Oct 26, 2013

Cinta dalam tinta

Cinta
Cinta itu serumit rambut kusut dan sesederhana kaus oblong hitamku.
Kaus hitam oblos, celana jeans, dan jaket bertudung. Sesederhana itu.
Dan terlalu rumit untuk mengurai rambut yang kusut.

Dan percayakah cinta itu seperti pulpen?
Aku merasakannya. Waktu itu, aku pergi ke toko buku di Mojokerto (tempat kelahiranku), jalan-jalan tentu saja. Dan aku melihat sekumpulan pulpen di sana. Aku mengambil satu mencobanya dan kubawa pulang.
Dan aku mulai menulis dengan pulpen tersebut dan merasa wow.... pulpen ini bagus! Murah dan enak di pakai! Membuat aku jatuh cinta!

Saat engkau dengan mudahnya menggoreskan tinta membentuk kata 'cinta' kamu akan terus menulisnya hingga tinta itu habis.

Aku sedih.

Karena saat aku datang ke toko buku itu lagi, untuk membeli pulpen yang sama aku tidak menemukannya.
Kalian tahu? Setiap pulpen memiliki cara menulis dan cara menggoreskan tintanya. Dan itu tidak akan kalian dapat dari pulpen baru yang kalian bawa pulang.

Setiap pulpen memiliki cerita sendiri dalam merangkai kata, dalam menjabarkan makna.

Dan pertanyaannya sekarang, di mana aku bisa mendapatkan pulpen lagi sepertimu?
*Frustasi


Salam cium,
Wulan
Oct 17, 2013

Di Hari Kesekian

Di hari kesekian,
Aku masih di tempat yang sama
Berharap engkau berputar arah
Menemuiku, kembali

Di hari kesekian,
Aku masih mengingatmu pada satu titik,
Titik di mana kita bertemu dan berpisah

Di hari kesekian,
Aku masih menyimpan sisa rindu
Rindu yang dulu belum pernah tersampaikan

Di hari kesekian,
Aku masih bisa merasakan  nikmat tembakau yang engkau kirim
Lewat bibirmu

Di hari kesekian,
Aku masih bisa melihatmu
Di tempat itu, 
kamu datang
kamu pergi
Diiring hujan

Di hari kesekian,
Aku masih memeluknya
Memeluk cintamu
Berusaha keras agar engkau menyambutnya

Di hari kesekian,
Aku berusaha berlari
Berlari tuk tak menengok masa lalu
Karena luka yang tercipta
masih bernanah

Di hari kesekian,
Aku lelah...
Lelah tuk mencarimu
Kabarmu..

Di hari kesekian,
Kuberharap cintamu pergi
Membawa kenangan serta

Di hari kesekian
Aku masih berdusta
Bahwa aku akan baik-baik saja
Nyatanya tanpa hadirmu, 
aku bukan siapa-siapa

Di hari kesekian,
Aku mencoba tuk bergantung pada mimpiku
Nyatanya, itu tak cukup untuk mengobati

Di hari kesekian,
Aku berusaha untuk melepasmu
Melepas segala yang tersisa
Melepas seluruh yang ada
Melepas ingatanku
Agar hati ini tak lagi menyebut namamu....


Surabaya, 17 Oktober 2013
~Dimana aku merasa begitu merindukanmu,
Wulan sari
Oct 8, 2013

Perempuan ini

Apa yang kau lihat?
Mengapa kau tertawa?
Kau sedang mengasihiku?

Apa kau melihat perempuan rapuh ini?
Perempuan yang meratapi kepergianmu
Perempuan yang masih merindumu dalam kesepian

Adakah kau mengetahuinya?
Kau masih dipeluknya dalam tangisnya
Namamu masih di pendamnya dalam relung jiwanya

Berhenti!!

Berhenti berpura-pura peduli
Berhentilah tuk menatap perempuan ini

Perempuan ini tahu, kau hanya mencoba menggores luka kembali
Kau datang bukan tuk mengobati
Kau datang hanya untuk melihat perempuan ini terpuruk

Pergilah...

Perempuan ini tak ingin senyum palsumu
Perempuan ini tak membutuhkan peluk samarmu

Perempuan ini tahu..
Ada perempuan lain yang engkau peluk dengan kasihmu
Bukan perempuan ini yang engkau cinta..

Bukan,
Bukan,
Bukan perempuan ini...