Wulan Kenanga

Lifestyle Blogger, Penulis Melankolis,

30 Jul 2018

Pengalaman Menjadi Relawan Dokumentator, Kelas Inspirasi Surabaya (1)



“Lan, ikut KI, yuk.”

Begitu isi pesan dari salah satu teman via Whatsapp. Dia adalah fasilitator di Kelas Inspirasi Surabaya. Kebetulan, Kelas Inspirasi Surabaya 5 akan segera tiba. Dia mengirimi saya pada bulan Mei lalu.

“Kira-kira aku bagian apa?”tanyaku. Dia mengirimiku sebuah banner, yang berisi mengenai relawan pengajar dan dokumentator.

“Silakan pilih,”ketiknya lagi.

“Karena aku nggak cakap dalam bicara, maybe lebih cocok jadi dokumentator.”

Sebenarnya, saya sudah tahu mengenai pembukaan relawan di Kelas Inspirasi Surabaya ini, sebelum dia mengajak saya. Tapi, saya masih berpikir mau ikutan atau tidak. Maklum, saya tipe-tipe perempuan introvert, yang apa-apa harus dipikir berkali-kali, apalagi soal bertemu dengan orang-orang baru. Bahkan, meskipun saya akhirnya mendaftarkan diri, saya mendaftarkan nama saya pada hari terakhir pendaftaran.

Eyaaa.....

Dan ya, pada akhirnya saya terpilih menjadi salah satu relawan dokumentator Kelas Inspirasi Surabaya 5. Yeah!

Senang? Nggak juga.

Haha...

Saya sudah bilang di atas, saya cenderung mencemaskan hal-hal yang tak semestinya dicemaskan. Saya meyakinkan diri sendiri, bahwa ini akan menyenangkan. Bertemu dengan anak-anak, bertemu dengan teman-teman baru dan menambah pengalaman dalam hidup.

Sekali seumur hidup, Lan, lakukanlah hal yang tak akan kamu sesali kelak.

Sampai akhirnya, usai lebaran, seseorang fasilitator KIS5 mengirimi saya pesan, meminta ijin untuk memasukkan saya ke dalam grup Whatsapp. Saya pun mengiyakan, karena memang sudah keputusan saya untuk ikut. Saya tidak boleh mundur. Tidak boleh.

Tapiii, saya ingin mengundurkan diri...

Singkat cerita, di dalam grup tersebut kami (atau lebih tepatnya mereka, karena saya lebih banyak pasif) membahas mengenai apa saja yang akan kami lakukan di sekolah nantinya. Ah iya, saya mendapatkan tugas di SD Islam Al-Furqon Surabaya, yang terletak di dekat jembatan Suramadu. Ah, cukup jauh juga, pikir saya waktu itu.

Dalam kurun waktu sebulan kami membicarakan hal ini, tentunya hanya melalui grup whatsapp. Mulai dari pemilihan ketua, pembukaan dan penutupkan ketika acara, serta mengenai apa yang akan kita berikan kepada sekolah sebagai kenang-kenangan.

Briefing

Dan tibalah waktunya briefing. Briefing dilakukan di Gedung Siola, Surabaya pada tanggal 21 Juli 2018. Sekitar pukul sepuluh pagi, briefing dimulai. Kami diajak joged-joged, terus diberitahu mengenai sejarah Kelas Inspirasi. Jadi, Kelas Inspirasi ini merupakan program dari Indonesia Mengajar. Kita tahu dan kita sadar betul, ketika dahulu kita berada di sekolah dasar dan ditanya cita-citanya mau jadi apa? Pasti dijawab dokter, polisi, dan guru. Karena apa? Karena mereka tidak tahu bidang pekerjaan lain.

Pengalaman saya sendiri, saya masih ingat dulu saya ingin menjadi dokter, yah, meskipun waktu itu saya sudah suka membaca dan menulis. Saya tidak tahu bidang pekerjaan lain, selain dokter, polisi, guru dan petani.

Padahal kita tahu, ketika lulus SMA nanti akan ada bidang-bidang yang bisa kita pilih, jurusan pada perguruan tinggi yang tak pernah terbayangkan semasa sekolah dasar. Dan, ketika lulus kuliah pun, apa yang kita geluti selama ini, tidak selalu menjadi pekerjaan utama kita. Yah, begitulah.

Berdasarkan latar belakang tersebutlah, Kelas Inspirasi lahir.

Kelas Inspirasi tak hanya ada di Surabaya, pun ada di beberapa kota di Jawa Timur dan propinsi lainnya. Di Kediri, Sidoarjo, Semarang dan kota lainnya. Di Surabaya sendiri, Kelas Inspirasi sudah memasukki tahun kelima di tahun 2018 ini.

Briefing berlanjut dengan dibaginya para relawan pengajar dan dokumentator. Kami diberikan penjelasan mengenai apa saja yang harus diperhatikan selama menjadi dokumentator, berapa foto yang harus dikumpulkan dan beberapa mekanisme lainnya.

Sebenarnya, tak semua relawan pengajar maupun dokumentator datang ketika briefing ini. Tak masalah sih, karena kami sudah dibekali dengan modul masing-masing “jabatan” via surat elektronik sebelum briefing. Tapi, saya yang belum pernah mengikuti Kelas Inspirasi, merasa sangat perlu datang ketika briefing, agar saat Kelas Inspirasi nanti saya tahu apa yang harus saya lakukan. Dan, yang paling penting, saya bisa bercerita kepada teman-teman mengenai briefing Kelas Inspirasi lewat blog ini, xoxo.




