Apr 21, 2020

Pandemik Virus Korona; Menyerang Seluruh Negara


Korona n struktur seperti mahkota (KBBI)

Menurut KBBi korona struktur seperti mahkota atau mahkota, mungkin karena pada sekeliling virus korona terdapat benda mencuat keluar. 

“Apabila ini hanya flu, kenapa harus diisolasi?”

“Apabila ini sekadar batuk, kenapa banyak yang gugur?”

Virus korona atau covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, China. Kala itu, akhir Desember 2019 pemerintah Wuhan melaporkan kasus ini ke WHO. Dan pada bulan Januari, pertama kali kasus kematian karena virus ini di Wuhan. Setelah itu, virus ini menyebar ke berbagai negara di Asia, termasuk Indonesia yang baru ditemukan pada awal Maret 2020.


Corona virus diduga disebarkan oleh hewan di Wuhan, setelah diselidiki korban-korban pertama yang terpapar virus pernah pergi ke pasar basah makanan laut dan hewan lokal di Wuhan. Diduga virus ini dibawa kelelawar, lalu ditularkan ke hewan lain, kemudian hewan tersebut dikonsumsi oleh orang-orang China.

Awal tahun, ketika publik ramai membicarakan virus ini, saya biasa saja. Sebab, lokasinya sangat jauh dari tempat tinggal saya. Berkilo-kilo meter jauhnya. Membutuhkan berhari-hari perjalanan darat dan berjam-jam perjalanan udara. Pun ketika itu belum ada satupun warga Indonesia yang dikabarkan terpapar oleh virus ini, meskipun mereka baru bepergian keluar negeri.

Baru pada awal Maret kemarin, kasus virus korona ditemukan di Indonesia. Dua orang perempuan positif terkena virus ini. Mendadak, orang-orang panik dengan membeli banyak kebutuhan. Toko-toko swayalan banyak yang kehabisan stok, serta berita di mana-mana mengenai virus ini. 

Kasus-kasus baru pun muncul beberapa hari kemudian, menyebar sampai ke Solo, Jogja, lalu datanglah ke Surabaya. Sampai akhirnya, pemerintah memutuskan untuk warga tetap di rumah saja selama 14 hari, untuk memutus mata rantai penyebaran. 

Saya ingat betul hari dimulainya kampanye #dirumahsaja atau #stayathome, yakni tanggal 16 Maret. Kala itu, sehari sebelumnya saya berencana kembali ke Surabaya (indekos), sebab besok saya harus ujian mengaji. Tapi, pada hari Minggu, 15 Maret 2020 saya mendapat pengumuman bahwa ujian ditunda karena mengikuti anjuran pemerintah untuk di rumah saja. 

Tak hanya saya saja, para pekerja kantor, anak-anak sekolah, PNS dan semua orang dianjuran di rumah saja paling tidak  selama 14 hari. Itupun tak semua orang bisa mematuhinya, karena tak semua pekerjaan bisa dikerjakan di rumah. Tentu, kita tak ingin perekonomian merosot karena ini, meskipun pada kenyataannya, kita tak bisa menghindarinya.

Adanya corona virus, membuat orang-orang mencari masker, handsanitizer, disinfektan. Parahnya, karena banyak yang mencari hal-hal tersebut menjadi langka dan banyak orang-orang tidak bertanggungjawab yang menimbun, lalu menjualnya dengan harga yang tinggi. 

Karantina Mandiri 14 Hari

Karantina mandiri selama 14 hari bertujuan untuk melihat, siapa saja yang terkena virus ini. Kalaupun terkena, mereka tidak akan menyebarkan ke orang lain. Sebab, meskipun kita tidak terjangkit karena sistem imun tinggi, bisa saja kita menjadi pembawa virus dan menyebarkan ke orang lain. Untuk itu, kita diminta di rumah saja guna melihat perkembangan kesehatan masing-masing. 

Kala itu, saya berharap setelah 14 hari, semua akan baik-baik saja. Meskipun akan ada pelonjakan kasus, paling tidak orang-orang yang terjangkit bisa dikarantina, sehingga akan memutus penyebaran. Pada kenyataannya, tidak semudah itu. Sebab, pada akhirnya kampanye atau imbauan di rumah saja diperpanjang; setiap dua minggu sekali, anak-anak sekolah mendapat imbauan untuk sekolah di rumah. Terakhir, hari ini, adik saya diminta di rumah sampai bulan Juni nanti. 

Hal-hal yang Terjadi di Sekitar

Dengan adanya pandemik virus ini, tentu banyak hal berubah. Yang paling sering saya lihat pada linimasa yakni orang-orang mulai berjualan masker; meskipun sebelumnya mereka tak berjualan. Selain berjualan masker, banyak orang yang mulai menjahit dan membuat masker sendiri. Ada pun orang-orang yang menjual disenfektan. Linimasa riuh mengenai covid-19, masker, disenfektan, handsanitizer, resep makanan, dalgona dan perkembangan mengenai virus ini.

Setelah hal-hal kecil tersebut, maka banyak kebijakan yang berubah. Mulai dari anak-anak sekolah yang sekolah online, seminar online, kursus online. Semua serba online. Hal paling besar terjadi yakni banyaknya pengangguran; banyak buruh pabrik yang terkena PHK, hotel-hotel mendiskon kamar mereka gila-gilaan, jasa travel memberikan diskon tidak masuk akal. Tentu, perekonomian sangat terganggu dengan adanya virus ini.

Pada akhirnya, wabah ini membuat saya dan orang-orang sekitar parno akan banyak hal. Takut memegang sesuatu, takut untuk keluar rumah, takut akan banyak hal dan paling terasa yang saya rasakan yakni takut bahwa tak ada masa depan.

Musibah Bersama

Harus sadar diri, bahwa ini musibah bersama. Ujian bersama. Tak perlu dibawa sendirian, mengeluh dan saling menyalahkan. Sebab, semua mengalami sakit yang sama. Perekonomian sangat terganggu dengan adanya wabah ini. Saya pribadi, yang selama ini mencari uang makan dari ngeblog pun merasakan hal serupa, yakni dengan adanya wabah tak ada lagi event, tawaran pekerjaan sepi. Bahkan, saya sampai memutuskan untuk pulang, karena tak sanggup membayar uang indekos.

Ini kenyataan yang harus kita hadapi, yang terpenting saat ini yakni terus berusaha meskipun dari rumah dan menjaga kesehatan. Tanpa kesehatan, kita tak bisa menumbuhkan perekonomian lagi. 

Mari menerbangkan doa ke langit agar segera dikabulkan oleh-Nya. Semoga wabah ini segera berakhir, tanpa ada korban lagi. Dan semua orang yang berjasa diberikan kesehatan.

0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^