Dec 4, 2016

Menjadi Pemikir Itu, Melelahkan




Menjadi Pemikir Itu, MelelahkanBenar bila ketika hendak melakukan sesuatu, kita harus memikirkannya secara matang. Tidak mengambil keputusan dalam keadaan emosi – entah itu marah atau sedih – dan tidak terburu-buru dalam mengambil tindakan. Tapi, apa jadinya jika seseorang overthinking?

Postingan ini saya buat untuk berbagi. Bagaimana isi kepala seorang introvert yang pemikir. Overthinking. Sesuatu hal yang sangat tidak mengenakan. Seakan-akan, setiap langkah yang saya ambil, saya membawa beban berton-ton. Dan penyakit ini benar-benar menganggu dalam aktivitas. Semacam dinding yang membatasi ruang gerak. Sangat tidak mengenakan.

Kebanyakan seorang introvert atau seorang pemikir, selalu memedulikan perkataan orang lain. Parahnya hal itu belum terjadi, sudah menjadi beban tersendiri. Parahnya lagi, terkadang yang menjadi pokok masalah adalah masalah sepele yang tak perlu dipusingkan.


Contoh yang saya ambil, baru saja terjadi bulan lalu. Sebelum saya traveling, saya selalu memikirkan banyak hal. Menyiapkan segala sesuatunya yang menguras kantong dan akhirnya saya kelelahan sendiri karena memikirkannya. Padahal, apa yang saya butuhkan sepele.

Biasanya ketika traveling, saya membawa tas ransel warna coklat dan tas selempang. Nah, kemarin ketika ke Madura saya ingin membeli travelbag yang lebih simpel karena – entah kenapa – sebelumnya saya membeli tas ransel kecil yang cantik. Rasanya aneh bila saya harus membawa tas ransel coklat dan tas ransel baru itu berbarengan. Akhirnya, saya mencari travelbag. Awalnya, saya hendak membeli di toko online, kemudian saya putuskan membeli di toko dekat rumah saja. Mungkin ada.

Akhirnya, saya pun ke Mojokerto kota. Pergi ke sebuah toko. Di sana banyak travelbag mulai dari ukuran kecil sampai ukuran besar. Galaupun melanda karena saya tidak tahu berapa ukuran yang pas untuk 4 hari perjalanan. Kemudian, saya memilih salah satu dan berdoa bahwa tas itu cukup. Sampai di rumah saya mencobanya dan tas itu terlalu mepet. Tidak ada kelebihan sama sekali. Okelah. Saya memutuskan untuk pakai ransel coklat saja. Toh waktu ke Jogja Maret lalu, tas itu cukup untuk baju satu Minggu.

Dan ternyata ketika saya pergi ke minimarket, saya menemukan travelbag lipat , murah lagi. Cuma Rp.25.000,- tanpa pikir panjang, saya pun mengambilnya. Nah, ketika sudah di rumah saya coba kembali. Saya berpikir, “Kok bawaan saya banyak amat?”padahal, isinya hanya pakaian. Beberapa potong kaus dan celana. Ah, terlihat amat banyak karena travelbag tersebut besar, masih ruang sisanya masih banyak.

Saya kembali galau, dan berpikir apa kata teman-teman? Padahal sekadar ke Madura selama 4 hari.
Ternyata, kekhawatiran saya itu benar-benar berlebihan. Sepele. Di sana, banyak teman yang membawa koper-koper besar untuk traveling. Hmm.

Itu contoh sederhana. Ada lagi, contoh saya benar-benar pemikir adalah sebelum acara ke Madura banyak hal yang saya khawatirkan. Salah satunya, bagaimana nanti kalau saya ditanya mengenai pendapat perjalanan selama di Madura? Bagaimana saat itu ketika kita berkumpul, saya akan ditanya semacam itu di depan umum? Bagaimana kalau saya tidak bisa bicara?

Percayalah, kekhawatiran tersebut benar-benar beban buat saya. Bahkan, hal tersebut saya pikirkan sampai ketika acara berlangsung. Selama acara berlangsung, saya menghindari hal-hal semacam itu. Berdoa dalam hati, semoga hal itu tidak terjadi. Akibatnya? Saya jadi kurang akrab dengan peserta #MenduniakanMadura. Sekarang, saya menyesal karena terlalu banyak mikir.


Apa setelah saya menulis ini, nantinya saya akan menjadi orang yang easy going? Saya rasa tidak, karena mindset saya belum benar-benar tertata rapi. Banyak hal yang harus saya lakukan untuk membuang rasa minder dan rasa tidak percaya diri saya.

5 comments:

  1. Terkadang saya ingin jadi orang yang cuek. Nggak dikit2 mikir. Bikin pusing soalnya. :(

    ReplyDelete
  2. Menjadi pemikir memang melelahkan sih. Hal sederhana aja kadang dipikir

    ReplyDelete
  3. Coba baca cerita Lupus. Siapa tahu ada pencerahan. :)

    ReplyDelete
  4. Aku juga terkadang seperti itu, Mbak. :(

    ReplyDelete
  5. Kalau dari permasalahan Mbak, mungkin pemikirnya harus dikurangi, Mbak. Jadi Mbak sendiri bisa nyaman dan mudah akrab sama teman baru. Aku dulu juga gitu, Mbak. Parahnya sering berpikir negatif dan kelewat takut sama orang baru

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^