antara monyet-monyet , ya. Cinta monyet adalah sebuah istilah untuk kita yang merasakan yang disebut "cinta" saat kita masih belum "matang" untuk merasakan perasaan tersebut.

Dan cinta monyetku terjadi saat aku masih duduk dibangku sekolah dasar. xoxoxo
Masih ingatkah dengan film meteor garden? Cinta antara Tao Ming Tse dan Shan chai. Shanchai yang membenci A-tse lantaran dia adalah pria paling bandel dan menyebalkan di kampusnya. Dan apakah hubungan cinta monyetku dengan kisah mereka? 

Aku saat itu masih mudah terpengaruh dengan kisah cinta di novel maupun di adegan sebuah film (sebenarnya sekarangpun masih! :) ) menginginkan punya seorang kekasih seperti Tao Ming Tse. Dan saat itu, aku berpikir siapakah pria di kelasku (saat itu aku kelas 6 SD) yang paling bandel dan menyebalkan. Dan aku bergidik ngeri saat menyadari pria itu adalah Onya (nama panggilan dia) karena dia tidak naik kelas sehingga menjadi satu kelas denganku dan dia memang benar-benar bandel :( .

Onya dan aku satu kampung, suatu hari aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Kami saling bertatap muka lamaaaa sekali. Dan anehnya, dia jadi dipikiranku terus menerus.

"Kenapa aku jadi seperti ini?"batinku, saat tersadar dari lamunanku. Saat itu aku sedang di rumah Tanteku yang tidak jauh dari rumah juga. Dan saat pulang kerumah aku bertemu Onya lagi :)).

Semakin hari aku semakin sering bertemu dengannya dan tentu saja masih saling bertatap muka. Entah apa yang dipikirannya aku tidak tahu. Yang jelas aku ingin terus bertemu dengannya.

Dan untuk pertama kalinya aku bisa merasakan bagaimana rasanya cemburu. Saat Onya bercanda dengan teman-teman perempuan sekelas, seakan ada jarum yang menusuk-nusuk di dada, karena Onya tipikal pria yang susah untuk dekat dengan perempuan. 

Apakah ini yang disebut cinta?

Haha...

Saat itu terlalu polos untuk disebut cinta. Dan anehnya, perasaan itu tetap bertahan hingga aku menginjak kelas 2 SMP. Mengherankan, bukan?

Oke. Cukup sekian tentang cinta monyetku yang bergelantungan diangkasa bersama burung-burung dan pesawat terbang :))

See you :)

Oct 26, 2013

Cinta dalam tinta

Cinta
Cinta itu serumit rambut kusut dan sesederhana kaus oblong hitamku.
Kaus hitam oblos, celana jeans, dan jaket bertudung. Sesederhana itu.
Dan terlalu rumit untuk mengurai rambut yang kusut.

Dan percayakah cinta itu seperti pulpen?
Aku merasakannya. Waktu itu, aku pergi ke toko buku di Mojokerto (tempat kelahiranku), jalan-jalan tentu saja. Dan aku melihat sekumpulan pulpen di sana. Aku mengambil satu mencobanya dan kubawa pulang.
Dan aku mulai menulis dengan pulpen tersebut dan merasa wow.... pulpen ini bagus! Murah dan enak di pakai! Membuat aku jatuh cinta!

Saat engkau dengan mudahnya menggoreskan tinta membentuk kata 'cinta' kamu akan terus menulisnya hingga tinta itu habis.

Aku sedih.

Karena saat aku datang ke toko buku itu lagi, untuk membeli pulpen yang sama aku tidak menemukannya.
Kalian tahu? Setiap pulpen memiliki cara menulis dan cara menggoreskan tintanya. Dan itu tidak akan kalian dapat dari pulpen baru yang kalian bawa pulang.

Setiap pulpen memiliki cerita sendiri dalam merangkai kata, dalam menjabarkan makna.

Dan pertanyaannya sekarang, di mana aku bisa mendapatkan pulpen lagi sepertimu?
*Frustasi


Salam cium,
Wulan
Oct 17, 2013

Di Hari Kesekian

Di hari kesekian,
Aku masih di tempat yang sama
Berharap engkau berputar arah
Menemuiku, kembali

Di hari kesekian,
Aku masih mengingatmu pada satu titik,
Titik di mana kita bertemu dan berpisah

Di hari kesekian,
Aku masih menyimpan sisa rindu
Rindu yang dulu belum pernah tersampaikan

Di hari kesekian,
Aku masih bisa merasakan  nikmat tembakau yang engkau kirim
Lewat bibirmu

Di hari kesekian,
Aku masih bisa melihatmu
Di tempat itu, 
kamu datang
kamu pergi
Diiring hujan

Di hari kesekian,
Aku masih memeluknya
Memeluk cintamu
Berusaha keras agar engkau menyambutnya

Di hari kesekian,
Aku berusaha berlari
Berlari tuk tak menengok masa lalu
Karena luka yang tercipta
masih bernanah

Di hari kesekian,
Aku lelah...
Lelah tuk mencarimu
Kabarmu..

Di hari kesekian,
Kuberharap cintamu pergi
Membawa kenangan serta

Di hari kesekian
Aku masih berdusta
Bahwa aku akan baik-baik saja
Nyatanya tanpa hadirmu, 
aku bukan siapa-siapa

Di hari kesekian,
Aku mencoba tuk bergantung pada mimpiku
Nyatanya, itu tak cukup untuk mengobati

Di hari kesekian,
Aku berusaha untuk melepasmu
Melepas segala yang tersisa
Melepas seluruh yang ada
Melepas ingatanku
Agar hati ini tak lagi menyebut namamu....


