Kekasih Malamku | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Kekasih Malamku
Feb 13, 2012

Kekasih Malamku


Kuusap keringat yang membasahi dahinya, ku tatap dia lekat. Kekasih malamku, kini tertidur pulas di sampingku, meskipun matahari sudah menyapa di luar jendela. Kekasih malamku tak kunjung bangun, mungkin dia terlalu lelah dengan permainan semalam. Aku juga lelah, tapi aku tidak mau tidur, aku ingin menikmati waktu yang singkat ini bersamanya, kekasih malamku.




Aku masih memandangnya, menganggumi cara dia tidur, bulu mata lentiknya, alisnya yang tebal. Sekilas kulihat tersungging senyum di bibirnya. Apa dia sedang bermimpi? Apa dalam mimpinya ada aku? Seperti aku selalu memimpikannya.

Aku mengambil napas panjang, menutup mataku dan merasakan hangat tubuhnya. Kupeluk erat dia seakan aku tidak ingin dia pergi. Aku selalu menunggu saat-saat ini bersamanya, memadu kasih. Dia bukan hanya tampan di siang hari, di malam hari pun dia sangat tampan, gagah. Dialah kekasih yang kudambakan selama ini, selama belasan tahun.

Dua tahun yang lalu kami bertemu, selama itulah aku mencintainya dan selama itu pula dia menjadi kekasih malamku. Seluruh tubuhku sudah pernah ia jamah, dari ujung kaki sampai ujung rambutku, kecuali bibirku. Selama dua tahun, selama dia tidur denganku, tidak sekali pun dia pernah mencium bibirku, saat kutanya kenapa,”Bagiku ciuman di bibir hanya untuk kekasih,” jelasnya. Aku bukan kekasihnya, aku hanya teman tidurnya. 

Pernah aku berniat untuk mencium bibirnya, tapi kuurungkan niatku, aku tidak mau merusak komitmennya.
              “Selamat pagi”, sapanya ramah.
            “Pagiii…” balasku ceria. Aku masih menutupi sebagian tubuhku dengan selimut, begitu pun dengan dia.
            “Hari ini aku ada persentasi di kampus. Doa-kan lancar ya?”
            “Pasti,” tanpa kamu pinta-pun aku selalu mendoakanmu.
             Dia beranjak dari ranjang, dan memunguti pakaiannnya yang berserakan.
            “Aku pergi dulu, kamu tidak kuliah?” 
             “Nanti siang.”
             “Oke. Sampai ketemu.” Dia berjalan mendekatiku. Bibirnya mendarat di dahiku. “Terima kasih.”
Aku tersenyum.
***
            “Aku mencintai seorang wanita.”
            “Oh ya,?” tanyaku sok antusias. Hatiku sakit.
            “Hmmm.. kamu tidak tahu siapa dia. Dia teman kampusku.”
             Jadi , dia sms untuk bertemu denganku hanya ingin cerita dia mencintai seorang wanita? Oke.
             “Apa kalian sudah jadian?”
           “Belum. Tapi akan,” ucapnya sembari mengusap lembut rambutku. “Kamu tidak punya pacar? Aku belum pernah dengar kamu menceritakan tentang kekasihmu.”
             “Dia ganteng,"kataku," dia juga sangat gagah. Dia pria terhebat yang pernah kukenal.”
             “Wow.. sepertinya aku kalah nih!”
             Aku tersenyum. Tentu tidak!
***
             Berkali-kali dia menceritakan tentang wanitanya. Dia bilang, wanita itu cantik, sedikit cuek, tapi hatinya lembut. Berkali-kali pula dia mengatakan bahwa dia sangat mencintainya, tak ingin jauh darinya. Sebagian tubuhku terbang bersama kebahagiaannya, dan sebagian lagi ikut terjerumus dalam kesedihanku. Begitu sukar untuk kupahami, untuk kuterima.
            “Jadi apa kamu akan memberikan ciumanmu padanya?”
            Dia menatapku. “Menurut kamu?”
            Aku mengangkat bahu. Dan malam ini berakhir, di ujung fajar bersamanya.
***
            Aku menyambutnya lembut. Ada yang berbeda darinya malam ini. Rambutnya rapi, memakai kemeja hitam, dengan celana jeans biru matang. Tiba-tiba jantungku berdegub. Senyum terindahku selalu mengiringi setiap langkahnya. Aku sudah tidak sabar untuk kebersamaan dengannya malam ini. Sejuta efek bahagia menaungi malamku. Kekasih malamku, menemaniku hingga fajar menampakkan wajahnya.
            Semua efek bahagiaku menghilang begitu saja, saat dia bilang, dia datang hanya untuk berpamitan. Dia menyelesaikan pendidikannya tepat waktu dan dia akan pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib.
            “Kamu bisa cari kerja di Surabaya. Tidak perlu ke Jakarta..”
            “Jika kamu bisa menaklukan negeri orang lain, maka akan mudah bagimu untuk menaklukan negerimu sendiri.”
            Aku terdiam. Dia berdiri dan mengusap lembut rambutku.
            “Jaga diri baik-baik.”
            Aku terpaku melihatnya berlalu meninggalkan kos-ku. Tempat yang selalu dia singgahi pada malam hari, tempat kami selalu bersama kala malam. Aku berlari dan mendekap punggungnya.
            “Paling tidak beri aku ciumanmu.”
            Dia membalikkan badannya. Mengusap lembut air mataku, yang entah sejak kapan berada di pipiku. Wajahnya mendekat, aku memejamkan mataku, hatiku tak keruan. Sungguh. Aku sangat berharap semua ini akan terjadi. Detik demi detik aku menunggu, hingga kurasakan sentuhan lembut berada pada dahiku. Bukan di tempat yang kuinginkan.
         Dia tersenyum dan pergi. Meninggalkan semua kenangan malam kami. Aku hanya bisa melihat kekasih malamku pergi. Tidak akan ada lagi malam-malam yang indah. Tidak aka nada lagi kebahagiaan malamku. Tidak akan ada lagi, sentuhan hangat tubuhnya.
            Dan satu kenyataan yang ia bawa, aku hanya kekasih malamnya.

Surabaya, 13 Februari 2012

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

1 comment:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^