Pentingnya Komunikasi Anak dan Orangtua Sejak Dini | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Pentingnya Komunikasi Anak dan Orangtua Sejak Dini
Jan 25, 2016

Pentingnya Komunikasi Anak dan Orangtua Sejak Dini



Bapak merupakan laki-laki berkarakter melankolis, dan karakter tersebut ia turunkan pada saya. Seperti yang kita ketahui, karakter melankolis merupakan karakter pemikir, serius, perfeksionis, kreatif, dan sensitif. Itu adalah sebagian kecil dari karakter melankolis dan masih merujuk pada hal positif. Negatifnya? Banyak juga, salah satunya adalah cenderung melihat masalah dari sisi negatif.

Karakter yang dimiliki oleh Bapak tersebutlah yang mendasari mengenai apa yang akan saya ceritakan ini. Kira-kira ketika saya kelas 5 SD, saya mulai memasukki ranah "remaja", alias sudah akan kehadiran tamu setiap bulan. Sedikit cerita mengenai hari pertama saya menstruasi. Waktu itu, rasanya dunia bakalan runtuh - ini serius, meskipun sedikit hiperbola :D -, sampai-sampai saya tidak berani untuk minum. Takut. Jadi lebih pendiam - aslinya pendiam, ini jadi lebih pendiam lagi -, dan berharap bercak yang saya lihat bukanlah darah menstruasi. Sayangnya, itu memang darah menstruasi.

Lalu, saya cerita sama Ibu. Kemudian, ibu membantu saya memasang pembalut untuk saya. Maklum, baru pertama kali. Cerita tidak berhenti sampai situ. Ternyata, setiap apa yang terjadi dengan anak-anaknya, ibu selalu cerita sama Bapak. Dan, akhirnya petuah-petuah dari Bapak pun muncul. 

Saya masih ingat betul, ketika itu malam hari. Saya dan Bapak tidur-tiduran di atas tikar, di perkarangan rumah. Kami sedang menikmati indahnya langit malam waktu itu - sama-sama orang melankolis, ingat?-

"Perempuan kalau sudah disentuh bisa lupa,"kira-kira begitu kata Bapak. Saya sudah lupa bagaimana Bapak memulainya, tapi sampai sekarang yang saya ingat itu. "Kamu kalau dekat sama laki-laki, hati-hati."Kala itu, saya yang baru berusia sepuluh tahun hanya senyum-senyum saja mendengar petuah Bapak.

Terus terang, saat itu saya berpikiran, "Masa sih, saya bakalan begitu? Menyerahkan milik saya kepada orang yang tak berhak?"*kalimat ini sudah dimodifikasi sama Wulan dewasa :D *

Kalau dipikir-pikir, menjadi ayah itu susah juga. Saya tidak pernah tahu bagaimana perasaan Bapak waktu itu ketika mengingatkan saya mengenai hubungan laki-laki dan perempuan. Pasti sulit. Terlebih lagi, bagi saya dan Bapak yang jarang berkomunikasi. Bagi kami yang sama-sama memiliki karakter melankolis.

Setelah petuah tersebut, akhirnya hal konyol saya alami. Saat itu bulan Agustus. Saya dipilih menjadi salah satu anggota gerak jalan yang akan diadakan di kota kami untuk memperingati hari 17 Agustus. Pada bulan tersebut, tamu yang seharusnya hadir menemui saya, tidak datang.

Teman-teman tahu apa yang saya rasakan saat itu? TAKUT.

Jika hari pertama saya menstruasi serasa dunia runtuh, kalau sekarang saya merasa hidup saya runtuh *apalah*. Saya benar-benar takut saat itu. Saya ingat, saat itu saya masuk kamar, sandaran di belakang pintu sambil berdiam diri.

"Ya Allah, masa saya hamil? Saya nggak pernah dekat sama cowok,"pikir saya waktu itu, sembari mikir-mikir kapan saya dekat sama laki-laki. Kalau dipikir-pikir sekarang, Wulan kala itu begitu polos dan lugu. Padahal, waktu kecil saya tidak terlalu banyak bergaul dengan laki-laki. Tentu saja pemikiran tersebut terjadi karena edukasi yang saya dapatkan mengenai hubungan laki-laki dan perempuan hanya setengah-setengah. Saya tahu, jika hamil maka saya tidak akan menstruasi, tapi saya tidak tahu jika menstruasi bisa tidak datang karena beberapa faktor bukan hanya karena sedang hamil.

Setelah sekian tahun, ternyata saya memiliki masa menstruasi yang tidak normal. Kedatangannya tidak bisa ditebak, bahkan seringkali tidak selalu datang setiap bulan. Terlebih lagi ketika saya merasa tertekan karena sesuatu. Saya perempuan melankolis Si Pemikir. Ingat? Itulah penyebab saya tidak datang bulan waktu kecil itu. Kalau dipikir-pikir penyebabnya karena saat itu saya ikut kegiatan gerak jalan yang mau tak mau menyita waktu dan tenaga Wulan kecil.

Sex education sejak dini teramat penting, terlebih lagi di dunia yang serba digital saat ini. Seperti yang saya alami dulu mengenai menstruasi. Seharusnya, dijelaskan bahwa kita tidak dapat menstruasi faktornya bukan sekadar dari hubungan laki-laki dan perempuan atau karena hamil, tapi juga faktor lain bisa memengaruhi. Mungkin hal ini dirasa tabu, tapi ada baiknya seorang anak dibiasakan untuk berkomunikasi dengan orangtua. Jika komunikasi orangtua dan anak, tidak ada hal yang namanya tabu.