Surabaya, 17 Oktober 2013
~Dimana aku merasa begitu merindukanmu,
Wulan sari
Oct 8, 2013

Perempuan ini

Apa yang kau lihat?
Mengapa kau tertawa?
Kau sedang mengasihiku?

Apa kau melihat perempuan rapuh ini?
Perempuan yang meratapi kepergianmu
Perempuan yang masih merindumu dalam kesepian

Adakah kau mengetahuinya?
Kau masih dipeluknya dalam tangisnya
Namamu masih di pendamnya dalam relung jiwanya

Berhenti!!

Berhenti berpura-pura peduli
Berhentilah tuk menatap perempuan ini

Perempuan ini tahu, kau hanya mencoba menggores luka kembali
Kau datang bukan tuk mengobati
Kau datang hanya untuk melihat perempuan ini terpuruk

Pergilah...

Perempuan ini tak ingin senyum palsumu
Perempuan ini tak membutuhkan peluk samarmu

Perempuan ini tahu..
Ada perempuan lain yang engkau peluk dengan kasihmu
Bukan perempuan ini yang engkau cinta..

Bukan,
Bukan,
Bukan perempuan ini...
Sep 24, 2013

Untuk Kamu yang belum benar-benar pergi dari hatiku...

Untuk Kamu yang belum benar-benar pergi dari hatiku...

Katakanlah
Apa yang kau inginkan dariku
Mencintaimu sampai mati?
Meskipun engkau tetap memilih DIA dan bukan AKU?

Berceritalah,
Kepada semua orang yang engkau temui
http://google.com
Ceritakan pada mereka, di sini ada seorang perempuan yang begitu mencintaimu,
Perempuan yang rela menunggumu hingga fajar menyingsing

Hanya untuk menemanimu...

Ungkapkanlah,
Semua hal tentang aku
Semua hal yang membuatmu rela menemuiku dan membuangku begitu saja...

Sayangku,
Engkau tahu, aku hanyalah perempuan dengan hati lemah
yang kapan saja bisa kau hancurkan dengan sekali tepuk

Matahariku,
Akulah sang Bulan yang tak pernah bisa bersanding denganmu
Akulah sang Bulan yang akan selalu bersembunyi untuk menerima sinarmu...

Pandirku,
Engkau adalah selarik kalimat dalam kisahku,
Yang akan menghubungkan aku dengan kisah lainnya

Maka,
Percayalah, engkau akan selalu bersama hidupku dan akan kubaca ulang suatu saat nanti
Apr 13, 2013

Taukah kalian?

Taukah kalian?
Ada hati yang terluka
Saat kalian bersama

Akan ada yang meneteskan airmata
saat kalian saling tersenyum

Apa kalian tidak merasa iba?
Ataukah ini yang kalian mau?
Membuat dia tersakiti oleh cintanya

Cinta yang diam-diam ditunggunya
yang dijaganya untuk dipanggil
untuk dipeluknya..

Taukah kalian
Dia menunggu cinta itu
Diberanda cafe itu, dia terdiam
Menatap lurus bersama tetesan airmatanya
Bersama rintik hujan

Rinai hujan masih membasahi pijakanya
Dia menunggi cintanya datang
Menjemputnya...
Melindunginya dari terpaan dingin
yang menghujam

Taukah kalian?
Dia masih menunggu cintanya
Meskipun dia tau cinta itu
tak akan pernah menjemputnya..
Apr 9, 2013

Menciptakan Jejak Sendiri

Aku sudah lupa rasanya jatuh cinta
Aku sudah lupa caranya mencintai
Aku sudah lupa rasanya saling memiliki

Yang kurasakan hanyalah hampa
Berjalan didunia tanpa arah

Yang aku ingat hanya bagaimana rasanya disakiti dan
saling menyakiti,

Yang kuingat dengan jelas rasanya kesepian dan sendirian,
tersisihkan karena merasa tersisih

Terabaikan karena merasa bisa mengahadapi
seakan kubisa tersenyum tanpa menangis

Seakan kubisa berdiri tanpa berpijak

Aku sengaja menyendiri
pada kenyataannya aku sendirian

Bagaimana caraku menghapus jejak yang kuciptakan sendiri?
Apakah aku harus berbalik dan menciptakan jejak baru?
Lalu bagaimana jika jejak itu enggan terjejak kembali

Adakah yang sanggup mengulurkan tangannya,
dan menciptakan jejak bersama?

20 Maret 2013

Terekam memori kesakitan yang kualami
Satu per satu menguliti kepercayaanku
Tanpa ada yang mengerti..
Semua terjadi seakan menghukumku
Membuatku beku dalam bara api
Tak sanggup kumencair dengan ikhlas
Aku jatuh cinta
Tapi cinta itu hanya terjatuh
Tanpa ada satu orang pun ingin
memungutnya...


