May 28, 2018

[GUEST POST] Jodoh Pasti Bertemu di Saat yang Tepat


“Dulu memang aku punya peta nikah denganmu, tapi maaf sekarang sudah tidak” ucapan itu masih terngiang sampai sekarang. Kalimat yang diucapkan dengan penuh keyakinan oleh lelaki itu. Begitulah jodoh, selalu menjadi misteri bagi siapapun. Ketika kita sudah yakin seseorang menjadi pasangan hidup kita, ternyata ALLAH punya rencana lain. Hubungan yang terjalin bertahun-tahun kandas begitu saja. Namun sebaliknya, orang yang saat ini masih asing buat kita bisa jadi seminggu lagi menjadi pasangan hidup kita. Setidaknya itulah yang terjadi kepadaku. Bertahun-tahun memiliki perasaan dengan seseorang yang aku yakini bakal menjadi suamiku, tapi kenyataan berkata lain. Dia tak lagi menginginkanku menjadi istrinya. Padahal aku sudah sangat yakin dia memiliki perasaan yang sama denganku. Kita sudah berteman bertahun-tahun. Hanya selama ini tak ada yang mampu mengungkap isi hati masing-masing.

Penolakannya membuatku sempat linglung. Harus dibawa kemana hati yang telah terlanjut terukir namanya. Aku terlalu angkuh dengan keyakinanku bakal menikah dengannya. Aku lupa bukan aku yang menentukan siapa jodohku. Aku benar-benar terpuruk hingga perlahan waktu mengobati luka hatiku. Aku mulai bangkit dan membuka hati kembali. Memberi peluang kepada siapapun yang ingin menikah denganku. Saat itu umurku masih 20 tahun tapi aku ingin segera menikah. Akhirnya ada beberapa lelaki yang serius ingin menikah denganku. Tapi saat aku ajukan profil mereka kepada bapak ibu, selalu ditolak dengan alasan yang saat itu tidak aku pahami. Sebagai anak yang ingin patuh kepada orang tua, aku dengan berat hati memutus hubungan dengan mereka. Padahal mereka juga sudah memenuhi kriteria sebagai imam buatku. Saat itu aku hanya punya keyakinan, orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, dan ridho mereka adalah segalanya bagiku.

Waktu terus berjalan seperti biasa. Pelan-pelan aku menata hatiku kembali. Hingga akhirnya aku bisa dekat lagi dengan seseorang. Dia lelaki kalem, satu tingkat usianya di atasku. Aku mengenalnya saat masih aktif di sebuah organisasi. Saat itu aku dan dia berada di kereta yang sama dalam perjalanan ke Surabaya. Setiap hari kita berkomunikasi lewat telpon dan sms. Kala itu belum berkembang sosmed seperti sekarang. Semakin hari aku semakin dekat dengannya. Bahkan aku juga dekat dengan adiknya. Ketika berkunjung ke kos-kosan si adik, ia memperkenalkanku ke teman-teman kosnya sebagai “mbak iparnya.” Lelaki kalem ini jika aku ajukan ke bapak ibu pasti mereka langsung setuju karena memenuhi kriteria mereka, yaitu berasal dari suku jawa sama sepertiku. Tapi aku belum berani mengajukan si cowok cakep ini kepada orang tua. Karena dia belum pernah mengatakan ingin menikah denganku. Aku sendiri juga enggan bertanya karena tak ingin mengulang “sakit” yang sama. Kali ini aku akan sabar menunggu pernyataan darinya. Meski dalam sabarku terselip rasa was-was. Dia yang saat itu sedang ditugaskan di luar pulau berpotensi bertemu dengan gadis-gadis di sana yang lebih sempurna dariku. Karir yang mapan dan wajah yang rupawan tak mungkin tak ada cewek yang mendekati.

Aku sibuk dengan prasangkaku sendiri. Bertanya-tanya sampai kapan aku menunggu sebuah kepastian. Bagaimana jika ia seperti lelakiku dulu, yang berubah pikiran tak punya peta nikah denganku lagi? Penantianku bakal sia-sia. Hati yang gelisah ditambah intensitas komunikasi yang kurang karena kesibukannya, membuat semakin tidak jelas mau dibawa kemana hubunganku dengannya. Sedangkan impianku adalah menikah muda seperti ibuku. Artinya aku harus segera punya calon suami. Di tengah kebimbanganku, Allah punya skenario yang tak pernah aku bayangkan. Suatu hari di kota pahlawan tempatku menuntut ilmu, aku bertemu kembali dengan cinta pertamaku. Lelaki yang pernah menolakku. Lelaki yang mengatakan tak punya peta menikah denganku. Lelaki yang baru putus dengan kekasihnya itu tiba-tiba mengajakku menikah. Ia ingin bertemu dengan kedua orang tuaku. Ia mengatakan tak mudah mengingkari kata hati. Hatinya selalu ingin membangun istana bernama pernikahan bersamaku sejak pertama kali bertemu denganku. Padahal kita pertama kali bertemu di forum organisasi regional saat aku masih duduk dibangku SMP dan dia masih kelas 3 SMK. Selama itukah ia memendam rasa kepadaku? Hingga baru terucap ketika aku kuliah?

Lagi-lagi aku bimbang. Haruskah aku menunggu kabar yang tak pasti dari lelaki sebrang pulau? Atau aku menerima lamaran lelaki di depanku? Lelaki yang sudah pasti ingin menjadikanku istrinya. Lelaki yang berani datang ke rumah menemui orang tuaku bersama rombongan keluarganya. Lelaki yang memenuhi kriteria bapak karena bapak yakin dia bisa menjadi imamku  dan juga memenuhi kriteria ibu sebagai anak orang Jawa. Tidak ada alasan untuk menolak lamarannya saat itu. Akhirnya aku menerima dia kembali. Akad nikahpun dilaksanakan hanya seminggu setelah proses lamaran. Akhirnya aku menikah dengannya, lelaki yang pernah menolakku. Lelaki yang dengan angkuh mengatakan tak punya peta nikah denganku. Kini, aku sudah membangun “istana” bersamanya selama 10 tahun. Tepatnya Agustus nanti usia pernikahan kita genap 10 tahun. Pernikahan kita semakin sempurna dengan hadirnya dua bocah Agha dan Gia. 

Artikel Oleh: 
dekCrayon Tata 


0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^