Cinta Penuh Harap | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Cinta Penuh Harap
Apr 5, 2013

Cinta Penuh Harap

Kugerakkan telunjuk jariku di permukaan kaca mobil yang berembun. Kutuliskan sebuah nama yang menjadi penghuni pikiranku saat ini. Dante. Kekasih yang kutinggalkan bersama kenangan kami dipulau dewata.
            Beberapa kali lelaki paru baya disebelahku mengelus lembut rambutku. Tapi, aku tidak menghiraukannya, dan tetap bersandar di sofa mobil sambil memandang kearah luar jendela. Hujan masih deras sejak kami memasuki mobil dari bandara tadi.
            “Kamu mengambil keputusan yang terbaik, Nak,”kata lelaki disebelahku dengan suara yang berat. Seketika itu, mataku kabur bersama rintikan hujan yang terus menghantam mobil kami.
            Dante seorang pria yang baik. Kami bertemu di Jogjakarta, saat kami sama-sama liburan disana. Dan secara kebetulan dia sedang kuliah di Surabaya, komunikasi kami semakin berlanjut, hingga kami akhirnya berpacaran.
            Sampai akhirnya, keluargaku mengetahui bahwa kami berbeda agama. Perbedaan keyakinan yang sampai kapanpun tidak akan bisa disatukan. Akhirnya, aku memilih untuk ikut Dante ke Pulau Dewata, berharap keluarga Dante bisa menerima perbedaan kami. Tapi, kami terlalu naif untuk hal ini. Seperti keluargaku, keluarga Dante juga melarang hubungan kami.
            Tidak ada yang bisa kami perbuat selain memutuskan untuk berpisah seperti apa yang diharapkan oleh kedua orangtua kami. Dan disinilah aku sekarang, pulang membawa kenangan indah bersama Dante.
***
            Bukan hal yang mudah buatku untuk melupakan Dante, tapi bukan berarti aku harus terus menerus mengurung diriku didalam kamar.
            Kulangkahkan kakiku melewati pintu rumahku, setelah beberapa hari aku tidak pernah sama sekali keluar rumah. Ada seuntaian senyum dibibir Bunda saat mengetahui aku mendapatkan kembali semangatku.
***
            Nunuh sahabatku, memperkenalkanku pada Niko, lewat bbm. Hampir setiap hari kami BBM-an, hingga kami memutuskan untuk bertemu. Niko, cowok yang baik, dengan wajah oriental, berhidung mancung dan bermata sipit.
            Kian hari mengenal Niko, aku mengetahui sifat-sifatnya dan masa lalunya. Dia pernah memiliki kekasih berbeda agama, sama sepertiku. Aku semakin merasa cocok dengannya, disamping kami sama-sama memiliki masa lalu yang sama, selain itu kami memiliki keyakinan yang sama.
            Seiring berjalannya waktu, aku semakin mengerti akan sifat Niko, yang mungkin orang lain belum tentu mengetahuinya. Karena dia mempercayakan kisah masa lalunya diketahui olehku. Dia sering mabuk-mabukan dan aku dengan sukarela menemaninya bergadang meskipun hanya lewat BBM.
            “Aku masih mencintai dia, Ta,”ungkapnya waktu kami berada dikamar kos-nya. Saat ini dia sedang mabuk berat. Bau alcohol tercium saat dia berbicara.
            Aku terdiam.
            Kuelus bahunya lembut.
            “Kenapa perbedaan Agama yang harus memisahkan kami?”matanya memerah, menatap lurus kearahku. Hatiku nyeri seiring dengan tangisannya.
            “Udah, Nik. Ikhlasin aja. Mungkin kalian memang tidak berjodoh,”aku menarik napas,”aku mengerti gimana jadi kamu.”karena aku sendiri mengalami hal yang sama
            “Aku bakal bunuh siapa saja cowok yang mendekati dia, Ta!!!”teriaknya.
            Aku terlonjak. Melihat wajah Niko menegang dan memerah. Memang beberapa hari yang lalu dia bercerita bahwa Yeni, mantan kekasihnya, dekat dengan seorang cowok.
            “Jangan begitu, Nik. Gak baik buat Yeni dan kamu juga,”aku masih mencoba menenangkan Niko. Sesekali dia meneguk minuman berwarna kekuningan terlihat seperti teh yang ada digelas.
            Niko mengusap lembut rambutku.”Kamu ngerti rasanya kan, Ta?”
