Pekerjaan Impian | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Pekerjaan Impian
Jan 4, 2016

Pekerjaan Impian

Berbicara mengenai pekerjaan, banyak hal yang mendasari dalam memilih pekerjaan. Saya selalu mengingat, setiap orang memiliki posisi wuenak masing-masing dalam pekerjaannya. Ada yang lebih sreg sebagai pekerja kantoran, ada yang ingin plek usaha, ada yang ingin freelance dan sebagainya. Untuk itu, kita tidak boleh menghakimi seseorang mengenai pekerjaannya.

Kemarin, saya membaca sebuah status, kira-kira berbunyi,"Manager di perusahaan C, kok cukur rambutnya di tepi jalan? Nggak di salon!"Bagi saya, jabatan atau pekerjaan apa pun, tidak ada hubungannya dengan dia memilih sebuah salon atau tukang cukur. Sama sekali tidak ada! Itu hanyalah persepsi kita sendiri mengenai derajat atau sebuah gengsi. Mungkin saja toh, orang tersebut lebih cocok atau lebih mempercayakan rambutnya pada tukang cukur tersebut? Atau, memang sejak awal, sebelum ia menjadi manajer, orang itu selalu mencukur rambutnya di situ.

Kenapa kita harus mengurusi sesuatu yang kita tahu hanya melalui indera pengelihatan?


Saya sangat tahu, pasti di luar sana banyak yang membicarakan saya. "Sarjana kok nganggur?","Kuliah jauh-jauh kok di rumah saja?"Itu pasti. Kalaupun nantinya saya bekerja di luar, dan akhirnya mereka tahu nominal penghasilan saya, pasti akan ada lagi orang yang berbicara dan berkomentar.

Untuk itu, saya harus terbiasa. 

Bukankah, orang sukses - atau saya lebih suka bilang "bahagia" - itu butuh proses?

Bapak lulusan SMK dan Ibu tidak tamat SMP. Yang saya ketahui, dulu Bapak kerja di PLN, sebagai tukang yang membetulkan konsleting listrik. Manjat-manjat pagar, bawa obeng ke mana-mana. Lalu, Bapak akhirnya memilih keluar dari kantor PLN lantaran Bapak tak tahan godaan di luar. Lantas, Bapak bekerja sebagai sopir tanah.

Desa saya merupakan desa berpenghasil genteng dan bata. Mayoritas setiap rumah di sini memiliki tempat untuk membuat genteng. Sopir tanah yang dijalani Bapak adalah mencari tanah untuk dikeruk, kemudian dikirim ke pengerajin genteng. Cukup lama Bapak menjalani pekerjaan itu, kemudian Bapak kembali beralih ke pekerjaan lain. Saya tidak tahu apa alasannya. Akhirnya, Bapak menjadi pengerajin genteng.

Bapak dan Ibu membangun los (tempat pembuatan genteng) di belakang rumah. Pagi-pagi sekali Ibu dan Bapak bangun untuk membuat genteng, sayangnya genteng yang mereka buat tidak bisa memenui jobong (tempat pembakaran genteng). Imbasnya, mereka harus membeli genteng tetangga untuk memenuhi jobong dan bisa melakukan pembakaran. Pekerjaan ini tidak lama mereka lakukan karena Bapak tidak merasa cocok. Akhirnya, Bapak mengubah los menjadi tempat penggilingan padi.

Penggilingan padi masih bertahan sampai sekarang ini, dan karena dari penggilingan tersebut menghasilkan dedak, akhirnya Bapak membuat kandang bebek petelor. Jadi, sekarang usaha Bapak ada dua macam, yaitu penggilingan padi dan bebek petelor.

Perjalanan Bapak untuk mencari "pekerjaan impian" teramat panjang dan tidaklah mudah. Dari sekian pekerjaan yang beliau jalani, menjadi peternak bebek petelor adalah yang paling menguntungkan dan membuat kehidupan kami jauh lebih baik. Selain itu, pekerjaan tersebut terbilang santai. Kasih makan pagi, siang, sore. 

Alhamdulillah, jika dulu kandang bebek berada di rumah dan setiap pagi harus digiring ke sawah, kini tak perlu lagi. Karena Bapak sudah membangun kandang bebek di sawah yang cukup besar. 

Bisa dibilang, saat ini Bapak sudah bahagia dengan apa yang beliau miliki. 

Sebenarnya, apa pun pekerjaanmu. Sekecil apa pun penghasilanmu, asal kau bahagia, maka kau sudah bisa disebut sukses.

Terkadang, kita merasa tak pernah puas dengan hasil yang kita peroleh. Pertanyaannya, sampai kapan? Cepat puas pun memang tidak baik, tapi kalau tidak pernah besyukur ya selalu merasa kurang.

Saya sendiri tidak tinggi-tinggi keinginannya. Dulu memang saya ingin bekerja di kantor. Memiliki penghasilan tetap setiap bulan, memakai rok ketat dan berkemeja, dandan, dan eksis bersama kawan. Sekarang pun keinginan masih ada tapi tidak setinggi dulu. Hal ini karena saya melamar ke sana kemari tidak menemukan "jodoh" atau sebenarnya dalam hati kecil saya bukan itu yang benar-benar saya inginkan. 

Yang saya inginkan sekadar menjadi freelance, menulis buku, ngeblog, dan desain blog. Atau baru-baru ini ada yang menawari membuat penerbit indie. Saya berharap apa yang saya inginkan tercapai dan saya mampu menjalaninya. Karena setiap proses menuju bahagia tak pernah mudah.

Apa pun pekerjaanmu, nikmati dan syukuri. Mungkin sekarang itu bukan pekerjaan impianmu, tapi siapa tahu itu merupakan jalan menuju ke sana.

Selamat beraktivitas! 





Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

2 comments:

  1. "Sebenarnya, apa pun pekerjaanmu. Sekecil apa pun penghasilanmu, asal kau bahagia, maka kau sudah bisa disebut sukses."

    Biasanya sih itu yang sulit kak.

    ReplyDelete
  2. Jika dijalani dengan bahagia, semuanya terasa mudah. ^^

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^