Kucing Jalanan | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Kucing Jalanan
Apr 11, 2014

Kucing Jalanan

Ein menemukan kucing itu  ketika ia berjalan di bawah payung hitamnya. Hujan turun begitu deras kala itu. Kucing itu meringkuk di bawah emperan toko bunga langganannya, kedinginan. Tubuhnya basah kuyup dan rambut halusnya lepek terkena air hujan. Ein menghampiri dan berbagi payung dengan kucing itu.



Pada akhirnya, Ein membawa kucing jalanan itu pulang kerumahnya. Ia tinggal sendirian dirumah peninggalan kedua orangtuanaya. Perapian yang sekian lama ia nikmati sendirian kini ia nikmati bersama kucing berwarna kelabu itu. 

Ein, menamakan kucing itu Rio.

Rio memiliki mata biru yang menyala. Ein begitu menyayangi Rio. Setiap ia terbangun Rio akan merajuk ranjangnya, mendesak tubuhnya mencari kehangatan. Kemana Ein pergi Rio akan mengikutinya.

Ein tidak sendiri lagi. Ada Rio yang menemaninya.

Jika dahulu ia berjalan sendirian di bawah hujan dengan mengenakan coat hitam dan sepatu boot berwarna senada. Kini, disampingnya ada Rio dalam pelukannya.

Ketika Rio tak kembali, Ein kebingungan setengah mati. Ein takut ia akan sendiri lagi jikalau Rio tak kembali. Ia mencari kesana kemari, namun Rio tak ia temukan. Air mata sudah jatuh di wajah pucatnya. Bibirnya membeku menahan dingin.

Ein kembali tersenyum ketika melihat Rio diambang pintu. Ein menghampiri kucing itu dan memeluknya dengan erat.

Sejak kepergian Rio kala itu. Ein merasa ada yang berubah dengan Rio. Kucing itu setiap malam akan berada di jendela dan menatap keluar. Tepat kearah rumah nyonya Risma. Ein, tahu nyonya Risma memiliki kucing yang cantik seumuran dengan Rio. Mungkinkah Rio jatuh cinta pada kucing itu? Ein membuang rasa takutnya itu.

Kian hari, sikap Rio berubah. Ein sudah melakukan segala cara agar Rio tidak keluar dari rumah. Ia tutup semua cela agar Rio tidak bisa menyelinap keluar. Kucing itu terlihat gelisah karena perlakuan Ein. Rio memohon agar ia bisa keluar, namun Ein tidak peduli.

Ein takut kehilangan Rio. Rio miliknya dan hanya boleh dia yang memiliki. Ein yang menyelamatkan Rio dari kedinginan, bukan kucing nyonya Risma.

Namun, Ein tidak bisa menahan Rio untuk selamanya. Rio seringkali menyelinap menemui kucing nyonya Risma tanpa sepengetahuan Ein. Hingga, suatu hari Rio pergi dan tak pernah kembali.

Ein kacau. Tubuhnya menggigil dibawah selimut, perapian ia biarkan padam, bahkan tidak ada cahaya yang menerangi kamarnya. Musim dingin terasa lebih dingin tanpa kehadiran lelaki itu.

Ah, memang tepat Ein memanggil Rio dengan sebutan kucing. Karena ia sama saja dengan lelaki yang lainnya. Tidak pernah tahu arti balas budi.

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^