Karena Cemburu Bukan Hanya Untuk Kekasih | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Karena Cemburu Bukan Hanya Untuk Kekasih
Jan 19, 2012

Karena Cemburu Bukan Hanya Untuk Kekasih

Aku mencari inspirasi dalam derasnya hujan, teriknya matahari dan gersangnya gurun pasir. Namun, tak kutemukan. Harus kucari kemana lagi bintang dan bulan yang temaniku dimalam hari, melindungiku dari panasnya dunia fana. Apa yang harus aku lakukan untuk menaklukan hatimu yang sekuat baja, tak bergeming walaupun langit tak lagi mau berteman denganmu.
Kau selalu bilang aku kesepian, tak terjamah cinta dalam hidupku, tapi mengapa kamu tak berusaha untuk membunuh kesepian ini. Oh ya, siapa aku ini? Hanya setangkai bunga rumput, yang menginginkan menjadi sekelopak bunga mawar.
Aku selalu memperhatikan tiap inci dalam hidupmu, tiap jalur gerak hidupmu dan tiap sudut sisi gelapmu. Adakah kamu mengetahuinya? Setiap inci senyummu memberiku sejuta pesona kebahagiaan. Dan taukah kamu jika senyummu itu kau palingkan dariku, akan bias membunuhku tanpa doa pengampunan.
Ini salahmu!! Kamu yang membuatku jatuh kedalam lembah duniamu dan lebih jatuh lagi saat kamu menghempaskanku, mengusirku!!
Setiap malam-malamku kamu hadir menemani tidurku, tapi kamu tak pernah mengijinkan diriku menemanimu, menjagamu. Dan saat pagi hai aku harus menelan kenyataan pahit, karena (masih) tidak ada kamu disisiku.
Seandainya aku bisa hidup dalam dunia mimpi , layaknya Leonardo DiCaprio, yang bisa menyeting semua moment yang ia inginkan, aku akan menciptakan duniaku sendiri bersamamu tentunya.
Kamu selalu bersikap acuh , saat kutanya kenapa kamu bilang “Aku tidak mau kamu jatuh cinta padaku”, tapi sayangnya aku sudah mencintaimu.
Waktupun berlalu,kebersamaan kita yang singkat itu, telah melahirkan janin cinta yang kian hari kian dewasa. Semakin ingin mengerti dan selalu ingin mengerti tentang dirimu.
Kita masih berteman, tapi masih tidak ada cinta diantara kita, malah aku merasa kita semakin jauh, jauh dari kata kekasih.
Bumi masih berputar dengan porosnya, bulan masih menyebarkan sinarnya dimalam hari, dan begitupun kamu, masih berdiri diposisimu dihatiku. Masih menepati ruang terindah dalam jantung hidupku.
Dan aku masih berpijak akan tekadku untuk memiliki secuil kehidupanmu, secuil cintamu.
dan aku harus menahan rintikan hujan disudut mataku saat mendengar kamu lebih nyaman bersama sahabatku. Aku harus menahan tangisku bersamaan dengan derasnya hujan diatas motorku. Aku cemburu kamu memandangnya indah, membelainya lembut. Aku cemburu kamu mengusap keluh keringatnya daripada melihat linangan air mata dipipiku.
Langit masih menangis, seakan ikut bersedih akan kekalutan hidupku, akan kekacauan hatiku. Atau langit ingin meledekku akan kesepian dalam hidupku? Entahlah. Hujan ini membawaku ke masa-masa dimana aku masih merasakan cinta darinya, meskipun hanya samar.
Aku merindukan masa itu, tapi ada tembok besar yang tidak bisa kulalui bahkan kusentuhpun aku tidak bisa merasakannya, bagaimana aku harus merobohkannya?
Aku mulai marah akan kedekatanmu dengan sahabatku, tanpa kusadari aku mulai menunjukkan rasa tidak sukaku, rasa cemburuku. Apa hakku? Tidak ada memang. Tapi apa salahku? Aku tidak pernah menyuruhmu untuk dating dalam hidupku, aku tidak pernah mengundangmu untuk hadir dihatiku. Kamu datang membawa sejuta harapan dan cinta yang kurasa aku bisa memilikinya.
Dengan tidak membalas senyummu aku berharap kamu mengerti, betapa perih bilur yang kau tinggalkan hingga aku tidak sanggup untuk mengobatinya. Hingga membuat burung beo berhenti berkicau karena ikut bersedih.
Aku semakin putus asa, mengetahui kamu tidak bergeming, sebaliknya kamu semakin mengiris bilur yang terus berdarah.
Aku sedang memahami hujan dipanasnya matahari, seakan aku bisa memahaminya. Memahami cinta yang kupendam dan yang kujaga, hanya untuk seorang yang tidak pernah mau tau keberadaan cintaku.
“Jangan cemburu pada orang yang belum menjadi kekasihmu”, hanya itu balasan yang aku dapat. Bahkan untuk cemburu-pun kamu tidak mengijinkanku. Aku gagal dalam menarik sudut pandangmu. Aku gagal untuk memahami turunnya hujan dalam hatiku, dalam rintikan tangis yang tidak bisa kuungkap.
Dan lagi-lagi aku berjalan dalam kensunyian yang mencekam ditengah rintikan hujan dan membajiri pipiku.
Aku mulai mencintai hujan, karena hujan dapat menyembunyikan tangisku.

Surabaya, 19 Januari 2011

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

4 comments:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^