Sep 28, 2026

Menjaga Hutan, Menjaga Piring Kita: Inspirasi Ketahanan Pangan Berbasis Mangrove dari Raja Ampat



Keindahan Raja Ampat kerap diidentikkan dengan gugusan pulau karang dan keanekaragaman hayati bawah lautnya yang menakjubkan. Namun, di balik pesona wisatanya, terdapat benteng pertahanan ekologi dan pangan yang tak kalah krusial: ekosistem mangrove.

Dalam ajang EBS Online Gathering 1 yang berkolaborasi dengan The Asia Foundation (TAF)—sekaligus menyambut momentum Bangkok Climate Action Week—komunitas Eco Blogger Squad (EBS) menggali potensi luar biasa mangrove bersama Steve Wawiyai dari Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA). Diskusi ini menegaskan satu pesan inti yang kuat: menjaga hutan mangrove sejatinya adalah menjaga keberlangsungan sumber pangan masyarakat.

Mangrove sebagai Jantung Ekosistem dan Lumbung Pangan




Dengan 90% wilayah Raja Ampat yang berstatus kawasan konservasi, pemanfaatan sumber daya alam secara masif tentu dibatasi. Hal ini menuntut masyarakat setempat untuk menggantungkan penghidupan pada sektor pariwisata dan perikanan yang sehat—dua hal yang keberadaannya sangat bergantung pada kelestarian mangrove.

Akar mangrove yang kompleks bekerja bak penyaring alami yang menjaga kejernihan air laut Raja Ampat, sementara guguran daunnya terurai menjadi detritus yang menjadi nutrisi penting bagi rantai makanan perairan. Lebih dari sekadar pelindung pesisir dari abrasi, rimba bakau ini adalah tempat pemijahan (nursery ground) serta habitat utama bagi berbagai jenis ikan, udang, kepiting bakau (Scylla spp.), dan kerang-kerangan. Ketika mangrove rusak, stok biota laut dan kepastian pangan lokal otomatis ikut terancam.

Di Hutan Mangrove Doredor (Selat Dampier), misalnya, tutupan mangrove sempat mengalami kerusakan hingga 57% (sekitar 133 Ha dari total 233 Ha) pada periode 2009–2019 akibat pemenuhan pasokan kayu untuk pembangunan homestay dan resort. Keresahan atas degradasi ini menjadi titik balik bagi masyarakat adat di Kampung Friwen dan Kampung Yenbeser untuk melakukan aksi nyata pemulihan kawasan.

Bagi masyarakat lokal, mangrove memegang peran langsung di atas piring makan melalui berbagai pemanfaatan:

  • Olahan Tradisional "Iphone": Masyarakat memanfaatkan buah mangrove jenis Bruguiera (seperti Bruguiera gymnorrhiza atau aibon) yang diolah secara tradisional menjadi makanan lokal berjuluk "iphone".

  • Diversifikasi Produk Pangan dan Non-Pangan: Di kawasan pesisir Raja Ampat hingga Timika, buah dan bagian tanaman mangrove diolah menjadi tepung mangrove, camilan ringan (kue dan keripik), sirup, selai, acar, teh herbal dari daun mangrove, hingga sabun dan VCO.

  • Potensi Pasar & Ekowisata: Produk turunan mangrove dipasarkan di homestay dan resort sekitar kampung sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal sekaligus menambah pendapatan keluarga.

Meski tradisi mengkonsumsi buah mangrove telah berlangsung turun-temurun, pola konsumsi ini perlahan tergantikan oleh beras. Padahal, ketergantungan pada beras membawa tantangan logistik yang berat, di mana pasokannya membutuhkan biaya transportasi laut yang tinggi dari ibu kota kabupaten.

Ancaman Perubahan Iklim dan Resiliensi Lokal

Krisis iklim kini bukan lagi ancaman abstrak. Kenaikan permukaan air laut, pemanasan suhu perairan, dan cuaca ekstrem mulai mengganggu siklus reproduksi biota laut serta produksi buah mangrove. Selain itu, intrusi air laut membuat ketersediaan air bersih untuk kebutuhan domestik dan penyiraman tanaman warga semakin sulit didapat.

