Tentang Hujan Pagi Ini | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Tentang Hujan Pagi Ini
Dec 11, 2014

Tentang Hujan Pagi Ini



Hujan di depan rumah



Pagi ini, saya menemukan titik-titik hujan di perkarangan rumah, di dahan-dahan pohon jambu, di atas genteng rumahku. Langit terlihat putih keabuan dengan awan Altostratus memenuhi langit. Titik-titik air itu terus berjatuhan dengan konstan tak ada tanda akan berhenti.


Hujan pagi ini membuat para pengerajin genteng dan bata di sebelah rumah muram. Genteng dan bata yang mereka kerjakan sejak dini hari tak bisa kering dengan cepat karena titik-titik air sudah mengujani bumi sejak subuh. Mereka terpaksa meletakkan genteng-genteng yang masih lunak dan basah dengan warna cokelat tua itu di bawah naungan bambu. Tak ada cara lain selain menunggu awan kelabu menjadi putih seputih kapas. 

Beberapa pekerja terpaksa harus menerobos hujan kecil itu dengan menggunakan jas hujan, demi sesuap nasi untuk anak dan isteri di rumah atau untuk pesangon malam minggu dengan kekasihnya.

Anak-anak sekolah yang hari ini masih ujian semester harus rela baju batik mereka terkena tetesan hujan dan wajah yang penuh dengan titik-titik air sampai sekolah demi tak mendapati nilai merah di rapor mereka kelak. Tak ada yang mengeluh. Tak ada yang mencaci. Di wajah-wajah bocah mereka terekam senyum karena kayuhan sepeda mereka begitu ringan karena udara dingin dan cuaca yang mendung.

Bapak dan Ibuku harus melawan rintikan hujan dengan sebatang kayu di tangan mereka untuk mengantarkan bebek-bebek kami ke sawah. Lelah pun tak apa. Asal bebek-bebek kami tetap bahagia menemukan kubangan lumpur demi mendapatkan cacing-cacing melalui paruh mereka. Setelah itu, Bapak dan Ibu tak berbuat apa-apa lantaran penggilingan padi kami sepi pengunjung. Siapa juga yang akan nekad menerobos hujan dengan sekarung padi di boncengan motor mereka? Tentu mereka takut padi-padi yang mereka keringkan berhari-hari itu basah. Terlebih lagi, ketika cuaca sedemikian sejuknya lebih menyenangkan meringkuk di bawah selimut dengan mendengarkan suara penyiar radio.

Di balik wajah-wajah muram itu, ada wajah-wajah ceria berkat datangnya hujan. Para pekerja jasa cuci mobil kebanjiran pelanggan, pohon-pohon mangga yang kusam karena hama menjadi cerah dan hijau, kerut-kerut di dahi para petani mengendur karena tak ada cahaya matahari yang menerpa wajah mereka, dan saya yang selalu sendu dengan datangnya hujan bisa menulis karangan ini.

Hujan selalu mengingatkan saya tentang masa lalu. Tentang saya yang sedang menunggu seseorang di terminal bus. Saya mendekap tubuh saya erat-erat, menghimpit tembok pos agar celana yang baru saja saya beli tak terkena cipratan air, wajah saya yang tadinya kusam menjadi dingin dan kotor. Masa itu dengan hati berdebar membuat saya selalu mengingatnya. Seakan hujan membawa berita tentang masa lalu yang ia simpan baik-baik di balik tumpukan awan. Di atas sana ada seorang dewi cinta yang menyimpan kenangan-kenangan manis itu dan mengirimnya kembali lewat tetesan hujan. Hanya saja, kali ini pengingat itu terlalu pagi. Terlalu pagi untuk mengenang masa lalu.

Saya teringat tentang pakaian kotor saya yang kemarin belum saya cuci. Seharusnya dengan cuaca seperti ini tak seharusnya saya mencuci pakaian. Tapi, apa boleh buat, saya perlu mengenakan pakian-pakaian tersebut. Saya beruntung karena orangtua saya memiliki mesin cuci yang mempunyai tombol pengering di sana. Jadi, saya tinggal mengeringkan melalui mesin cuci dan menjemur di bawah atap rumah. 

Saya kembali duduk di depan laptop tanpa tahu harus berbuat apa. Saya hanya memandangi berita tentang kawan melalui media sosial, ikut berkomentar sebentar kemudian saya terbengong, dan terciptalah tulisan sok puitis ini. Lalu, saya pergi ke dapur untuk memasak air dan menyeduh segelas energen kacang hijau sebagai pengganti sarapan. Dan, kembali duduk di depan laptop yang setiap hari telah saya ajak bercinta. Menciptakan tulisan-tulisan baru, gagasan, dan karya-karya lainnya.

Hujan semakin deras dan terdengar suara ledakan kecil di langit. Adik saya pulang dengan memamerkan hasil jajanannya di sekolah. Sebungkus bakso yang berlumuran kecap manis ia sodorkan pada saya. Dua butir bakso berukuran kecil yang saya minta dari adikku meluncur ke dalam perut.

Sekarang saya tidak tahu harus melakukan apa lagi. Saya sudah tak mendengar rintikan hujan di luar jendela. Saya lihat melalui cela-cela pintu sinar matahari mulai menampakan diri dan mengusir awan kelabu untuk menyingkir. Namun, masih terdengar sedikit guntur dari atas sana.

Di balik wajah-wajah suram terdapat wajah-wajah ceria untuk menghangatkan hari.


Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^