Jan 6, 2013

Kupeluk Cintaku


Aku menyipitkan mata. Merasakan sinar matahari memasuki kamar di sela-sela jendela. Aku melihat langit-langit kamarku, terdiam sambil berusaha mengumpulkan kesadaranku. Saat kesadaranku mulai pulih, aku baru menyadari ada seseorang yang memelukku, menyandarkan kepalanya di dadaku.
 Aku tersenyum tipis. Kulayangkan tanganku ke atas kepalanya, kuusap lembut rambut ikalnya. Dia berguman sebentar, tersenyum tipis ke arahku, dan semakin mempererat pelukannya. Aku tertawa ringan. Kulepaskan pelukannya, lalu aku mengelus pipinya.
            “Bangun,Sayang, sudah siang. Kamu tidak kuliah hari ini?” kataku setengah berbisik. Dia membuka matanya. Menatapku sebentar. Lalu mendekat, dalam sekejap bibir kami saling bertautan.
           Dia mengelus rambutku, dan menarikku dalam pelukannya. Kurasakan detak jantungnya, napasnya.
            “Kamu mau aku kuliah sendiri?”
            Aku melepaskan pelukkannya, dan menatapnya.”Astaga! Ini hari minggu!”aku terbahak.
            “Hari ini jalan-jalan sama aku ya?”
            Aku bangun dari ranjang, mengambil selimutku dan menutupi setengah badanku. “Aku harus pergi sekarang,” Ucapku. Lalu aku turun dari ranjang, mengikat rambut panjangku. “Kemarin sudah ada janji dengan Daren." Aku melihat ke arah Daniel yang sedang diam dan menatapku. Tersirat pada matanya dia tidak menginginkan aku pergi. Aku tersenyum, lalu menghampirinya. Merunduk mencium bibirnya sebentar, mengelus pipinya, dan tersenyum.”Lain kali, kita habiskan waktu berdua lagi. Sekarang aku harus pergi.” Dia masih diam menatapku.
        Aku berbalik mengambil pakaianku yang berserakan di lantai, aku mengingat kejadian semalam, lalu tersenyum. Semalam sangat menggairahkan, batinku.
            “Bul, menikahlah denganku,” ucap Daniel. Aku segera membalikkan badanku, dan melihat kearahnya.
      “Selesaikan kuliahmu, jangan terburu untuk menikah,”kataku sambil berjalan menuju kamar mandi.

