Surat Untuk Ayah | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Surat Untuk Ayah
Aug 5, 2014

Surat Untuk Ayah


Teruntuk Ayah,

        Ayah, hari ini hujan membuat genting dapur kita bocor. Airnya merembet kemana-mana. Membasahi meja kayu kesukaan ayah. Aku membersihkannya sendiri, membayangkan ayah berada di sampingku seperti kala itu. Ayah, pernah berjanji akan segera membetulkan genting agar tidak bocor lagi, meskipun Welan tahu ayah tidak berani akan ketinggian. Tapi, ayah tetap berjanji pada Welan.

      Ayah pernah berkata pada Welan hujan adalah bukti cinta Tuhan pada kita seperti air mata yang selalu datang ketika kita benar-benar sedih dan ketika kita benar-benar bahagia. Welan ingat betul ketika Welan diterima di Perguruan Tinggi, Ayah menangis. Aku tahu ayah sedang bahagia dengan keberhasilanku. Tapi, yang Welan tidak mengerti ketika ayah menangis sendirian di kamar setelah pertengkaran kecil kita. Setelah Welan memutuskan untuk membatalkan pernikahan karena tunangan Welan sudah tidak setia. Ayah menangis karena Welan tidak mematuhi ayah atau karena Welan sudah dewasa dan berani mengambil keputusan sendiri? 

     Cinta itu tentang kesetiaan dan kepercayaan jika keduanya sudah ternodai itu bukan cinta. Ayah pernah berkata seperti itu kepada Welan. Itulah mengapa Welan membatalkan pernikahan Welan. Welan tidak peduli dengan perkataan tetangga kita atau teman-teman kantor Welan. Yang Welan pedulikan adalah bagaimana perasaan Ayah? Welan tidak tahu Ayah. Di mana letak kesalahan Welan sehingga ayah harus pergi meninggalkan pertanyaan-pertanyaan itu.

       Welan pernah marah pada ayah karena telah membohongi Welan tentang ibu. Ayah berkata ibu sudah meninggal. Ayah menciptakan ibu sempurna di benak Welan dengan menceritakan semua kebaikan ibu yang kini kuragukan itu, tanpa menceritakan siapa sebenarnya ibu. Welan tahu, Ayah melakukan itu karena Ayah masih mencintai ibu. Ayah adalah orang yang paling percayai di dunia ini. Sekarang siapa yang harus Welan percayai jika ayah meninggalkan Welan tanpa penjelasan?

      Ayah, putri kecilmu sedang merindukanmu. Jika Welan berjanji tidak akan menuntut ayah apapun, apa ayah bisa kembali bersama Welan? Kita hidup berdampingan lagi seperti dulu. Ketika cerita-cerita ayah tentang cinta begitu indah bagaikan di negeri dongeng. Tapi, ayah pada kenyataannya tidak ada cerita cinta yang benar-benar indah.

Putri kecilmu yang selalu merindukanmu,
Claudya Hein Welan




...

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

No comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^