Nov 10, 2017

Ketika Patah Hati di Usia "Siap Nikah"


Ketika Patah Hati di Usia "Siap Nikah"Aroma kopi menguar di seluruh ruangan kecil yang saya jadikan kamar tidur sekaligus ruang kerja. Saya, selalu sarapan sebelum pukul sembilan pagi. Entah sarapan berat atau sekadar secangkir kopi, dengan mug yang berbeda setiap harinya. Terkadang, saya hanya memakai mug berkelir putih dengan quote berwarna hitam hadiah dari salah satu toko buku online. Mug tersebut, menjadi salah satu mug favorit.

Kesenangan tersendiri bagi saya, menulis pagi hari dengan cangkir kopi berada di sisi kanan komputer jinjing dan lagu-lagu klasik ataupun lagu jazz berputar dari youtube. Suara speaker pun membantu mood menulis saya setiap pagi.

Saya menikmati kehidupan saya seperti ini. Menulis, menghasilkan uang, menghabiskan uang, menabung, beristirahat dan fokus pada passion. Tak ada hal lain, apalagi cinta. Saya, sudah melupakan satu komponen tersebut terlalu lama. Bahkan, di usia siap nikah pun, saya masih mengenyampingkannya.

Kemudian, cinta hadir kembali. Dari orang yang sama di masa lalu. Bukan dia, tetapi cinta itu.


Saya mengenalnya selama bertahun-tahun, bukan satu dua tahun, tetapi bertahun-tahun. Saya mengenalnya sejak duduk di bangku SMA, dia teman lelaki yang pendiam dengan banyak pemikiran-pemikiran yang mungkin bila orang lain mengetahuinya, mereka akan mengerutkan dahi. Pertemanan kami didominasi lewat pesan-pesan singkat, curhatan, dan diskusi absurd namun berbobot. Terkadang, saya lelah apabila diajak berdiskusi terlalu panjang hingga memaksa saya untuk berpikir keras, namun sekarang saya merindukannya.

Di saat-saat saya meminta sama Tuhan untuk menghadirkan seseorang yang mampu membuat saya tenang, membuat saya percaya dan membuat saya tetap merasa baik-baik saja. Dia hadir menawarkan harapan untuk mewujudkan impian hampir setiap wanita, pernikahan. Kami dekat, lebih sekadar kawan, rutinitas kami pun mulai terjadi pergeseran. Awalnya sekadar lewat pesan singkat, kini berubah menjadi pertemuan secara langsung.

Saya mengingat, sejak hubungan kami mulai intens, kami hanya bertemu dua kali, di tempat yang sama. Pertemuan pertama kami menghabiskan waktu mengobrol, pertemuan kedua pun mengobrol sembari menyantap bubur ayam di tempat kami menuntut ilmu dahulu.

Seperti kebanyakan perempuan, pun saya berharap hubungan kami terus membaik, berkembang dan berakhir bahagia. Sayangnya, saya lupa segala hal di bumi, dunia ini terjadi atas kehendak-Nya. Kami pun memutuskan berpisah, karena sesuatu hal yang tak bisa kami perjuangkan atau lebih tepatnya hal yang tak bisa ia perjuangkan.

Tak ada yang bisa saya lakukan lagi, selain menerima. Berusaha ikhlas dan menganggap semua baik-baik saja. Meskipun pada kenyataannya, saya tidak baik-baik saja.

Mungkin terlalu cepat saya memaksakan diri untuk segera berkata ikhlas, untuk melupakan perasaan yang terlanjur terbangun kembali, menganggap semua baik-baik saja dan berusaha kembali ke rutinitas sebelum dia hadir. Mungkin, saya terlalu sombong karena menganggap hati saya kuat untuk tetap bertahan, memaksa senyum hadir di setiap tawa. Kenyataannya, ada di suatu titik, saya sangat merindukannya.

Teramat rindu, hingga membuat saya menyalahkan segala hal yang terjadi kepada saya, karena kehadirannya.

Saya tak pernah memintanya untuk hadir.

Patah hati di usia siap nikah, sungguh membuat saya sulit untuk melangkah. Mbak Tikha berkata, berapapun usiamu ketika patah hati, rasanya akan tetap sama. Saya menjawab, berbeda. Dulu, ketika patah hati, saya tidak merasa sekosong ini. Di usia sekarang, ketika patah hati saya dituntut untuk menjadi dewasa dengan cepat menerima keputusan yang di luar kendali saya. Langsung berkata iya, ketika didekati dan langsung berkata ikhlas ketika ditinggalkan.

