Sekelumit Cerita Masa Kecil | Wulan Kenanga Wulan Kenanga: Sekelumit Cerita Masa Kecil
Mar 31, 2016

Sekelumit Cerita Masa Kecil



Sekelumit Cerita Masa Kecil - Masa kecil. Masa penuh kenangan, meskipun memori yang saya miliki hanya berupa potongan-potongan kecil. Seperti ketika saya memegang dot di perkarangan rumah dengan baju hitam. Ah, atau jangan-jangan ingatan tersebut telah dipengaruhi oleh potret lawas yang pernah saya lihat? Entahlah, yang jelas banyak sekali kenangan ketika masa kecil yang enggan beranjak dari memori.

Kenangan masa kecil yang saya ingat tidak hanya yang menyenangkan saja, tapi juga kejadian buruk yang membuat saya trauma sampai saat ini. Haha, tidak perlu serius menanggapinya, karena sebenarnya masalah sepele, tapi sangat membekas. Ada juga kenangan ketika saya coba-coba main kelereng, yang notabene permainan anak laki-laki. Main layang-layang di sawah dekat rumah sama anak cowok-cowok. Ah, kalau diingat-ingat, sewaktu kecil saya lebih suka main dengan anak laki-laki daripada anak perempuan.

"Ndos, aku ngutang kelerengnya, ya. Nanti aku balikin kalau udah menang,"kataku pada Gana, sepupuku. Saat itu kelereng saya sudah habis, dan saya masih mau main. Jadi, sistem main kelereng itu semacam berjudi. Kalau kamu kalah, ya, kelerengmu habis.Ah, saya dulu belum mengerti kalau itu sama saja dengan judi.

Sebenarnya tidak hanya permainan kelereng saja, tapi juga permainan karet gelang. Dulu, saya suka sekali bermain lempar karet gelang dan kalau menang dapat karet gelang yang banyak. Kalau sudah banyak dironce dijadikan tali dan dibuat lompat tali.

Masa kecil saya pun saya habiskan dengan mencari kerang di sungai. Dengan jari tengah dan jari telunjuk, saya merogoh tanah di tepi sungai yang memiliki sedikit ceruk. Biasanya, ceruk tersebut tercipta karena adanya kerang hijau di sana. Ah, dulu kalau dapat banyak bakalan dimasakin sama Emak. 

Lalu, sampailah ketika hal buruk itu terjadi. Sudah, jangan terlalu tegang bacanya. Hal sepele kok.

Jadi, waktu itu saya pergi ke belakang rumah bareng dua teman saya; Mbak Jul dan Cak Adi. Saya lupa mau ke mana waktu itu. Dan, di belakang rumah saya melihat anak ayam yang kesakitan lantaran tubuhnya tertindi batu bata. Saya sebagai seorang anak yang penuh kasih *xoxo*, akhirnya saya menolong anak ayam tersebut. Sampailah, si induk ayam datang dan menyerang saya. Mbak Jul dan Cak Adi hanya diam saja ketika moncong induk ayam tersebut mematok kepala saya sampai berdarah-darah. Saya hanya bisa menangis dan menangis. Sampai akhirnya, Emak datang dan menolong.

Sejak saat itu, saya kalau ketemu induk ayam yang masih mempunyai anak yang masih kecil-kecil, saya selalu menghindar. Bahkan, hal itu memberikan trauma bagi saya sampai dewasa. Setiap kali bertemu induk ayam, saya selalu lari. Kalau sekarang sih, tidak separah dulu. Sekarang saya sudah strong *xoxo*.

Ternyata memang benar, apa yang terjadi di masa kecil akan benar-benar membekas sampai dewasa. Apalagi kejadian buruk.Karena manusia cenderung mengenang kejadian buruk daripada kejadian yang menyenangkan. Tapi, sebenarnya tergantung individunya juga sih.

Yah, begitulah sekelumit cerita masa kecil saya :)

xoxo,
Wulan K.




Wulansari Wulan Kenanga

Hidup untuk menulis, menulis untuk hidup

Blog Designer, Writer, Buzzer, Dreamer, Pemeluk Kenangan, Jasa Review, Penulisan Artikel. Kerja sama Contact holawulan@gmail.com

2 comments:

  1. hihihihi.. kalau sama telur ayam gak takut kan mba?

    ReplyDelete
  2. Hihihi, saya dulu jaman kecil main kelereng kalahan terus. Makanya temen-temen suka sekali ngajak sama main kelereng, karena mereka pasti bakal menang. :D

    Btw, salam kenal ya...

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^