Nov 13, 2016

Rejeki Tuhan yang Jamin. Bukan Negara.


Disclaimer: Postingan ini tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun. Murni pengalaman pribadi dan pendapat saya sendiri.

Rejeki Tuhan yang Jamin. Bukan Negara.Tak ada maksud apa pun, ketika saya memutuskan untuk menulis pengalaman saya ini. Kejadian yang saya alami sudah beberapa bulan yang lalu. Tepatnya bulan Maret, beberapa hari setelah ulang tahun saya yang ke-25 tahun. Seperti yang teman-teman ketahui, saya lulusan sarjana yang tak diterima di manapun. Di perusahaan mana pun yang saya datangi, selalu menolak saya. Akhirnya, saya resmi menjadi pengangguran.

Tentu, hal tersebut membuat kedua orangtua saya kalang kabut. Anak mereka yang mereka sekolahkan tinggi-tinggi, begitu lulus menjadi pengangguran. Hal ini membuat saudara ibu saya peduli dengan menawarkan jabatan di pemerintahan. Kebetulan, paman saya dekat dengan bupati. Tentu saja, Bapak menyambut dengan antusias. Dengan suka cita. Kebetulan, cita-cita kedua orangtua saya adalah anaknya menjadi PNS.

Bagi teman-teman yang nantinya akan tersinggung atau tersudutkan dengan tulisan saya ini, silakan segera tutup halaman blog saya.


Bagaimana dengan saya sendiri, ketika paman menawarkan hal tersebut? Apa saya senang? Tidak sama sekali. Justru, hal tersebut menjadi beban bagi saya. Menjadi abdi negara bukanlah impian saya. Dulu sekali, saya sempat ingin. Pada dewasa ini, saya sama sekali tidak bisa ambil pikir, apakah menjadi pegawai negeri benar-benar keinginan saya.

Akhirnya, karena perbedaan pendapat dan keinginan, saya dan Bapak sempat adu mulut. Setop pikiran teman-teman bila mengatakan saya anak durhaka, karena duduk permasalahan bukan sekadar mengenai ini. Saya tahu, orangtua selalu ingin yang terbaik bagi anak mereka. Terlebih lagi, bila anak mereka mempunyai jabatan. Dipandang orang. Dihormati. Sayangnya, bukan itu impian saya. Bukan seperti itu, kehidupan yang saya inginkan. Bukan jabatan.

Pada akhirnya, saya menyerah. Saya iyakan keinginan Bapak. Karena pada saat itu, saya tak punya pilihan lain. Saya pengangguran. Tak punya pemasukkan seperti sekarang. Dengan berat hati saya mengiyakan. Terus terang, saya seperti orang linglung waktu itu.

“Menjadi PNS. Sudah sedia uang, Wul?”begitulah komentar teman saya. Tak perlu kaget lagi. Memang benar adanya, sekarang apa-apa mengenai uang. Terlebih lagi untuk duduk di pemerintahan. Membeli kursi.

Waktu itu, seakan-akan bapak rela melepas segalanya demi anaknya bisa duduk di kursi pemerintahan.

Bahkan, ibu saya memelas kepada saya, untuk menurut. Wajahnya hampir menangis. Siapa saya yang tega menolak? Saya tidak bisa.

Akhirnya pada hari itu, kami sekeluarga ke rumah Pak Lurah, sesuai saran paman. Pak Lurah ini lah yang akan menjadi jembatan kami. Saat itu, Bapak sudah menyerahkan berkas-berkas yang sudah diperlukan. Saya katakan, Bapak semangat sekali. Saya yang malas-malasan.

Saya dan Bapak menemui Pak Lurah tersebut. Ngobrol-ngobrol, sampai pada akhirnya Pak Lurah berkata, “Nanti, kalau di kecamatan lihat orang masukkin uang ke kantong. Biasa saja. Itu sudah lumrah.” Terus terang. Saya tertegun. Menoleh ke arah Bapak.

“Kalau masalah itu kan, tergantung orangnya,”ujar Bapak sambil tertawa.

