Apr 19, 2017

[WulanTalk] Mengenai Perempuan Butuh Kepastian



Beberapa waktu lalu, ada perbincangan hangat mengenai perempuan yang butuh kepastian di linimasa. Sebenarnya, saya enggan ikut-ikutan membahas sesuatu yang sedang hangat, lantaran saya sendiri tidak paham betul dan tidak mengalaminya langsung. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Memang, saya tidak ikut mengalaminya, tetapi saya sedikit tahu mengenai hal tersebut.

Ceritanya, mengenai Selma yang dilamar putra Pak Amien Rais, Haqy. Di sini, Selma masih dalam hubungan dengan kekasihnya Senna yang sedang melakukan pendidikan. Selma memutuskan untuk menikah dengan Haqy dan tentu saja meninggalkan Senna, dengan dalih wanita butuh kepastian.

Kisah ini mengingatkan saya dengan dua teman kuliah saya. Ceritanya hampir mirip dan memang mirip. Saya tidak akan menghakimi, mana pilihan yang tepat bagi Selma, meninggalkan Senna atau menunggu tanpa kapan tahu mereka akan menikah. Saya hanya akan bercerita mengenai dua teman kuliah saya.

Ketika kawan saya dilanda kebimbangan saat itu, dia bertanya kepada saya,”Kalau kamu jadi aku, siapa yang kamu pilih?”

Tanpa berpikir panjang, saya menjawab,”Orang yang saya kenal.”Tentu, yang saya maksud adalah pacar saya – kalau saya punya pacar.


Tetapi, itu jawaban saya dulu. Tanpa berpikir panjang dan tanpa benar-benar memposisikan diri saya sebagai kawan saya yang bimbang tersebut. Mungkin, saya juga akan menjadi Selma apabila di posisi dia atau saya akan tetap pada pilihan saya. Tidak ada yang tahu, karena saya tidak menglaminya sendiri.

Segala hal yang saya ungkapkan di sini, murni sekadar opini

Saya lupa kapan tepatnya hal itu terjadi, saat itu kami masih kuliah, masih jauh dari hari kelulusan. Bahkan, belum masuk semester di mana kami harus mengurus Tugas Akhir. Datanglah seseorang yang akan melamar teman saya tersebut, yang keadaannya teman saya masih memiliki kekasih di kampus.

Tentu, yang melamar itu seorang lelaki yang katanya – saya tidak tahu sendiri, makanya saya bilang katanya – sudah mapan, dewasa dan siap nikah. Setelah bertemu dengan lelaki itu, pikiran kawan saya berpaling. Bahkan, dia terlihat sangat bersemangat menanti hari di mana mereka akan menentukan hari lamaran.

Selang beberapa waktu, rencana tersebut tidak terjadi. Saya tidak tahu pasti apa alasannya. Yang saya dengar, ada masalah dengan si lelaki atau keluarga si lelaki yang kurang baik. Akhirnya, rencana dibatalkan.

Kawan saya yang kedua mengalami hal serupa, tetapi satu ini akhirnya mereka menikah. Bahkan, kawan saya sampai tidak meneruskan perjuangan kuliahnya demi membina rumah tangga. Sangat disayangkan, ya. Tapi, kembali lagi pada diri masing-masing. Pilihan hidup.

Pilihan Hidup

Apa yang ada dalam benak kalian ketika membaca dua kata di atas? Pilihan hidup. Apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika dua kata itu disebutkan? Beberapa waktu lalu, saya mengenal seseorang. Sudah lama sih, empat tahun mungkin. Dia ke mana-mana naik angkot, kendaraan umum. Entah jauh ataupun dekat. Saya pikir dia tidak bisa naik motor. Tetapi, saya salah. Dia bisa. Tapi, saya tidak tahu apa alasannya dia tidak mengendarai motor. Ada pula, kawan saya yang baru saya kenal. Dia pun serupa. Ke mana-mana naik kendaraan umum. Dia bilang tidak bisa naik motor, tapi sebenarnya bisa. Padahal dia laki-laki. Lagi-lagi, ini masalah pilihan hidup.

Hidup kita adalah milik kita

Menghakimi orang lain karena pilihan hidup mereka, yang menurut kita salah adalah sebuah keegoisan. Kekanankan menurut saya. Karena pilihan hidup yang kita pilih, belum tentu juga terbaik untuk kita dan benar menurut orang lain.

Ada kalanya kan, kita menyesali apa yang sudah kita pilih tahunan yang lalu. Padahal, ketika memilih dan berkata ya atau tidak, kita sangat yakin akan pilihan tersebut. Terkadang, kita sampai menginginkan mesin waktu untuk kembali ke titik tersebut dan mengubah pilihan dan berharap berubah pula nasib yang kita jalani saat ini.

Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan kita di tahun-tahun yang akan datang. Bahkan, apa yang akan terjadi pada detik berikutnya hidup kita pun, kita tak pernah tahu. Tentunya, kecuali Tuhan yang maha tahu.

Jadi, siapa kita yang seenak udel mengatakan pilihan orang lain sebuah kesalahan?

