Kesalahan Takdir | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Kesalahan Takdir
Mar 31, 2013

Kesalahan Takdir



Pernahkah aku bercerita, tentang kisahku yang membuatku berdiri di sini.    Dan pernahkah kamu berpikir bagaimana jadinya aku bila takdir tidak pernah mempertemukan kita. Meskipun pada kenyataannya takdir tidak mempersatukan kita.
       Di sini kita memulainya, pertemuan diantara dua orang manusia dengan latar belakang berbeda, dan dengan membawa cinta yang berbeda.
           Kakiku yang polos menyentuh air danau yang dingin, menciptakan riak kecil. Kumenatap langit, pohon dan air danau secara bergantian, mencoba mencari inspirasi di sana.
            Kupandangi langit siang ini begitu cerah dengan awan putih beriringan melintasi langit biru. Kupejamkan mataku untuk menikmati angin yang berhembus secara perlahan. Kubuka perlahan mataku dan mulai menulis sebuah kalimat buku kecil yang selalu kubawa kemanapun aku pergi.
            Kumerasakan angin telah mengiringiku, bersama langit dan pohon-pohon. Menatapku dengan suka cita
            Saat kualihkan pandanganku dari buku kecilku, mataku menangkap seorang pria dengan kamera dikedua tangannya. Dia sedang mengambil gambar didanau ini, lebih tepatnya mata kameranya sedang membidikku.
            Keningku berkerut, memicingkan mataku kearah pria itu. Pria itu menurunkan kameranya. Kini, aku dapat melihat wajah pria itu meskipun dari kejauhan, kulit cokelat terbakar matahari, rambut lurus belah tengah, bibir tebal. Dia tersenyum kearahku. Dan aku masih menatapnya lurus.
            Pria itu berjalan mendekatiku, dengan santainya duduk di geladak tepat disebelahku.
            “Kamu mengambil gambarku?”tanyaku tanpa basa-basi.
            Pria itu tersenyum kembali. Kini, aku bisa melihat gigi putih yang berantakan. “Percaya diri kamu tinggi.”
            Kuangkat tanganku ke udara. Lalu kembali menatap air danau tanpa memperdulikan pria di sebelahku. Aku sedikit kesal dibuatnya.
            Saat kuarahkan pandanganku kepada pria itu, kulihat dia sedang mengarahkan kembali kameranya kearahku.
            Kutautkan kedua alisku.”Ini yang kamu sebut percaya diriku tinggi?”
            Dia tertawa. Aku tidak mengerti apa yang dia tertawakan sedangkan aku, daritadi bersikap tidak bersahabat terhadapnya.
            “Aku hanya bingung. Kenapa kamu bisa berada di danau yang sepi ini, dan seorang diri?”
            “Aku suka menyendiri.”
            “Menyendiri atau kesepian?”
            Aku mendengus kesal. Kutatap matanya tajam.”Memang ada hubungannya sama kamu?”tanyaku ketus.
            Dia tersenyum lagi dan lagi.”Aku baru pertama kali melihatmu di sini.”
            “Aku sering kesini.”
            “Aku juga. Tetapi, kenapa kita tidak pernah bertemu?”
            “Mungkin takdir tidak mengijinkan kita untuk bertemu.”jawabku tanpa melihat kearahnya.
            “Berarti saat ini, takdir mempunyai maksud tertentu. Karena takdir telah mempertemukan kita.”
            “Mungkin takdir membuat kesalahan,”sahutku masih dengan nada ketus.
            “Kenapa kamu terlihat tidak begitu bersahabat denganku? Sedangkan kamu bisa bersahabat dengan pena dan buku kecilmu.”
            Aku memandangnya lurus. Menatap kedua bola matanya. Sedetik kemudian kupalingkan wajahku.”Karena takdir tidak mengijinkan aku bersahabat dengan orang yang seenaknya mengambil gambarku.”
            Dia tersenyum kembali.”Kamu manusia pertama yang gambarnya kuabadikan.”
            “Maksudmu?”
            “Aku tidak pernah mengambil gambar manusia. Aku hanya memotret alam. Tetapi, perpaduan alam dan gadis sepertimu, begitu indah.”
            Aku terdiam. Memutar bola mataku dan kembali tenggelam dalam riak kecil yang kuciptakan dengan kakiku.
            Kuberanjak dari tempat dudukku. Dia terperenjat dan meraih tanganku.
            “Aku ingin memberikan hasil gambarku kepadamu.”katanya.”Bisa kita bertemu kembali?”
            “Jika takdir mengijinkan.”jawabku dan berlalu.

