Job Seeker Part 3 : Pengalaman Pertama Melamar Kerja | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Job Seeker Part 3 : Pengalaman Pertama Melamar Kerja
May 19, 2016

Job Seeker Part 3 : Pengalaman Pertama Melamar Kerja


Job Seeker Part 3 : Pengalaman Pertama Melamar Kerja - Saya melamar pekerjaan, jauh-jauh sebelum saya mengenakan topi toga. Bahkan, sebelum saya menyelesaikan revisi tugas akhir. Kala itu, masa-masa saya harus menyelesaikan revisi dari ujian tugas akhir saya. Saya harus menemui dosen pembimbing dan dosen penguji untuk menyelesaikan revisi laporan tugas akhir. Tapi, saya justru mencari pekerjaan. Ya, karena saya ingin setelah wisuda sudah mendapatkan kerja. Jadi, pengalaman ini saya alami sebelum pengalaman Perusahaan Abal-Abal

Saya ingat, kala itu saya melamar pekerjaan dengan Nana, adik kos yang sudah berpengalaman dalam bekerja. Kami keliling Surabaya, menaruh lamaran di sana sini. Hari itu, kami pergi ke Jalan Kalibokor Surabaya, tepatnya ke toko barang elektronik. Setelah kami memutar di Jalan Raya Ngagel, akhirnya toko elektronik yang lebih spesifik menjual komputer tersebut ketemu. Waktu itu, kami hanya menaruh lamaran di pos satpam, tapi belum apa-apa saya sudah gugup.

Tak lama setelah menaruh lamaran di toko elektronik, kami kembali berkeliling Surabaya, mencari alamat-alamat yang sudah kami catat sebelumnya. Menaruh lamaran di sana sini, berbekal surat tanda lulus. Ternyata, sewaktu kami berputar-putar tersebut, ada panggilan telepon dari toko elektronik tersebut. Bahwa, kami diminta untuk datang di Hari Senin, pukul sembilan pagi.


Kami girang. Saya pun begitu. Saya berpikir, toko tersebut benar-benar membutuhkan tenaga kerja. Saya berpikir, saya pasti diterima, karena pengalaman saya selama ini selalu beruntung. Jalan saya selalu mulus. Saya polos sekali waktu itu.

Hari Senin tiba. Saya berangkat dengan memakai kemeja putih yang saya beli di Tugu Pahlawan di Hari Minggu pagi (Orang Surabaya pasti tahu tempat apa ini) dan bawahan celana kain hitam yang satu-satunya saya miliki. Ingat, saat itu saya belum resmi lulus, tapi saya sudah mempersiapkan diri untuk mencari kerja. Saya semangat sekali waktu itu.

Pukul sembilan tepat, saya dan Nana sudah sampai di toko elektronik. Awalnya, saya pikir yang melamar kerja hanya kami berdua. Ternyata yang berada di ruangan tunggu tersebut tidak hanya kami. Banyak.

Saya dan Nana duduk berdampingan di ruang tunggu. Kami diberi dua lembar kertas. Satu soal dan satu lembar jawaban. Ini kali pertama saya mengisi soal yang jauh berbeda dengan hal-hal akademis. Saya bingung. Mau menoleh ke arah Nana tidak enak. Lalu, saya harus mengisinya dengan jawaban apa? Jujur saja, atau jawaban yang membuat orang terkesan tapi bukan sebenar-benarnya saya? Saya pun memilih jawaban sesuai apa adanya.

Usai mengisi soal-soal dengan jawaban tak pasti tersebut, kami mengumpulkannya. Lalu, kami menunggu.

Saat-saat menunggu tersebut, saya memperhatikan orang-orang yang sedang bekerja di toko tersebut. Terlihat rapi, sibuk, dan sibuk. Salah satu pekerja di sana ada yang memakai celana jins, saya pun berpikir, nantinya apakah saya juga boleh mengenakan jins selama bekerja? Karena terus terang memakai celana kain sangat tidak saya sukai. Lebih baik pakai rok sepan hitam daripada celana kain.
Lalu, Nana dipanggil. Jantung saya berdegub cepat. Itu berarti, giliran saya akan segera tiba.