"Saat kepercayaan menjelma menjadi kedustaan, aku berdiri dengan butiran tangis dipipiku"

Gadis bermata Sayu

Dia menunduk sambil meremas tali tas selempangnya, setelah memesan segelas jus jambu.
Pandangannya kosong, seakan ada sakit yang dalam disana
Dia hanya tersenyum saat berhadapan denganku, itupun senyum hambar tanpa percikan bahagia
Kenapa dia seperti itu?
Gadis bermata sayu itu seakan tak mempunyai semangat 
Seakan dunianya jungkir balik diantara kesedihannya
Lalu kenapa hatiku ingin sekali merengkuhnya dan melindunginya
Siapa dia buatku?
Dia hanya gadis pemalu dengan mata sayunya
Dia hanya gadis yang kehilangan konsentrasinya, hingga mengambil jus milikku
Gadis itu tersenyum malu dan salah tingkah, menggaruk pipinya dan sebentar-sebentar memegang hidungnya yang datar
Aku terpingkal
Dia masih tersenyum malu,
Siapa gadis itu?
Kenapa dia membuat hariku jungkir balik
Dengan begitu polosnya dia menyeruak masuk dalam hatiku

Ah, gadis bermata sayu..
Apr 8, 2013

Kenangan Singkat

Kala itu, kau menggenggam tanganku erat. Kulitmu dan kulitku bersentuhan dalam beberapa detik, karena kusegera melepaskannya. Semburat rona merah diwajahku, menandakan betapa sentuhan singkat itu bisa menimbulkan getaran hebat ditubuhku. Ini pertama kalinya, aku bersentuhan dengan lelaki.


Motor yang kita naiki masih melaju perlahan, mengitari area kampus yang meremang. Lampu dipinggir jalan tak mampu mengusir gelapnya malam. Kau dan aku terus melaju bersama, bercanda, seakan kita sudah kenal sejak lama.

Aku bukanlah kekasihmu, tetapi seakan akulah cintamu. Kau nyanyikan sebuah lirik dalam perjalanan kita, dan aku tersenyum bahagia. Kita terus berjalan tanpa arah tujuan, yang kutau pasti aku ingin dua roda ini terus berputar bersamamu.

Taukah kau? Kenangan singkat yang kau berikan kepadaku, memberikan kenangan seumur hidupku. Hingga kini, kenangan indah itu, adalah satu-satunya bintang yang masih bersinar dalam hidupku.

