Believe It : Welan | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Believe It : Welan
Dec 30, 2013

Believe It : Welan

Kereta yang membawaku pergi dari Surabaya perlahan berhenti di stasiun Yogyakarta. Aku bersiap mengambil tas ransel dan sebuah koper kecil di dek atas. Kakiku melangkah keluar kereta berdesakan dengan penumpang lainnya.
     Aku tidak pernah berpikir akan kembali ke kota ini. Sama sekali.
     Mungkin, jika aku masih melihat senyum Ayah aku tidak akan pernah kembali ke kota ini. Kepulangan ayah membuatku tidak memiliki alasan lain untuk tetap berada di Surabaya, terlebih lagi setelah gagalnya pernikahanku. Tidak ada alasan lagi untuk tetap tinggal.
     Supir taksi mengantarkanku kealamat yang kutunjukkan kepadanya. Sebuah butik di kota Yogyakarta. Butik milik Alita. Beberapa hari yang lalu dia menghubungiku untuk pertama kalinya sejak kelulusan dua tahun silam. Dia menawarkan pekerjaan untukku di butiknya. Tentu saja aku langsung menerimanya.
     “Aku senang sekali melihatmu!”Alita menyambutku dengan pelukan. Aroma kayu cendana dan jati langsung memburu indra penciumanku. Yang tandanya dia sudah lama berada di butik. Parfum kesukaan Alita, DKNY Golden Delicious yang memiliki wangi apple yang dipadu dengan wangi bunga jeruk dan buah plum Mirabelle. 3 wangi tersebut akan digantikan dengan wangi manis namun segar dari bunga mawar putih, bunga lili Casablanca, lili of the valley dan vanilla orchid. Pada saat wangi bagian top dan middle-nya hilang, akan tertinggal wangi kayu cendana dan jati. Ya, parfum yang hanya bisa di jangkau oleh Alita. Bukan aku.
     “Aku juga. Sepertinya kau sangat sibuk!”Alita mengajakku ke lantai dua dimana ruang kerjanya berada.
     “Ya, beginilah. Maka dari itu aku perlu bantuanmu di Butik.”katanya.”Kau bisa tinggal di sini.”dia membuka pintu di salah satu sudut ruangan, tepat sebelah balkon.”Kau pasti capai. Beristirahatlah dulu, sebelum kita mengobrol lebih lama.”
     “Terima kasih.”kataku,”tetapi aku ingin melihat ruang kerja kita. Boleh?”
     “Tentu saja. Ya, aku tahu kau selalu semangat jika melihat tumpukan kertas diatas meja.”Alita tertawa.
     “Kau yang paling mengerti aku.”balasku. Alita mengait lenganku dan membawaku ke ruang kerja yang berada tepat di depan kamarku.
     “Aku menyewa seorang arsitek untuk kantorku. Kau lihat, begitu indah bukan?”
     Alita benar. Ruangan ini terlihat begitu indah, meskipun ruangan di bawah jauh lebih indah.
     Aku berjalan menuju meja kerja Alita, kuraba meja yang terbuat dari kayu yang seratnya dibiarkan terlihat. Cokelat matang. Halus. Pandanganku terpaku pada sebingkai foto yang terletak diatas meja. Foto Alita yang sedang memeluk seorang pria. Terukir senyum bahagia dikedua mata mereka. Aku mengenali pria itu.
     “Sejak kau kembali ke Surabaya, aku dekat dengan Runa,”Alita menyahut saat ia menyadari kebekuanku melihat foto mereka.”Dan, kami berpacaran.”dia menekankan kalimatnya.”Kau sudah tidak menyukainya lagi, kan?”
     “Tentu. Dia hanya masa laluku.”jawabku. aku mengulas sebuah senyuman, lalu kembali menyusuri ruang kerja Alita, yang setidaknya dua atau tiga hari mendatang akan menjadi ruang kerjaku.
     “Baguslah. Meskipun begitu, kau dulu tidak berpacaran dengan Runa. Jadi, aku tidak melanggar perjanjian kita.”
     Kami berempat- Aku, Alita, Klaris, dan Zoya- secara tak tertulis mengikrarkan sebuah pantangan untuk tidak mendekati ataupun berpacaran dengan mantan atau pria yang kami sukai. Yang dikatakan Alita benar – aku memang belum berpacaran dengan Runa, tetapi Runa pria yang kusukai sejak kami masih SMA. Dan, Alita benar. Aku sudah tidak menyukai Runa sejak aku mengenal Ergi – Mantan tunanganku, tetapi sejak gagalnya pernikahan kami, aku mulai memikirkan Runa lagi.
     Ah, mungkin aku hanya mengingatnya. Tidak lebih. Dan, dia sekarang sudah menjadi kekasih sahabatku. Bukankah perjanjian kami masih berlaku?    


Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

2 comments:

  1. Alita mengait lenganku dan membawaku ke ruang kerja yang berada tepat di depan kamarku.

    Lebih enak diganti menggamit deh drpd mengait . :)

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^