Nov 6, 2013

Sebotol Chivas


Kubiarkan langit mengabu di ufuk barat. Disertai guratan merah jingga dengan bulatan keemasan. Kicauan burung kian menjauh dari telinga menyisakan suara jangkrik saling bersautan.


     Senja masih sama. Aku dan kamu pun masih sama. Duduk berdua dalam satu ruangan dengan bau alkohol dan nikotin memenuhi rongga hidung. Hal yang selalu kita lakukan dikala senja menyapa yang tak pernah terlewatkan seharipun.
     Kamu tertidur dengan posisi tengkurap. Begitu polos tanpa beban. Seakan duniamu baik-baik saja meskipun pada kenyataannya kamu sedang menelan pil kehidupan secara bulat-bulat. Aku tahu itu, meskipun kamu tidak pernah menceritakannya.
     Karena aku juga melakukan hal yang sama.
     Sejak aku melihatmu di kafe sore itu, dengan wajah kuyuh dan sebotol chivas tergeletak di meja. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Meskipun pada akhirnya kamu berdalih bahwa minuman itu hanya sebagai perayaan temanmu yang naik pangkat. Aku tahu kamu berbohong. Karena mata itu sama persis seperti mata yang kulihat di cermin rumahku setiap hari.
     Sejak saat itu juga aku mulai mencicipi minuman yang setiap hari hanya kupegang botolnya dan kuhirup aromanya. Seteguk. Aku mulai merasa air itu mengalir dengan meninggalkan luka di tenggorokanku. Seteguk lagi. Aku mulai merasakan air itu mengikat jiwaku dan membawa keringanan.
     Jadi, ini yang kamu rasakan?
     Tidak perlu menyingkirkan masalah yang tak terlupakan. Tidak perlu susah-susah untuk mengusap air mata, karena air mata itu akan terhapuskan. Tidak perlu untuk bersedih, karena yang ada hanya kehagatan dan kebahagiaan.
     Sekarang aku mengerti kenapa saat pertama kali kuketuk pintu kamar apartemenmu, kamu dengan senang hati mempersilakanku masuk. Masuk kedalam duniamu, yang kini menjadi duniaku juga.
     Apa karena aku membawa sebotol kenikmatan yang kuambil dari kafe secara diam-diam kesukaanmu, sehingga membuatmu luluh terhadapku? Apa kamu merasa kamu menemukan seseorang yang sama denganmu seperti yang aku rasakan juga?
     Awalnya, kamu mengajariku cara melupakan. Meninggalkan masa lalu yang setahun terakhir telah menggerogoti semangatku. Dan secara perlahan kamu menunjukkan bagaimana cara menikmati hidup dengan tawa menderai tanpa memedulikan apapun.
     Meskipun aku tahu, mata dibalik kacamata milikmu selalu menatap dunia dengan kesedihan.
     Aku tahu dan aku mengerti karena kita memiliki mata yang sama.
     Namun, sejak bertemu denganmu aku sudah tidak mengenali mata sedih itu lagi. Tahukah kamu? Mata itu kini berganti dengan keceriaan. Seakan cahaya matahari seluruh dunia kini berada dalam kedua bola mata cokelat milikku.
     Tetapi, ada yang sakit dalam tubuh ini. Saat melihat mata orang yang membuat duniaku lebih baik, masih menatap dunia dengan kesedihan meskipun bibirnya tak henti-hentinya tersungging senyuman.
     Hingga aku memutuskan untuk mencari tahu arah matamu memandang hingga terlihat begitu muram. Setiap hari aku selalu mengetuk apartmenmu, mencoba untuk jauh lebih mengerti akan dirimu.
     Seperti saat ini, aku hanya bisa melihat wajahmu dan berharap ada kebahagiaan yang tersisa dari wajahmu. Meskipun aku tidak bisa berharap lebih kamu akan bangun dan menyadari arti ketukanku di pintu apartmenmu.
     Menemanimu minum, bercerita banyak hal, dan tertawa lepas. Tidak ada kesedihan. Satu-satunya kesedihan yang tersisa hanya ada pada mata dan hatiku.
     Hingga, aku mengerti arti tatapan kosongmu. Karena tatapan matamu hanya tertuju pada seorang perempuan. Kamu menyebutnya dengan nama gadis Natal. Karena menurutmu hanya dialah perempuan yang bisa membuatmu menanti dan merindukan sosok perempuan seperti kamu selalu menantikan dan merindukan hari natal.
     Aku dengar dari ceritamu dia adalah perempuan terhebat yang pernah kamu temui, yang sanggup membuat bunga-bunga di hatimu bermekaran. Dia bagaikan air terjun yang turun dari surga. Yang mampu membuat lelaki manapun bertekuk lutut hanya dengan senyumannya. Dia bagaikan bidadari, katamu dengan wajah penuh cinta.
     “Lalu, kenapa kamu tidak menemuinya? Malah berdiam diri dengan bergelas-gelas alkohol?”tanyaku waktu itu.
     “Seperti yang kukatakan tadi. Dia bagaikan bidadari. Karena dia memang menjadi bidadari.”
     Aku hanya mematung sambil membungkam mulutku sendiri. Sebegitu besarnyakah cintamu, hingga sampai sekarang kamu belum bisa melupakan dia. Bahkan setelah nyawanya di renggut oleh kecelakaan itu?
     Dan setelah dia pergi kamu malah menenggelamkan hidupmu dalam minuman-minuman ini. Sadarkah kamu telah berusaha untuk hidup kembali bersamanya dalam khayalanmu.
     “Hanya dengan ini aku merasa dia berada di dekatku. Sangat dekat.”
     Sadarkah kamu yang didekatmu saat ini adalah aku. Apakah kamu hanya menyadari kehadiranku saat kita terbangun dipagi hari dengan pakaian berserakan dilantai?
     Dan apakah saat bibirmu itu menyentuh bibirku, yang ada dalam bayanganmu adalah gadis Natal itu?
     Tahukah kamu setiap ketukan dipintu apartmenmu yang kuharapkan kamu bisa membangunkanmu dari mimpi-mimpimu itu dan berbalik menatapku?
     “Aku mohon tataplah masa depanmu. Jangan hidup di masa lalu.”kataku di sela-sela tegukan minuman yang kau sodorkan kepadaku.
     “Siapa bilang aku hidup di masa lalu? Kamu tidak lihat aku sedang menikmati hidup?”
     Yang kamu nikmati hanyalah masa lalumu. Satu-satunya hal yang membuatmu tetap merasa hidup.
     Kuelus rambutmu dengan jari-jari tanganku. Mata kamu terbuka dan menyunggingkan sebuah senyuman. Dengan satu tangkupan engkau merengkuhku dalam pelukanmu. Dan mendaratkan bibirmu dibibirku penuh sayang. Hari-hari sebelumnya kamu tidak pernah seperti ini. Apakah ini tandanya kamu telah menatapku dan menyadari kehadiranku?
     “Aku mencintaimu,”kataku.
     “Aku juga mencintaimu, Dara.”
     Aku tersenyum tipis. Lalu, memunguti pakaianku dan sebuah name tag milikku yang bertuliskan nama Claudya Saraswati diatasnya.
     


Surabaya, 05 November 2013
15:55
     

5 Comments:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^