:)
Apr 5, 2013

Cinta Penuh Harap

Kugerakkan telunjuk jariku di permukaan kaca mobil yang berembun. Kutuliskan sebuah nama yang menjadi penghuni pikiranku saat ini. Dante. Kekasih yang kutinggalkan bersama kenangan kami dipulau dewata.
            Beberapa kali lelaki paru baya disebelahku mengelus lembut rambutku. Tapi, aku tidak menghiraukannya, dan tetap bersandar di sofa mobil sambil memandang kearah luar jendela. Hujan masih deras sejak kami memasuki mobil dari bandara tadi.
            “Kamu mengambil keputusan yang terbaik, Nak,”kata lelaki disebelahku dengan suara yang berat. Seketika itu, mataku kabur bersama rintikan hujan yang terus menghantam mobil kami.
            Dante seorang pria yang baik. Kami bertemu di Jogjakarta, saat kami sama-sama liburan disana. Dan secara kebetulan dia sedang kuliah di Surabaya, komunikasi kami semakin berlanjut, hingga kami akhirnya berpacaran.
            Sampai akhirnya, keluargaku mengetahui bahwa kami berbeda agama. Perbedaan keyakinan yang sampai kapanpun tidak akan bisa disatukan. Akhirnya, aku memilih untuk ikut Dante ke Pulau Dewata, berharap keluarga Dante bisa menerima perbedaan kami. Tapi, kami terlalu naif untuk hal ini. Seperti keluargaku, keluarga Dante juga melarang hubungan kami.
            Tidak ada yang bisa kami perbuat selain memutuskan untuk berpisah seperti apa yang diharapkan oleh kedua orangtua kami. Dan disinilah aku sekarang, pulang membawa kenangan indah bersama Dante.
***
            Bukan hal yang mudah buatku untuk melupakan Dante, tapi bukan berarti aku harus terus menerus mengurung diriku didalam kamar.
            Kulangkahkan kakiku melewati pintu rumahku, setelah beberapa hari aku tidak pernah sama sekali keluar rumah. Ada seuntaian senyum dibibir Bunda saat mengetahui aku mendapatkan kembali semangatku.
***
            Nunuh sahabatku, memperkenalkanku pada Niko, lewat bbm. Hampir setiap hari kami BBM-an, hingga kami memutuskan untuk bertemu. Niko, cowok yang baik, dengan wajah oriental, berhidung mancung dan bermata sipit.
            Kian hari mengenal Niko, aku mengetahui sifat-sifatnya dan masa lalunya. Dia pernah memiliki kekasih berbeda agama, sama sepertiku. Aku semakin merasa cocok dengannya, disamping kami sama-sama memiliki masa lalu yang sama, selain itu kami memiliki keyakinan yang sama.
            Seiring berjalannya waktu, aku semakin mengerti akan sifat Niko, yang mungkin orang lain belum tentu mengetahuinya. Karena dia mempercayakan kisah masa lalunya diketahui olehku. Dia sering mabuk-mabukan dan aku dengan sukarela menemaninya bergadang meskipun hanya lewat BBM.
            “Aku masih mencintai dia, Ta,”ungkapnya waktu kami berada dikamar kos-nya. Saat ini dia sedang mabuk berat. Bau alcohol tercium saat dia berbicara.
            Aku terdiam.
            Kuelus bahunya lembut.
            “Kenapa perbedaan Agama yang harus memisahkan kami?”matanya memerah, menatap lurus kearahku. Hatiku nyeri seiring dengan tangisannya.
            “Udah, Nik. Ikhlasin aja. Mungkin kalian memang tidak berjodoh,”aku menarik napas,”aku mengerti gimana jadi kamu.”karena aku sendiri mengalami hal yang sama
            “Aku bakal bunuh siapa saja cowok yang mendekati dia, Ta!!!”teriaknya.
            Aku terlonjak. Melihat wajah Niko menegang dan memerah. Memang beberapa hari yang lalu dia bercerita bahwa Yeni, mantan kekasihnya, dekat dengan seorang cowok.
            “Jangan begitu, Nik. Gak baik buat Yeni dan kamu juga,”aku masih mencoba menenangkan Niko. Sesekali dia meneguk minuman berwarna kekuningan terlihat seperti teh yang ada digelas.
            Niko mengusap lembut rambutku.”Kamu ngerti rasanya kan, Ta?”
            Aku mengangguk. Kurasakan napas Niko yang hangat berbaur dengan bau alkohol. Wajahnya semakin mendekat. Dikecupnya bibirku sebentar. Aku terlonjak dan sedikit mendorongnya.
            “Kamu cantik, Ta,”bisiknya lirih.
            Aku tersenyum tipis. Niko kembali menarik kepalaku untuk mendekat menciumku kembali. Dan aku merasa semua terasa gelap, dan yang kutau selanjutnya aku terbangun diranjang milik Niko. Dan dia sedang tertidur sambil memelukku.
***
Kusudaah memberikan keperawananku kepada Niko. Aku tidak menyesali itu, karena kuyakin Niko akan segera mencintaiku, dan melupakan Yeni mantannya.
            Aku selalu berharap itu terjadi.
            Dan semakin hari, keyakinanku semakin memudar. Saat aku merasa Niko mulai menjauhiku. Seringkalii BBM-ku hanya dibaca tanpa membalas, dibalas pun hanya sekedarnya dan singkat. Saat aku telpon dia tidak mengangkatnya. Aku mulai khawatir, hingga kuputuskan untuk menemuinya dikosnya.
            Kuketuk dua kali pintu kamar kos Niko. Tidak ada jawaban. Mungkin dia masih tidur, karena sekarang jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Kucoba sekali lagi mengetuk pintunya, kali ini terdengar sayup-sayup pintu terbuka.
            Benar saja, Niko baru bangun. Matanya masih setengah sadar, rambutnya acak-acakan. Aku tersenyum melihatnya.
            Kami duduk dikursi panjang depan kamar kosnya. Niko duduk sambil menguap beberapa kali, dia memakai kaos singlet sehingga mempertontonkan lengannya yang berotot.
            “Ada apa, kesini pagi-pagi?”tanyanya tanpa melihat kearahku.
            Aku menarik napasku, mencoba mencari kalimat yang tepat untuk memulai percakapanku. Tetapi setelah mendengar pertanyaan Niko dengan nada yang terdengar ketus, kuputuskan untuk langsung kepokok masalah.
            “Kenapa kamu menghindariku?”tanyaku hati-hati. Nada bicaraku mulai bergetar.
            “Lalu apa yang kamu inginkan?”
            Kutautkan kedua alisku, mencoba mencerna kalimat Niko barusan.
            “Kamu kok jadi berubah gini?”
            Niko terdiam.”Maaf, Ta,”ucapnya kemudian,”jangan berharap lebih sama aku,”lanjutnya.
            Hatiku bergetar. Mataku memanas, dan telapak tanganku terasa dingin.”Setelah kejadian malam itu, kamu berbicara seperti ini?”tanpa terasa setetes air mataku turun.
            “Justru karena kejadian malam itu, Ta, aku sadar. Aku gak bisa sama kamu,”tandasnya.
            Kumulai terisak. Dadaku terasa sangat sesak. Banyak sekali kalimat yang ingin kuucapkan tetapi tertahan ditenggorokan. Semua terasa begitu memilukan.
            “Aku tidak mau menyakiti kamu lebih dalam lagi, Ta.”katanya lembut.
            “Udah terlambat, Nik!! Kamu udah nyakitin aku!!”teriakku sambil terisak.
            Niko terlihat gusar. Dia berdiri dan berjalan masuk kekamarnya.
            Aku berdiri dan mengejarnya. Niko berusah untuk menutup pintu kamarnya, tetapi aku berhasil mencegahnya. Kamarnya terbuka. Aku terdiam menatap lurus kearah ranjang miliknya. Mulutku sedikit terbuka, dan kututupi dengan tanganku. Pemandangan yang kulihat saat ini, sungguh membuatku sakit. Seorang cewek sedang melihat kearahku, matanya mengerjap-kerjap, mungkin dia terbangun karena sinar matahari masuk kedalam kamar. Dia memegang seprei putih yang menutupi dadanya.
            Cewek itu mirip dengan Yeni, mantan kekasih Niko.
            Aku mengangguk mengerti, dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Aku pergi membawa kesakitan yang teramat. Kumaki diriku sendiri karena terlalu polos untuk mengenal Niko, terlalu mudah percaya akan cowok seperti dia.
            Dan kini semua sudah berakhir. Tidak ada yang tersisa. Bayangan Dante kembali menyeruak kedalam memoriku.

