May 24, 2016

Seller Online Shop? Please, baca!



Seller Online Shop? Please, baca!Tak hanya customer loh yang pernah membuat owner ketar ketir, ingin nonjok. Tapi, owner  online shop juga ada beberapa yang menyebalkan. Justru, ada banyak keluhan dengan sifat di owner dengan sok menjadi penjual yang beken. Saya sering menjumpai hal tersebut, tapi Alhamdulillah, mengalaminya belum pernah.

Jadi, sebagai customer di sini, saya mau memberikan beberapa hal yang harus diperhatikan untuk seller atau owner toko online. Sekalian sih, mengeluarkan unek-unek yang ada. Terlebih lagi, sekarang banyak tuh toko online yang suka main blacklist sembarangan tanpa tedeng aling-aling.

Untuk Seller yang Menerapkan Sistem PO, Please Be Smart!

Bisnis adalah bisnis. Dalam bisnis tidak ada namanya kawan, saudara atau bahkan pacar. Boleh-boleh saja kita berjualan menggunakan hati. Tapi, yang benar berjualan itu menggunakan stratergi. Kalau saya nih, saya tidak mudah percaya dengan orang lain, kalau berurusan dengan duit. Apalagi, orang yang baru saya kenal, di dunia maya lagi! So, please. Jangan langsung percaya! Jangan langsung meng-iyakan kalau ada yang pesan di kalian dan bilang akan melunasi saat barang ready. Ayolah, tidak semua orang itu konsisten pada keputusannya. Bisa saja hari ini dia menggebu-gebu ingin beli, kemudian suatu hari berubah pikiran. We never know!

Jadi, lebih baik untuk barang PO alias pre order, sebaiknya gunakan sistem DP atau dibayar lunas di awal. Untuk sistem DP, jelaskan pula harus berapa persen dan jika tidak melunasi ketika barang datang, maka DP hangus atau menjadi milik seller. Sehingga, kalian tak perlu tuh pajang-pajang foto customer kalian yang PHP dengan kata-kata blacklist. Hei, mereka bukan mencuri. Kalian pun tak rugi apa-apa, karena barang masih di tangan kalian. Kalian bisa menjualnya lagi.

Nanti kalau barang tersebut nggak laku bagaimana? Gulung tikar saja, deh!

Boleh-boleh saja menjadi orang baik dengan pemikiran positif, tapi logika juga harus jalan. Kalau memang kenal dekat sih tidak masalah. Atau memang sangat percaya dan customer tersebut amanah. Kalau tidak? Kalian sendiri yang uring-uringan.

Kalian Niat Jualan Nggak, sih?

Saya sudah pernah beberapa kali bilang, menjadi seller toko online itu kudu sabar. Kudu ramah nan telaten. Karena nantinya kita akan bertemu dengan bermacam-macam customer. Kalau mau jualan laris ya memang harus begitu. Eh, justru banyak yang judes dengan customer. Okelah, kalau tidak bisa ramah di dunia nyata. Di dunia maya, bisa, kan? Meskipun dalam chatting terlihat biasa saja, usakakan pakai emoticon titik dua tanda kurung (J). Dengan begitu, meskipun aslinya jutek dan judes, tidak akan ketahuan. Dan, satu lagi layanin customer dengan semangat 45.

Jadi, ada sebuah kisah *halah*, kawan saya, Si Kapten, membeli sepatu converce di salah satu online shop. Dia memberitahukan kalau si seller judes banget. Entah itu cowok atau cewek. Saya bilang,”Cari di toko lain.” Apalagi? Kan seller seakan-akan tidak butuh duit. Jualan sekadar hobi. Kalau ada yang beli hayuk, kalau nggak yaudah sono.

Kapten bilang, “Di tempat lain barangnya nggak ada yang seperti itu.”Akhirnya, Kapten beli sepatu converse berwarna hitam dengan aksen merah itu. Lalu, beberapa hari kemudian barang datang.

Kapten mengirim gambar sepatu tersebut via BBM ke saya, “Njiir, bilangnya sepatu converse hitam aksen merah, ini kok pink.” Terus terang, saya tertawa keras. Kalau warna merah muda soft sih tidak masalah. Ini merah muda cerah! Menyala!

Kapten pun memprotes dengan sabar ke seller, eh malah kawan saya tersebut yang kena semprot.

“Kasih rating jelek gih,”kata saya. Biasanya kan, kalau di marketplace ada fitur untuk memberi rating seller, nah saya menyarankan demikian. Eh, Kapten berkata, “Untuk apa? Toh, ini sepatu tetap warnanya pink!”

Akhirnya, sepatu tersebut menganggur. Ya kali, Kapten pakai sepatu warna pink cerah!

“Buat kamu, nih!”ucap Kapten.

“Nggak mau!”kata saya. Iyalah, ukuran sepatu Kapten 41, saya 38. :D

Selain masalah di atas, sebagai seller juga perlu memperhatikan kualitas dari barang yang dijual, interaksi dengan pembeli. Jangan hanya melulu memikirkan untung, kalau ujung-ujungnya buntung. Seperti kisah yang saya kemukakan di atas, itu sangat merugikan pembeli. Mau selaris apa pun, pembeli yang tidak rela dan tidak ikhlas, pada akhirnya berjualan yang tujuannya menyampaikan kebahagiaan, berubah menjadi kesengsaraan.

Intinya sih, jangan sampailah antara seller dan pembeli saling cek-cok, dan ujung-ujungnya musuhan. Apalagi saling merugikan.

Anyway, hubungan antara seller dan buyer itu, harus seperti sepasang kekasih. Saling membahagiakan!


4 Comments:

  1. Entah kenapa kalimat terakhir bikin saya ngikik

    ReplyDelete
  2. Aku pernah ketemu customer yg gak sabaran. Barang belum waktunya sampai udah minta balikin dana, udah gitu tiba2 malamnya dibilang barangnya udah sampe, wakaka. Mana anak waktu itu lagi sakit bikin dredeg aja. Akhirnya aku kasih penilaian netral saking sebelnya. #malahcurcol

    ReplyDelete
  3. Sebagai seller kadang qu jg suka naik darah mba, nanya banyak uda deal ga jadi transfer :(( padahal ada buyer yg juga mau. disitu pala batman pusing hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah mbak risiko jualan online, makanya kudu hati-hati. Nggak semua buyer itu konsisten :D

      Delete

Komentar akan dimoderasi terlebih dahulu. Hanya memastikan semuanya terbaca :)

Usahakan berkomentar dengan Name/URL ya, biar bisa langsung BW balik saya ^^