Seperti yang kita ketahui, sekarang jamannya tekhnologi. Sejak kecil anak-anak diberi fasilitas oleh orangtuanya berupa smartphone. Catat. SMARTPHONE, bukan ponsel monophonic, yang hanya bisa digunakan untuk sms, telepon, dan main ular-ularan. Melihat fenomena ini, mau tidak mau saya ikut khawatir meskipun saya belum mempunyai anak. Tapi, saya mempunyai adik yang baru duduk di kelas 1 SMP. Dan, Bapak, seperti orangtua jaman sekarang, memberi adik saya sebuah smartphone.

Kali pertama memakai smartphone adik saya dibelikan sama Mas paket data, dan belum ada seminggu paket data tersebut sudah habis.

"Kamu buat apa?"tanya mas pada adik.

"Nggak buat apa-apa, kok!"kilah adik saya. Waktu itu, mas langsung merebut smartphone dari tangan adek dan melihat-lihat isinya. Terus terang, saya berpikiran negatif saat itu. Jangan-jangan....
Ah, ternyata pikiran saya yang terlalu mengada-ada, nyatanya paket data adik saya habis lantaran terlalu sering mengunduh permainan.

Sebenarnya, agak was-was juga memberikan adik smartphone yang bisa untuk mengakses hal-hal negatif. Tapi, membatasi anak memakai smartphone juga susah dan bukan pilihan yang tepat jika anak dijauhkan dari akses internet, yang mana bisa membantu dalam pelajarannya. Sebagai kakak atau orang dewasa, saya ikut khawatir dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh perangkat elektronik ini. Saya merasa, anak-anak jaman sekarang terlalu dini untuk mengenal internet, tapi mau bagaimana lagi? Perkembangan jaman. Semakin dini seseorang dikenalkan dengan kecanggihan dunia semakin baik. Asal..... kita (orang dewasa) mampu mensiasati dan mengawasi (dengan diam-diam) penggunaan smartphone.

Mengangkat dari para kekhawatiran orangtua dan seorang kakak kepada adik-adiknya, Acer meluncurkan sebuah gadget yang dilengkapi dengan Kids Center yang dikhususkan untuk anak-anak. Aplikasi kids center ini merupakan sebuah fitur pre-install  di dalam smartphone Acer Liquid Z320. Fitur ini dapat membatasi aplikasi, konten, dan akses data yang belum sesuai dengan usia anak-anak. Tak hanya itu, Acer Liquid Z320 dengan aplikasi Kids Center ini juga dilengkapi dengan parental control  yang mampu memantau aktivitas ber-internet anak, sekaligus mengatur keamanan penggunaan smartphone untuk mencegah anak-anak kita (yaelah, kayak sudah punya anak!), dari mengunduh konten dewasa atau membeli aplikasi baru.



Menariknya, Kids Center tak hanya membantu keamanan anak-anak untuk tak mengakses konten dewasa, tapi juga diberikan konten bermanfaat bagi anak. Ada ribuan aplikasi edukasi yang bisa diakses oleh anak dan video serta permainan yang aman yang mampu mengasah otak anak. Kelebihan dari Acer Liquid Z320 bukan sekadar itu saja, tapi terdapat keunggulan lainnya juga. Misalnya, prosesor Qualcomm Snapdragon Quad Core 1.1 GHz dan RAM 1 GB. RAM berkapasitas tinggi teramat penting loh, pengalaman saya yang membeli smartphone dengan RAM rendah sangat susah untuk menambah aplikasi baru. Istilahnya, terbatasi.

Meskipun begitu, guys, bukan berarti kita kudu bebas dan membebaskan anak bermain ponsel cerdas terus menerus. Baiknya, penggunaan ponsel cerdas pada anak dibatasi dan tetap dalam pengawasan orang dewasa. Ingat, komunikasi anak dengan keluarga dan lingkungan teramat penting, daripada anak terus menerus sibuk dengan smartphone mereka. Karena, bagi saya komunikasi dunia nyata lebih penting untuk mendapatkan pembelajaran yang lebih baik daripada di dunia maya.

Kesimpulannya, mendampingi anak bertumbuh kembang sangatlah penting. Karena pada masa-masa pertumbuhan inilah, waktunya membentuk karakter anak pada masa depan. Terlalu membatasi keinginan anak juga tidak bagus, karena sama halnya membatasi kreatifitas anak yang nanti berdampak pada rasa tidak percaya diri. Meskipun begitu, kita kudu tetap mengawasi secara diam-diam, sehingga anak tidak merasa "dikekang", dan pada akhirnya akan menimbulkan sifat negatif pada diri anak-anak.

Semoga bermanfaat! ^^


Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

4 comments:

  1. saya kalo ingat kejadian yg wulan ceritain di atas, suka senyum2 sendiri. saya juga pernah mengalami kegalauan. Dulu menginjak masa remaja, memang banyak banget ya yg kita khawatirkan sebagai cewek :)

    ReplyDelete
  2. ehm, saya sendiri belum memutuskan untuk memberi anak smartphone, lebih baik tidak dulu untuk sekarang,

    ReplyDelete
  3. menjadi orang tua, belajar yang gak ada lulusnya

    ReplyDelete
  4. Asma udah punya smartphone lungsuran dari saya. Tapi tetep saja penggunaannya saya batasi agar dia tidak kecanduan seperti teman-temannya. :) Apalagi sekarang sudah TK

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^