Mencintaimu


Tak semudah mata melihat
Tak semudah telinga mendengar
Tak semudah bibir berucap
Tapi mudah bagiku untuk mencintaimu

Menyendiri




Aku mengendap-endap disela keramaian

menyusup dalam sela tawa mereka
Inilah aku dalam kesendirianku
Mar 31, 2013

Kesalahan Takdir



Pernahkah aku bercerita, tentang kisahku yang membuatku berdiri di sini.    Dan pernahkah kamu berpikir bagaimana jadinya aku bila takdir tidak pernah mempertemukan kita. Meskipun pada kenyataannya takdir tidak mempersatukan kita.
       Di sini kita memulainya, pertemuan diantara dua orang manusia dengan latar belakang berbeda, dan dengan membawa cinta yang berbeda.
           Kakiku yang polos menyentuh air danau yang dingin, menciptakan riak kecil. Kumenatap langit, pohon dan air danau secara bergantian, mencoba mencari inspirasi di sana.
            Kupandangi langit siang ini begitu cerah dengan awan putih beriringan melintasi langit biru. Kupejamkan mataku untuk menikmati angin yang berhembus secara perlahan. Kubuka perlahan mataku dan mulai menulis sebuah kalimat buku kecil yang selalu kubawa kemanapun aku pergi.
            Kumerasakan angin telah mengiringiku, bersama langit dan pohon-pohon. Menatapku dengan suka cita
            Saat kualihkan pandanganku dari buku kecilku, mataku menangkap seorang pria dengan kamera dikedua tangannya. Dia sedang mengambil gambar didanau ini, lebih tepatnya mata kameranya sedang membidikku.
            Keningku berkerut, memicingkan mataku kearah pria itu. Pria itu menurunkan kameranya. Kini, aku dapat melihat wajah pria itu meskipun dari kejauhan, kulit cokelat terbakar matahari, rambut lurus belah tengah, bibir tebal. Dia tersenyum kearahku. Dan aku masih menatapnya lurus.
            Pria itu berjalan mendekatiku, dengan santainya duduk di geladak tepat disebelahku.
            “Kamu mengambil gambarku?”tanyaku tanpa basa-basi.
            Pria itu tersenyum kembali. Kini, aku bisa melihat gigi putih yang berantakan. “Percaya diri kamu tinggi.”
            Kuangkat tanganku ke udara. Lalu kembali menatap air danau tanpa memperdulikan pria di sebelahku. Aku sedikit kesal dibuatnya.
            Saat kuarahkan pandanganku kepada pria itu, kulihat dia sedang mengarahkan kembali kameranya kearahku.
            Kutautkan kedua alisku.”Ini yang kamu sebut percaya diriku tinggi?”
            Dia tertawa. Aku tidak mengerti apa yang dia tertawakan sedangkan aku, daritadi bersikap tidak bersahabat terhadapnya.
            “Aku hanya bingung. Kenapa kamu bisa berada di danau yang sepi ini, dan seorang diri?”
            “Aku suka menyendiri.”
            “Menyendiri atau kesepian?”
            Aku mendengus kesal. Kutatap matanya tajam.”Memang ada hubungannya sama kamu?”tanyaku ketus.
            Dia tersenyum lagi dan lagi.”Aku baru pertama kali melihatmu di sini.”
            “Aku sering kesini.”
            “Aku juga. Tetapi, kenapa kita tidak pernah bertemu?”
            “Mungkin takdir tidak mengijinkan kita untuk bertemu.”jawabku tanpa melihat kearahnya.
            “Berarti saat ini, takdir mempunyai maksud tertentu. Karena takdir telah mempertemukan kita.”
            “Mungkin takdir membuat kesalahan,”sahutku masih dengan nada ketus.
            “Kenapa kamu terlihat tidak begitu bersahabat denganku? Sedangkan kamu bisa bersahabat dengan pena dan buku kecilmu.”
            Aku memandangnya lurus. Menatap kedua bola matanya. Sedetik kemudian kupalingkan wajahku.”Karena takdir tidak mengijinkan aku bersahabat dengan orang yang seenaknya mengambil gambarku.”
            Dia tersenyum kembali.”Kamu manusia pertama yang gambarnya kuabadikan.”
            “Maksudmu?”
            “Aku tidak pernah mengambil gambar manusia. Aku hanya memotret alam. Tetapi, perpaduan alam dan gadis sepertimu, begitu indah.”
            Aku terdiam. Memutar bola mataku dan kembali tenggelam dalam riak kecil yang kuciptakan dengan kakiku.
            Kuberanjak dari tempat dudukku. Dia terperenjat dan meraih tanganku.
            “Aku ingin memberikan hasil gambarku kepadamu.”katanya.”Bisa kita bertemu kembali?”
            “Jika takdir mengijinkan.”jawabku dan berlalu.

