Sep 30, 2014

#NAR : Prolog


www.pinterest.com
Nai berharap ini hanyalah bunga tidur.
            Cahaya menyilaukan menyeruak di sela-sela bulu matanya yang lentik kemudian merembet ke retina. Membuat Nai terbangun dari tidurnya. Awalnya, dia hanya melihat jendela kamar bertirai biru dan putih yang bergerak terbawa angin sehingga membuat cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya. Sedetik kemudian ia mengerutkan keningnya, menyadari sesuatu.
            Tirai kamarnya berwarna kuning cerah.
            Mendadak kepalanya menjadi semakin berat. Tautan antara kedua alisnya semakin rekat. Ia tidak tahu apa yang telah ia perbuat hingga berada di kamar asing ini. Terakhir kali yang ia ingat adalah ia bertemu dengan Rai di suatu tempat yang tak jelas apa namanya. Ia sakit hati ketika Rai mengatakan tidak mencintainya dan Nai pergi dalam keadaan emosi. Tidak jauh dari tempat ia bertemu Rai, Nai bertemu dengan Lim.
            Hanya itu yang ia ingat, selebihnya semua terasa kabur.
            Sayup-sayup Nai mendengar suara erangan. Begitu dekat. Ketika dia menoleh ke arah lain, ternyata dia tidak sendirian di kamar ini. Seseorang tidur di sebelahnya. Ingatan Nai mulai berputar kembali. Bayangan Rai bersama Kia, kemudian Lim yang berjoget dengannya, lalu ingatan ketika Lim menggendongnya. Hati Nai mencelos.
            Nai berharap ia salah menduga. Namun, seseorang yang berada di sampingnya dan rasa perih di salah satu bagian tubuhnya tidak dapat ia pungkiri begitu saja.
            Air mata Nai pun merembes pilu.



(* Ini bagian prolog dari naskah #NAR. Setelah menimbang-nimbang, saya mengerjakan proyek NAR terlebih dahulu. Hahai, plin plan sekali saya.

2 Comments:

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^