Dari briefing yang saya dapatkan, saya jadi lebih fokus kepada ekspresi anak-anak, apa yang mereka lakukan dan kegiatan Kelas Inspirasi sendiri. Usai briefing, paling tidak saya tahu ketika hari H nanti apa yang harus saya lakukan dan bagaimana saya bisa “membekukan kenangan” dengan Etro.

Kelas Inspirasi Surabaya – SD Al Furqon

Kami janji temu di pom bensin di sekitar lokasi sekolah. Saya dari indekos berangkat pukul lima kurang 7-10 menit, karena jam bertemu adalah jam 6 pagi. Jam masuk sekolah SD Al Furqon adalah jam setengah tujuh pagi. Ketika berangkat sepagi ini, ingatan saya kembali ke masa-masa silam, ketika berangkat sekolah. Entah kenapa, setelah sekian lama tidak buru-buru bangun pagi untuk sekolah, saya benar-benar malas. Sampai-sampai saya kepikiran untuk membuat alasan biar tidak ikutan- xoxo.

Alhamdulillah, karena tidak ingin mengecewakan teman satu rombel dan mengkhianati diri sendiri, saya tetap berangkat dengan naik motor berkecepatan 40-60Km/jam. Percayalah, saya tak pernah mengebut. Beruntung karena masih gelap, jalanan tidak macet dan ramai seperti ketika siang hari.
Lokasi SD Al Furqon berada di sekitar jembatan Suramadu, lebih tepatnya di Bulak Rukem Timur, Surabaya. Dari indekos saya (Waru, Sidoarjo), saya melewati Rungkut, kemudian masuk ke jalan Dr.  Ir. H. Soekarno itu lurus sampai ujung, kemudian belok ke kiri. Nah, pada lampu merah kedua (kalau tidak salah) itu belok ke kanan.

Saya pikir, saya akan telat sampai di lokasi pertemuan atau paling tidak melebihi jam 6 pagi, pada kenyataannya saya datang lebih awal di lokasi. Kira-kira jam 6 kurang seperempat. Akhirnya, saya mencari Indomaret terdekat untuk membeli minum dan menunggu teman-teman yang lain datang.

Pada Kelas Inspirasi ini saya mengenal Indri, dosen di institut di Mojokerto. Ternyata, rumah kami dekat dan satu angkatan di Unesa. Haha. Saya juga bekenalan dengan Aya, Septi dari Bali, Mbak Leila – Pembuat Film, Aziel, Erika, Mbak Shabrina, Mas Adi, Ilham dan Whinny. Yah, kami memiliki latar belakang yang berbeda, bukan lagi teman satu sekolah yang satu jago matematika, lainnya jago fisika. Tapi, kami ahli dalam bidang masing-masing dan saya merasa beruntung menjadi salah satu dari bagian ini.

Pukul 6 lebih, kami melanjutkan perjalanan ke SD Al Furqon. Dari pom bensin lurus, kemudian belok ke arah kiri. Tak lama kemudian, belok ke kanan, ke arah gang. Di sini, tidak bisa dimasukkin mobil, karena sempit. Tak lama, kami bertemu dengan satu bangunan dengan tiga tingkat. Ya, inilah SD Al Furqon.

Sesampainya di sekolah SD Al Furqon, kami disambut para guru dan diarahkan ke sebuah ruangan di lantai dasar, kami mempersiapkan perlatan kami – saya mengeluarkan Etro, memakai nametag dan pin – setelah itu, kami keluar ruangan, ke halaman sekolah.

Halaman sekolah SD Al Furqon, tak terlalu besar, tetapi cukup menampung 150 siswa. Sebenarnya, sekolah ini tidak pernah melakukan upacara bendera maupun apel, tapi atas permintaan kami, SD Al Furqon melaksanakan apel pagi. Tentunya, beberapa petugas apel dari para relawan pengajar. Sedangkan, saya, Aya, Mas Adi selaku fotografer dan Erika videografer mengabadikan kenangan.

Dan, kegiatan Kelas Inspirasi Surabaya pun dimulai....


9 komentar:

  1. Sejak pertama kali ada aku tertarik sama Kelas Inspirasi tapi soal public speaking aku payah nih. Nah kepikiran juga buat jadi relawan dokumentasi, tapi kayaknya tahun ini skip dulu. AKu masih sibuk, takut bentrok. Padahal seru, ya. Seneng deh sama semangat temen-temen KI :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mbaak, aku pilih dokumentator juga karena payah public speaking

      Hapus
  2. tipikal introvert yah...

    http://www.climate4life.info

    BalasHapus
  3. yang bagus itu kalau foto diambil secara natural tanpa anak disuruh foto , paling suka lht kepolosan anak saat mereka gak tahu kalau difoto

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, tapi beberapa pas saya arahin kamera langsung bergaya huehehehe

      Hapus
  4. Seru ya kelas Inspirasiya :) anal-anaknya juga lucu-lucu semua. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, sedikit ngeselin juga xoxo

      Hapus
  5. Keren jadi relawan dokumentator, suka melihat foto-foto anak-anak yang seringkali tingkahnya polos dan ekspresif...

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^