Sepi | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Sepi
Dec 4, 2014

Sepi

Pic taken from pinterest.com

Karena sepi itu tak selalu sendiri. Seringkali, saya merasa sepi ketika di sekitar saya sedang riuh. Gaduh. Sepi itu bukan berasal dari lingkungan sekitar, tetapi dari hati yang sedang gundah. Perasaan ada sesuatu yang hilang. Entah apa.


Seringkali perasaan sepi itu datang ketika saya sedang berteriak dari atas permainan tornado, tertawa bersama teman-teman, dan ketika melihat pemandangan yang begitu indah tapi tak ada jemari hangat yang kugenggam. Sepi itu ketika kamu bahagia tetapi tak bisa membagi dengan belahan jiwamu. 

Perasaan kita memiliki ruang bersekat-sekat. Sudah memiliki takaran masing-masing itu posisi seseorang yang kita sayangi. Dan, ketika salah satu ruang itu hampa, maka rasa sepi-lah yang akan mengisinya. Seperti sekarang. Saya hanya mampu mengenang pernah mencicipi manis senyumnya, hangat jemarinya, dan pahitnya ketika ia pergi. 

Dia meninggalkan rasa sepi berkepanjangan.

Rasa sepi membuat saya semakin sensitif dengan rasa sakit. Seakan rasa sepi sepaket dengan perasaan sakit, sendu, gundah dan perasaan negatif lainnya. Seakan ketika saya merasakan perasaan itu, maka perasaan negatif lainnya mengikuti. Mencekikku hingga sesak. 

Apa saya tidak berusaha menghilangkan rasa sepi itu?

Sudah. Berkali-kali. Namun, tetap saja perasaan itu bergelayut di langit-langit hati. Menetap di sana. Menunggu seseorang itu menggantikan posisinya. Ia bagaikan ruangan lama yang tak terpakai. Kertas-kertas kenangan berserakan di mana-mana. Bingkai-bingkai memori berjatuhan dan pecah. Kilatan film yang berputar-putar hingga rusak. 

Tempat itu butuh seseorang. Seseorang yang akan mengetuk pintu dengan sopan. Menawaran uluran tangan yang hangat. Menyapu kenangan beserta memori hingga tak tersisa. Ruang itu butuh tangan-tangan kokoh yang akan menjaganya selamanya.

Setiap manusia butuh pendamping hidup, meskipun dia dilahirkan dan mati sendirian.

Sekeras apapun saya berusaha terlihat kuat. Memaksa senyuman lebar setiap harinya. Selalu berkata semua baik-baik saja. Mencoba untuk tidak peduli dan menyangkal jika saya kesepian. Pada kenyataannya, saya tidak baik-baik saja. Rasa takut akan sendirian untuk selamanya menggerogoti hati dan pikiran setiap waktu. Rasa khawatir tentang masa depan. Tentang orang lain akan memandang saya sebagai siapa. Seakan semua hal itu bisa membunuh saya secara perlahan tanpa saya sadari.

Seperti hal-nya perempuan yang menginjak usia 20-an lainnya. Saya takut hidup sendiri. Saya belum tahu hidup saya akan mengarah ke mana. Setiap hari saya mencoba mencari kesibukan hanya untuk terlihat sibuk. Hanya untuk bertahan pada keyakinan akan mimpi-mimpi saya, yang pada kenyataannya saya semakin takut itu semua hanya sekedar mimpi. 

Mungkin saya terpengaruh keadaan sekitar atau karena saya belum tahu apa yang saya inginkan.

Melihat teman-teman sebaya saya yang hampir semua sudah memiliki suami. Memiliki suatu alasan untuk tersenyum. Memiliki malaikat kecil yang belum memiliki gigi susu. Saya iri. Terus terang saya iri. Saya merasa tua, meskipun usia saya menginjak 24 tahun. Saya sudah merasa tua. Pada kenyataannya, saya masih memiliki waktu yang saya perlukan untuk meraih hal-hal yang mungkin tak bisa saya lakukan kelak ketika menikah. Seharusnya, saya memanfaatkan waktu ini. 

Tuhan sedang memberi saya kesempatan untuk melakukan hal yang nantinya belum tentu bisa saya lakukan. Tapi, saya justru terbuai dengan kegalauan yang seharusnya tidak saya besar-besarkan.

Tuhan memiliki rencana lain untuk hidup saya. Saya hanya perlu berdoa dan berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya ketika saya masih diberi kesempatan untuk meraihnya. 

Setiap manusia dilahirkan memiliki tujuan masing-masing. Karena tak ada satu manusia pun yang dilahirkan untuk diabaikan. 






Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

2 comments:

  1. Saya setuju sekali dengan artikel, sepi terkadang bisa membunuh dan menggerogoti seakan hidup jadi tiada arti

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^