Jun 6, 2017

Kesalahan Saya Ketika Menjadi Seller Online Shop


Kesalahan Saya Ketika Menjadi Seller Online ShopSedikit cerita mengenai pertama kali saya berjualan online dan bisa dibilang cukup menjanjikan. Terlebih ketika itu saya masih menjalani masa kuliah, yang tentunya uang saku dari orangtua masih mengalir setiap bulannya. Sehingga, pendapatan dari online shop yang saya kerjakan benar-benar utuh untuk kantong pribadi. Sayangnya, saat itu saya mengalami “merasa kaya” sehingga menghambur-hamburkan uang tanpa berpikir panjang, uang tersebut akan tersedot habis.

Awalnya memang menyenangkan, berjualan tanpa modal hanya menggunakan alat komunikasi yaitu BBM. Uang mengalir setiap harinya, berkali-kali Blackberry saya berbunyi bernada sama, menandakan masuknya dana dalam rekening saya dan chat dari customer yang ingin membeli barang dagangan saya. Sayangnya, karena sifat boros yang saya miliki, uang yang saya hasilkan dari berjualan terbang begitu saja. Sekadar keluar masuk rekening dan bermutasi menjadi barang-barang yang akhirnya berakhir pada rongsokan dan gombal (red: baju tak terpakai).

Kesalahan fatal yang saya lakukan adalah mengira rejeki itu akan terus mengalir, sehingga saya tak ambil pusing ketika tabungan mulai menipis. Tidak bisa disebut sebagai tabungan juga sih, karena dana yang masuk tak lama menetap karena sesaat akan saya ambil. Sampai akhirnya, penghasilan dari online shop saya menurun, sampai benar-benar kering. Pada akhirnya, saya berhenti berjualan dan tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.


Ketika lulus kuliah, penyesalan pun datang. Saya ke sana kemari mencari pekerjaan, tetapi tak kunjung dapat. Justru penolakan sana sini, yang saya dapatkan. Alhasil, rekening saya benar-benar kering tak bersisa. Saat itulah saya mengingat betapa borosnya saya dahulu, ketika Allah memberikan rejeki berlimpah ruah, tapi saya tidak benar-benar menabung untuk keperluan masa depan.

Kini, saya menyadari pentingnya menabung – benar-benar menabung tanpa diambil lagi- untuk keperluan masa depan. Karena kesadaran itulah, saya sampai membuat tabungan berjangka, agar saya benar-benar memiliki tabungan bukan sekadar rekening tabungan yang menjadi halte dana saya.

Tentunya, saya menabung di bank karena tidak pakai ribet serta aman sentosa. Terlebih lagi, setiap nasabah bank dijamin oleh LPS – Lembaga Penjamin Simpanan.

Apa LPS itu?

LPS adalah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009.

Seperti yang saya sebutkan di atas, LPS menjamin setiap rekening sampai 2miliar. Sehingga, kita akan aman menabung di bank, tidak takut ketika bank gulung tikar kita akan kehilangan tabungan.

Jadi, ketika kita menabung di bank, secara otomatis tabungan kita dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). LPS adalah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (UU LPS) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2009. Seperti yang saya sebutkan di atas, LPS menjamin setiap rekening sampai 2miliar. Sehingga, kita akan aman menabung di bank, tidak takut ketika bank gulung tikar kita akan kehilangan tabungan.

Sebelum itu, kita harus tahu apa itu 3T.

3T merupakan Kriteria Simpanan Layak Bayar

1 | Tercatat dalam pembukuan Bank

2 | Tingkat bunga simpanan tidak melebihi tingkat bunga penjaminan


3 | Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank


Yuk ah, jangan mengulang kesalahan yang sama :)

1 comment:

  1. Saya juga pernah begitu,Mbak. Ngirit itu hal yg susah bagi saya. Hahaha.. Miris emang :D

    www.achmadrifaldo.com

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^