Menghadapi tantangan ini, masyarakat Raja Ampat mengandalkan kombinasi kearifan lokal, legalitas hukum, dan aksi komunitas:

  1. Tradisi Sasi: Sistem pengawasan dan larangan adat yang melarang pengambilan hasil laut tertentu dalam jangka waktu tertentu guna mencegah eksploitasi berlebihan serta memberi ruang pemulihan bagi ikan, udang, dan biota pesisir.

  2. Peran Perempuan dalam Patroli & Rehabilitasi: Kelompok perempuan memegang peranan kunci. Sekitar 90% perempuan pesisir menggantungkan hidupnya pada ekosistem ini, dan 80% berperan aktif dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Melalui Kelompok Kerja (Pokja) Perempuan Perlindungan Mangrove, mereka memimpin aksi pembibitan, penanaman kembali, hingga melakukan patroli mandiri menjaga kawasan hutan.

  3. Penguatan Hak Komunal Lewat Perhutanan Sosial: Perjuangan panjang Kelompok Tani Mangrove (KTM) Friwen-Yenbeser berbuah manis dengan terbitnya SK Menteri LHK No. SK.11608/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/9/2024 tentang Persetujuan Pengelolaan Hutan Desa Kampung Friwen seluas 1.025 Ha. Pengelolaan ini membagi kawasan ke dalam Ruang Lindung, Ruang Pemanfaatan, dan Ruang Pemanfaatan Konservasi.

  4. Dukungan Kebijakan & Dana Desa: Penguatan kapasitas warga didukung oleh alokasi Dana Desa sebesar 15% untuk Perhutanan Sosial, serta pendampingan program PAPeDA (kemitraan TAF dan PKPRA) yang mendorong skema Bantuan Keuangan Ekologi (BKE) di tingkat daerah.

Menatap Masa Depan: Pangan Lokal dan Ekonomi Hijau

Langkah perlindungan mangrove di Raja Ampat terus berlanjut. Perencanaan pemetaan partisipatif batas wilayah hutan desa dan pemetaan jenis mangrove (16 jenis sejati dan 28 asosiasi) terus diperkuat bersama PKPRA untuk memperjelas zonasi pemanfaatan dan perlindungan.

Ke depan, revitalisasi pangan berbasis mangrove—seperti diversifikasi olahan tepung aibon oleh KUPS Sinya Lep di Kampung Friwen—menjadi agenda strategis untuk mengurangi ketergantungan pada beras luar daerah. Tak hanya itu, potensi ekonomi baru juga terus dikembangkan, salah satunya adalah pemanfaatan nektar bunga mangrove untuk budidaya madu alami yang kaya antioksidan.

Melalui pengelolaan yang berkelanjutan, penghormatan terhadap kearifan lokal, dan penguatan peran perempuan, masyarakat Raja Ampat membuktikan bahwa konservasi dan ketahanan pangan dapat berjalan beriringan. Menjaga mangrove adalah investasi masa depan—memastikan piring masyarakat pesisir tetap terisi tanpa harus mengorbankan kelestarian alamnya.

Peran Ganda Tumbuhan di Sekitar Kita


Setelah mengikuti event online EBS x TAF, saya jadi berpikir apa ada, ya, tumbuhan di sekitar yang memiliki peran ganda seperti tumbuhan mangrove? Tidak hanya berguna bagi lingkungan, pun bisa dimanfaatkan untuk sumber makanan. Lalu, saya teringat dengan tumbuhan jeruk purut yang saya tanam di depan rumah.

Tumbuhan jeruk purut juga memiliki peran ganda seperti tumbuhan di mangrove. Selain sebagai penyedap masakan, jeruk purut pun memiliki kegunaan pestisida organik & pengusir hama: aroma menyengat dari kandungan citronellal dan limonene pada daun jeruk purut berfungsi sebagai pengusir serangga alami (seperti nyamuk dan serangga tanaman). Selain itu, mudah ditanam di pekarangan rumah (pot/polybag) sebagai tanaman obat keluarga (TOGA) sekaligus tanaman hias.


0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^