Feb 3, 2016

Kenapa Manusia Dituntut Untuk Kreatif?



Kenapa Manusia Dituntut Untuk Kreatif? -Beberapa hari ini beredar mengenai perusahaan yang cukup kita kenal di Indonesia, kabarnya akan hengkang dari Indonesia. Nggak tanggung-tanggung, dua perusahaan yang akan meninggalkan Indonesia. Apa hal pertama yang ada dalam pikiran saya? Tentu, nasib dari para pekerja dari kedua perusahaan tersebut.

Duh, Gusti, nyari kerja susah minta ampun, kenapa juga dua perusahaan itu justru mem-PHK karyawan?

Tidak menyalahkan perusahaan atau siapa yang membuat kedua perusahaan ini harus meninggalkan tanah air tercinta, dan mengakibatkan orang-orang yang menggantungkan hidup dari kedua perusahaan itu menganggur. Bisa bayangin, nggak, ada orang-orang yang seumur hidupnya sudah bekerja di perusahaan-perusahaan tersebut? Ibaratnya kita sudah pacaran sama seseorang selama bertahun-tahun, kemudian diputusin. Apa nggak linglung, tuh?


Saya jadi ingat dengan pabrik tepung di sebelah rumah saya. Ingat ketika kecelakaan pesawat AirAsia yang dari Surabaya ke Singapura beberapa waktu yang lalu? Pemilik dari pabrik tepung di sebelah rumah saya adalah salah satu korban dalam kecelakaan tersebut. Beliau pergi berlibur bersama anak dan istrinya. Akibat dari kepergian beliau yang tiba-tiba, membuat pabrik itu terbengkalai. Sampai hari ini pabrik tersebut belum lagi memproduksi tepung. Hal ini menyebabkan buruh di sana kelimpungan mencari sumber rejeki lain.

Tidak peduli apa yang terjadi dengan perusahaan, dapur harus terus ngebul.

Karena tidak semua karyawan perusahaan itu memiliki skill, mereka akhirnya mencangkul atau mencari pekerjaan di perusahaan lain. Mungkin, jika mereka bisa kreatif, mereka nggak perlu ke sana kemari mencari kerja. Yang saya pikirkan adalah orang-orang yang berusia lanjut. Maksud saya, orang-orang yang sudah nggak masuk kriteria dalam persyaratan mencari kerja, meskipun pengalaman sudah tinggi. Apa jadinya jika mereka tidak punya kemampuan apa pun?

Mungkin itulah alasan Bapak keukeh saya harus menjadi pegawai negeri sejak saya SMA. Bapak pernah berkata begini,”Negara nggak mungkin bangkrut.”Itulah alasan mendasar kenapa kebanyakan orang ingin menjadi pegawai negeri. Kalau kita tidak ingin menjadi pengusaha, pilihan menjadi pegawai negeri adalah pilihan teraman.

Bagi saya sendiri, setiap individu harus memiliki skill untuk bertahan hidup. Itulah kenapa orangtua kita mengirim kita ke sekolah, mengkuliahkan kita. Agar kita memiliki skill, senjata untuk bertahan hidup selama Tuhan mengijinkan.

Saya pernah mengenal seseorang. Kami kenal teramat dekat meskipun komunikasi hanya via telepon. *mantan-mantan, uhuk*. Dia merantau ke Kalimantan Timur, ikut pamannya yang di sana. Selama setahun dia masih menganggur dengan menggantungkan hidup di rumah pamannya, sambil bantu-bantu jaga warung bakso milik pamannya. Lalu, dia ikut dengan pemilik bengkel variasi mobil. Di selang-selang kita ngobrol, dia pernah berkata. “Nggak mungkin, Wul, selamanya aku begini.” Yang dia maksud adalah, dia tidak mau selamanya hidup bergantung pada orang lain. Intinya dia ingin punya usaha sendiri. Akhirnya, saat ia mempunyai dana untuk membuka usaha, dia keluar dari bengkel tersebut.

Dan, mantan tersayang itu akhirnya punya variasi mobil sendiri. *duh, kenapa kita putus, Sayang?*
Kenapa dia bisa begitu? Karena dia sudah memiliki skill dari awal, yaitu menggambar. Selain itu, selama ikut sama “orang” itu, dia juga sudah memiliki pengalaman dan ilmu bagaimana cara menjalankan bisnis tersebut.

