Memori | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Memori
Aug 23, 2014

Memori


Judul Buku : Memori (Tentang cinta yang tak lagi sama)

Penulis : Windry Ramadhina

Penerbit : Gagasmedia

Tahun terbit : 2012

ISBN : 978-979-780-562-3

Blurb:

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di bab awal diceritakan Mahoni mendapatkan kabar bahwa Papa-nya meninggal dan harus kembali ke Indonesia. Saat itu Mahoni bekerja di Virginia sebagai arsitek. Dengan berat hati Mahoni kembali ke Indonesia. Perlu ditekankan di sini, bahwa hubungan Mahoni dan Papa-nya tidak baik. Papanya melukai hatinya dengan menikah dengan perempuan lain dan meninggalkan mamanya, Mae.

Sesampainya di Indonesia, kekesalan Mahoni bertambah karena ia harus menetap di Jakarta karena harus menjaga adik tirinya, Sigi. Bocah itu tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ia yatim piatu. Awalnya, Mahoni menolak karena ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan di Virginia dan ia tidak pernah menganggap Sigi sebagai adiknya. Tapi, ia juga tidak bisa membiarkan Sigi sendirian di Jakarta. Maka, Mahoni menetap di Jakarta sampai Sigi lulus sekolah dan bisa mandiri.

Di Jakarta Mahoni dipertemukan kembali dengan Simon. Laki-laki yang pernah berada dihatinya secara khusus (Saya bilang seperti ini karena hampir tidak ada kata-kata menye-menye "Aku sayang kamu","aku cinta kamu." antara Mahoni dan Simon). Namun, laki-laki itu sudah memiliki Sofia. Lalu, Simon mengajak Mahoni untuk bergabung dengan MOSS biro yang didirikan oleh Simon sendiri.

Review:

Saya suka novel ini. Ah, tidak saya sangat suka!! XD Awalnya saya tidak tertarik karena kavernya yang terlihat kuno :D dan blurb yang terus terang tidak membuat saya ingin membeli. Bahkan, novel ini menjadi list terakhir yang akan saya beli dari novel Windry. Dan, akhirnya setelah membacanya ini novel yang paling saya sukai dari sekian banyak novel Windry :D.

Hal yang paling saya sukai adalah interaksi antara Mahoni dan Sigi. Benar-benar menyentuh hati. Di mana saat Sigi menjemput Mahoni di stasiun ketika hujan dan ternyata Mahoni pulang diantar Pak Sur. Saat Sigi membuatkan nasi goreng untuk Mahoni dan beberapa hal kecil yang dilakukan Sigi membuat hati Mahoni yang kaku melunak. Mahoni membenci Sigi bukan karena alasan khusus melainkan karena dia adalah adik tirinya dan karena Papa-nya lebih menyayangi Sigi daripada dia. Dia merasa iri akan keberadaan Sigi, akan kehidupan Sigi. Rasa sayang Mahoni terhadap Sigi yang tidak pernah ia akui, membuat novel ini begitu istimewa.Dan, pada akhirnya, Mahoni berhasil menerima masa lalunya dan bisa menerima Sigi sebagai saudara satu-satunya.

Di sini juga menceritakan tentang Mahoni dan Simon. Seseorang yang pernah singgah dihatinya ketika mereka masih kuliah. Simon orang yang "tidak peduli" dan gaya bicara apa adanya. Saat bekerja di MOSS mereka sering berdebat dan berbeda pendapat. Namun, dalam hati keduanya masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu. Dan, akhirnya Simon yang memulai lagi. Mahoni menolak karena ia tidak ingin berada dalam posisi Grace dan melukai Sofia. Seperti Grace melukai Mae.

Mahoni akhirnya menyadari bahwa kehidupan tidak selalu semuram apa yang diceritakan Mae kepadanya. Karena pada dasarnya manusia memiliki takdirnya sendiri dan bagaimana kita menyikapinya. Dan cara pandang kita itulah yang akan membawa dunia itu.

Saya suka endingnya yang bagian Sigi dan Mahoni mendebatkan bingkai foto wisuda Sigi akan ditaruh di mana. Mahoni tetaplah Mahoni. Tapi, saat itu terlihat jelas dia menerima Sigi sebagai adiknya.

Ah, Mae dunia tidak sekelam yang kau tunjukan padaku


*You Must READ this!*

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^