Nov 4, 2017

Menikah itu Nasib, Mencintai itu Takdir



“Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu dapat berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa...” – Sujiwo Tejo

Mereka berkata, jodoh dan cinta itu dua hal yang berbeda. Kamu bisa menikah dengan seseorang yang tidak kamu cintai, tetapi kamu belum tentu bisa menikah dengan orang yang kamu cintai. Seperti kata Sujiwo Tejo,” Bahwa menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu dapat berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa rencanakan cintamu untuk siapa...” Mereka bilang, cinta bisa datang dengan sendirinya setelah pernikahan. Seperti kata pepatah jawa, tresno jalaran soko kulino.

Pertanyaannya, bagaimana jika setelah bertahun-tahun menikah ternyata cinta itu tak kunjung hadir?

Di Indonesia, pernikahan menjadi tujuan hidup hampir semua individu, terutama perempuan. Bagi perempuan, pernikahan adalah cita-cita. Sesuatu hal yang harus terjadi kepadanya, tolak ukur harga dirinya. Terkadang, ada beberapa orang yang kebelet nikah, karena dikejar usia. Seperti yang kita sama-sama tahu, ada penelitian-penelitian atau lebih buruk lagi, stigma di masyarakat mengenai perempuan yang sudah siap nikah tetapi tidak menikah-menikah. Ada usia sebagai tolak ukur, berkualitasnya seorang perempuan dari usia berapa mereka menikah. Siapa yang menikahinya serta stigma-stigma yang membuat perempuan harus menahan diri  tidak berkarier, sekadar untuk memuaskan orang sekitar.

Dan terjadilah, pernikahan tanpa cinta. Pernikahan karena memang sudah saatnya menikah. Pernikahan karena lelah dengan cemooh orang sekitar. Pernikahan karena “tidak tahu lagi harus ke mana lagi hidup ini”.

Oke. Kalau kalian menikah tanpa cinta. Tetapi, secara tidak sadar ketika memutuskan menikah dengan seseorang, ada rasa yang mendominasi. Rasa percaya, bahwa nantinya dia mampu membahagiakanmu. Rasa nyaman. Rasa aman. Rasa-rasa itulah, yang muncul ketika memutuskan untuk menikah dengan seseorang, meskipun kalian menganggap itu bukan cinta. Kenyataannya, tanpa disadari awal mula perasaan cinta itu muncul karena rasa-rasa yang mendominasi tersebut.

Saya tidak percaya, ketika memutuskan untuk menikah sama sekali tidak ada perasaan-perasaan tersebut. Bagaimana mungkin kita memutuskan untuk mengikat janji dengan seseorang seumur hidup, apabila tidak ada rasa percaya, nyaman dan aman?

Pada kenyataannya, perasaan-perasaan yang mendominasi ketika memutuskan menikah dengan seseorang itulah, perasaan awal yang nantinya akan menjelma menjadi rasa sayang. Dan pada akhirnya, cinta itu hadir.

Terutama bagi seorang perempuan, bagaimana mungkin bisa mempercayakan hidupnya kepada lelaki (menggantikan ayahnya) untuk menjaganya. Menuntunnya dan menjamin kehidupannya, apabila lelaki tersebut bukan lelaki yang ia percaya bisa melakukan hal tersebut?

Saya memang mengedepankan perasaan cinta dalam sebuah hubungan, saya percaya dengan adanya cinta dan kita mau terus menerus mempertahankannya, maka hubungan tersebut akan terus bertahan. Tetapi, saya juga percaya cinta akan hadir dengan sendirinya karena kita berusaha untuk menghadirkannya. Dengan syarat, modal awal untuk menghadirkan perasaan tersebut adalah dengan adanya rasa percaya, aman dan nyaman. Terlebih lagi, saya merupakan orang yang moody banget, sehingga sulit sekali dipaksa untuk menerima sesuatu bila hal tersebut tidak nyaman.

Jadi, jodoh dan cinta itu memang dua hal yang berbeda. Tetapi, bukan berarti kita bisa sembarangan memutuskan untuk hidup bersama seseorang, bila ia tak bisa kita percayai.

Karena alasan tersebutlah, beberapa waktu lalu saya mau didekati oleh seorang kawan lama. Saya sudah mengenal dia hampir pada masa muda kami dan memang sejak awal, saya merasa nyaman dengannya (atau mungkin memang sudah sayang). Meskipun, pada akhirnya kami memutuskan untuk berhenti. Mungkin karena dia belum percaya kepada saya atau mungkin rasa percayanya kepada saya belum kuat.

Kawan saya berkata, kalau jodoh seribu perbedaan pun akan tetap bisa bersatu. Akan ada satu alasan kuat kenapa kita harus bersama. Kalau belum jodoh, persamaan sebanyak apa pun, pasti akan ada satu alasan kenapa kita harus berpisah.

Entah soal jodoh atau cinta, akan ada faktor-faktor lain yang mendukungnya. Entah kita menyadarinya atau tidak, faktor-faktor tersebut adalah penguat dari sebuah hubungan. Mau jodoh karena cinta atau tanpa cinta, jangan sampai kita mendominasi hidup hanya untuk mengejar sesuatu yang Allah sudah gariskan.

Jangan sampai, karena satu hal yang belum kita dapatkan, kita terus fokus pada hal tersebut sampai-sampai melepas hal yang lain. Karena hidup, bukan mengenai jodoh saja. Tetapi, ada hal-hal lain yang mendominasinya pula.



2 comments:

  1. Kata orang jodoh itu terkadang tidak datang dengan sendirinya, tapi kita juga harus ikhtiar untuk mendapatkannya...

    ReplyDelete
  2. Jawaban dari "Pertanyaannya, bagaimana jika setelah bertahun-tahun menikah ternyata cinta itu tak kunjung hadir?" menurut saya adalah ya tidak apa-apa. Kemungkinan tersebut bisa terjadi. Itu adalah resiko pernikahan. Sebagaimana setiap orang yang makan belum tentu akan merasa kenyang.

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^