***
     Aku sedang sibuk dengan naskahku saat Daren datang dan memelukku dari belakang,”Hei, Sayang, bagaimana pekerjaanmu?”
      Aku tersenyum dan menoleh ke arahnya.”Cukup melelahkan!” aku mengelus tangannya yang berada dipundakku.
            “Ke mana saja kamu semalam? Aku menghubungimu, tapi kamu tidak menjawabnya.”
            Aku terdiam. Aku ingat semalam, Daren menghubungiku beberapa kali, tapi aku menghiraukannya. Aku sedang bersama Daniel. Bukan karena takut Daniel mengetahuinya, tapi karena takut aku tidak bisa menjawab pertanyaan Daren kalau-kalau dia bertanya aku di mana.
            “Lan, kamu dengar aku kan?”Daren menggoyang sedikit pundakku.
         “Eh, iya, maaf. Terlalu banyak pekerjaan jadinya konsentrasiku terganggu,” aku berguman.”Kemarin sepulang dari makan malam dengan kamu, aku langsung tidur. Capek. Jadi aku tidak tahu kalau kamu telepon.” Tentu itu bohong karena sepulang makan malam dengan Daren, aku langsung menuju kontrakan Daniel.
       Daren memutar kursiku, sekarang kami berhadapan. Ditekuknya kedua kakinya, dan dia memegang kedua tanganku. “Pernikahan kita tinggal menghitung hari, apakah kamu sudah siap?” ucapnya. Lalu dia mencium tanganku.
            Aku tidak langsung menjawab. Ada keraguan dalam hatiku. Bukan Daren yang jadi masalahnya. Tapi, aku. Daren pria yang baik. Dia juga tampan, sudah mempunyai pekerjaan yang bagus. Dia sangat mencintai aku, seperti dia mencintai ibunya. Aku juga mencintai dia, tapi itu dulu, sebelum aku bertemu Daniel. Pria yang dua tahun lebih muda dari aku, pria yang sudah bisa membuatku dengan suka rela memberikan mahkotaku.
            “Tentu saja aku siap,” kataku kemudian.”Bagaimana, apakah hari ini kita jadi melihat undangan?”
            Daren mengelus pipiku. Dan mengecup keningku,”Tentu saja.”
            Aku tersenyum,”Aku ganti baju dulu ya?” kulihat dia mengangguk dan akan beranjak meninggalkan kamar. Daren belum pernah sekalipun menyentuhku, dia bilang aku wanita istimewa. Maka dari itu, dia menghormatiku dengan tidak menyentuhku sebelum menikah. Aku malah memberikan kesucianku pada pria lain. Aku merasakan leherku tercekat, menahan tangis.
***
       “Kita harus mengakhiri hubungan kita,” kataku pada Daniel.
       Dia menatapku. Dia menaruh kembali cangkir kopinya.”Kamu sudah tidak mencintai aku?” tuduhnya.
            “Aku mencintaimu. Tapi, pernikahanku kurang beberapa hari lagi.”
            “Tinggalkan Daren!” perintahnya.
            “Tidak bisa!”
            “Kenapa??”
            “Dia terlalu baik untuk disakiti!”
            “Lalu kamu akan menyakiti aku??” ucap Daniel setengah membentak, hingga membuat beberapa pengunjung kafé melihat ke arah kami.
            “Pelankan suaramu,”perintahku.
            “Kamu yakin dia akan menerimamu, saat dia tau kalau kamu sudah memberikan keperawananmu kepadaku?”
            Aku melotot. Sedikit kesal. Aku berpikir ada benarnya apa yang dikatakan Daniel.”Aku yakin Daren dapat mengerti,” ucapku berusaha yakin. Daren memang pria yang baik. Tapi, apa mungkin dia bisa menerimaku saat dia tau aku menghianatinya? Entahlah.
            “Bulan, menikah saja denganku,” kata Daniel dengan suara memelan.
            “Pikirkan kuliahmu. Masa depanmu masih panjang. Maaf..” kataku sambil beranjak pergi dari kafé. Aku mengusap air mata yang jatuh membasahi pipiku. Ini keputusan yang tepat.

***

      Aku mengambil napas panjang. Mengumpulkan seluruh keberanian yang aku punya. Satu minggu lagi aku akan menikah dengan Daren, aku ingin jujur kepadanya. Aku tidak mau pada akhirnya Daren mengetahuinya, setelah kami menikah.
            Daren menatapku. Aku selalu melihat kenyamanan di mata sayunya. Dia tersenyum dan mengusap pipiku.”Ada apa sayang?”
            “Ren, kamu tahu kan sebentar lagi kita akan menikah,” aku menarik napas kembali.”Kamu yakin akan menikahi aku?”
            Daren tersenyum,”Tentu saja, sayang.”
            “Meskipun kamu tahu, kalau aku…” aku mengambil jeda dalam kalimatku. Aku ragu. Aku memejamkan mataku sebentar dan menarik napas dalam-dalam.”Kalau aku sudah tidak perawan?”
            Aku melihat Daren terdiam. Aku sudah siap dengan apapun yang akan terjadi. Kemudian aku melihat Daren tersenyum, mengusap lembut rambutku, menarikku dalam pelukannya.
            “Aku mencintaimu karena kamu, bukan karena keperawananmu,” ucapnya lirih. Seketika itu aku menetesakan air mataku, menangis sejadi-jadinya dalam pelukkan Daren. Aku tidak mengerti apa yang aku cari, jika yang aku butuhkan sudah memelukku dengan erat.
           

3 Comments:

  1. Kita hrus mngakhri hbngan kita.kataku pd daniel waktu itu. Apa gk lbh baik dberi kata waktu itu ato masa itu krn d situ berlaku alur balik

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^