Tradisi Lebaran | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Tradisi Lebaran
Jul 3, 2016

Tradisi Lebaran



Tradisi LebaranHari raya Idul Fitri tinggal menghitung hari, tak terasa sekali ya kita sudah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Sayangnya, saya harus bolong beberapa hari. Kesempatan bolong puasa tak saya sia-siakan, tentunya. Memang, saya berencana melakukan sesuatu ketika libur puasa, yaitu membuat kue.

Sebenarnya, saya bukan pecinta kue, saya hanya suka. Terutama kue nastar dan kue pai susu. Saya sangat menikmati ketika mencium harum keju dan mentega, kemudian lumer dalam mulut lalu rasa manis dari selai nanas. Saya sangat suka dengan kue nastar, entah sejak kapan.


Sepertinya, tradisi membuat kue menjelang lebaran sudah mendarah daging di Indonesia ya. Entah membuat kue tradisional seperti kue jepit atau kue Kaastengel yang kata si Riska Ngilan kue tersebut dari Belanda. Tradisi membuat kue menjelang lebaran pun mampir di rumah kami. Dulu, bukan kue nastar yang saya sukai, tetapi jajan jepit buatan emak.

Hiks.
taken from http://www.resepmemasak.web.id/

Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya masih kecil dan emak masih sehat dan bugar, emak selalu membuat jajan jepit (setelah search goole namanya kue Semprong) di rumah. Emak dengan alat penjepit di tangan kiri dan adonan di tangan kanan, lalu menungkan adonan ke atas cetakan yang diletakkan di atas tungku. Menjepitnya hingga mengeras, kemudian membalikkan cetakan sampai jajan benar-benar kering kecokelatan. Emak sesekali membuka cetakan untuk mengecek. Dan saya, duduk di bangku kecil di samping emak. Mencuil sedikit-sedikit remahan jepit dari atas tempeh. – tidak tahu ya kalau teman-teman tak mengerti bahasa saya, maafkan-. Sesekali, saya akan meminta emak membentuk jajan jepit tersebut menjadi segitiga, bukan lingkaran memanjang seperti jajan astor. Lalu, saya akan memakannya sampai remahan kue menjatuhi rok yang saya kenakan. Saya suka jajan jepit buatan emak yang gurih, legi, dan agak gosong.

saya suka minta dibentuk segitiga begini.
taken from pinterest.com

Ah, saya rindu sekali.

Namun, tradisi tersebut lambat laun menghilang, karena kondisi tubuh emak yang semakin tua.

Dan, sekarang benar-benar menghilang karena emak sudah tiada dan tidak ada yang bisa membuat jajan jepit seenak buatan emak. Yang ada, jajan jepit di pasar berwarna pucat dan rasanya hambar.

Tradisi Baru

Tradisi baru ini, saya yang memulainya. Saya lupa sejak kapan, tapi yang jelas sejak saya tahu cara membuatnya. Yaitu, membuat cokelat kacang. Ah, mudah sekali, ya? Iya. Cukup dengan membeli kacang tanah, kemudian disanggrai sampai matang sedikit hangus, melelehkan cokelat batangan di atas tungku, lalu mencampur keduanya dan cetak. Cara membuat kue yang mudah, enak, dan laris.

Setiap tahun, ketika saya membuat kue tersebut, kue cokelat itu selalu laris. Tentunya, anak-anak kecil sangat menyukai hal-hal yang manis, bahkan orang dewasa pun tak jauh berbeda.

Tahun ini, tak hanya kue cokelat yang saya buat, tapi juga kue nastar. Sudah lama saya ingin membuatnya, tapi tak pernah terlaksana karena tak mempunyai oven. Tahun ini, saya nekat dan meminjam oven tetangga. Ah, terima kasih untuk Mbak Dyah Prameswari yang telah memberikan resep nastar legit untuk saya.

Awal membuatnya, saya terlalu boros. Satu keju prociz utuh, dua sachet susu dancow,  margarin 500gr, dan degan tepung terigu 500gr. Hasilnya, ketika saya panggang, nastar saya semacam berair karena kebanyakan margarin. Saya lihat-lihat, jadi seperti naskar goreng bukan nastar panggang. Mana pakai drama api elpiji melebar ke mana-mana lagi. Huft. Untungnya tak sampai terjadi kebakaran.

Tantangan ketika membuat kue nastar adalah membuat bulatan adonan yang rata. Sayangnya, tidak ada yang sama persis. Ada yang kecil, besar, agak bengkok. Mana setelah dipanggang melebar lagi nastarnya. :D Intinya, awal membuat kue nastar semacam trial error. Tapi, saya senang membuatnya terlebih ketika membuat selai nanas yang rasanya juara. Ah, saya bangga.

Pencampuran adonan kedua, saya mengurangi susu dancow, margarin dan keju. Sehingga, rasanya lebih pas daripada sebelumnya. Tapi ya, tetap saja enak. Toh selai nanasnya emang enak, kok.

Dan sekarang, saya ingin mencoba membuat kaastengel, tapi entah kapan. Sebenarnya sih, tak terlalu suka dengan rasanya yang asin itu. Berbeda dengan nastar yang mendapatkan rasa manis dari selai, kaastengel lebih dominan asin.


Semoga tahun depan saya bisa membuat kue nastar lagi, karena saya suka sekali. Bahkan, ini saya cemal cemil sedikit. Astaga, enak sekali.


xoxo,
Wulan K.

Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

4 comments:

  1. Aku malah blas enggak buat Mbak, beli... hehehe
    Soalnya kerja liburnya mepet, terus mudik... hehehe

    ReplyDelete
  2. Kue coklatnya bikin ngiler kak :D

    ReplyDelete
  3. lebaran dua tahun lalu sempat coba bikin kue nastar tapi gagal, sampe saat ini gak berani coba lagi, huhuhu :(

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^