Airena | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Airena
Sep 6, 2014

Airena

Ibu pernah berkata akan memberi nama adikku kelak dengan nama Airena. Ibu sudah mengetahui jenis kelamin dari janin yang dikandungnya melalui tes USG.  Wajah ibu selalu cerah ketika mengelus perutnya yang membuncit. Ia terus bercerita kepada kami dan mengatakan bahwa dia sangat bahagia karena memiliki anak lagi. Kala itu, aku ikut memegang perut ibu dan merasakan tendangan dari janin di dalamnya. Lalu, aku tersenyum.

Ibu berkata arti nama Airena adalah sejuk. Sama seperti halnya namaku. Ibu memberi nama kami hampir mirip dengan arti yang sama, agar semua orang tahu kalau kami bersaudara. Agar aku menjadi penyejuk Airena dan sebaliknya.

Airena lahir prematur. Usia kandungan baru menginjak delapan bulan ibu sudah merasakan sakit. Ia tidak bisa melahirkan secara normal karena janinnya terlalu lemah. Kesahatan ibu pun ikut memburuk hingga ia tak bisa bertahan lebih lama dan meninggal disaat operasi berlangsung.

Saat itulah, aku mulai membenci Airena. 

Kebencianku semakin terpupuk ketika dia tumbuh menjadi gadis lemah namun ceria. Fisiknya tidak sekuat aku namun ia tetap terlihat ceria. Ke mana pun aku pergi dia mengikutiku. Merengek kepadaku untuk bermain. 

"Kakak ayo main bulutangkis!"serunya. Ia melonjak-lonjak dengan ceria. 

"Aku sibuk."kataku. Saat itu aku sedang menonton film kartun kesayanganku.

"Aku tungguin ya!"katanya. Kemudian dia duduk di sofa sebelahku. Memutar bola matanya, berguman tidak jelas. Membuatku risih. Lalu, dia berkata."Kenapa Spongebob berwarna kuning? Bukannya spon di dapur ada yang berwarna hijau?"aku mendengus dan tidak peduli. Namun, dia berkata lagi,"Kak Airen, aku pengen humberger!"katanya."Setelah main bulutangkis kita ke restoran depan rumah ya?"

"Pergi saja sendiri!"kataku ketus. Namun, yang kulihat Airena tetap tersenyum melihat aksi Spongebob di layar televisi. Senyumnya lebar dan membuat matanya menyipit. Aku benci ekspresi itu.

Setiap sore Airena akan mengikuti lari keliling komplek. Meskipun aku menolak dan Kak Banyu melarang dia ikut. Airena tetap bersikeras ikut. Dan aku selalu malas akan hal itu. Dia begitu merepotkan. Kadang kala aku menyelinap melalui pintu belakang agar dia tidak tahu aku pergi, namun di luar dugaan dia sudah berada di belakangku. Tersenyum lebar sembari melambaikan tangan.

"Kak Iren aku capai."dia merengek. Selalu saja begitu. Belum jauh berlari dia sudah kehilangan tenaganya dan saat itu dia akan merengek."Kak Iren gendong."katanya lagi.

"Sudah aku katakan kau jangan ikut! Selalu saja merepotkan!"hardikku. Dia berjongkok dan sembari memanyunkan bibirnya.

"Kak Airen tidak sayang Airena!"rajuknya. "Capai..."suaranya melemah. Dahinya berkeringat. Aku terpaksa mendekat dan membiarkan dia naik kepunggungku. "Airena sayang Kak Airen."bisiknya sebelum tertidur dalam gendonganku.

Wulansari
Mojokerto 06 September 2014
09:52


Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^