[Fiksi] Lelaki Pengantar Undangan | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: [Fiksi] Lelaki Pengantar Undangan
Jan 28, 2015

[Fiksi] Lelaki Pengantar Undangan

taken from link

“Kau berbeda.”

            Elvan berkata demikian ketika ia bertandang ke rumah. Kala itu malam minggu. Dia baru saja pulang dari kantor dan menyempatkan diri mampir ke rumahku untuk mengantarkan undangan pernikahan Selvie, teman kuliah kami.

            Ini pertemuan pertama kami setelah selama dua tahun tak berjumpa maupun saling mengirim kabar. Lelaki di depanku itu adalah lelaki yang mampu membuatku tergila-gila beberapa tahun yang lalu. Kini, aku merasa sudah tak memiliki perasaan apa-apa terhadap lelaki itu. Namun, itu hanya pikiranku saja.


            “Berbeda dari segi mana?”Aku sibuk memainkan ponsel di tanganku, tanpa berani menatap langsung ke arah Elvan. Detik sebelumnya, sempat kulihat mata kecilnya sedang menitiku. Memerhatikan perubahan yang terjadi terhadapku selama dua tahun terakhir.

            “Entahlah. Kupikir kau terlihat lebih cantik.”

            Aku menarik sudut-sudut bibirku. Tersenyum adalah salah satu caraku untuk merespon lawan bicaraku. Bukan ucapan terima kasih atau terkejut semacam itu. Hanya tersenyum yang sanggup kuberikan.

            “Terlihat cantik bukan berarti cantik, bukan?”balasku. Aku tertawa kecil. Entah, apa yang kutertawakan. Mungkin, miris menghadapi kenyataan bahwa aku hanya terlihat cantik bukan benar-benar perempuan yang cantik.

            “Tapi, kau benar-benar terlihat cantik daripada terakhir kali kita bertemu waktu itu.”Begitulah, Elvan. Dia bukan tipe lelaki yang suka memberi pujian berlebihan pada perempuan atau mungkin dia bersikap begitu hanya padaku. Mengingat dahulu dia pernah berkata penampilanku kampungan. Maka, pujian atas diriku yang mengatakan aku cantik, mau tidak mau membuatku tersipu.

            Tanpa kusadari, ucapan Elvan menjadi tolak ukur cantik tidaknya diriku.

            “An, kau tidak ingin mempunyai kekasih?” Terus terang, pertanyaan Elvan membuatku terkejut. Sedikit menebak ke arah mana pembicaraan lelaki itu. Sempat berpikir Elvan akan mengajakku untuk menjalin kasih, namun buru-buru kusingkirkan perasaan itu. Beberapa menit yang lalu memang dia berkata aku cantik, tetapi itu bukan berarti perasaannya terhadapku secepat itu berubah, bukan?

            “Entahlah,”aku mengangkat bahu. Memberikan jawaban mengambang. Aku sendiri tidak tahu apa aku ingin mempunyai kekasih. Terakhir kali, aku menginginkan itu dua tahun lalu. Dan, aku ingin Elvan yang menjadi kekasihku.

            “Dekat dengan seseorang?”Lagi-lagi, Elvan memberi pertanyaan untuk memperjelas statusku. Mengorek informasi mengenaiku. Wajar saja, kami sudah lama tidak berkomunikasi.

            “Banyak,”jawabku setengah bercanda. Dia tertawa kecil sembari ber-OH. Aku ikut tertawa kecil. Kemudian kami sama-sama diam. Dia memandang entah ke mana dan aku lagi-lagi sibuk memainkan ponselku. Pikiranku berkecamuk.

            “Van,”panggilku. Dia menatapku. Membiarkan diriku terkunci dengan pandangannya. Ragu-ragu aku membuka mulutku,”Aku minta maaf.” Maaf untuk kesalahan yang pernah kuperbuat.
            “Untuk apa?”

            Aku tahu, Elvan tahu apa yang kumaksudkan. Mungkin, dia hanya ingin memastikan.
            Kubasahi bibirku. Wajahku menunduk memandang jemari kedua tanganku yang saling beradu. Perasaan yang menghantuiku selama bertahun-tahun tak semestinya kubiarkan mengabur begitu saja. Mungkin ini saatnya. Dimulai dari kata maaf.

            “Untuk semuanya.”kataku akhirnya. Aku bukanlah tipe perempuan yang impulsif, namun untuk kali ini aku melakukan hal yang berbeda. Aku merasa tidak akan ada kata lain waktu di antara kami. “Aku merasa telah membuatmu membenciku. Lebih dari apapun, Van, aku menyesal.”

            Menyesal telah terlalu ikut campur dalam hubungannya dengan Rera, teman satu indekosku. Menyesal telah menelanjangi Elvan secara diam-diam lewat jejaring sosialnya. Menyesal telah menjadi perempuan pengecut yang hanya berani main belakang.