Bukankah lebih baik jika ketika kita bekerja di sebuah perusahaan, tapi juga memiliki income di luar perusahaan? Selain untuk berjaga-jaga nanti bila waktunya kita hengkang dari perusahaan, kita sudah nggak perlu bingung lagi untuk mencari pekerjaan. Atau bisa menjadi pemasukkan sementara, selagi kita mencari perusahaan lainnya.

Saya tegaskan, saya tidak sedang meremehkan pekerja kantor loh ya, karena saya sendiri masih ingin kerja di kantor sembari ngeblog dan mendesain. Meskipun pada dasarnya saya sudah terlanjur nyaman di sini, tapi saya juga ingin merasakan enak nggak enaknya kerja di kantor loh.

Sebagai manusia, kita memang harus dituntut untuk menjadi sekreatif mungkin. Bukan sekadar untuk menambah uang jajan, tapi juga untuk memberikan kepuasan pada diri sendiri. “Oh, ternyata saya bisa loh bikin ini.”

Kebetulan sekali, kemarin saya sedang membaca beberapa artikel mengenai tempat usaha di Surabaya. Jadi, dia ini menjual tasbih dengan desain yang unik. Awalnya, hanya iseng saja merangkai tasbih milik ibunya. Eh, kok banyak yang suka. Akhirnya, dia membuka toko online yang menjual berbagai macam tasbih unik. Teman-teman tahu, berapa keuntungan yang dia dapatkan setiap bulannya?

60 JUTA.

Dengan keuntungan sebanyak itu, dia bisa menggaji untuk ketujuh karyawan yang dimilikinya. Dan, terus mengembangkan toko online yang dimilikinya. 

Seperti contoh kasus di atas, dia bisa menciptakan lapangan pekerjaan dengan ide kreatifnya membuat tasbih yang unik dan cantik. Sebenarnya, menjadi kreatif itu sangat simpel bukan? Asal kita bisa jeli melihat peluang yang ada di sekitar kita. Mana yang bisa laris di pasaran, atau mana yang akan menjadi sesuatu yang unik dan menghasilkan. Katakanlah seperti mantan saya itu *ehm*, dia jago gambar. Jujur, salah satu alasan saya menyukai dia adalah karena dia jago gambar. Dari dia jago gambar, dia bekerja di variasi mobil, membuat stiker mobil. Lalu, berkembang dengan memiliki variasi mobil sendiri. Dengan memiliki variasi mobil, dia sudah membuka lapangan pekerjaan.

Bisa bayangkan, bagaimana dunia tanpa orang-orang kreatif?

Ya, saya berharap akan ada orang-orang kreatif yang akan membuka lapangan dan peluang baru, bagi kita yang sangat membutuhkan pekerjaan *ngacung*. Dan, saya yakin orang-orang kreatif itu ada di antara kita. Mungkin saja saya nanti akan bisa membuka lapangan kerja baru. Amin.


Tetap semangat! ^^

3 Comments:

  1. Betul mb, skill memang dibutuhin jaman skg. Dari kecil kl bs sdh diasah.

    ReplyDelete
  2. Kalo menurut saya sih bukan kreatif yang dibutuhkan. Tapi inisiatif. Inisiatif untuk bekerja apa saja, kalo kreatif ujung2nya harus benerin sistem pendidikan. Dan itu hal yang sulitnya luar biasa, kecuali kita pindah ke negara maju dan sekolah di sana :D karena saya pernah ngalamin menjadi orang yang butuh pekerja, saya ngelihatnya sih masalah SDM kita tuh pemalas. Saya butuh karyawan susah banget nyarinya. Sekalinya kerja, dua bulan kemudia keluar orangnya. Buset. Mau gaji tinggi tapi inisiatif kerjanya rendah. Mau kerja, tapi gak mau bersusah-susah dulu. Kreatif sih masalah berbagi peran. Tapi inisiatif, semua orang punya bakat itu.

    ReplyDelete
  3. Kreatif dan mau bekerja, karena banyak juga orang yg memang malas kerja.

    ReplyDelete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^