            Aku mengangguk. Kurasakan napas Niko yang hangat berbaur dengan bau alkohol. Wajahnya semakin mendekat. Dikecupnya bibirku sebentar. Aku terlonjak dan sedikit mendorongnya.
            “Kamu cantik, Ta,”bisiknya lirih.
            Aku tersenyum tipis. Niko kembali menarik kepalaku untuk mendekat menciumku kembali. Dan aku merasa semua terasa gelap, dan yang kutau selanjutnya aku terbangun diranjang milik Niko. Dan dia sedang tertidur sambil memelukku.
***
Kusudaah memberikan keperawananku kepada Niko. Aku tidak menyesali itu, karena kuyakin Niko akan segera mencintaiku, dan melupakan Yeni mantannya.
            Aku selalu berharap itu terjadi.
            Dan semakin hari, keyakinanku semakin memudar. Saat aku merasa Niko mulai menjauhiku. Seringkalii BBM-ku hanya dibaca tanpa membalas, dibalas pun hanya sekedarnya dan singkat. Saat aku telpon dia tidak mengangkatnya. Aku mulai khawatir, hingga kuputuskan untuk menemuinya dikosnya.
            Kuketuk dua kali pintu kamar kos Niko. Tidak ada jawaban. Mungkin dia masih tidur, karena sekarang jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Kucoba sekali lagi mengetuk pintunya, kali ini terdengar sayup-sayup pintu terbuka.
            Benar saja, Niko baru bangun. Matanya masih setengah sadar, rambutnya acak-acakan. Aku tersenyum melihatnya.
            Kami duduk dikursi panjang depan kamar kosnya. Niko duduk sambil menguap beberapa kali, dia memakai kaos singlet sehingga mempertontonkan lengannya yang berotot.
            “Ada apa, kesini pagi-pagi?”tanyanya tanpa melihat kearahku.
            Aku menarik napasku, mencoba mencari kalimat yang tepat untuk memulai percakapanku. Tetapi setelah mendengar pertanyaan Niko dengan nada yang terdengar ketus, kuputuskan untuk langsung kepokok masalah.
            “Kenapa kamu menghindariku?”tanyaku hati-hati. Nada bicaraku mulai bergetar.
            “Lalu apa yang kamu inginkan?”
            Kutautkan kedua alisku, mencoba mencerna kalimat Niko barusan.
            “Kamu kok jadi berubah gini?”
            Niko terdiam.”Maaf, Ta,”ucapnya kemudian,”jangan berharap lebih sama aku,”lanjutnya.
            Hatiku bergetar. Mataku memanas, dan telapak tanganku terasa dingin.”Setelah kejadian malam itu, kamu berbicara seperti ini?”tanpa terasa setetes air mataku turun.
            “Justru karena kejadian malam itu, Ta, aku sadar. Aku gak bisa sama kamu,”tandasnya.
            Kumulai terisak. Dadaku terasa sangat sesak. Banyak sekali kalimat yang ingin kuucapkan tetapi tertahan ditenggorokan. Semua terasa begitu memilukan.
            “Aku tidak mau menyakiti kamu lebih dalam lagi, Ta.”katanya lembut.
            “Udah terlambat, Nik!! Kamu udah nyakitin aku!!”teriakku sambil terisak.
            Niko terlihat gusar. Dia berdiri dan berjalan masuk kekamarnya.
            Aku berdiri dan mengejarnya. Niko berusah untuk menutup pintu kamarnya, tetapi aku berhasil mencegahnya. Kamarnya terbuka. Aku terdiam menatap lurus kearah ranjang miliknya. Mulutku sedikit terbuka, dan kututupi dengan tanganku. Pemandangan yang kulihat saat ini, sungguh membuatku sakit. Seorang cewek sedang melihat kearahku, matanya mengerjap-kerjap, mungkin dia terbangun karena sinar matahari masuk kedalam kamar. Dia memegang seprei putih yang menutupi dadanya.
            Cewek itu mirip dengan Yeni, mantan kekasih Niko.
            Aku mengangguk mengerti, dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Aku pergi membawa kesakitan yang teramat. Kumaki diriku sendiri karena terlalu polos untuk mengenal Niko, terlalu mudah percaya akan cowok seperti dia.
            Dan kini semua sudah berakhir. Tidak ada yang tersisa. Bayangan Dante kembali menyeruak kedalam memoriku.

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^