Nov 26, 2013

Mawar merah

Sumber foto: koleksi Zayd ustman
Dia menuliskan namanya di dada sebelah kiri. Menggunakan spidol merah dan ada gambar hati di sana. Dia tersenyum . Matanya berbinar sembari menyodorkan spidol merahnya kearahku.  Aku menerimanya, dan mencoret baju putih miliknya yang masih bersih, berbeda dengan bajuku yang sudah penuh dengan coretan.
                Setelah kucoret baju miliknya dengan tanda tanganku, di bawah kutuliskan “Best Friend Forever”. Wajahnya yang ceria hingga membuat bibirnya merekah, kina berubah masam. Dia terlihat kecewa.
                “Hanya ini?”tanyanya dengan alis bertaut.
                “Ya, tentu. Apa lagi?”Ya, apalagi yang harus aku tulis? Kami bersahabat dari awal masuk sekolah menengah atas, hingga kini kami akan berpisah menempuh impian masing-masing.
                Aku tersenyum dan mengusap rambutnya.”Semoga sukses.”aku berlalu.
                “Kautahu, aku akan kuliah Jakarta.”teriaknya. Kakiku mematung, sempat aku tidak bisa menguasai gejolak dihati. Aku kembali mendekatinya, setelah aku bisa menguasai diriku.
                “Wow! Selamat!”kuraih tangannya dan kujabat erat. Dia mengangguk dengan senyum dipaksakan. Kutahu, air matanya akan tumpah.
                “Aku berangkat besok. Kau akan mengantarkanku kebandara, kan?”wajahnya terlihat memohon.
                Aku berguman.”Tidak bisa. Keluargaku sudah menyiapkan pesta untuk kelulusanku besok.”
                Dia menggigit bibir bawahnya. Menepuk bahuku pelan, lalu berbalik pergi.
                Kulihat punggungnya menjauh, entah kenapa aku merasa akan kehilangan dia.
***
Pesawat akan membawanya pergi kurang dari tiga puluh menit. Tapi, aku masih  berada dirumah dengan hiruk pikuk kemeriahan pesta kelulusanku. Aku menyendiri, menjauh dari keramaian. Semua pesta dan orang-orang yang berada di sini, tidak dapat membuatku merasa tidak sendiri. Seperti ada yang hilang.
                Senyumnya yang merekah, binar matanya saat menatapku, memenuhi tiap sudut pandangku. Aku mendengar tawa renyahnya di setiap sudut ruangan. Aku tidak bisa seperti ini terus menerus. Mungkin, belum terlambat.
                Aku pergi kerumahnya, kutarik napas lega saat melihatnya di ambang pintu. Kubetulkan letak kacamataku, kucium aroma setangkai mawar merah di tangan kiriku. Tanganku hendak membuka pintu mobil berhenti, saat kulihat dia dijemput oleh seorang pria dengan sebuket mawar merah dibalik tubuhnya. Dia tersenyum lebar sembari memeluk pria itu, dan mereka pun pergi.

                Aku termenung dibalik kemudi. Mawarku genggam erat durinya nyaris membuatku berdarah. Duri mawar itu berhasil menyakiti tanganku dan hatiku.


Baca cerita FF yang lain di sini 1. Waktu tak pernah menunggu
                                               2. Mawar Untuk Reffa
                                               3. Surat seorang lelaki yang mencintai bunga
                                               4. A “Red” Rose
                                                  

0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^