Padamnya Api Kesombongan | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Padamnya Api Kesombongan
Feb 28, 2013

Padamnya Api Kesombongan


Warna merah kekuningan itu menyambar-nyambar dipenjuru rumah. Hawa panas yang teramat bisa dirasakan sampai kiloan meter. Menyengat. Seorang pria meraung-raung dengan sedikit tetesan air mata. Dia terus berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman petugas berbaju oranye. Hingga dia merasakan lemas diseluruh persendianya. Dia-pun tersungkur dan terlepas dari petugas itu.
            Matanya menatap nanar kearah kobaran api yang menghabiskan seluruh dunianya. Tidak ada yang bisa menolong kehidupannya. Hanya ada beberapa petugas kebakaran yang bisa datang ketempatnya. Mereka tidak sanggup menjinakkan si jago merah.
            Kini, dia hanya bisa terduduk lemas dilantai. Tangannya berpegang pada kedua lutunya. Hatinya bergetar menahan tangis. Baju tidurnya yang mewah terlihat lusuh dan beberapa ujung lengannya terbakar. Kini, kobaran api itu bisa dipadamkan. Akan tetapi, tidak ada yang bisa diselamatkan.
            Peristiwa ini seperti sebuah potongan mimpi dikasur mewahnya. Dia berusaha berkali-kali untuk bangun tapi nyatanya ini bukanlah sebuah mimpi. Ini bukanlah sebuah mimpi buruk. Pada kenyataannya, saat dia bangun nanti, dia akan mendapatkan kenyataan yang sama. Dia kehilangan segalanya.
            Dia berjalan terseok-seok. Langkahnya terasa berat. Saat dia masih mengenakan kemeja biru dengan dasi hitam menghiasinya. Dia berjalan dengan penuh percaya diri menatap mata setiap orang yang ditemuinya. Kini, dia hanya bisa tertunduk menatap kabur kearah tanah.
            Dia tidak sempat menyelamatkan apapun dari rumah mewahnya. Yang tertinggal hanyalah baju tidur yang sedang ia kenakan. Malam semakin larut, hawa panas yang ia rasakan tadi kini berganti dengan dingin yang menusuk hingga ke ulu jantungnya. Tangannya masih bergetar.
            Perjalanannya terasa panjang. Dia tidak mempunyai tujuan. Tidak ada sanak saudara di Ibu Kota ini. Ia pun tidak bisa menghubungi rekan kerjanya. Hingga ia harus berjalan menuju rumah rekan kerjanya yang terdekat dari rumahnya.
            Kini, dia berada didepan sebuah rumah dengan gerbang yang bercat merah menyala. Rumah ini mewah, tapi tidak semewah rumah miliknya. Dia memencet bel rumah itu berkali-kali. Tapi tidak ada yang keluar dari pintu indah itu. Angin malam semakin menusuk-nusuk kulit arinya. Ia mendekap erat tangannya sendiri. mencoba menghangatkan tubuhnya yang kurus.
            Dia menghembuskan napas lega saat pintu dengan pegangan marmer mewah itu terbuka. Seorang ibu paru baya dengan rambut disanggul, berjalan terseok-seok menghampiri pintu gerbang. Wajah keriput dan uban yang terkena lampu jalan mengingatkannya akan ibunya dikampung. Yang selama setahun ini, belum pernah dia kunjungi. Hatinya teriris.
            “Maaf Bu, Pak Darjo ada?”tanya pria itu dengan suara serak.
            “Itu anu..”ibu itu berbicara dengan terbata. Tangannya memilin-milin ujung kebayanya, lalu menoleh kearah sebuah kamar yang masih menyala. Gorden dari kamar itu bergerak, seperti baru ada yang mengintip. “Ndoro Darjo sedang tidak ada dirumah. Beliau sedang berlibur ke Bali.” Ibu itu menyelesaikan kalimatnya, dengan menelan ludah.
            “Kalau Nyonya Darjo ada?” pria itu masih bersikeras untuk menemui majikan rumah tersebut.
            “Mereka berlibur sekeluarga.”ucap Ibu itu. “Permisi ya ,Pak!” katanya kemudian dan pergi meninggalkan pria itu sendirian.
            Pria itu hanya bisa tersenyum dan berbalik badan meninggalkan rumah itu. Otaknya berpikir kemana dia akan pergi. Saat seperti ini, dia mengingat keluarganya dikampung. Anak dan istrinya, yang selama setahun belum pernah dia kunjungi. Hanya uang bulanan yang dia kirimkan untuk keluarga dikampung. Bahkan, kini dia sudah beristri dengan seorang wanita cantik, yang sebulan lalu meninggalkannya dengan pria lain.