“Nggak, biasanya kalau nggak mau dipaksa-paksa,”sahut Pak Lurah. Teman-teman, tak perlu membayangkan pecakapan ini dengan urat tegang. Santai saja. Memang begitu adanya.

“Kamu nggak masuk sebulan pun, tak akan ada yang memarahi,”lanjutnya.

Sejak kecil, saya dididik untuk menjadi orang yang jujur. Tidak mengambil hak orang lain. Tidak melanggar norma-norma yang ada. Menerima apa adanya yang saya miliki. Menjadi orang biasa yang tak perlu muluk-muluk. Saat itu, saya sama sekali tak mengerti. Kenapa anak yang beliau didik sejak kecil, ketika dewasa harus menyeberang begitu jauh, demi sebuah jabatan dan omongan tetangga? Saya sama sekali tak mengerti.

Katakanlah, bila memang akhirnya saya duduk di kursi pemerintah. Dan hal tersebut benar-benar terjadi. Saya tidak yakin, saya akan terus menjadi orang suci yang tak akan menjadi bagian seperti mereka. Teman, setiap orang mempunyai khilaf. Bisa saja, saya akan kepepet membutuhkan dana dan tidak menutup kemungkinan, saya akan melakukan apa yang mereka lakukan.

Teman, Pak Lurah mengatakan hal tersebut, itu murni karena perintah dari sana. Agar saya tidak kaget dan berbuat masalah.

Tahukah, bila sebenarnya saya tak pernah berencana untuk bekerja di kantor seumur hidup? Sehingga, menjadi pegawai negeri bukanlah pilihan saya saat ini. Mari kita bayangkan, saya masuk ke pegawai negeri dengan mengeluarkan dana sekian juta. Lalu, kapan saya bisa mengembalikan dana tersebut? Artinya, saya harus terjebak di sana selama bertahun-tahun karena harus mengembalikan dana itu. Kenapa uang tersebut tidak dijadikan modal untuk membuka usaha saja?

Ada contoh lain, dari anak kawan Bapak. Dia bekerja di rumah sakit dan untuk masuk ke sana memerlukan dana sekian juta.  Belum ada satu tahun, dia sudah diberhentikan. Saya yakin, gaji yang ia terima masih lebih kecil daripada uang yang ia berikan pada pihak rumah sakit. Pertanyaannya, dia bekerja untuk menyambung hidup atau sekadar mencari nama?

Dan setelah itu, apa yang terjadi?

Selama satu bulan saya menunggu dalam ketakutan. Dan, ah iya, saya sampai tidak datang bulan. Itu pertanda saya sangat stres. Bapak ibu menunggu kabar. Tapi tidak ada kelanjutannya. Saya pun malas bertanya dan tak ingin mengungkitnya lagi. Saya bersyukur, saya tidak jadi duduk di kursi pemerintahan. Bukannya saya anti. Bukan. Hanya saja, dalam pemerintahan terlalu banyak godaan. Saya tidak yakin saya mampu.

Dan kemarin, Bapak saya berkata,”Pilihan kamu benar. Berpegang pada prinsip dan kejujuran.” Beliau menyadari bahwa kekuasaan ataupun jabatan tidak mampu menciptakan kebahagiaan bila memang bukan itu yang kita inginkan.

Kawan. Rejeki Tuhan yang menjamin. Bukan negara. Percayalah, Tuhan yang akan menjamin hidupmu.


16 comments:

  1. selamat pagi mbak, benar mbak. sekarang caranya untuk mendapatkan suatu perkerjaan memang harus ada uang dan relasi. memang tidak semuanya. tapi itulah yang terjadi saat ini

    ReplyDelete
  2. Akhirnya tulisan ini keluar juga. Alhamdulillah. Luluh juga ya

    ReplyDelete
  3. Suka banget sekali dengan tulisan ini. Kejujuran memang paling utama. Daripada masuk uang banyak, mending bikin usaha, karena rezeki tidak ada yang tahu. Ada banyak usaha yang bisa kita jalani.