            Kutarik kembali memoriku dari kejadian tiga tahun yang lalu. Setelah pertemuanku dengan pria itu, aku tidak kembali ke danau ini. Karena aku harus kembali ke Jakarta. Kedatanganku ke Surabaya hanya untuk menemui nenekku. Setelah nenekku meninggal, aku tidak pernah lagi datang ke danau ini.
            Tidak banyak yang berubah dari danau ini, hanya saja pohon-pohon semakin rimbun daripada tiga tahun yang lalu. Hari ini, aku kembali kesini selain ingin mengenang pertemuanku dengan pria yang membuat hari-hariku selanjutnya menjadi lebih indah, tetapi juga untuk bertemu fotografer dari foto-foto yang selalu menginspirasiku.
            Aku menemukan sebuah blog di internet yang memamerkan foto-foto alam yang selalu memunculkan sebuah ide untukku membuat cerpen. Setelah aku mengirim email ke fotografer itu untuk meminta ijin foto miliknya untuk kujadikan inspirasiku dalam membuat cerita. Setelah selama setahun terakhir kerjasama kami memutuskan untuk bertemu, kebetulan aku sedang berkunjung ke Surabaya.
            Banyak yang menyukai karyaku yang disertai oleh foto milik fotografer yang kuketahui bernama Johan itu. Berkat foto-foto milik Johan, kini aku bisa menerbitkan kumpulan cerpen milikku yang disertai foto-foto miliknya.
            Kutarik napasku perlahan merasakan hembusan angin di danau ini. Kupejamkan mataku untuk lebih menikmatinya. Saat kumembuka mata, di sebelahku sudah berdiri seorang pria yang tidak pernah kubayangkan akan bertemu kembali.
            Aku tersenyum.”Hai apa kabar?”
            Dia tersenyum.”Baik.”
            Kami sama-sama tersenyum malu-malu. Saling menatap penuh rindu.
            “Aku tidak menyangka kita akan bertemu kembali.”katanya. Lalu, dia mengeluarkan sebuah amplop besar dari dalam tasnya.”Aku hanya ingin menyerahkan ini. Seperti janjiku tiga tahun yang lalu.”diserahkan amplop cokelat itu kepadaku.
            Kubuka amplop itu secara perlahan. Kulihat ada beberapa lembar foto dengan aku sebagai objeknya. Foto yang diambilnya tiga tahun lalu. Aku tersenyum kecil.
            Kutautkan kedua alisku saat melihat inisial “JP” diujung foto-foto itu. Inisial yang sama seperti foto milik Johan yang selalu menginspirasiku.
            “Awalnya, aku ingin mengirim foto-foto itu ke Jakarta. Tapi, alangkah baiknya jika kita bertemu langsung.
            “Kamu?”aku terkejut. Mataku membulat, mulutku sedikit terbuka.
            “Johan Pratama.”dia mengulurkan tangannya. Pria dihadapanku ini adalah fotografer yang menciptakan foto yang selalu menginspirasiku.”Tidak perlu menyebutkan namamu, kamu sudah cukup terkenal dengan karyamu.”dia tersenyum.
            Kusambut uluran tangannya.”Lana Saraswati. Sekarang kita resmi berkenalan.”
            “Sepertinya takdir membuat kesalahan lagi.”dia mengambil napas,”dengan mempertemukan kita kembali.”
            “Dan ini adalah kesalahan takdir yang paling indah.”sahutku.
           
