Oct 11, 2017

Maraknya Penipuan Berkedok Brosur Hadiah



Maraknya Penipuan Berkedok Brosur Hadiah - Orang cari kerja itu macam-macam. Dulu, saya pernah tertipu secara halus ketika wawancara kerja. Dari awal saya tahu kalau itu penipuan secara halus, entah kenapa saya tetap ngasih duit juga. Tidak banyak, sekitar Rp 30.000, tapi tetap saja uang segitu cukup banyak untuk ukuran pengangguran yang masih menggantungkan uang dari orangtua.

Ada beberapa hal (jenis) penipuan secara halus yang saya ketahui: pertama penipuan dengan wawancara kerja yang harus membayar biaya administrasi training kerja sebesar sekian (dulu saya 600rb) yang pada akhirnya apabila saya memberikan uang tersebut, pekerjaan saya adalah sama seperti yang dilakukan oleh pewawancara saya.

Kedua, penipuan halus berkedok mengelem benang teh celup. Cara kerjanya hampir sama dengan penipuan secara halus di atas. Kita ditawarin kerja paruh waktu mengelem teh celup dengan membayar sejumlah uang untuk biaya anggota, setelah mengelem teh beberapa kita tidak dapat bayaran, tetapi justru diminta membeli teh lagi. Lebih parah lagi, setelah itu kita tidak boleh mengelem teh lagi, sebelum mendapatkan anggota baru.


Ketiga, bakalan ada sales yang datang ke rumah-rumah, menawarkan produk secara gratis atau dengan membeli kupon. Kita diiming-iming hadiah besar yang akan diundi. Sebagai ganti, hadiah hiburan kita akan diberikan produk semacam jam tangan dan akan dihubungi apabila mendapatkan hadiah yang akan diundi. Kejadian ini dialami oleh tetangga saya sendiri. Tentu saja, tetangga saya tidak mendapatkan apa-apa selain jam tangan tersebut.

Keempat, ini sering saya alami ketika jalan-jalan ke mal, saya ditawarin brosur katanya berisi nomor undian. Kalau ada nomor yang sesuai dengan kode hadiah, maka saya akan mendapatkan hadiah tersebut secara cuma-cuma. Tapi, ujung-ujungnya disuruh bayar juga. Kejadian ini, juga dialami oleh teman indekos saya. Baru saja semalam dia mengalami hal tersebut. Beruntung, waktu saya mengalami dulu saya masih mahasiswa yang notabene tidak punya uang. Sehingga, biarpun saya tergiur dengan barang-barang atau hadiah yang ditawarkan, saya akan tetap tak bisa ditipu – xoxo.
Teman satu kos saya ditawari brosur seperti yang saya alami, lalu dia diminta membayar administrasi sebesar Rp. 1.350.000, untuk menebus satu set slimming suit dan catokan rambut. Teman saya sudah berkata tidak punya uang cash, tetapi dengan bodohnya dia menurut ketika diminta ambil uangnya di ATM. Sampai kosan dia jerit-jerit katanya uangnya hilang.

Dia seperti orang kebingungan begitu, sampai-sampai ada salah satu pegawai di mal tersebut memanggilnya dan menyadarkan dia kalau dia sedang ditipu secara halus. Sayangnya, dia sudah menerima barang dan kehilangan uang tersebut. Teman saya sempat meminta kembali uangnya, tetapi sales keukeh tidak bisa dikembalikan.

Ah, saya kesal sekali dengan orang-orang yang menjebak kita dalam modus semacam ini. Ya, mungkin mereka terjebak juga lantaran susahnya cari kerja. Tetapi, mau sampai kapan modus semacam ini merajalela? Kita menuntut pun tak bisa, karena mau diusut bagaimana juga ini bukan penipuan karena kita mendapatkan barang. Padahal, barang-barang tersebut amat murah. Slimming Suit yang diterima teman saya seharga 100k-250k saja dan tentu saja itu palsu. Catokannya apalagi, beh sebentar juga bakalan rusak.

Ini buat pengalaman kita bersama saja sih, agar lebih berhati-hati dengan oknum semacam ini. Teman saya ini baru ngekos di Surabaya dan mengenal “kota” sehingga kurang paham dengan hal semacam ini.


No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^