Anak Pemalas Tak Pantas Sekolah Negeri | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Anak Pemalas Tak Pantas Sekolah Negeri
Apr 5, 2016

Anak Pemalas Tak Pantas Sekolah Negeri

Anak Pemalas Tak Pantas Sekolah Negeri -Tahun 2001-2002, kehidupan saya dipenuhi drama. Kalau diingat-ingat, waktu itu saya tegar sekali menghadapi banyak gunjingan dari orang-orang di kampung. Mungkin, karena keluarga saya mendukung sepenuhnya, sehingga saya tidak ambil pusing dengan omongan orang lain. Atau, karena waktu itu saya masih terlalu kecil untuk mengerti kalau mereka sedang memfitnah saya.

Ceritanya pada tahun itu, saya duduk di kelas 6 SD, semester akhir hendak menghadapi ujian nasional sekolah dasar. Bukan ujian nasional yang menjadi bahan perbincangan guru-guru beserta kami waktu itu, melainkan kabar kalau untuk masuk SMP negeri harus dengan ujian, bukan dari nilai danem *ini tulisan bener apa nggak ya?* lagi. Dengan kata lain, kalau sewaktu ujian tidak lolos, maka kami tidak bisa sekolah di SMP negeri. Ah, tahu sendiri SMP negeri lebih murah daripada SMP swasta, ini dilihat dari segi ekonomi. Kalau dilihat dari kualitas pun, SMP negeri jauh lebih unggul. Ingat, saya di desa. Sekolah negeri tentu lebih berkualitas dari sekolah swasta.

Perubahan sistem penerimaan siswa baru ini tentu membuat kami ketar ketir, kami seakan-akan menjadi kelinci percobaan untuk dunia pendidikan. Akhirnya, guru-guru pun memberikan pelajaran tambahan. Saya pun belajar lebih giat lagi, terlebih ketika melihat nilai ujian IPS saya anjlok. Selain belajar, saya pun shalat tahajud demi bisa masuk SMP negeri.


Waktu ujian pun tiba. Seperti yang dikatakan oleh guru saya. Saya membawa sapu tangan, agar ketika tangan berkeringat segera saya lap, sehingga tidak mengotori lembar jawaban komputer. Saya juga membawa penggaris yang bulat-bulat itu. Membawa kaca untuk alas, ketika melingkari jawaban agar bisa rata. Pokoknya, saya turutin semua kata guru saya. Saya ingin masuk SMP negeri. Titik.

Pada hari pengumuman, Alhamdulillah saya lolos beserta satu teman desa saya. Dari delapan anak di desa yang daftar, hanya saya dan Iva yang diterima. Dan, drama pun dimulai.

Jadi, saya mau sedikit cerita dulu. Saya sewaktu SD termasuk anak yang malas berangkat sekolah. Sering bolos. Pernah sampai ngambek, nangis gulung-gulung di lapangan karena tidak mau sekolah. Entahlah, ini terjadi sejak TK. Saya selalu begitu. Pernah kejadian, saya dibohongi teman saya kalau sekolah libur. Untung saya tidak serta merta percaya. Padahal saat itu dalam hati girang sekali.

Nah, dalam pikiran orang-orang di kampung, malas sekolah berarti bodoh. Karena hal itulah, ketika saya berhasil lolos ke SMP negeri, orang-orang di kampung, terutama orangtua dari teman saya yang tak diterima mengatakan saya pakai dukun. Saya ulangi lagi, DUKUN.

Sampai-sampai, ketika saya keluar rumah, ada saudara teman saya si X - yang katanya pintar di kelas, padahal suka nyontek- itu berkata begini, "Wul, kamu kok bisa lulus, pakai hewes-hewes ya?" (hewes-hewes = dukun) Saya cuma diam. Lalu, saya cerita ke orang rumah. Kata Bapak, "Jawab aja, habis tiga juta. Biar makin panas."xoxo

Sebenarnya, tidak hanya orang-orang di kampung yang meragukan kemampuan saya, tapi bapak saya sendiri sempat pesimis saya bisa lolos. Ya, seperti yang saya katakan tadi, saya amat sering bolos sekolah. Wajar sih, mereka berpendapat begitu, karena apa yang mereka lihat adalah keseharian saya. Ditambah lagi, saya anaknya yang cenderung pendiam. Tidak suka banyak bicara. Sehingga, mereka hanya tahu sepintas saja. Sedangkan, mereka tidak tahu apa yang ada di dalam otak saya.

Dan, tahun-tahun berikutnya pun, ketika saya masuk SMA atau universitas, semuanya negeri. Tidak pakai jalur belakang ataupun dedukunan. *xoxo*

xoxo,
Wulan K.

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

2 comments:

  1. Kadang orang primitif suka nyambung2 ke dukun. Gak tahu apa ya orang bisa berubah jadi lebih baik, haha

    ReplyDelete
  2. wahahahaha memang repot ya kalo semua dianggap pake dukun atau lewat jalur belakang. padahal semua dilakukan dengan segala daya dan upaya. dan mungkin faktor keberuntungan :)

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^