Beberapa tahun lalu, ketika saya patah hari seorang teman berkata,”Nggak apa-apa, itu membuatmu lebih dewasa.” Sekarang, ketika saya merasa sudah dewasa, patah hati membuat saya merasa “Meh?”terlebih lagi, patah hati yang saya rasakan ini pada orang yang seringkali menjadi kawan curhat serta seseorang yang membuat hati saya tenang.

Sungguh, saya benar-benar merasa kehilangan dan ... entahlah.

Di luar sana, orang-orang berangkat bekerja, menerjang lalu lintas yang selalu macet, berpanas-panasan, dimarahi atasan, pulang, beberapa lagi orang saling mengikat janji, menjalani segala rutinitas dan waktu terus maju. Saya, di sini dilanda kebingungan. Jalan di tempat, tanpa tahu harus ke mana.

Sampai akhirnya, saya meminta kepada orangtua, saya ingin indekos. Memulai hidup baru, menerima pekerjaan baru, bertemu orang-orang baru, berkenalan dengan seseorang, menonton, meningkatkan kualitas diri, mengikuti segala kegiatan dan membahagiakan diri. Berharap, dengan begitu dia akan pergi dengan sendirinya.

Tapi, saya tetap merasa kosong.

Hanya terdengar gema dalam ruangan gelap, berdebu dan mencipta sesak.

Seakan pada bagian kita pernah saling berharap, tak pernah ada.



14 comments:

  1. Disaat ada sang pengganti. Pasti rasa kekosongan itu akan hilang dengan sendirinya. Tapi pastikan bahwa sang pengganti bukanlah hanya sekedar pelarian atas hati yang sedang kosong. Semangat dan terus berusaha😘

    ReplyDelete
  2. Aku juga lagi merasakan kekosongan nih,
    Untungnya aku ga sedang patah hati,
    jadi penderitaanku yang terlalu double hhh.
    Mulai sekarang kita memantaskan diri saja ya,
    InsyaAllah someone special akan datang dengan sendirinya :)

    ReplyDelete
  3. Dear Wulan.....patah hati memang akan selalu menyakitkan (di usia berapapun),,,bersyukurlah karena masih bisa jatuh hati, meski belum berjodoh. Ada banyak kisah patah hati yg mungkin lebih mengenaskan (kaya gue, yg putus di saat mau nikah, LOL. Drama lalu jatuh cinta ma beda agama, patah lagi #CurcolAlert),,,Setelah beberapa minggu you will be getting stronger, wiser, Itu pasti... Keep believe in love ya :D

    ReplyDelete
  4. Semangat mb wulan, :) Semua akan indah pada waktunya

    ReplyDelete
  5. Y berarti jodohnya bukan dia..
    Ntar psati juga bakal ketemu jodohnya kok..

    Emang awal-awalnya perih, apalagi kalo ditinggal nikah..
    Tapi lama-lama juga sembuh..

    ReplyDelete
  6. Mungkin Tuhan sedang menyiapkan seseorang yang lebih baik darinya, dek. Yakin bahwa "saat" itu akan tiba *sok bijak euy :p

    ReplyDelete
  7. syemangaadd wulan..jalan2 kesini aja yuukkk hehe

    ReplyDelete
  8. Be strong mbak. Sakit, sakit memang. Tetapi tetap harus bertahan. Lebih deket ke Allah. Dan minta supaya segera dipertemukan dengan lelaki yang tepat. Menyembuhkan hati memang susah namun bisa dilakukan. Tetap semangat mbak...

    ReplyDelete
  9. Semangat, semoga diberi yg terbaik

    ReplyDelete
  10. Semangat yaaa...
    Saya jg gitu...udah pacaran berabad2 eh putus di masa2 kami udah merencanakan menikah. Ini tanda Allah sayang, gak mau saya bersama orang yg kurang tepat. Nyatanya 2 tahun kemudian saya nikah dg orang yg sangat sayang sama saya. Dia gak masalah dg masa lalu saya. Dia percaya dg saya. Itu yg terpenting 😊
    Saya doakan kamu segera bertemu dg yg terbaik

    ReplyDelete
  11. Biss merasakan patah hati patut disyukuri karena tandanya masih punya hati ;)

    ReplyDelete
  12. Mm, saya belom pernah merasakan yg Mbak Wulan alami sih. Tapi bertemu suami saya, bikin saya bilang, "Allah selalu punya caranya sendiri untuk mempertemukan kita dengan si dia."

    Sebelum bertemu sih, saya banyak maen dengan para sahabat. Jadilah hidup tidak terasa kosong.

    Semangat Mbak..!

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^