Feb 2, 2016

Ingin Rejeki Lancar? Lakukan Hal Ini



Ingin Rejeki Lancar? Lakukan Hal Ini-Kemarin malam, saya, Bapak, dan Ibu selonjoran di depan televisi. Saat itu layar kaca berukuran mini itu menampilkan sebuah acara motivasi, dengan seorang pembawa acara, motivator, dan audience para mahasiswa. Untuk kejelasan siapa motivator dan dari mana mahasiswa tersebut, saya kurang memerhatikan.

Yang jelas, saya tertarik dengan pembicaraan sang motivator dengan salah satu mahasiswa yang hadir malam itu. Katakanlah, nama mahasiswa perempuan itu Rani. Rani mengangkat tangan untuk bertanya. Gadis berkerudung itu pun berdiri dan memegang mic untuk berbicara.

“Pak, bagaimana sih untuk menghadapi rintangan-rintangan ketika menggapai impian?”tanya Rani, yang kira-kira berusia berkepala dua itu.


Sang motivator pun menimpali,”Sebutkan impian Anda.”

Rani diam sesaat, matanya menghadap ke atas. Berpikir, “Ingin menjadi menteri keungan misalnya.”

“Impian lainnya?”tanya motivator kembali.

Malu-malu Rani menjawab, “Dulu. Dulu sekali ingin menjadi pramugari.”

“Saya tanya, dari ingin menjadi pramugari dan menteri keungan, apa rintangan yang menghalanginya?”tanya Motivator. “Misalnya, ketika ingin menjadi pramugari, apa yang menghalangimu?”

“Ehm, ketika ingin menjadi pramugrasi ada aja, pikiran kalau saya kurang ini. Ada orang lain yang lebih baik.”

Akhirnya, motivator bertanya. “Ketika Anda berpikiran kalau Anda kurang baik, ada yang lebih baik dari Anda. Apakah pikiran tersebut membuat Rani lebih maju?”serta merta, Rani menggeleng sembari tersenyum. “Lihat Ibu Susi, menteri perikanan saat ini. Apakah beliau lebih baik daripada Anda?”

Rani tertawa. Malu-malu. “Aduh, Bu Susi maaf.”

“Lho, nggak apa-apa, bilang saja,”sahut sang Motivator. “Dalam hal pendidikan.”

“Iya, mungkin dalam pendidikan lebih beruntung saya,”kata sang mahasiswi.

“Intinya, bukan masalah siapa lebih baik dalam pendidikan atau hal apa pun. Tapi, siapa yang memiliki tekad yang lebih kuat dan keinginan untuk memperjuangkannya. Kita harus menghilangkan pikiran-pikiran negatif itu.”Lalu, sang motivator melanjutkan. “Kita harus bersyukur mengenai apa pun.”

Entah kenapa, saat mendengar motivasi semacam itu membuat saya kembali bersemangat pada saat itu. Tapi, setelah beberapa hari rasa semangat itu kembali melebur dengan pikiran-pikiran negatif yang menghalangi keberhasilan apa pun.

Ucapan Adalah Doa

Saat itu, secara refleks saya berucap, “Alhamdulillah.”

Setelah menonton acara tersebut, saya kembali ke kamar, mengambil smartphone yang tergeletak di atas meja yang sedang saya cas. Ada sebuah pesan masuk dari whatsapp, seseorang memasukkan saya ke dalam sebuah grup. Admin grup tersebut mengatakan kalau saya terpilih sebagai salah satu agen media sosial untuk acara peluncuran suatu produk. Alhamdulillah. Ternyata, berucap syukur akan membawa kita ke pintu rejeki lainnya.

Ingat, ucapan adalah doa. Ucapan bukan sekadar dari lisan, tapi juga batin. Berhati-hatilah dengan segala yang kamu pikirkan, ucapkan, dan batin. Kita memang diharuskan berkata baik-baik, melihat hal baik-baik, dan memikirkan hal-hal positif. Sedikit cerita yang pernah saya alami sewaktu masa kuliah. Saya tidak mengerti, kenapa terkadang ucapan dan batin saya sangat manjur dan cepat terjadi.

Waktu itu, kami anak D3 Manajemen Informatika C, mengerjakan tugas kelompok bersama di kosan saya sembari rujakan. Lalu, tiba-tiba teman saya Dina marah-marah pada teman satu kelas kami lainnya. Dina kesal karena teman kami itu menghilangkan flasdisk miliknya. Sampai-sampai Dina tidak mau berbicara dengan teman kami tersebut karena hal ini. Lalu, saya membatin. “Kalau flasdisk saya yang hilang, saya nggak bakalan begitu.”