            Putra Wijanarko, seorang pengusaha muda yang sukses. Tidak ada yang bisa menandingi kepiawaiannya dalam berbisnis. Lima tahun di Jakarta untuk mengaduh nasib tidaklah sia-sia jika mengingat hasil yang dia peroleh. Dan diapun berhasil menaklukan hati seorang wanita cantik anak dari salah satu rekan kerjanya. Dia-pun menikahi gadis itu, tanpa meminta ijin istrinya dikampung. Bahkan sampai sekarang istrinya belum mengetahui bahwa dia memiliki istri lain di Jakarta.
            Kekuasaan telah merubah sifat santun pria itu. Sifat dasar yang dia pendam kini menyeruak dengan kekuasaan yang dia pegang. Bawahannya tidak pernah ada yang membantah akan apa yang dia katakanya. Semua pemikirannya adalah benar. Meskipun pada kenyataannya salah, dia harus dibenarkan. Karena sifatnya yang egois, dia tidak mempunyai rekan kerja yang benar-benar peduli akan dirinya. Mereka hanya bekerja untuk uang Putra. Terlihat jelas dengan adanya musibah ini, tidak ada yang mau menolongnya.
            Dia berhenti disebuah warung kecil dipinggir jalan. Ada beberapa orang yang masih terjaga sambil bermain kartu. Tawa renyah beberapa kali terdengar dari mereka. Mengingatkan akan kampungnya. Dia duduk dibangku kayu panjang yang sedikit bergoyang saat diduduki. Dia tidak memesan apapun, karena tidak ada sedikitpun uang yang dia pegang.
            Mungkin dia belum kehilangan segalanya. Dia masih mempunyai tabungan di bank. Tapi saat ini dia kehilangan orang yang peduli akan dirinya.
            “Mau minum apa , Pak?” tanya seorang pemilik warung itu.”Bapak Putra?”
            Putra mengerutkan dahi. Memicingkan matanya. Dia memandangi pria yang berumur tiga puluhan dihadapannya. Seumuran dengannya.
            “Kamu mengenal saya?”
            “Ini saya Tara, Pak! Office Boy dikantor Bapak!”
            Putra mencoba mengingat-ingat wajah pria dihadapannya. Ada banyak OB dikantornya, ia tidak yakin akan mengingat pria ini.
            “Saya yang bapak pecat seminggu yang lalu, karena menumpahkan kopi dibaju bapak!” kata pria itu sambil tersenyum. Hati Putra bergetar. Dia mulai mengingat potongan kejadian seminggu lalu. Dia tidak pernah ingat siapa saja bawahannya yang pernah dia pecat. Tapi kali ini dia ingat karena pria dihadapannya ini benar-benar membuatnya kesal waktu itu.
            “Bapak mau kopi atau teh?” lanjut Tara.
            “Ah, tidak perlu. Saya..”belum selesai Putra berbicara Tara sudah masuk kedalam bilik warungnya, dan keluar dengan segelas kopi hitam yang masih mengepul.
            “Silakan, Pak!”kata Tara sopan.
            “Terima kasih.”Putra mengangguk. “Tara, maafkan saya, atas perlakuan saya waktu itu.”
            Tara tersenyum hormat.”Tidak apa-apa, Pak. Memang itu kesalahan saya.”
            Putra menceritakan musibah yang sedang dia alami. Dengan senang hati Tara menawarkan untuknya menginap dirumahnya. Putra menolak, tidak enak hati. Mengingat apa yang apa yang telah dia lakukan terhadap Tara. Tara-pun meyakinkan pada dia, bahwa dia tidak mempermasalahkan akan hal itu.
            Putra memasuki sebuah rumah kecil. Saat dia memasuki rumah itu, dia melihat Tara disambut oleh kedua anaknya laki-lakinya, yang langsung memeluknya. Tidak lama seorang wanita dengan menggendong seorang anak perempuan yang masih kecil. Wanita itu menyambut kedatangan Tara dengan mencium hormat tangan pria itu.
            Tara menjelaskan pada istri dan anaknya bahwa dia akan bermalam disini. Hati Putra terenyuh. Dia belum pernah merasakan kehangatan dirumah mewahnya. Ditambah lagi dia belum mempunyai anak dari istri keduanya.
            Wajah manis istri dan anaknya dikampung terngiang-ngiang kembali dibenaknya.
            Malam ini dia tidur diatas kasur yang berbeda jauh dari kasur mewahnya. Kamar ini jauh dari kata nyaman. Tapi dia menemukan kedamaian disini.

Wulan Sari
23 Januari 2013, pk 17.44
Surabaya


Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^