Apr 29, 2014

Believe It: Prolog

  Welan mendekap sebuah buku gambar dan berjalan menghampiri ayah. Ayah sedang duduk di kursi kesayangannya; kursih yang terbuat dari karet-karet warna warni. Kursi itu sudah ada sejak ayah muda. Welan mengetahuinya, karena ayah sering cerita tentang kursi itu.
   Gadis berumur sebelas tahun itu memanggil ayah pelan. Takut membuat lelaki paru baya itu terkejut. Ayah yang sedang memandangi foto bunda menoleh. Melepas kacamata dan mengelus rambut ikal Welan.
   "Ada apa putri kecilku?"ayah tersenyum. Welan memberikan buku gambar dalam dekapannya kepada ayah. Ayah membuka buku gambar itu. Pada halaman pertama ada sebuah goresan pensil membentuk sebuah siluet seorang perempuan dan disudut kertas ada sebuah tulisan cakar ayam. Ayah tahu itu bukan tulisan tangan Welan.
   "Tadi buku gambar Welan dipinjam teman. Dan, sewaktu buku itu kembali, tulisan itu sudah ada di sana."jelasnya.
   Disudut kertas itu bertuliskan "Claudya cinta Randu". Randu adalah teman sekelas Welan. Teman-temannya sering mengolok-olok jikalau Welan menyukai Randu, karena mereka sering terlihat duduk bersama. Welan masih terlalu kecil untuk mengerti hal semacam itu. Maka, dia memutuskan untuk menanyakannya pada ayah.
   "Ayah, cinta itu apa sih?"tanyanya polos.
   Ayah tersenyum."Cinta itu kepercayaan dan kesetiaan."jawab ayah. Welan masih terdiam tidak mengerti. "Seperti Welan percaya kepada ayah, dan seperti Welan selalu ada untuk ayah."
   "Jadi, Bunda sudah tidak mencintai Ayah? Karena bunda pergi ninggalin ayah."
   Ayah lagi-lagi tersenyum dengan sabar. "Bunda pergi bukan karena sudah tidak mencintai ayah, tetapi karena ayah tidak bisa menjaga bunda."
    "Welan tidak mengerti. Kenapa Ayah tidak bisa menjaga Bunda, sedangkan ayah bisa menjaga Welan."
   Ayah tertawa kecil."Saat sudah dewasa nanti kau akan mengerti. Welan harus janji pada ayah, Welan tidak akan pernah ninggalin ayah."
   Welan mengangguk cepat."Welan janji." Welan masih menepati janjinya untuk menjaga ayah, namun ayah yang pergi meninggalkan Welan sendirian. Meninggalkan putri kecilnya menghadapi hidup yang tak mengenal kepercayaan dan kesetiaan. Hidup hanya mengenal keegoisan dan haus diri.
...

0 Comments:

Post a Comment

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^