Wulan Kenanga

Lifestyle Blogger, Penulis Melankolis,

30 Des 2017

Food Photography Mudah? Hmmm



Food Photography Mudah? HmmmSaya pernah membahas mengenai pengalaman pertama menjadi food photographer di sini. Siapa sangka, pengalaman saya tersebut banyak yang berkomentar, mengatakan saya keren, hebat, panutan dan manis. Padahal, saya sama sekali tidak demikian. Tidak seperti kelihatannya. Yang keren ke mana-mana bawa Etro (kamera), kerjaannya pencet-pencetin shutter, dari cafe to cafe, hidup hedon atau apalah-apalah. Tidak seenak kelihatannya, Guys.

Dunia fotografi merupakan hal baru bagi saya, apalagi fotografi makanan. Teman-teman tahu sendiri, saya lebih suka memotret cangkir, benda-benda lucu dan flatlay. Soal foto makanan, saya benar-benar nol, selalu memotret asal-asalan tak pernah mengerti mana fokus utama sebuah makanan untuk dipertontonkan pada penikmat foto.

Ketika kali pertama melamar kerja menjadi fotografi lepas di Hngry, foto-foto saya dikomentari bahwa terlalu berantakan dan tidak fokus. Dulu, saya merasa foto saya tidak ada masalah, sekarang saya melihat jauh perbedaannya. Tentu, ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan foto yang sesuai. Dan, ternyata melakoni food photography itu tidak mudah.


Pertama, harga yang harus kamu bayar adalah kamu harus rela bertambah gemuk dan identik dengan makanan. Orang ketika melihatmu, bakalan langsung memikirkan makanan. Padahal, saya berencana untuk menurunkan berat badan. Teman-teman tahu sendiri, di blog saya ini banyak tips menurunkan berat badan dan hal-hal lain mengenai kesehatan yang tak jauh-jauh dari itu.

Kedua, mengenai warna atau tone foto makanan. Biasanya, saya memotret flatlay, asal cerah dengan background putih maka tidak akan pernah gagal, seburuk apa pun kita menata properti di atas alas foto. Tapi, untuk makanan, ada saja yang salah meskipun kita menggunakan background atau properti berwarna putih. Ada hal yang harus diperhatikan, apakah tone foto tersebut bagus? Tidak kuning? Bisa dibayangkan bagaimana orang tertarik dengan foto makanan yang kuning. Hal yang sering terjadi ketika saya memotret di rumah makan dengan pencahayaan kuning. Benar-benar problematika hidup seorang fotografer.

Ketiga, apa yang kamu tonjolkan dari sebuah foto makanan?

Lauk?

Nasi?

Kerupuk?

Atau, sambal?

Ketika baru menggeluti dunia fotografi makanan, saya sama sekali tidak memperhatikan hal tersebut. Sampai salah satu kawan saya, yang sama sekali tidak mengerti mengenai fotografi makanan, saya mintai pendapat mengenai foto saya. Kebetulan, dia seorang yang kritis terhadap sesuatu. Ketika saya menyerahkan beberapa foto, salah satunya dia bilang, “Ini yang pertama kali aku lihat tahu. Nggak selera. Tahu, ya rasa tahu.” Padahal, itu foto nasi cumi, tapi dia fokus ke tahu karena tahu balado berada di depan dan menjadi fokus dia.




Berkali-kali, atasan saya berkata, “Bikin foto yang bisa membuat orang lain ngiler.” Ya, ini mengenai sudut pandang bagaimana kita melihat sebuah foto makanan dan membuat orang lain ngiler dengan foto tersebut. Ini sangat penting, karena akan mengundang orang lain untuk tahu.

Ini berat. Sungguh. Ketika saya memotret, saya selalu ingin makan makanan tersebut karena memang berada di depan mata saya. Jadi, sudut pandang saya sangat berbeda dengan orang awam yang melihatnya melalui foto.

Apa yang tak bisa dilihat dari seorang fotografer, terkadang bisa terlihat oleh orang lain. Apa yang tak bisa dilihat oleh orang lain – bukan seorang fotografer makanan – akan terlihat oleh fotografer makanan.

Keempat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mengambil sebuah foto. Oke, kalau sudut pandang pengambilan sudah baik, bagus. Tetapi, bagaimana dengan background? Saya pernah menyesal sekali ketika ke warung kaki lima dengan pencahayaan apa adanya. Saya memilih duduk di dekat lampu. Oke, pencahayaan sudah teratasi, tetapi yang bikin sedih adalah background foto yang nggak banget. Alas meja yang saya gunakan kotor. Ketika memotret, hal tersebut terlihat biasa saja, tetapi ketika sudah masuk ke laptop otomatis foto itu menjadi jelas. Maka, alas meja yang kotor terlihat jelas.

Sungguh, itu adalah sebuah malapetaka.

Makanan dan kotor, tidak boleh dalam satu ruang lingkup meskipun itu ada di sebuah foto.

Itulah beberapa hal yang harus diperhatikan ketika memotret sebuah makanan, belum banyak yang saya tahu, maka ini saja dulu yang saya bagikan. Kapan-kapan akan saya share kembali pengalaman memotret saya yang luar biasa.


Sampai jumpa!

9 komentar:

  1. Kalau foto makanan, aku selalu minta tolong orang sih. Soalnya kalau aku yang foto, kurang bagus hasilnya. hehehehe :D Ternyata memang harus mengandalkan kreatifitas yang tinggi. :D

    BalasHapus
  2. Entah kenapa saya nggak suka motret benda mati ya apalagi makanan

    BalasHapus
  3. aku kalau moto makanan kurang artistik, apa adanya hahahaa karena ga sabar pengen cicip XD hahahaaa

    BalasHapus
  4. Berat banget ya mbaaaa, bikin ngiler :D aku cuma pernah project di rumah. Cukup membuat otak bekerja, tapi so much fun..

    BalasHapus
  5. Aku jg ga kuat pengen langsung dimaem. Salut deh sama food blogger yang bisa foto cakep dulu.

    BalasHapus
  6. Belum sempat ke foto, makanannya uda habis duluan kalo saya mbak.. huhuhu

    BalasHapus
  7. Ini yang bikin makanan mesti dicekrek ber-kali2, haha... Karena saya memang masih belajar. Terus share ilmunya ya,Mba. Saya ikut belajar 😁

    BalasHapus
  8. Boleh juga nih dicoba food photography nya, nyoba beberapa genre fotografi itu asik :)

    BalasHapus
  9. wah hrs banyak belajar ini, aku sih suaknya asal jepret saja ya, gak kuat mau makannya saja

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^