Mojokerto, 28 Maret 2013 19:22
Feb 28, 2013

Padamnya Api Kesombongan


Warna merah kekuningan itu menyambar-nyambar dipenjuru rumah. Hawa panas yang teramat bisa dirasakan sampai kiloan meter. Menyengat. Seorang pria meraung-raung dengan sedikit tetesan air mata. Dia terus berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman petugas berbaju oranye. Hingga dia merasakan lemas diseluruh persendianya. Dia-pun tersungkur dan terlepas dari petugas itu.
            Matanya menatap nanar kearah kobaran api yang menghabiskan seluruh dunianya. Tidak ada yang bisa menolong kehidupannya. Hanya ada beberapa petugas kebakaran yang bisa datang ketempatnya. Mereka tidak sanggup menjinakkan si jago merah.
            Kini, dia hanya bisa terduduk lemas dilantai. Tangannya berpegang pada kedua lutunya. Hatinya bergetar menahan tangis. Baju tidurnya yang mewah terlihat lusuh dan beberapa ujung lengannya terbakar. Kini, kobaran api itu bisa dipadamkan. Akan tetapi, tidak ada yang bisa diselamatkan.
            Peristiwa ini seperti sebuah potongan mimpi dikasur mewahnya. Dia berusaha berkali-kali untuk bangun tapi nyatanya ini bukanlah sebuah mimpi. Ini bukanlah sebuah mimpi buruk. Pada kenyataannya, saat dia bangun nanti, dia akan mendapatkan kenyataan yang sama. Dia kehilangan segalanya.
            Dia berjalan terseok-seok. Langkahnya terasa berat. Saat dia masih mengenakan kemeja biru dengan dasi hitam menghiasinya. Dia berjalan dengan penuh percaya diri menatap mata setiap orang yang ditemuinya. Kini, dia hanya bisa tertunduk menatap kabur kearah tanah.
            Dia tidak sempat menyelamatkan apapun dari rumah mewahnya. Yang tertinggal hanyalah baju tidur yang sedang ia kenakan. Malam semakin larut, hawa panas yang ia rasakan tadi kini berganti dengan dingin yang menusuk hingga ke ulu jantungnya. Tangannya masih bergetar.
            Perjalanannya terasa panjang. Dia tidak mempunyai tujuan. Tidak ada sanak saudara di Ibu Kota ini. Ia pun tidak bisa menghubungi rekan kerjanya. Hingga ia harus berjalan menuju rumah rekan kerjanya yang terdekat dari rumahnya.
            Kini, dia berada didepan sebuah rumah dengan gerbang yang bercat merah menyala. Rumah ini mewah, tapi tidak semewah rumah miliknya. Dia memencet bel rumah itu berkali-kali. Tapi tidak ada yang keluar dari pintu indah itu. Angin malam semakin menusuk-nusuk kulit arinya. Ia mendekap erat tangannya sendiri. mencoba menghangatkan tubuhnya yang kurus.
            Dia menghembuskan napas lega saat pintu dengan pegangan marmer mewah itu terbuka. Seorang ibu paru baya dengan rambut disanggul, berjalan terseok-seok menghampiri pintu gerbang. Wajah keriput dan uban yang terkena lampu jalan mengingatkannya akan ibunya dikampung. Yang selama setahun ini, belum pernah dia kunjungi. Hatinya teriris.
            “Maaf Bu, Pak Darjo ada?”tanya pria itu dengan suara serak.
            “Itu anu..”ibu itu berbicara dengan terbata. Tangannya memilin-milin ujung kebayanya, lalu menoleh kearah sebuah kamar yang masih menyala. Gorden dari kamar itu bergerak, seperti baru ada yang mengintip. “Ndoro Darjo sedang tidak ada dirumah. Beliau sedang berlibur ke Bali.” Ibu itu menyelesaikan kalimatnya, dengan menelan ludah.
            “Kalau Nyonya Darjo ada?” pria itu masih bersikeras untuk menemui majikan rumah tersebut.
            “Mereka berlibur sekeluarga.”ucap Ibu itu. “Permisi ya ,Pak!” katanya kemudian dan pergi meninggalkan pria itu sendirian.
            Pria itu hanya bisa tersenyum dan berbalik badan meninggalkan rumah itu. Otaknya berpikir kemana dia akan pergi. Saat seperti ini, dia mengingat keluarganya dikampung. Anak dan istrinya, yang selama setahun belum pernah dia kunjungi. Hanya uang bulanan yang dia kirimkan untuk keluarga dikampung. Bahkan, kini dia sudah beristri dengan seorang wanita cantik, yang sebulan lalu meninggalkannya dengan pria lain.
            Putra Wijanarko, seorang pengusaha muda yang sukses. Tidak ada yang bisa menandingi kepiawaiannya dalam berbisnis. Lima tahun di Jakarta untuk mengaduh nasib tidaklah sia-sia jika mengingat hasil yang dia peroleh. Dan diapun berhasil menaklukan hati seorang wanita cantik anak dari salah satu rekan kerjanya. Dia-pun menikahi gadis itu, tanpa meminta ijin istrinya dikampung. Bahkan sampai sekarang istrinya belum mengetahui bahwa dia memiliki istri lain di Jakarta.
            Kekuasaan telah merubah sifat santun pria itu. Sifat dasar yang dia pendam kini menyeruak dengan kekuasaan yang dia pegang. Bawahannya tidak pernah ada yang membantah akan apa yang dia katakanya. Semua pemikirannya adalah benar. Meskipun pada kenyataannya salah, dia harus dibenarkan. Karena sifatnya yang egois, dia tidak mempunyai rekan kerja yang benar-benar peduli akan dirinya. Mereka hanya bekerja untuk uang Putra. Terlihat jelas dengan adanya musibah ini, tidak ada yang mau menolongnya.
            Dia berhenti disebuah warung kecil dipinggir jalan. Ada beberapa orang yang masih terjaga sambil bermain kartu. Tawa renyah beberapa kali terdengar dari mereka. Mengingatkan akan kampungnya. Dia duduk dibangku kayu panjang yang sedikit bergoyang saat diduduki. Dia tidak memesan apapun, karena tidak ada sedikitpun uang yang dia pegang.
            Mungkin dia belum kehilangan segalanya. Dia masih mempunyai tabungan di bank. Tapi saat ini dia kehilangan orang yang peduli akan dirinya.
            “Mau minum apa , Pak?” tanya seorang pemilik warung itu.”Bapak Putra?”
            Putra mengerutkan dahi. Memicingkan matanya. Dia memandangi pria yang berumur tiga puluhan dihadapannya. Seumuran dengannya.
            “Kamu mengenal saya?”
            “Ini saya Tara, Pak! Office Boy dikantor Bapak!”
            Putra mencoba mengingat-ingat wajah pria dihadapannya. Ada banyak OB dikantornya, ia tidak yakin akan mengingat pria ini.
            “Saya yang bapak pecat seminggu yang lalu, karena menumpahkan kopi dibaju bapak!” kata pria itu sambil tersenyum. Hati Putra bergetar. Dia mulai mengingat potongan kejadian seminggu lalu. Dia tidak pernah ingat siapa saja bawahannya yang pernah dia pecat. Tapi kali ini dia ingat karena pria dihadapannya ini benar-benar membuatnya kesal waktu itu.
            “Bapak mau kopi atau teh?” lanjut Tara.
            “Ah, tidak perlu. Saya..”belum selesai Putra berbicara Tara sudah masuk kedalam bilik warungnya, dan keluar dengan segelas kopi hitam yang masih mengepul.
            “Silakan, Pak!”kata Tara sopan.
            “Terima kasih.”Putra mengangguk. “Tara, maafkan saya, atas perlakuan saya waktu itu.”
            Tara tersenyum hormat.”Tidak apa-apa, Pak. Memang itu kesalahan saya.”
            Putra menceritakan musibah yang sedang dia alami. Dengan senang hati Tara menawarkan untuknya menginap dirumahnya. Putra menolak, tidak enak hati. Mengingat apa yang apa yang telah dia lakukan terhadap Tara. Tara-pun meyakinkan pada dia, bahwa dia tidak mempermasalahkan akan hal itu.
            Putra memasuki sebuah rumah kecil. Saat dia memasuki rumah itu, dia melihat Tara disambut oleh kedua anaknya laki-lakinya, yang langsung memeluknya. Tidak lama seorang wanita dengan menggendong seorang anak perempuan yang masih kecil. Wanita itu menyambut kedatangan Tara dengan mencium hormat tangan pria itu.
            Tara menjelaskan pada istri dan anaknya bahwa dia akan bermalam disini. Hati Putra terenyuh. Dia belum pernah merasakan kehangatan dirumah mewahnya. Ditambah lagi dia belum mempunyai anak dari istri keduanya.
            Wajah manis istri dan anaknya dikampung terngiang-ngiang kembali dibenaknya.
            Malam ini dia tidur diatas kasur yang berbeda jauh dari kasur mewahnya. Kamar ini jauh dari kata nyaman. Tapi dia menemukan kedamaian disini.