    ReplyDelete
  4. Meski ceritanya kurang panjanggg, tapi aku nahan napas bacanya. Banget. Kalau nggak senada dengan pilihan serta prinsip kita itu rasanya ... salut. Btw, kalau tinggal di desa kayak saya itu juga sering ditanyain, bahkan belum diwisuda sudah ditanya, "Sudah dapat kerja?" *cuma bisa kicep. Wahaha

    ReplyDelete
  5. banyak cobaannya ya mak kalo nganggur berbulan bulan setelah wisuda, tapi alhamdulillah ga jadi masuk dalam lingkaran itu :)

    ReplyDelete
  6. Ah benar sekali tulisan ini Mba, aku lihat sendiri banyak yg seperti itu. Itulah mengapa aku melarang keras suami jadi PNS. Khawatir uang itu gak berkah.

    ReplyDelete
  7. Ya allah mbak, aku bacanya mules. Semoga dapet pekerjaan yang uangnya lebih barokah yah. Semangat 💪🏻

    ReplyDelete
  8. Ternyata masih ada praktek suap seperti itu ya, Mba..semoga Mbak segera dapet pekerjaan yang barokah dan Mbak sukai :).

    ReplyDelete
  9. Sudah basa lihat kasih uang di amplop, lha sudah biasa tapi ngak sesuai hati nurani yaa... Akhirnya muncul juga ini artikel nya 😍😍



    Happy happy ajah aahh enak maem pok2 dory di royal 😊

    ReplyDelete
  10. yeayyyy jadi blogger pisan jos gandosss
    mugo2 akeh rejekimu :*

    ReplyDelete
  11. Semoga ini pilihan yang terbaik mba Wulan. Aku mendukungmu, rejeki diatur oleh Allah :)

    ReplyDelete
  12. Rejeki memang Tuhan yang jamin!
    Setuju!

    Tapi fyi, tidak semua PNS itu masuk lewat jalur yang diceritakan. Aku dan sangat banyak teman, bisa menjadi PNS lewat jalan prosedural aja. Bahkan aku bisa dapat jabatan struktural di usia muda, juga tanpa pe de ka te. Yang itu banyak orang tidak percaya.

    Pilihanmu baguss! Sampai saat ini, penghasilan PNS ku jauh di bawah penghasilan bisnis dan nulis. Ha..ha... kalaupun aku tetap bertahan tidak resign, itu karena aku senang unsur pengabdiannya itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak. Banyak teman yang masuk dengan murni tes. Kalau saja saya memang berminat, saya lebih memilih untuk jalur tersebut. Dan, yang membuat saya gelisah bukan sekadar mengenai jalur masuknya, tetapi lingkungan yang digambarkan Pak Lurah itu. Karena saya tidak yakin dengan diri sendiri bakalan mampu menahan godaan. :D itu sih masalah utamanya. wkwk

      Delete
  13. Ini adalah secercah kisah yg tak dapat kita pungkiri, namun juga tak dapat kita generalisasikan kepada seluruh PN*. Bahkan, dlm bidang lain pun tak ubahnya begitu. ... saya ikut berbangga saat engkau berkomitmen menjaga nilai nilai kejujuran.. :-)

    ReplyDelete
  14. Hai mbak, salam kenal. Saya PNS. Dulu masuk juga karena orang tua yang ingin tapi beruntung semua pihak komit untuk lewat tes. Jadi ketika diterima, ya berarti murni karena doa orang tua dan acc YME.

    Membayangkan haus membayar, aduuhhh.. Mana tahaaannn.. Mahal banget, mbak. Ratusan juta.

    Waktu itu orang tua memberi jaminan bahwa menjadi PNS bukan end of story, jika kelak dalam perjalanan hidup saya menemukan yang lebih baik, saya bisa berhenti/pensiun dini.

    Daaann, memang benar bahwa bagi saya menjadi PNS seperti membuka pintu pengalaman lainnya. Saya ketemu jodoh, menikah, punya anak, dan setelah sepuluh tahun mengabdi, saya ambil cuti besar untuk mengikuti suami ke negaranya.

    Bersyukur orang tua tidak menyuruh saya segera kembali bekerja, tapi malah mendorong berkarya ditempat baru. Semoga Tuhan merestui lagi, amin.

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^