Selang beberapa menit, entah kenapa saya menjadi ingin melihat flasdisk saya. Dan, ternyata flasdisk yang baru saya beli beberapa minggu itu, tidak ada di dalam tas saya. Saya ingat, pagi itu saya dan beberapa teman berada di ruang BEM jurusan sebelum masuk ke dalam kelas pratikum. Waktu itu, saya membuka laptop di ruangan BEM dan memakai flasdisk. Pasti benda kecil itu tertinggal di sana. Sayangnya, saat saya dan teman saya ke sana, benda itu sudah raib.

Akhirnya, apa yang saya ucapkan dalam hati kejadian sodara-sodara!

Tidak hanya itu. Saya pernah sewaktu SMA melihat teman saya yang berponi. Ketika saya melihatnya, saya merasa risih, “Ih, kok nggak gerah ya?”Eh, kok waktu kelas dua SMA saya juga berponi. Itupun karena tidak sengaja dan salah potong rambut. Tapi, poni itu bertahan hingga sekarang.

Makanya, saya selalu berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu, entah lisan atau dalam hati, ya, takutnya saya akan mengalami hal-hal yang saya takutkan. Tapi, ya, memang mengusir pikiran negatif itu susahnya minta ampun *xoxo*. Saya masih bandel saja memikirkan hal-hal buruk, padahal saya menjalaninya saja belum. Alhasil? Saya tidak ke mana-mana.

Saya pernah membaca sebuah novel, ketika tokoh utama cewek berkata hal negatif, kemudian si cowok berkata, “Pikiran semacam itu nggak akan membawamu ke mana-mana.”Hmmm, memang seperti itu adanya. Ketika kita menginginkan sesuatu, tapi pikiran buruk menghantui. Akhirnya, kita akan takut melangkah karena risiko terlalu besar. Padahal, risiko tersebut masih terjadi dalam pikiran kita saja, belum tentu benar.

Mensyukuri apa pun yang kita miliki

Berbicara mengenai rejeki. Seperti yang sering saya bicarakan, kalau saya ini pengangguran, dengan bekerja dari rumah. Istilah kerennya sih, freelance, tapi saya hidup di desa teman-teman. Seperti yang kita tahu, pemikiran orang desa itu, bekerja itu berangkat pagi pulang sore. Atau terlihat tubuh kita bergerak di luar rumah. Meskipun, pendapatan yang kita hasilkan tidak banyak, ketika kerja di luar rumah, itu tetap kerja. Sedangkan, bekerja dari rumah, meskipun penghasilan yang didapatkan berjuta-juta, itu belum kerja. Ya, nggak?

Karena hal inilah, saya setiap bulan selalu ada masa-masa labil. Ketika penghasilan seret, tidak ada job review atau tawaran desain blog. Saat-saat labil tersebut saya selalu berpikiran untuk keluar rumah, kembali mencari kerja di luar. Curhat sama teman, dan berdoa agar diberikan rejeki. Lalu, tangan Tuhan pun terulur memberi job-job baru dengan penghasilan yang lumayan. Saya merasa bagaimana ya? Ehm, Tuhan seakan-akan mempermainkan saya dengan membuat saya labil dahulu, nangis, kemudian ia memberikan senyuman setelahnya. Seakan-akan Tuhan sedang mengejek saya dengan medatangkan rejeki, setelah saya nangis gulung-gulung. *xoxo*. Akhirnya, sekarang saya akan memulai dengan ucapan Alhamdulillah, di setiap waktu, agar pintu-pintu rejeki terbuka lebar. Entah itu dari rumah atau dengan mendapatkan pekerjaan di luar rumah.

Job review, job review, job review *soriii ngelantur*

Intinya dari postingan ini adalah, saya ingin belajar dari pengalaman-pengalaman yang saya alami dengan terus mengingatnya. Saya harus sering-sering bersyukur dan tersenyum, agar saat saya masih di dunia ini tetap bisa menikmati tanpa takut akan masa depan atau masa yang belum terjadi.

Omong-omong mengenai masa depan, hal yang membuat kita khawatir adalah kalimat “apa yang kita lakukan hari ini adalah cerminan masa depan kita”, iya nggak?

Baiklah, mengenai ketakutan masa depan dan pencapain-pencapaian yang belum kita raih, akan kita bahas di postingan selanjutnya. Kapan? Nantilah, kalau saya punya pengalaman mengenai hal-hal itu.


Tetap tersenyum! ^^


3 Comments:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^