Lama.

Nana di dalam lama sekali. Padahal, sebelum-sebelumnya tidak selama itu. Saya semakin gugup. Saya berpikir, apakah nantinya saya akan ditanyai sesuai soal-soal yang saya isi tadi? Kalau tidak sinkron bagaimana? Banyak pertanyaan yang memenuhi otak saya, saya sampai lelah sendiri dan saya semakin gugup.

Akhirnya, Nana keluar, saya pun dipanggil. Saya menarik napas dalam-dalam, dan ikut ke dalam. Lalu, saya diminta masuk ke dalam ruangan. Di sana, di balik meja sudah ada bapak-bapak yang menunggu. Saya tersenyum, beliau tersenyum. Saya diminta untuk duduk, saya pun melakukannya.
Kedua tangan saya saling bertaut, mata menunduk, sesekali melihat ke arah si Bapak. – Kalian pasti tahu ending dari interview ini.
Si Bapak memberikan pertanyaan seperti biasa – saya tahu di hari-hari nanti kalau pertanyaan ini umum ditanyakan -, saya anak keberapa, orangtua bekerja apa, dan hal-hal pribadi semacam itu. Bodohnya, ketika interview saya memikirkan mengenai revisi tugas akhir saya, yang belum selesai. Seakan-akan hal tersebut akan menjadi penghalang saya bekerja. Saya berpikir jauh, bagaimana kalau saya diterima, lalu nasib tugas akhir saya bagaimana? Saya tidak fokus  saat interview dan itu terlihat jelas dalam ekspresi saya. Saya gugup. Banyak pikiran. Kacau.

Lalu, si Bapak bertanya,”Berarti bisa membuat website?”

Saya menjawab,”Kurang bisa, Pak.” Ini kesalahan saya yang lain. Saya terlalu memikirkan apakah nantinya saya langsung diminta membuat website, sedangkan saya hanya mengerti dasar saja? Seharusnya, saya menambahi, atau menjelaskan di mana letak kemampuan saya. Tapi, saya justru menjawab seperti itu.

“Baiklah, nanti saya kabari kembali,”ucap si Bapak. Saya pun berterima kasih, tersenyum, berjabat tangan, lalu keluar ruangan.

Pulang dari toko elektronik tersebut, hujan turun, tidak besar. Tapi, mampu membuat jaket dan kemeja yang saya kenakan, basah. Lalu, kami melipir ke warung bakso. Sekadar berteduh dan mengisi perut. Di sela-sela dentingan sendok dan mangkuk kami, Nana mulai bertanya.

“Bagaimana tadi? Bulan depan training, juga?”saat itu, aku tertegun. Sudah saya katakan, ini kali pertama saya melamar kerja. Saya sama sekali tidak tahu mekanismenya seperti apa.

“Bilangnya satu minggu lagi dihubungi,”jawabku.

“Biasaya, kalau ditolak bilang begitu,”balas Nana. Mungkin, wajah saya saat itu terlihat datar, tapi memang terus terang bayangan revisi tugas akhir tak kunjung hilang. “Sudah, nggak usah dipikirkan.”

“Nggak kok, aku mikirin revisi,”jawabku, setengah jujur, setengah tidak. Tidak memungkiri bahwa, saya kecewa karena ditolak.

Saya kecewa. Mungkin karena pandangan saya terlalu jauh, atau memang karena ini awal saya berjuang mencari kerja. Saya tidak tahu.




xoxo,
Wulan K.

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

3 comments:

  1. Dunia kerja keras. Kudu tetap semangat

    ReplyDelete
  2. Aku belum pernah ngelamar kerja, hihi. Semoga aja gak pernah ngelamar kerja.

    ReplyDelete
  3. Aku ga ngelamar kerja ngelamar anak orang aja

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^