Perempuan butuh kepastian

Ehm,

Mengenai kasus Selma, sangat tidak adil rasanya apabila membandingkan isi otak Haqy dan Senna dalam satu ruang. Dalam satu keadaan yang jelas-jelas mereka berbeda jauh. Sama halnya seperti kekasih kawan-kawan saya, dan mereka yang akan melamar bermodalkan kemapanan. Di sisi lain, perempuan yang memiliki “goal” menikah muda pun tidak bisa disalahkan, terlebih lagi melihat kondisi dan stigma masyarakat di Indonesia mengenai perempuan yang diusia matang belum juga menikah. Maka, dalam kondisi ini tidak ada yang bisa disalahkan.

Belum usai saya menuliskan hal ini, lagi-lagi kawan saya ada yang memutuskan untuk meninggalkan kekasihnya dan menikah dengan orang lain. Bedanya, mereka sudah sama-sama bekerja, entah kenapa kekasihnya belum juga melamar dia – ya, saya sendiri juga tidak tahu kenapa -. Di sini, saya tidak menyalahkan keduanya, apalagi si perempuan. Kami – saya juga – sudah berusia di atas 25th, sudah cukup umur dan memang sudah waktunya menikah. Apalagi, memang sudah sama-sama bekerja. Nunggu apalagi?

Saya pikir, banyak perempuan yang meninggalkan kekasihnya karena orang lain, demi sebuah pernikahan. Tapi, kemarin saya mendengar cerita dari teman saya, dia putus dengan kekasihnya. Bukan karena dia akan menikah dengan orang lain, tetapi karena kekasihnya tidak bisa memberikan kepastian kapan dia akan melamarnya. Di sini, saya salut. Sangat. Sangat jarang perempuan yang berani mengambil keputusan dalam sebuah hubungan. Kebanyakan, mereka berani mengambil keputusan untuk berpisah karena sudah ada yang lain, yang lebih bisa memberikan sebuah kepastian.

Yap, kembali lagi pada pilihan hidup masing-masing. Banyak yang berkata, apa yang membuatmu bahagia, pertahankan dan apa yang membuatmu terluka, tinggalkan. Saya salut dengan perempuan-perempuan yang berani memilih bagaimana jalan hidup mereka, tak peduli dengan omongan orang lain. Saya lebih salut lagi dengan perempuan yang tak pernah takut sendirian dan meninggalkan apa yang membuatnya terluka. Meskipun, dia tak tahu bagaimana hidup dia selanjutnya setelah ia mengambil keputusan tersebut.



Ini dunia nyata, Guys, bukan sinetron. Kalau kalian mengikuti sinetron Berkah Cinta, si perempuan (maaf lupa namanya) lebih memilih Eros daripada Tama. Padahal, jelas-jelas si Tama memberikan segalanya kepada si perempuan – ya meskipun karakter si Tama dibunuh habis-habisan -. Coba saja di dunia nyata, pasti si perempuan bakalan lebih memilih Tama daripada Eros. Kalau saya pribadi sih, lebih memilih si Tama. Bukan karena dia kaya raya, tetapi karena dia lebih ganteng daripada Eros – xoxo.

Jadi, kalau kalian di posisi Selma, kalian akan memilih siapa?


3 comments:

  1. Kita nggak tahu ya dari Senna-nya juga gimana. Biasanya sih, kalau sampe kejadian gitu, ceweknya emang udah nggak sayang sama pacarnya. Kalau emang sayang, mau cowok lain ngedeketin kayak gimana juga gak bakal mempan. Karena yang namanya nyaman tuh susah Mbak menurutku buat dibangun lagi dari awal sama orang yang baru.


    Tapi terlepas dari itu, nggak tahu juga ya yang terjadi seperti apa. Saya udah pernah DM Selma, cuma di-read, abis itu dia ngadu ke temen saya dan bilang kalau saya ngritik. Padahal cuma bilang kalau urusan gitu mah gak usah di-share di socmed juga.

    Eh itu ngritik ya... Setidaknya kritik yang membangun ah. Kasian dia juga :)))

    ReplyDelete
  2. Kalo aku sih gak bisa mengandaikan kalau jadi Selma ya. Karena kan yg menjalani dia sendiri dan kita gak pernah tau apa pertimbangannya sih. Walaupun "pembelaan" dia itu kok kesannya maksa banget karena pake diumbar-umbar hehehe.

    Aku dan beberapa temanku mengalami nasa pacaran yang cukup lama. Menurutku wanita wajib menentukan target kapan dia harus menikah. Dan harus juga diutarakan ke pasangan. Jadi sama-sama tau, dan maaf-maaf saja kalau tidak sepakat sebaiknya kita mundur.

    Intinya sih komunikasi. Tapi aku gak tau deh kalo di pertengahan jalan misalnya ada yang melamar. Disitu logika harus berperan sih. Dan juga harus mempertimbangkan banyak hal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yg kurang sregnya kenapa alasannya diumbar, ke medsos pulak errr.

      Meninggalkan orang yg sdh lama dekat dgn kita, krn dia blm memberi kepastian...itu pasti juga berat buat kita sbg cewek, yg kebykan kan ce main perasaan hihihi. Kebykan yg ada malah putus nyambung putus nyambung, eaaa curcol.

      Tapi kalo udah diliat dr gelagatnya emg gk serius, ya ngapain jg diterusin. Buang2 waktu :D
      Balik lg, semua masalah timing menurutku, Dia Maha Tahu mana waktu yg tepat untuk kita eaaa uhuk.

      Delete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^