The one that got away | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: The one that got away
Dec 30, 2013

The one that got away


Kali pertama kita bertemu saat musim penghujan di bulan Desember. Saat itu kau sedang berdiri di halte bus, tepat di sebelahku. Kita saling berebut masuk kedalam bus bersama dengan penumpang yang lainnya. Siku kita saling bertaut dan membuatku terjatuh sebelum sempat memasuki bus. Kau yang sudah berada di atas bus menoleh kearahku, dan turun membantuku berdiri dan memunguti buku-buku milikku yang berserakan.
   “Kau ketinggalan bus.”kataku saat kulihat bus yang hendak kami tumpangi menjauh.
  “Dan, aku akan meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini?”balasmu.
  Rambut panjang hingga menutupi telinga, beberapa bulu tumbuh di dagumu. Dan tatapan mata milikmu, saat itu telah membiusku. Sejak itu, kita pulang sekolah  menunggu bus bersama sembari bercerita tentang pelajaran hari ini.
      Saat liburan kita akan pergi ke pameran lukisan menggunakan mobil usangmu,yang sewaktu-waktu bisa mogok di tengah hujan. Kau akan turun dan mendorong mobilmu, dan aku menggantikanmu dibelakang kemudi. Aku akan mengeluarkan kepalaku dari jendela dan berteriak menyemangatimu. Kau akan bersemangat meskipun hujan mengguyur jaket kulitmu dan membuat rambut pirangmu basah.
            “I LOVE YOUU!!!”teriakku dari dalam mobil, dan kau menghampiriku dan menciumku tepat di bibir tanpa memedulikan setiap orang yang melihat kita. Lalu, kau kembali kebelakang mendorong mobil usangmu.
            Bagaimana kau bisa meninggalkanku bersama kenangan itu?
     Dan, aku masih mengingat dengan jelas. Kita berada dikamar. Kau sibuk dengan kanvas di pangkuanmu dan kuas di tangan. Dan aku duduk diatas ranjang dengan alat yang sama, tetapi tidak melakukan apa-apa, karena aku sibuk melihat kearahmu. Mengagumi setiap bola matamu memandang. Kearahku, kanvas, kearahku, dan kanvas.
            “Selesai!”teriakmu, lalu mengambil selotip dan menempelkan lukisanmu di dinding. Sebuah lukisan wajah seorang perempuan dengan cat minyak berwarna hitam. Rambut acak, mata di penuhi eyeliner hitam. Aku berkacak pinggang dan berdiri tepat di sebelah lukisanmu.
            “Ini aku?”tanyaku. Kau mengangguk. Lalu, aku melotot kearahmu, berpura-pura bermuka seram seperti di lukisan. Dan kau datang memelukku dan memberikan ciuman hangatmu.
            “I love you,”bisikmu. Dan kau mendaratkan bibirmu dibibirku sekali lagi.
            Bagaimana mungkin kau bisa pergi tanpa pamit kepadaku?
            Sesekali kita akan bertukar peran. Kau memakai gaunku dan aku mengenakan kaus milikmu yang kebesaran. Kupakai topi milikmu dan kita akan berfoto mengenakan pakaian itu. Dan, kita berjanji saat lanjut usia nanti, foto-foto inilah yang akan membuat kita tertawa bersama sembari bercengkraman tangan.
            Dan suatu hari, kau memintaku untuk membuat sebuah tattoo ditangan kananku dan kau juga melakukan hal yang sama. Aku meringis kesakitan saat jarum tattoo itu mengenai kulitku, kau menciumku untuk menenangkan.
            Lalu, kita akan berbaring diatas ranjang menghabiskan malam bersama. Berbincang tentang masa depan seakan kita tahu. Kau akan menjadi pelukis terkenal dan aku menjadi istrimu yang akan membuatkan roti lapis setiap pagi untuk sarapan dan sup krim panas saat kau kelelahan menyelesaikan lukisanmu. Dan kita berencana akan keliling dunia bersama, saat lukisanmu terjual dengan harga jutaan rupiah.
            Saat kita kelelahan bercerita, kau akan mengendap-endap mengambil sebotol wine milik orangtuamu dan pergi keatap untuk melanjutkan cerita.
            Kehilanganmu tidak ada dalam rencana masa depan kita. Bagaimana kau bisa melupakan itu?
            Kau tahu apa yang paling kurindukan?
           Aku terbangun dengan melihat wajahmu di sisiku. Dan aku akan membelai rambutmu hingga kelopak matamu terbuka dan tersenyum kearahku. Kita selalu berjanji akan selalu bersama menantang dunia dengan cinta kita.
     Mengapa kau mengingkari janji? Dan pergi menyisakan kenangan yang mencekikku setiap kali aku mengingatmu.
    Pertengkaran kecil kita di hari itu, membuatku kehilangan dirimu. Kau mencoret kanvas milikku yang masih kosong, dan bereteriak,”Bagaimana kau bisa menjadi pelukis terkenal jika kau takut untuk memulai?”
       “Aku hanya ingin hidup bersamamu,”balasku.”Tak apa jika aku tidak bisa melukis sepertimu.”
       “Apa yang kau harapkan dari lelaki sepertiku?!”
       Napasku memburu dan mengambil cat minyak dan menorehkannya ke lukisanmu yang hampir selesai.”Karena kau segalanya bagiku!!”
     Kau marah besar dan memunguti barang-barangmu dan pergi dengan mobil usangmu. Aku hanya terpaku melihatmu pergi. Kupikir kau akan berubah pikiran dan kembali kearahku. Tapi, nyatanya hingga saat ini, aku tidak pernah mendengar suara mobil usangmu.
     Jika, aku tahu saat itu, aku akan benar-benar kehilanganmu, aku tidak akan membiarkanmu pergi.
    Jika, aku tahu saat itu, mobil yang kau tumpangi akan menabrak pembatas jalan dan membuatmu pergi untuk selamanya. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.
     Tapi, percayalah, dikehidupan yang lain, jika aku disuruh memilih, aku akan memilihmu mejadi kekasihku.
            In another life, I would be your girl
            We’d keep all our promises
            Be us against the world
            In another life, I wold make you stay
            So I don’t have to say
            You were the one that got away
            The one that got away
            (Katty Perri- The one that got away)



-Wulan Sari-
...
30 Desmber 2013
23:25

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^