            Elvan menarik sudut bibirnya. Jantungku berdegub menanti respon yang akan diberikan oleh Elvan.
            “Ya, aku memang sempat membencimu. Sangat membencimu, malahan. Hanya saja, itu masa lalu. Sudah tak penting lagi.”Mungkin bagi Elvan, itu hanya masa lalu dan sudah selesai. Namun, bagiku, belum ada kata selesai di antara kami.

            “Aku hanya tidak menyangka, kenapa kau berbuat demikian?”tanyanya.

            Menyatakan kekesalanku terhadap Rera, mengatakan pada gadis itu untuk tidak dekat dengan Elvan, dan membuat Elvan risih dengan tingkahku di jejaring sosial. Perempuan awal dua puluhan yang menyedihkan. Berharap Elvan berbalik mencintaiku tanpa aku memberikan perhatian khusus terhadapnya. Berharap Elvan mengejarku tanpa memberi umpan.

            “Cinta,”jawabku. Aku tersenyum kecut. Seharusnya, kata itu terlontar sejak pertama kali kami dekat dahulu. Awal semester kuliah kami. Awal dari kata itu muncul di dalam hatiku. “Tentu saja, itu alasannya.”

            “Lalu, kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?”tuntut Elvan.

            “Apa pantas perempuan menyatakan terlebih dahulu?”tanyaku balik.

            “Paling tidak, kau bisa berusaha menunjukkannya, An,”Elvan menghela napas. “Terus terang, aku memiliki perasaan yang sama waktu itu. Tapi, aku ragu.”seketika aku melihat ke arah Elvan, mencari kebohongan dalam matanya. Namun, dia serius.

            “Lalu, kenapa kau tidak mengatakannya?”

            “Astaga, An! Apa kau lupa? Kau juga dekat dengan sahabatku waktu itu,”ucap Elvan hampir berteriak. “Kau pikir mudah buatku mendekati incaran sahabatku sendiri? Dan, kalau tidak salah Rendi juga sudah menyatakan cintanya padamu.”

            Ya, sahabat Elvan, Rendi, sudah menyatakan cintanya padaku. Aku menolaknya, meskipun aku mau menjadi kekasih Rendi. Lelaki itu sudah memiliki kekasih. Dan, setelah hubunganku usai dengan Rendi, aku mulai dekat dengan Elvan. Kupikir, Elvan menyukaiku, namun sampai bertahun-tahun dia tidak pernah menyatakan cintanya padaku. Kemudian, Elvan dekat dengan Rera teman indekosku.

            “Dan, ketika aku dekat dengan Rera, seharusnya kau lebih berusaha untuk merobohkan keraguanku, An. Bukannya, malah bertindak kekanakan dengan memarahi Rera dan membututiku melalui sosial media.”
            “Apa yang bisa kuperbuat, Van? Menjadi perempuan manja dengan berpura-pura ban motorku bocor agar kau membantuku?”kataku dengan emosi.

            “Bicara, An. Ajak aku bicara,”balas Elvan.

            Aku tersenyum kecut. “Untuk memandangmu saja aku sudah kehilangan akal sehat, Van. Apalagi untuk bicara? Aku bukan tipe perempuan yang pandai mengambil keadaan.”Aku frustasi. Mengingat setiap kali pertemuanku dengan Elvan selalu saja ada yang salah.

            “Kau ingat, waktu kau mengajakku ke kota waktu itu? Dan, kita hanya berputar-putar tanpa tujuan? Sepulangnya kau, aku menangis, Van. Aku menangis lantaran tak bisa menahanmu di sisiku lebih lama lagi. Aku menangis karena tak bisa merebutmu dari Rera. Bahkan, kau sudah memberiku kesempatan untuk itu berkali-kali,”aku menarik napas. “Aku menyesal.”

            Elvan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Kedua tangannya bertumpu pada tangan sofa. Ia memandangku. Tanganku gemetar. Mengungkapkan perasaan seperti ini membuatku gugup.

            “Kupikir aku sudah mengenyahkanmu dari pikiranku, Van,”aku tersenyum lemah. “Tapi, nyatanya, aku sekarang merasakan apa yang kurasakan dua tahun lalu.”

            “Terlambat, An,”ucap Elvan lemah. Dia terlihat ragu-ragu. Elvan meraih undangan Selvie yang kuletakkan di atas meja. Ia menyerahkannya kembali padaku. Mendadak perasaan takut menyerangku. “Aku ke sini, bukan hanya untuk mengantarkan undangan Selvie.”

            Dengan gemetar kuraih kembali undangan merah marun dari tangan Elvan. Takut-takut aku membuka kertas undangan tersebut. Aku menelan ludah. Dalam undangan tersebut bukan hanya tercetak nama Selvie, tetapi juga nama Elvan.

            Lagi-lagi, aku kehilangan Elvan yang sedari awal memang tak pernah kumiliki.


Wulansari

Mojokerto, 28 Januari 2015


 photo Ullan2.png

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

1 comment:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^