Nai | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Nai
Apr 11, 2014

Nai

Nai hari ini memakai skirt kuning selutut dengan layer merah di ujungnya, kaus lengan pendek garis hijau putih. Rambut panjang cokelatnya, ia biarkan tergerai melewati bahu. Ah, dan jepit kupu-kupu berwarna kuning terselip diantara rambutnya.


Aku tidak pernah berharap perempuan seperti Nai akan menerima jepit murahan yang kudapatkan dari mama. Mama bilang itu jepit rambut yang ia dapatkan dari papa ketika mereka masih berpacaran waktu SMU. Nai tersenyum lebar dengan pipi bersemu ketika kuulurkan jepit rambut itu kepadanya.

"Bisakah kau letakkan di rambutku?"pintanya.

Aku mengangguk. Tanganku sedikit bergetar ketika menyentuh rambutnya yang begitu halus. Ah, aku bisa mencium wangi madu dari rambutnya.

"Terima kasih, Rai."ucapnya ketika jepit rambut itu sudah berada dihelai rambut miliknya."Ini cantik sekali."

"Kupikir kau tidak akan menerimanya."kataku. Hampir sebagian siswa di sekolah ini memberi Nai hadiah di hari ulang tahunnya. Dia salah satu siswi terbaik di sekolah; juara pertama dalam sains, ketua osis, dan pemain piano terbaik. 

"Apa kau gila?!!"serunya. Nai memukul lenganku pelan. Aku tersenyum kaku. "Tentu saja aku akan menerimanya!"

"Itu jepit rambut mama."kataku."Pemberian dari papa!"

Nai membulatkan matanya."Oh, ya? Mamamu pasti perempuan yang beruntung! Jepit rambut ini indah sekali."dia terdiam dan melihat kearahku. Mataku melihat kearah lain."Apakah tidak apa-apa jepit rambut ini kau beri kepadaku?"

"Tentu tidak apa-apa."

"Kau yakin? ehm, bukan maksudku untuk menolak, tetapi jepit rambut ini pasti sangat berharga untuk mamamu."ucap Nai pelan. Ia terlihat tak enak hati.

"Sungguh tidak apa-apa. Mama sendiri yang menyuruhku."kugaruk kepala bagian belakangku. Mataku melihat kesana kemari."Kemarin aku kebingungan mencari hadiah yang cocok untukmu. Mama memberiku jepit rambut itu."

"Oh, sukurlah kalau begitu. Bilang terima kasihku untuk mamamu."katanya. Dia melihat jam cokelat ditangan kirinya."Aku harus segera kembali kedalam kelas."katanya. Nai tersenyum dan melambaikan tangan kearahku.

Kini, Nai berdiri didepanku dengan setelan  kesukaannya. Melambaikan tangan kearahku setelah menutup pintu mobilnya.

"Kau yakin lebih memilih naik vespa daripada mobilmu?"tanyaku saat dia berdiri didekatku.

"Tentu saja! Aku suka vespamu!"

Nai naik keatas boncengan vespa kuning milikku. Tangannya mengait pinggulku. Ini bukan kali pertama Nai berada dibelakang vespaku, namun aku selalu saja mengeluarkan keringat dingin ketika bersentuhan dengannya. Kuharap dia tidak menyadarinya.

Vespaku melaju menuju sekolah, malam ini adalah malam perpisahan kami. Nai, sudah memutuskan untuk kuliah di Bandung dan aku tetap di sini. Entah, kapan kami akan bertemu kembali.




NB: Hanya sepenggal cerita, berencana melanjutkannya dalam sebuah novel. Tapi, entahlah. Kita lihat saja nanti :)

-Wulansari-
Mojokerto, 11 April 2014
20:06


Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

2 comments:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^