            Kutarik kembali memoriku dari kejadian tiga tahun yang lalu. Setelah pertemuanku dengan pria itu, aku tidak kembali ke danau ini. Karena aku harus kembali ke Jakarta. Kedatanganku ke Surabaya hanya untuk menemui nenekku. Setelah nenekku meninggal, aku tidak pernah lagi datang ke danau ini.
            Tidak banyak yang berubah dari danau ini, hanya saja pohon-pohon semakin rimbun daripada tiga tahun yang lalu. Hari ini, aku kembali kesini selain ingin mengenang pertemuanku dengan pria yang membuat hari-hariku selanjutnya menjadi lebih indah, tetapi juga untuk bertemu fotografer dari foto-foto yang selalu menginspirasiku.
            Aku menemukan sebuah blog di internet yang memamerkan foto-foto alam yang selalu memunculkan sebuah ide untukku membuat cerpen. Setelah aku mengirim email ke fotografer itu untuk meminta ijin foto miliknya untuk kujadikan inspirasiku dalam membuat cerita. Setelah selama setahun terakhir kerjasama kami memutuskan untuk bertemu, kebetulan aku sedang berkunjung ke Surabaya.
            Banyak yang menyukai karyaku yang disertai oleh foto milik fotografer yang kuketahui bernama Johan itu. Berkat foto-foto milik Johan, kini aku bisa menerbitkan kumpulan cerpen milikku yang disertai foto-foto miliknya.
            Kutarik napasku perlahan merasakan hembusan angin di danau ini. Kupejamkan mataku untuk lebih menikmatinya. Saat kumembuka mata, di sebelahku sudah berdiri seorang pria yang tidak pernah kubayangkan akan bertemu kembali.
            Aku tersenyum.”Hai apa kabar?”
            Dia tersenyum.”Baik.”
            Kami sama-sama tersenyum malu-malu. Saling menatap penuh rindu.
            “Aku tidak menyangka kita akan bertemu kembali.”katanya. Lalu, dia mengeluarkan sebuah amplop besar dari dalam tasnya.”Aku hanya ingin menyerahkan ini. Seperti janjiku tiga tahun yang lalu.”diserahkan amplop cokelat itu kepadaku.
            Kubuka amplop itu secara perlahan. Kulihat ada beberapa lembar foto dengan aku sebagai objeknya. Foto yang diambilnya tiga tahun lalu. Aku tersenyum kecil.
            Kutautkan kedua alisku saat melihat inisial “JP” diujung foto-foto itu. Inisial yang sama seperti foto milik Johan yang selalu menginspirasiku.
            “Awalnya, aku ingin mengirim foto-foto itu ke Jakarta. Tapi, alangkah baiknya jika kita bertemu langsung.
            “Kamu?”aku terkejut. Mataku membulat, mulutku sedikit terbuka.
            “Johan Pratama.”dia mengulurkan tangannya. Pria dihadapanku ini adalah fotografer yang menciptakan foto yang selalu menginspirasiku.”Tidak perlu menyebutkan namamu, kamu sudah cukup terkenal dengan karyamu.”dia tersenyum.
            Kusambut uluran tangannya.”Lana Saraswati. Sekarang kita resmi berkenalan.”
            “Sepertinya takdir membuat kesalahan lagi.”dia mengambil napas,”dengan mempertemukan kita kembali.”
            “Dan ini adalah kesalahan takdir yang paling indah.”sahutku.
           
Mojokerto, 28 Maret 2013 19:22

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

4 comments:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^