Wulan Sari
23 Januari 2013, pk 17.44
Surabaya


Feb 19, 2013

Diary Fadil

Aku sangat menyadari gadis yang membuatku tersenyum ini, tidak sepenuhnya mencintaiku.

Ada keraguan disetiap dia menatapku. tetapi dibalik tatapannya, ada harapan dia menginginkanku.

Senyum jujur yang kulihat sejak pertemuan pertama kami, sejak itulah aku mengetahui dialah gadis yang akan mendampingiku.

Dialah gadis yang paling jujur, yang pernah aku temui. Tutur katanya tidak pernah dibuat-buat. Senyumnya selalu tulus apa adanya.

Hingga aku selipkan cincin perak dijari manisnya, dia tersenyum malu-malu, tapi aku tau dia bahagia.

Aku kira aku sudah berhasil merebut hatinya, dari masa lalunya. Tetapi aku salah besar. Mata sayu itu semakin sembab, saat masa lalunya kembali mengusik.

Ternyata aku gagal.

Aku menyerah. Kubiarkan dia pergi dan memilih bersama masa lalunya. kubiarkan remukan hati ini berserakan dan menghancurkan ragaku. Aku tidak ingin gadis itu terperangkap dalam pelukanku.

Tapi hari itu dia datang dengan kedua bola matanya basah oleh tangisannya sendiri. Tapi untuk pertama kalinya aku melihat cinta disana.

Cinta itu jujur. Cinta itu memanggilku dengan kejujuran...

#Fadil

Diary Rasta


Kukira aku sudah menemukan tambatan hatiku. Gadis bermata belo dengan keceriaan disetiap nada bicaranya itu, kukira dialah cinta terakhirku.


Tetapi aku salah.

Gadis bermata sayu itu mengacaukan segalanya. Gadis yang saat aku ajak bicara hanya tersenyum itu, menciptakan ruang sendiri dihatiku, atau memang sejak awal ruang itu ada, tetapi aku tidak menyadarinya.

Bibir tebalnya sangat mirip dengan kekasihku, tetapi tidak dengan matanya. Mata itu tidak pernah memancarkan keceriaan, tapi aku tau satu hal, mata sayu itu menyukaiku, meskipun disetiap mata kami bertemu dia selalu berpaling.

Aku sudah berusaha keras agar ruang yang tercipta oleh gadis bermata sayu itu, tertutup. Tetapi apa dayaku.

Setiap kali aku melihat senyum malu-malu milik gadis itu, seakan itu teriakan darinya, agar aku segera merengkuhnya. Setiap kali aku menatap mata itu, seakan dia memohon agar kuhadir dalam hidupnya.

Dan aku pun tak sanggup menolak, saat tangan mungilnya dengan suka rela menggenggam tanganku, meskipun kita sama-sama tau, aku sudah ada yang memiliki.

"Isilah cela waktumu dengan aku, saat kekasihmu tak sanggup mengisinya,"tuturnya.

#Rasta
Jan 6, 2013

Kupeluk Cintaku


Aku menyipitkan mata. Merasakan sinar matahari memasuki kamar di sela-sela jendela. Aku melihat langit-langit kamarku, terdiam sambil berusaha mengumpulkan kesadaranku. Saat kesadaranku mulai pulih, aku baru menyadari ada seseorang yang memelukku, menyandarkan kepalanya di dadaku.
Jan 2, 2013

Segelas Jus Jambu

Aku tidak pernah memintamu untuk hadir dalam hidupku,
Kamu hadir bersama segelas jus jambu, sebagai permintaan maaf
Kamu sudah menanamkan cinta itu dihatiku, dan berusaha menghapusnya dengan segelas jus jambu
Apakah adil?

Seakan bayangan kebersamaan kita diatas dua roda itu tak akan pernah hilang
Mimpi-mimpi yang sama selalu hadir dalam tidur lelahku...
Pertanyaan yang sama, selalu terucap dari bibirku,
seakan menjadi pertanyaan yang tak akan pernah ada jawabannya,

Kamu berlari menjauh dengan memandangku,
Seakan kamu ingin bersamaku tapi tidak pernah bisa kamu lakukan

Kamu pergi membawa kenangan singkat kita,
Meninggalkan cinta yang masih tersimpan dihatiku,
hingga kisah kita kutuliskan dalam setiap goresan tintaku...